Tuesday, March 27, 2012

Being Sister is Great

Mungkin ada di antara kalian yang merasa ga enak banget jadi kakak. Mesti ngalah sama adik, mesti mau direpotin, mesti ngalah, bahkan mesti rela dimarahin kalo adik kalian berbuat salah. Gue pernah banget ngerasain itu semua. Yang paling gak enak ya disalahin kalau adik kita kenapa2.
Tapi kalau tidak seperti itu, bagaimana kita bisa merasakan artinya pengorbanan dan rasa tanggung jawab? Mungkin ketika mereka kecil, kita selalu disalahkan, kita harus mengalah, Tapi lihatlah sekarang! Ketika mereka besar, mereka bakal sayang sama lo. Mereka bakal liat kebaikan lo selama ini dan menganggap lo bener2 sosok seorang kakak.
Setidaknya itu yang gue alami. Dari kecil gue selalu mengalah, gue yang menjaga mereka kalau ortu lagi ke toko. Gue terima saat gue disalahkan atas kenakalan mereka. Tapi lihatlah sekarang. Kesabaran dan pengorbanan gue gak sia2. Bukannya gue GR, tapi ini kenyataan. Dari sikap mereka, mereka bener2 menganggap gue kakak, Mereka lebih deket sama gue. Mereka gak takut dan segan sama gue. Terutama adik gue yang paling kecil. Dia deket banget sama gue.
Pernah suatu hari dia bilang ke gue, “Gue takut kalo ngomong sama kakak pertama. Soalnya dia galak dan marah2 mulu.” Sekarang coba lo pikirin. Wajar gak sih kalo adik sendiri takut sama kakak? Kenapa dia gak takut sama gue, bahkan seringkali bertindak seakan2 gue seumuran sama dia? Ya, jawabannya cuma satu. Karena dari dia kecil sampai sekarang, gue yang paling deket sama dia. Gue yang jaga dia, gue yang mengalah buat dia. Dan jujur mungkin gue sempet kesal dengan hal itu, tapi gue sepenuh hati melakukan hal itu. Dan kebaikan gue berbuah hasil. Gue dan adik gue yang paling kecil selayaknya teman. Kadang saling mengejek tapi juga saling membantu dan bercanda. Seringkali bokap gue bilang tiap akhir minggu dia pasti nanya kapan gue pulang ke rumah. Tapi dia berkilah dengan bilang kalau dia pengen gue pulang untuk membantunya buat PR atau ingin cepat2 dapet mp3 yang dia titip untuk gue download di kosan. Yah gue gak tau sebenarnya hal itu bener atau nggak, tapi setidaknya dia nunggu gue pulang aja udah satu kebanggaan buat gue.
Terus kejadian yang paling membuat gue dianggap sebagai kakak adalah kalau mereka menemukan serangga di WC, pasti gue yang dipanggil (kalau bonyok lagi gak di rumah). Dan gue lah yang berani membasminya. Walaupun sebenarnya agak ngeri juga, tapi gue harus berani.
Gue juga gak pelit kalo sama saudara gue. Mungkin kakak gue rada pelit, jadi adik gue kalo mau pinjam barang ke kakak gue, pasti melalui perantara gue, Tapi kalo pinjam barang ke gue, pasti mereka langsung ambil. Pokoknya udah kayak temen sendiri, ga ada lagi rasa sungkan.


Intinya, gue seneng bisa jadi seorang kakak. Ada kebanggaan tersendiri. Gue menikmati posisi gue dan gue berharap persaudaraan ini bakal terus seperti ini.. I LOVE MY SISTERS :) (berkat mereka, gue jadi mengenal anggota SUJU yang tadinya gue buta sama sekali. (CONGRATS YOU, GALS)Red heart

