Thursday, January 9, 2014

不止白馬王子 (More than Prince Charming)


Story type     : One Shoot
Chinese Title : 不止白馬王子
English Title  : More Than Prince Charming
Cast:   - Dean Fujioka
           - Lin Chen Xi

***

Zhao bu dao ren shuo xin li de ji mo
Zhao bu dao ren dong pa hei de zhe mo
Zhao bu dao ming zhong zhu ding zai yi qi de na ge ren
Hen duo ren dou xiang wo, yi ge ren guo sheng huo
Ai zhe you jian dan bi hua
Que bi xiang xiang fu zha, hen an ding ai bian hua
Wo ai guo ji ge ren, ye bei ai guo ji bian
Que hai shi mei neng jiang xing fu liu xia
Ai shi bu ke shu de ma
Wei he wo hai xiang xin ta bu shi du xing xia
Wo zai deng yi ge ren, zai deng wo de yong heng
Gao su wo ai bu dan xing, bie hai pa.
-Show Luo_Ai Bu Dan Xing-

“Chen Xi, qu kai menYou ren lai! (Buka pintu. Ada tamu!)” ibuku berteriak sangat kencang di saat aku sedang menikmati lagu-lagu kesukaanku di kamarku yang nyaman. Hari ini adalah hari Minggu, hari di saat aku berhak untuk beristirahat sejenak dari kepenatan setelah 5 hari bekerja. Tapi kenapa ibu tidak mau mengerti? Kenapa harus aku yang membuka pintu? Tidak bisakah ibu sendiri yang membukanya? Lagipula tamu itu pasti bukan untukku, entah tamu untuk ayah atau ibu. Teman-teman sekantorku bisa dibilang tidak mungkin datang ke rumahku karena rumah kami yang sangat berjauhan.

“Chen Xi!! Ibu sedang memasak, cepat turun dan buka pintu!” seolah menjawab pertanyaanku, ibu kembali berteriak, membuatku mau tak mau turun dari ranjangku dengan perasaan tidak rela dan mematikan player di atas meja.

“Iya, bu!!”

Aku pun keluar kamar dan sempat melihat ibu kembali ke dapur dengan tergesa-gesa. Memangnya ibu sedang  memasak apa? Biasanya setiap Minggu ibu tak pernah memasak dan kami sekeluarga akan makan di luar ataupun menggunakan jasa delivery.

Begitu pintu depan rumah kubuka, tampak seorang pria sedang memunggungiku dengan setelan kaos berkerah berwarna putih dan celana jeans. Dari potongan rambutnya yang sedikit panjang, aku langsung tau siapa yang datang.

Qing jinWo qu jiao wo ba. (Masuk saja, biar kupanggilkan ayah).” Kataku singkat dan agak ketus.

Dean langsung membalikkan badannya. Detik berikutnya ia tersenyum manis padaku. Senyuman yang selalu kulihat setiap minggu akhir-akhir ini. Entah kenapa sejak 4 bulan yang lalu, Dean, salah satu rekan bisnis ayahku, selalu datang ke rumahku setiap akhir pekan untuk menemui ayah. Entah apa yang membuat mereka terlihat dekat, mengingat usia Dean yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Dan aku juga tak pernah tahu apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka akan menghabiskan waktu berbincang-bincang hingga sore tiba.

Aku sendiri tidak begitu suka dengan kehadiran Dean karena ia telah merusak hari tenangku di akhir pekan. Aku yang biasanya banyak berbincang-bincang dengan ayah di akhir pekan, akhir-akihir ini jadi berkurang sejak kehadiran Dean. Dan aku harus rela hanya dengan menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik di kamar.

Tapi sebenarnya.. Bukan hanya alasan itu saja yang membuatku tidak menyukai kedatangan Dean. Setiap kali aku melihat wajah Dean dan senyum manisnya yang kuakui cukup menawan, kadang membuat jantungku berdetak lebih cepat dan nafasku terasa lebih sesak, namun.. menenangkan. Aku tidak tau apa yang kurasakan dan aku tidak mau tau karena yang aku tau, ini pertanda buruk.

Bagi wanita biasa sepertiku yang selalu patah hati, menyukai seseorang adalah hal yang paling kuhindari. Aku tidak mau lagi jatuh di kubangan yang sama. Aku tidak mau lagi menyukai seseorang dan selalu berakhir dengan patah hati. Aku selalu berharap bisa menyukai seseorang dengan penampilan yang biasa saja, tapi hatiku selalu memilih pria dengan penampilan bak seorang pangeran berkuda putih dan itulah yang menyebabkan perjalanan cintaku tak pernah mulus. Entah karena pria itu sudah memiliki pacar, bahkan sudah punya istri, atau hanya karena ia tidak menyukaiku. Ya, pria tampan memang tak pernah ditakdirkan untukku.