Wednesday, March 14, 2012

Communication is Number One

Gue nulis ini bukan karena gw kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Gue menulis ini karena gw baru ngerasain pentingnya komunikasi yang baik. Di sini yang akan gue bahas bukan masalah yang berat kok, bukan yang biasa dipelajari di kampus gue. Ini cuma masalah konkret yang pastinya banyak di antara kita yang mengalaminya.
Sejak gue kuliah, gue punya dua orang teman dekat, tentunya kita udah mulai deket pas kelas 3 SMA. Sebagai teman dekat, tentunya kita sudah cukup mengerti tabiat masing-masing dan bisa saling menjaga perasaan, walaupun kadang kebablasan juga emosinya kalo emang lagi marahan. :)
Sejak semester tiga, kami bertiga berteman dengan seorang cowo sekelas kami, sebut saja C. Selama 3 semester, hubungan kami bertiga dengan C semakin dekat. Dua teman dekat gw udah sering nebeng mobil C waktu pulang kuliah, kami berempat juga selalu makan siang bareng, bahkan setiap salah satu dari kami ada yang ulang tahun, kami berempat merayakannya bersama.
Tapi C ini mungkin masih merasa asing jika berada di antara kami bertiga. Dia masih suka memendam unek-uneknya pada kami, sehingga seringkali terjadi kesalahpahaman. Bahkan dia pernah menganggap dirinya masih orang luar dan tidak berhak menegur salah satu diantara kami bertiga. Contohnya saat itu gw dan B (teman gw yang cewe) singgah sebentar di tempat jual DVD di kampus gw. Sedangkan A (teman cowo) dan C terpaksa menunggu. Mungkin karena C sedang buru-buru, maka ia berkata pada A, “Suruh mereka cepetan donk.” Lalu A menjawab, ”Ya suruh aja.” C menanggapinya dengan berkata, “Lo kan lebih deket sama mereka. Jadi lo donk yang bilang.”
Dari kalimat tersebut, sudah cukup membuktikan bahwa C masih merasa asing dengan kami bertiga. Padahal bila dilihat dari pertemanan kita berempat, kami bertiga sudah menganggap C adalah bagian dari kami dan tidak seharusnya C merasa asing seperti itu. C juga sering memendam kekesalan pada kami bertiga. Ia tidak akan mau mengaku sebelum kami bertanya langsung dan menyuruhnya jujur.
Puncak kesalahpahaman seperti ini baru saja terjadi kemarin. Pagi-pagi sekali, A menyuruh gw untuk SMS C karena A mau pinjam modem C, kebetulan A sedang tidak membawa HPnya dan membawa HP bokapnya, otomatis dia tidak punya nomor C (mungkin). Gw pun sms C dan C menjawab bahwa provider modemnya sudah lama mati. Gue pun meneruskan pesan itu ke C. Ternyata A salah tangkap, dia pikir maksud sms gue adalah no HP C mati dan tidak bisa dihubungi. Dia pun minta no HP salah satu teman kami yang selalu nebeng mobil C ke kampus. Gw memberi nomornya dan A sms teman kami itu. Lalu saat di kampus, saat selesai kuliah pertama, C menghampiri A dan bilang bahwa A tidak perlu menggunakan perantara untuk SMS dia, sms langsung aja. C memang biasanya berbicara dengan nada yang keras, seperti orang marah-marah. atau memang kemarin moodnya sedang buruk. A pun berkata bahwa C ga perlu marah-marah sebelum tau kejadian sebenarnya dan A bilang bahwa lebih baik dia diam. Sejak saat itu, A dan C tidak saling bertegur sapa dan saling diam.
Tadi baru saja gw mendapat kenyataan yang lebih buruk dari B. Kemarin B memang tidak mengikuti kuliah jam pertama dan ia ingin sms gw. Tapi karena gw gak pake BB, mungkin B ingin menghemat pulsa dan akhirnya BBMin C, menyuruhnya memberi BB C ke gw untuk ngobrol. C membalas BBM itu dengan berkata, “gue duduk di pojokan, jauh dari mereka. Mereka mah cuma sediain bangku buat lo, ga buat gw.” Seketika itu juga gw syok. Ya elah, kemarin itu sebenarnya gw udah duduk di baris kedua dan masih tersisa banyak kursi. Tapi karena banyak teman sekelas kami yang duduk di belakang, maka A mengajak gw duduk di belakang, dan ternyata barisan belakang sudah agak penuh. Bahkan gw aja gak tau kapan C datang, begitu gw menoleh ke pojokan, baru gw melihat ada C.
Sungguh, gw ga bermaksud mengasingkan dia, gw cuma gak tau kalo dia udah datang. Lagipula, kalau memang C ingin duduk bersama kita, seharusnya dia bisa menghampiri kita dan minta duduk bersama, dengan senang hati pasti kami akan mengiyakan. Masalahnya sekarang, C masih merasa asing dengan kita, enggan mengeluarkan isi hatinya. Kalau sudah begini ya susah.
Yah, sejak kejadian kemarin, hari ini C seperti menghindari kita. Selesai kuliah tadi, dia langsung bergabung dengan teman kami yang lain. Biasanya ia pasti akan bertanya mau makan di mana, tapi hari ini berbeda. Kata B, kemarin di mobil juga dia tidak ada bercanda-bercandanya. Saat A dan B turun pun dia tidak mengucapkan bye atau hati2. Parahnya lagi, A malah diam saja, padahal menurut gw, puncak kekesalan C pada kami adalah saat A dan C marah2 usai jam kuliah. Karena setelah jam kuliah itu, C masih mengajak gw bicara, masih normal.
Rencananya sih besok kalo memang sikapnya masih aneh, gw bakal mengajaknya bicara, karena besok gw ada kerja kelompok berdua sama dia. Kan ga enak kalo kerja tapi masih ada unek2. Sekarang yang jadi masalah adalah ego A dan C yang sama2 keras kepala. Gw cuma pengen mereka bicara berdua dan menyelesaikan masalahnya. Gak enak banget kan musuhan dengan teman dekat?

Dari pengalaman gw ini, gw cuma mau menekankan satu hal.
Bicaralah, komunikasi itu penting untuk menjaga hubungan sosial. Gak harus sama teman dekat untuk menjalin komunikasi yang baik, sama teman biasa atau orang baru pun, perlu sekali untuk berkomunikasi.
Kalau semuanya dipendam dalam hati, maka kesalahpahaman itu akan semakin besar dan merenggangkan hubungan pertemanan. Gak nyaman banget deh rasanya! Gak ada salahnya meluangkan waktu kita untuk sejenak mengungkapkan isi hati masing2, dan perlu dilakukan secara rutin. Cara ini ampuh lho untuk mengawetkan sebuah hubungan. Buktinya adalah pertemanan kami bertiga ini. Kalau memang ada unek2, keluarkan, selesaikan, jangan diperpanjang. Sampe nangis2 pun silahkan, kita akan merasa lega dan masing2 bisa saling introspeksi diri.

So, keep the communication! Semoga bermanfaat :)

Wednesday, February 15, 2012

Birthday Gift

Kado. Sesuatu yang ga bisa dibilang wajib dikasih ke orang yg lagi ultah sih.. Tapi kado bisa menjadi lambang bahwa kita menyayangi orang tersebut. Kado bisa diberikan dalam bentuk apapun. Bisa berupa barang maupun doa. Sebagus-bagusnya barang, tapi bila tidak disertakan dengan doa yang tulus, maka kado kita gak akan ada artinya. Biasanya orang memberikan kado berupa benda-benda kesukaan orang yang lagi ultah, bisa juga memberikan sesuatu yang tidak disukai orang tersebut dengan maksud jahil atau surprise, atau apapun. Pokoknya apapun hadiah yang kita berikan, bisa membuat orang lain bahagia dan bersyukur.
Dulu di keluarga gw, mana ada sih yang namanya bikin surprise party kalo salah satu dari kita ada yg ultah? Boro2 deh.. Ngasih ucapan selamat aja ga pernah, kalopun pernah pasti melalui situs jejaring sosial atau SMS aja. Itupun cuma dari saudara, ga pernah dari bonyok. Jadi gw selalu merasa ga bakal ada yang spesial di hari ultah gw dan gw selalu merayakannya bersama teman-teman. Dulu pas gw kecil sih sering dirayain dgn kue tart, tapi semenjak perekonomian keluarga gw pas2an, ga pernah ada lagi yang namanya beli satu kue tart utk setiap orang yg ultah. Paling2 nunggu 2 anggota keluarga yang ultah dulu, baru kuenya beli satu utk barengan. Atau yang paling sial ya ga dapet kue, cuma makan di luar.

Sampai akhirnya tibalah ulang tahun gw yang ke 20. Sebenernya ini udah gw ceritain di posting sebelumnya. Jadi gw ga perlu cerita panjang lebar lagi. Entah ada angin apa, keluarga gw ngadain surprise party. Ga nyangka aja, sepanjang hari keluarga gw ga ada yg ngucapin, tiba2 malemnya pada dateng ke kamar sambil bawa kue, PLUS hadiah dari sodara n NYOKAP gw.. ajib, mukjizat ini namanya. Walaupun nyokap gw patungan sama kakak gw, seenggaknya baca ada nama nyokap di kado gw aja gw udh senang. Itu surprise party pertama di keluarga gw.
Lalu surprise ini berlanjut ke adek gw yang paling kecil. Sayangnya adek gw gak dapet kue, soalnya gw sm kakak gw lagi ga ada di rumah. Jadi kita semua cuma bisa kasih kado buku Korea yang waktu itu pengen banget dia beli cuman ga dibolehin sm nyokap. Syukurlah dia senang banget, walapupun tanpa kue. Maaf ya D:
Kemudian tiba ultah kakak gw pas bulan Desember kemaren. Kita udah beli kue dan hadiah buat dia. Surprisenya juga malam-malam, persis sama kayak ultah gw kemarin.
Lalu ultah nyokap gw pas Januari kemarin. Kita berempat patungan buat beli hadiah kalung dari d’paris, dengan bandul berbentuk daun semanggi. Sayangnya, belum sampai satu minggu kalung itu hilang, yang kemungkinan besar dicolong sama pembantu gw, terbukti dari letak kunci yang berubah di tempat nyokap gw sembunyiin tuh kunci lemari. Kita juga kash bingkai foto dengan foto sekeluarga yang udah diedit dan dihias sama gw. Open-mouthed smile It’s ok, yang penting doa kita utk nyokap tulus, semoga nyokap panjang umur dan bahagia selalu. Amin.
Nah, kemarin, tgl 15 Feb, giliran adek gw yg pertama yang ultah. Kali ini lagi-lagi ga ada kue. Tapi gw jamin kado dari gw, kakak, dan adek terkecil gw pasti spektakuler. Secara adek gw itu ultah ke 17, kita mau kasih hadiah yang bakal buat dia menjerit histeris. Kami udah beli boneka panda dengan ukuran lumayan besar dan lucu. Selama ini dia hunting boneka panda, tapi gak pernah ketemu, kalaupun ada, pasti jelek atau harganya terlalu mahal. Nah, untungnya Tuhan memberikan solusi. Kemarin pas kamu bertiga ke mal, kami menemukan boneka panda yang lucu dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tanpa pikir panjang, kami pun membelinya. Dijamin pasti adek gw bakal HISTERIA..! Dia kan suka banget sama panda..