Dean, adalah salah satu dari pria dengan wajah setampan pangeran berkuda putih, bahkan lebih indah dari itu. Darah Jepang dan Cina mengalir dalam tubuhnya, membuat wajah orientalnya tampak berbeda dengan pria kebanyakan. Dan itu berarti bencana bagiku! Aku harus menghindarinya, itulah keputusanku.

Dean mengangguk. Aku pun masuk ke dalam rumah diikuti Dean. Begitu aku hendak naik ke atas untuk memanggil ayah, tiba-tiba saja ayah sudah ada di hadapanku, membuatku sedikit terkejut.

“Chen Xi, buatkan minuman untuk Dean.” Kata ayah.

Aku mengernyit sebentar. Biasanya ibu yang menyuguhkan minuman untuk Dean. Lalu aku teringat bahwa ibu sedang memasak di dapur. Jadi mau tak mau aku mengangguk dan berjalan ke dapur. Tapi setelah beberapa langkah aku menepuk dahiku pelan, dan membalikkan tubuhku.

“Dean, ni yao he shen me (ingin minum apa)?” kataku lagi-lagi dengan nada yang sengaja kubuat tidak bersahabat.

“Teh manis hangat saja.” Katanya dengan senyuman yang lagi-lagi membuat jantungku berhenti berdetak.

Aku langsung mengabaikan perasaan itu dan kembali melangkah ke dapur. Kulihat ibuku sedang sibuk dengan penggorengan dan spatulanya.

“Ibu sedang masak apa sih? Tumben sekali hari Minggu begini ibu memasak.”

Ibu hanya menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Aku melihat ke dalam isi penggorengan dan melihat ibu yang ternyata sedang membuat mi goreng.

“Kenapa ibu memasak mi goreng?”

“Bukankah sudah tradisi jika ada yang berulang tahun, kita harus makan mi?” pertanyaan balik ibu membuatku mengernyit.

“Memangnya siapa yang ulang tahun?” aku kembali mengingat tanggal hari ini. Sepertinya hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari ulang tahun ayah ataupun ibu.

“Dean.” nama yang keluar dari mulut ibu itu membuatku tersentak.

“De.. Dean? Jin tian shi ta de sheng ri ma (Dia ulang tahun hari ini)?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa ia ke sini? Bukankah seharusnya ia merayakan ulang tahun bersama keluarganya?”

“Orang tuanya tinggal di Jepang. Ia di sini sendirian. Makanya ayah menyuruhnya datang untuk makan bersama.”

“Oh.” Hanya itu yang kuucapkan. Jadi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kasihan juga ia tinggal sendiri di sini.

“Hei, kau ke dapur untuk apa?” tanya ibuku.

“Oh iya, hampir saja lupa. Aku mau membuatkan teh untuk Dean.”

Aku segera menyiapkan kantong teh dan membuatkan teh manis hangat untuk Dean. Setelah selesai membuat teh, aku melangkah keluar dari dapur dan segera meletakkan teh itu di atas meja ruang tamu. Aku menatap Dean sekilas yang sepertinya sedang membicarakan masalah bisnis dengan ayah. Aku menimbang sejenak, apa seharusnya aku mengucapkan selamat ulang tahun? Biar bagaimanapun, aku sudah mengetahui hal ini, jadi sudah seharusnya aku mengucapkan selamat, kan? Tapi melihat Dean yang sedang asyik berbincang, aku pun memilih diam dan membantu ibu menyiapkan makan siang di dapur.
...

Makan siang hari ini adalah makan siang paling membosankan yang pernah aku alami. Bagaimana tidak? Sepanjang makan siang, ayah, ibu, dan Dean terus saja bercerita, cerita yang tak pernah bisa kupahami karena itu menyangkut bisnis ayah di kantor. Dan aku hanya bisa terus mengunyah, berharap makanan di atas piringku cepat habis. Begitu piringku kosong, aku segera membawa piringku ke dapur dan mencucinya. Dan tanpa permisi, aku langsung naik ke atas untuk kembali mendengarkan lagu-lagu favoritku, sementara mereka masih saja asyik bercanda tawa. Lama-lama aku jadi merasa mempunyai seorang kakak, dan aku adalah adik tiri yang diabaikan.

Kali ini aku memutuskan untuk mendengarkan lagu di balkon lantai atas rumahku. Mengurung diri di dalam kamar juga lama-lama membuatku bosan. Lebih baik aku mencoba keluar dan menikmati angin siang yang tampak damai. Aku mengambil mp3 dan headset dari kamarku, lalu berjalan ke balkon dan duduk di salah satu kursi. Balkon ini salah satu tempat favoritku dan ayah untuk berbincang-bincang atau bermain monopoli.