Yah, semoga di ultah2 ke depan, bakal ada cerita yang lebih menarik di keluarga gw. Masih bingung aja, kenapa tiba2 muncul tradisi seperti ini di keluarga gw. Entah siapa yang mencetuskan, yang pasti semuanya sudah diatur sama Tuhan.
I just wanna thank God because He gives me the best family. I’m so happy with this change.. :)

Friday, January 27, 2012

Pengalaman Cinta bikin Trauma, Trauma bisa Hilangkah?

Banyak banget pastinya orang yang terlalu sering patah hati sampai akhirnya dia menutup hatinya untuk cinta. Yap, gw salah satunya.

Pengalaman cinta gw mungkin ga bisa dibilang banyak banget sih, tapi semua yang gw alami mampu membuat gw menutup hati gw untuk cinta, entah sampai kapan. Mungkin suatu hari nanti ada seseorang yang berhasil membuka pintu hati gw, ga yakin juga sih. U know how I look like. hmm..

Tulisan kali ini gw cuma mau membagi pengalaman gw aja (saking bingungnya mau nulis apa lagi di blog) yang akhirnya sukses membuat gw menutup hati gw.

Pertama kali suka sama orang (belum jatuh cinta) itu pas gw masih sangat belia, masih balita! Waktu itu umur gw 4 tahun, masih TK A (istilah jaman dulu). Gw suka sama temen sekelas gw, namanya Erick (gapapa lah sebut nama, toh gw udah ga pernah ketemu dia lagi). Gw suka sama dia karena dia care sama gw. Tiap istirahat kita selalu main berdua. Setiap jam makan siang, sekolah gw pasti menyediakan kue basah plus teh manis hangat di setiap kelas sesuai dengan jumlah siswa di kelas itu. Erick selalu membawakan kue dan teh itu ke gw. Jadi gw ga perlu lagi repot-repot berebutan dengan anak lain. Hal ini membawa gosip tersendiri di kalangan guru-guru.

Lalu setelah gw pindah ke Jakarta umur 6 tahun, otomatis gw udah pisah sama dia. Sampai kelas 4 SD gw ga suka sama siapapun. Terus pas kelas 5 SD, ada teman sekelas gw yang suka sama gw. Sebut saja A. Awal kedekatan kami itu waktu kami menjadi teman sebangku. Gw sama dia suka ngobrol dan bercanda bareng. Lucunya pas gw minta balpen dia yang gw rasa unik, dia langsung kasih begitu aja, tanpa embel-embel. Padahal tadinya gw cuma bercanda bilang, "ih lucu. Buat gw ya." Gila, baik banget. Gw tau kalo dia ternyata suka sama gw itu dari temen sekelas gw juga. Waktu itu di kantin dia datengin gw dan bilang klo cowo itu suka sama gw. Mendengar hal itu, gw rada ga percaya. Tapi seketika itu juga gw langsung menjauh dan menghindar dari dia. Kita jadi jarang ngobrol. Bahkan pas dia kasih gw kartu natal, gw ga merespon apa-apa. Gw gak mikirin perasaan dia. Gw gak punya perasaan sama dia, dan that's it, gw gak mau ambil pusing. Setelah gw pikir-pikir mungkin ini yang namanya karma atas keadaan gw saat ini.

Untungnya kelas 6 SD gw pisah kelas sama dia. Kami bener-bener udah ga pernah bicara lagi. Kemudian di kelas 6 itu gw suka sama 1 cowo, sebut saja Y. Y ini disukai oleh gw dan sahabat gw sekaligus. Lucunya, gw sama sahabat gw ga berantem karena masalah ini. Bahkan kami saling mendukung dan saling meledek kalau salah satu dari kita mengalami kejadian menyenangkan bersama Y. Keberuntungan mungkin lebih berpihak ke gw, karena gw mendapat kesempatan untuk duduk sebangku dengan Y. Sayangnya berbulan-bulan kemudian, gw dan sahabat gw akhirnya tau kalau Y ternyata suka sama sahabat kami yang lain, yaitu N. Sedih sih, tapi apa boleh buat. Toh N juga ga suka sama Y.

Begitu duduk di bangku SMP, suka gw sama Y lenyap begitu aja. Tapi sahabat gw itu masih bertahan dengan perasaannya, sampai akhirnya di akhir semester genap kelas 1 SMP, dia suka sama salah satu teman seangkatan dan melupakan Y. Lalu saat gw kelas 2 SMP, gw suka sama temen sekelas gw, namanya R. Sayangnya dia akhirnya pacaran sama temen seangkatan kita, maklum lah, cewenya cantik sih. Gw sih bersyukur aja sempet deket sama R. Tapi perasaan suka gw sama R pun untungnya ga bertahan lama.

Nah di kelas 3 SMP inilah yang paling berkesan dan tak terlupakan. Gw suka sama murid pindahan dari Medan. Dia pindah udah dari kelas 2 SMP sih. Namanya Erick, tadinya gw sempet berpikir kalo Erick yang ini adalah Erick yang pernah gw kenal pas TK. Tapi rasanya ga mungkin banget ada kebetulan seperti itu, jadi gw tepis pemikiran gw itu. Ada salah satu sahabat gw yang bantuin gw PDKT, dia nyari-nyari info tentang Erick melalui SMS. Tak disangka ternyata yang jadian malah mereka! Gw sakit hati, apalagi gw taunya bukan dari mulut dia sendiri, melainkan dari mulut sohib gw yang lain. Kami sempet diem-dieman beberapa hari namun akhirnya gw bisa menerima dan kami baikan lagi. Tapi ternyata mereka putus juga setelah SEMINGGU jadian. Sayang banget, padahal gw udh bisa mendukung mereka :(

Lalu orang kedua yang gw sukai di kelas 3 SMP adalah sahabat gw sendiri. Kami mulai kenal deket emang pas kelas 3 itu tapi kami bisa langsung deket kayak sahabat sejati. Awalnya gw menganggap dia biasa aja, secara muka dia juga ga bisa dibilang cakep. Dia juga sukanya sama sahabat gw yang pernah jadian sama Erick itu, tapi selalu ditolak karena emang sahabat gw ga suka sama tuh cowo. Gw juga ga tau kenapa gw bisa suka sama dia. Awal gw menyadarinya adalah pas retret, gw merasakan ada yang beda aja pas gw lagi bareng dia. Dengan bantuan sahabat-sahabat gw, akhirnya gw memberanikan diri NEMBAK tuh cowo. Walaupun ditolak tapi kami tetap menjadi sahabat. Sampai akhirnya pas valentine, persahabatan kami retak. Coklat yang gw kasih ke dia dibagi-bagi ke temen yang lain, surat ucapannya dirobek dan dibuang. Hal ini gw ketahui dari temen sekelas gw yang tau juga kalo gw suka sama dia. Gw marah sama dia dan kami diam2an sampai hari kelulusan. Maaf-maaf dari dia selalu gw abaikan. Nah pas hari kelulusan itulah akhirnya dia ngajak gw ngomong dan minta maaf lagi. Gw yang berpikir bahwa itu adalah hari terakhir kami bertemu pun akhirnya memutuskan untuk memaafkan dia. Kami pun kembali berteman, tapi tidak lagi menjadi sahabat.

Akhirnya duduk di bangku SMA juga! Di kelas 1 SMA inilah akhirnya gw dapet pacar yang real, NYATA! Dia temen sekelas gw. Pertama kali ngobrol itu awalnya dia tiba-tiba pindah ke belakang gw pas jam istirahat dan menanyakan no HP gw. Sejak saat itu kami sering SMSan, awalnya ngomongin pelajaran, sampai akhirnya ngomongin rutinitas sehari-hari. Padahal di sekolah kami sama sekali ga pernah ngobrol, tapi di SMS akrab banget. Sampai suatu hari dia bilang kalo dia suka sama gw melalui SMS. Gw yang ga percaya pun menantang dia untuk nembak langsung. Dia pun menyanggupi. Tapi keesokan harinya malah gw yang kabur dan menghindar dari dia. Gw bahkan nangis sebelum bel masuk saking takutnya ketemu dia. Akhirnya malam itu kami kembali SMSan dan dia mengulangi hal yang sama, lagi-lagi gw menjawab dengan hal yang sama, yaitu ingin dia mengungkapkannya langsung. Esoknya gw gak lagi menghindar. Beberapa menit sebelum bel pulang, dia menghampiri gw dan bilang kalo nanti jangan ke mana-mana dulu. It's show time! Hari itu juga pas pulang sekolah, setelah kelas sepi, dia nembak gw dan gw terima. Kami pun jadian.

Dua setengah tahun sudah kami pacaran. Namun sejak pertengahan kelas 2 SMA, gw merasakan kerenggangan di antara kita. Dia udah gak kayak dulu, lebih cuek. Gw pun berusaha cuek juga. Mungkin di antara kita sudah timbul kebosanan. Sebenarnya gw masih sayang banget sama dia waktu itu. Tapi gw berpura-pura ga peduli dan bertindak seolah-olah gw baik-baik saja. Mungkin kebosanan itu timbul karena gw dulu kan sekelas sama dia, jadi selalu ketemu dan sayang-sayangan. Sejak kelas 2 udah mulai beda kelas dan sibuk sendiri2. Kata buku yang gw baca sih kemesraan yang berlebihan itu tidak baik dan cepat menimbulkan kebosanan. Makanya pas pacaran mesranya yang standar2 aja dulu, kalo sudah nikah baru boleh lebih. Bahkan selama pacaran sebaiknya jangan ada kontak fisik. Tapi yang namanya anak muda mana tahan sih kalo ga gandengan tangan atau berangkulan? ahahaha..

Sampai akhirnya menjelang kelulusan, gw bertanya pada dia, apa hubungan kami mau dilanjutkan atau diakhiri. Karena jawaban dia adalah bahwa dia udah ga ada perasaan cinta sama gw dan ga bisa janji bakal bisa kayak dulu lagi, akhirnya kami pun memutuskan untuk berpisah. Awalnya gw seneng, berasa semua beban selama ini terangkat. Tapi berminggu-minggu kemudian baru gw merasakan kesedihannya. Berasa ditinggalkan dan ga ada yang care lagi sama gw.

Nah, pas awal masuk kuliah, gw udah mulai bisa melupakan mantan gw itu. Lalu ketemulah gw sama temen SD gw di facebook. Kami chatting, bertukar no HP dan SMSan. Lalu akhirnya dia nembak gw tapi ga langsung gw jawab. Gw berdiskusi dulu sama bonyok (ini salah satu bentuk perbaikan dari sikap gw di masa lalu di mana gw waktu itu langsung nerima mantan gw tanpa diskusi, kali ini gw diskusi dulu baru memutuskan). Bonyok bilang suruh datang ke rumah dulu, biar tau kayak apa orangnya. Dan datanglah dia ke rumah gw di suatu siang hari Sabtu. Dia pun sempat ngobrol sama bokap, lalu kami makan bersama. Canggung banget! Secara baru kali ini ada cowo yang dateng ke rumah gw. Gw berasa kaku banget, pokoknya, berasa pengen cepet2 selesai. Akhirnya lega juga pas sorenya dia pulang. Sejak kejadian itu, gw belum jawab apa2 tentang perasaan dia, sampai akhirnya gw denger gosip kalo ternyata cowo itu cepet banget nyari 'mangsa'. Sebelum gw, dia udah pernah nembak 2 atau 3 cewe (gw lupa, pokoknya 2 di antaranya itu temen gw juga) dalam waktu yang sangat dekat dengan aksi penembakan di ke gw. Gw pun menanyakan kebenaran itu ke 2 temen gw itu langsung dan mereka mengiyakan. Mereka menolak si cowo karena emang berasa ga nyaman sama tuh cowo, kesannya terlalu bawel dan terlalu over tipe cowo kayak dia. Nah dari situ lah gw mulai merasa ga sreg sama cowo itu. Gw merasa kalo dia cepat pindah hati dan selalu mencari sasaran baru setelah ditolak oleh sasaran dia sebelumnya. Kan ga banget! Pelan-pelan gw menghindari dia, menjawab SMS sesingkatnya, kebetulan emang dia waktu itu lagi sibuk dengan kuliahnya, gw pun menggunakan alasan yang sama. Lalu status gw yang tadinya "in an open relationship" gw ubah menjadi "single". Saat dia bertanya maksud gw akhirnya gw mengaku kalo gw ga bisa jalan sama dia, dan gw jujur dengan alasan gw, berdasarkan hasil wawancara dengan temen gw yang pernah menjadi sasaran dia. Dia tadinya marah tapi akhirnya mengerti dan kami pun hanya menjadi teman biasa. Sampai sekarang sih gw masih ilfil, nama dia di kontak aja gw ubah jadi "Undefined". hahaha

Oh ya, sebelum kejadian itu, gw pernah suka sama temen sekelas di bangku kuliah. Tapi dia ternyata udah punya cewe. Untungnya perasaan gw ga berlarut-larut.

Yah, sejak kejadian itu, gw ga pernah lagi membuka hati gw untuk siapapun. Lagipula ga ada juga yang PDKT sama gw, melirik ke gw pun nggak. Sejak saat itu, gw selalu memandang jijik kepada orang yang bermesra-mesraan di depan gw. Gw gak lagi suka dengan kata cinta. Gw merasa cinta itu bullshit. Gw gak lagi suka dengan lagu jatuh cinta. Gw lebih suka lagu mellow bertema patah hati. Gw gak tau apa ini yang namanya karma karena udah menyakiti perasaan temen gw yang menyukai gw pas kelas 5 SD atau bukan, karma karena gw udah menyia-nyiakan perasaan orang lain yang tulus (?) ke gw. Mungkin gw iri dengan kehidupan cinta orang lain, tapi gw ga bisa berbuat apa-apa. Gw cuma berharap hati gw bisa terbuka lagi suatu hari nanti.

Dan setelah gw membaca buku berjudul "Pacaran tanpa Ciuman", gw berangan-angan suatu hari nanti kalo gw udah bertemu dengan 'pembuka' hati gw, gw akan berusaha menjalani masa pacaran tanpa kontak fisik. Tentunya sebelumnya harus ada komitmen di antara kita berdua. Supaya kalau akhirnya hubungan kita nanti bisa langgeng sampai pernikahan, ga akan ada rasa boring seperti yang dikatakan oleh si penulis buku tersebut (karena penulis buku itulah yang telah menikmati indahnya Pacaran tanpa Ciuman sampai akhirnya hubungan mereka berhasil sampai ke pernikahan). Dan pacaran tanpa kontak fisik pun bisa berguna bila (amit-amit) akhirnya kita putus, ga akan ada penyesalan atau merasa dirugikan, merasa terbuang, dll. Semua akan aman-aman saja, layaknya kotak hadiah yang belum disentuh sama sekali.

Demikianlah sharing gw, agak panjang sih. Mau dibaca silahkan, nggak ya ga apa-apa. Yang penting dari sharing ini gw berharap bisa menemukan seseorang berhasil membuka hati gw.

Sekian. :)

Sunday, December 11, 2011

Berani?

Seringkali gw menerima ucapan dari teman gw seperti ini, “Hati-hati ya, Phe. Kalo ada yang macem-macem, pelototin aja pake tatapan maut lo.” Atau, “Gila lo kalo diliat dari belakang cool banget, mana ada yang berani sama lo. Liat tuh si B (cewe), gayanya kayak cewe, elu cowo banget.”
Ucapan-ucapan itu gw terima kalo gw dan temen gw pulang malem dan gw harus balik ke kosan sendiri malem-malem. Gw akui mereka benar, tatapan gw emang tajam, gaya gw emang cowo banget, cool, ditambah dengan body gw yang bisa dibilang over, mungkin bagi sebagian orang akan berpikiran kalo gw ini jutek, tegar, dan berani.
Sebenarnya, dibilang berani sih nggak. Siapa sih yang gak takut pulang sendirian malem-malem, jalan kaki, cewe pula. Preman kan ga memandang bulu kalo mau gangguin orang. Gw juga manusia biasa, lebih tepatnya cewe biasa, gw juga punya rasa takut. Tapi karena udah keseringan mengalami hal seperti itu, pulang malam sendiri udah merupakan hal yang biasa. Toh gw juga udah mengenal jalan yang selalu gw lewati setiap hari dan untungnya gw belom pernah mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.
Gw berani, karena gw udah biasa. Gw cuma bisa berdoa setiap pulang malam supaya ga digangguin siapapun.
Gw berani karena biasa. Gw juga nggak tau kenapa gw bisa berani seperti itu. Tapi setelah gw menerka-nerka sendiri kayaknya memang kalimat itu yang cocok. Gw berani karena biasa.
Sejak kecil gw biasa melakukan hal sendiri. Bahkan kata bokap gw, pas masih balita, gw udah bisa jalan sendiri tanpa diajarin. Mungkin itulah awal mula kenapa gw bisa menjadi seperti sekarang. Dari dulu gw jarang merasakan yang namanya dilindungi. Waktu kecil, gw sering ‘disiksa’ sama pembantu yang mestinya bertugas menjaga gw selama bonyok di toko. Sedangkan kakak gw malah bersekongkol dengan pembantu itu. Gw jadi merasa gak terlindungi, bahkan gw-lah yang harus melindungi adik-adik gw karena mereka mengalami nasib yang sama kayak gw, terutama adik gw yang paling kecil. Mungkin karena itulah gw dan adik gw itu jadi deket, gw udah terbiasa melindungi dan deket sama dia.
Sejak kecil gw selalu menjadi anak yang ‘tersisih’. Sodara-sodara gw bebas meminta apa yang mereka mau tanpa diomeli, walaupun akhirnya jarang yang dikabulkan. Tapi kalau gw yang minta, nyokap pasti langsung menyindir gw, bilang kalau gw ini jangan dimanja, nanti ngelunjak. Padahal gw jarang meminta yang macem-macem. Entah mengapa dari dulu nyokap sensi sama gw. Bahkan ketika gw deket sama tante gw, gw diomongin di belakang sama nyokap, nyokap bilang kalau gw cari muka. Padahal kalau diliat-liat, apa gw sering meminta ini-itu? Gw gak sedurhaka itu kok, gw juga mengerti kondisi keluarga. Sedangkan sodara-sodara gw yang sering meminta macem-macem gak pernah disindir-sindir. Makanya, sampai sekarang pun gw belum berani minta yang macam-macam. Apalagi saat gw udah hidup sendiri di kos, uang jajan seminggu itu harus cukup, kalaupun seandainya kurang, gw ambil tabungan gw. Gw ga berani minta-minta, selain ga enak sama bokap, gw juga ga mau kalau disindir dan dibilang yang macem-macem lagi. Walaupun bokap sering bilang gak apa-apa kalau gw mau minta uang lebih kalau memang butuh banget. Tapi sebisa mungkin gw harus berhemat dan uang yang dikasih mesti cukup untuk seminggu.
Alasan lain adalah.. Bonyok selalu khawatir berlebihan kalau kakak gw kenapa-napa, entah sakit atau apalah. Sampai2 mereka pernah jemput kakak gw dari kos ke rumah cuma karena kakak gw sakit diare dan gak bisa pulang sendiri. Kalau kakak gw mau pulang ke rumah, jam berapapun, mereka selalu bisa berusaha untuk menjemput di terminal. Sedangkan gw pasti disuruh menunggu sampai malam, atau pulang sendiri naik angkot. Setiap pulang ke rumah, kakak gw selalu diberi minuman vitamin sama nyokap, biar ga keteteran kalau begadang. Sedangkan gw? Boro-boro deh dikasih gituan. Jadi, sebenarnya gw ini diposisikan sebagai siapa sih di keluarga? Makanya gw adalah orang yang paling tertutup di keluarga. Kalau bokap nanya tentang kabar kuliah gw, gw selalu menjawabnya dengan ogah-ogahan dengan kalimat, “Ya gitu lah..” Apa sih peduli mereka? Pokoknya yang mereka perlu tau kalau gw baik-baik aja, gw akan berusaha menyelesaikan kuliah dengan baik.
Yah, mungkin alasan-alasan di atas yang membuat gw udah biasa melakukan semua hal sendiri, enggan meminta tolong, dan sebisa mungkin melindungi diri sendiri tanpa merepotkan orang lain. Ya, melindungi diri sendiri itulah yang paling penting. Karena, kalau bukan gw sendiri yang melindungi diri, siapa lagi? Keluarga? Kayak mereka care aja sama gw. Dan sampai sekarang gw belum punya someone.
Kalau kalian tanya apakah gw pernah ingin merasakan rasanya dilindungi, jawabannya BIG YES!
Jadi, siapa yang nantinya akan menjadi pelindung dan pendamping gw? Open-mouthed smile

Thursday, November 24, 2011

My Dream High

Semalam aku bermimpi…
Hari ini adalah hari ulang tahunku.. Tapi aku tidak merasa ada yang spesial. Bangun pagi dan berangkat ke sekolah seperti biasa. Menerima ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman sekelasku di kelas X-2, termasuk dari pacarku yang sekelas juga denganku. Semuanya berjalan biasa, sampai akhirnya siang pun tiba.
Di tengah pelajaran, setengah siswa dari kelasku keluar kelas. Aku tidak tau kenapa, tiba-tiba saja mereka keluar. Aku dan pacarku pun mengkuti mereka keluar. Entah mengapa tiba-tiba saja aku sudah berjalan di barisan paling depan. Kelasku ada di lantai dua, aku dan teman-temanku turun tangga. Lalu saat mendekati lantai bawah, tiba-tiba temanku yang lain muncul dan menyanyikan selamat ulang tahun padaku sambil membawa kue. Aku terkejut, tidak menyangka akan mendapat kejutan ini. Tapi aku tidak melihat sosok seseorang yang aku tunggu dan aku merasa kecewa.
Setelah meniup lilin, tiba-tiba (lagi) ada seseorang yang keluar dari balik dinding. Aku terkejut sekaligus gembira karena orang itulah yang aku harapkan hadir saat ulang tahunku. Ya, dialah Jang Geun Suk, teman dekatku. Ia keluar dan membawa sepotong kue. Aku pun tersenyum senang dan meniup lilin di atas kue yang ia bawa.
Lalu ia memberikan kue itu pada temanku yang lain dan tiba-tiba saja memelukku dengan sayang. Ia pun menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dalam bahasa Korea tepat di telingaku. Suaranya lembut dan membuatku melayang. Aroma tubuhnya wangi dan menenangkan. Aku tak menyangka bisa mendengar suaranya yang jernih di telingaku. Selama ini aku hanya bisa mendengar suaranya di televisi karena dia adalah seorang penyanyi dan aktor di Korea. Aku belum bisa percaya ia rela datang ke Indonesia hanya untuk merayakan ulang tahunku.
Sempat aku melirik ke arah pacarku. Wajahnya terlihat cemburu, tapi aku tidak peduli. Aku memang tidak lagi memiliki perasaan padanya seperti dulu. Kini yang aku harapkan mendampingiku hanyalah Jang Geun Suk, dan aku senang ia ada di sampingku sekarang. Setelah acara ulang tahun selesai, Jang Geun Suk mengajakku untuk berjalan-jalan. Aku pun meninggalkan sekolahku dan pergi dengannya. Kami berjalan-jalan di mal sambil bergandengan tangan dan tertawa-tawa dengan ceria, layaknya dua sahabat yang telah lama berpisah. Aku berharap, ada saatnya Jang Geun Suk akan memintaku untuk mendampingi hidupnya, karena aku sadar ternyata aku begitu merindukan dan mencintainya.”
It’s just a dream and will never be true.. You may laugh cause I’m laughing at myself too for this dream high..



Thursday, September 8, 2011

Teardrops on My Guitar_Taylor Swift

Drew looks at me, I fake a smile so he won’t see
that I want and I’m needing everything that we should be
I’ll bet she’s beautiful, that girl he talks about
and she’s got everything that I have to live without

Drew talks to me, I laugh cause it’s so damn funny
that I can’t even see anyone when he’s with me
He says he’s so in love, he’s finally got it right
I wonder if he knows he’s all I think about at night

StarHe’s the reason for the teardrops on my guitar
The only thing that keeps me wishing on a wishing star
He’s the song in a car I keep singing, don’t know why I do

Drew walks by me, can he tell that I can’t breathe?
And there he goes, so perfectly
The kind of flawless I wish I could be
She’d better hold him tight, give him all her love
Look in those beautiful eyes and know she’s lucky cause
Star
So I drive home alone as I turn out the light
I’ll put his picture down and maybe get some sleep tonight

Cause he’s the reason for the teardrops on my guitar
The only one who’s got enough for me to break my heart
He’s the song in a car I keep singing, don’t know why I do

He’s the time taken up but there’s never enough
and he’s all that I need to fall into..

Drew looks at me, I fake a smile so he won’t see..