Aku pun mulai memasang headset di telingaku dan menikmati setiap lantunan lagu. Semakin lama kesadaranku semakin memudar. Aku hampir tertidur pulas saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat menempel di keningku sekilas. Seperti sebuah kecupan yang biasanya ibu berikan padaku sebelum tidur. Tapi ini terasa berbeda. Aku mencoba membangunkan diriku sendiri. Tapi karena aku sudah terlanjur mengantuk, aku kembali tertidur, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya bagian dari mimpiku.

Entah berapa lama aku tertidur, saat kubuka mataku, lagu dari mp3-ku masih melantun, langit sudah berubah menjadi sedikit teduh, mungkin sudah hampir sore.

Ni qi lai le ba (Kau sudah bangun)?” suara itu membuatku tersentak dan menoleh ke sampingku. Jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya saat menemukan Dean sedang duduk di kursi sebelahku, menatapku, dan tersenyum.

“De.. Dean? Ni zen me zai zhe’r (Kenapa kau ada di sini)?”

Wo deng ni qi lai (Aku menunggumu bangun).” Katanya.

“Hah? Untuk apa? Bukankah kau biasanya berbincang-bincang dengan ayah?”

Jin tian wo yao dai ni qu zou zou. (Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan). Di sekitar sini saja.”

Qu zou zou (Jalan-jalan)?”

Shi. Ni yao ma (Ya. Kau mau)?”

Tentu saja aku mau! Aku berteriak dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah “Ke yi (Boleh).” yang tentunya dengan nada datar. Kadang hati dan mulut memang tidak sejalan, atau memang aku yang sengaja membuatnya tidak sejalan karena aku tau aku tidak boleh menyukai pria dengan jenis seperti ini.

Dean memilih untuk menaiki sepeda untuk berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan tempat tinggalku. Kebetulan aku memang punya sepeda yang sering kugunakan untuk pergi berbelanja di minimarket dekat rumahku. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat duduk di belakang Dean. Hatiku benar-benar berdebar-debar, rasanya ingin melompat keluar. Punggung Dean yang lebar dan bidang membuatku ingin sekali menyandarkan kepalaku di sana. Aroma tubuhnya yang lembut membuat hidungku terbuai. Namun lagi-lagi kutepis pikiran gilaku ini dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terus bertumbuh.

Jalanan yang sedikit berbatu membuatku oleng berkali-kali. Ingin rasanya aku memeluk pinggang Dean, tapi aku tau aku tidak bisa melakukannya. Jadi aku memilih untuk mencengkeram sedikit bagian dari kursi boncengan yang terbuat dari besi, membuat tanganku agak sakit.

Dean menghentikan sepeda saat kami tiba di sebuah taman.

“Turunlah.” Katanya.

Aku pun turun dari sepeda dan melihat ke tanganku yang memerah sekilas.

“Untuk apa kita ke sini?” tanyaku.

“Hanya sekedar menikmati pemandangan. Kau pasti bosan di rumah kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung melangkah menuju ayunan, mainan favoritku di taman ini. Dean menyusulku. Sebelum aku sempat mengayunkan ayunanku, ia berjongkok di hadapanku sehingga pandangan mata kami sejajar, membuatku terkejut dan bingung.

“Perlihatkan tanganmu.” Katanya.

Shen me (Apa)?”

“Kubilang, perlihatkan tanganmu.” Nada suaranya terdengar tegas namun lembut, membuatku mengarahkan tanganku padanya.

Dengan cepat ia membalikkan telapak tanganku sehingga tampaklah telapak tanganku yang memerah karena cengkeramanku pada besi boncengan sepeda tadi.

“Kau tidak perlu membuat tanganmu seperti ini.” Katanya sambil mengelus telapak tanganku. Ada rasa hangat yang mengalir dari sana. Aku hanya bisa diam. Menikmati setiap sentuhan tangannya. “Kau bisa memeluk pinggangku lain kali. Lebih aman.” Katanya sambil tersenyum padaku. Aku tidak tau lagi harus berbuat atau berkata apa. Pikiranku kosong, seperti terhipnotis oleh setiap kata, sentuhan, dan senyumannya.

Sheng ri kuai le (Selamat ulang tahun).” Hanya itu kalimat yang terlintas di otakku, mengingat bahwa aku belum mengucapkan selamat padanya.

Xie xie (Terima kasih). Kau tidak ingin memberikanku hadiah?”

Li wu (Hadiah)? Ni yao shen me li wu ne (Memangnya kau mau hadiah apa)?”

Ni (Kau).”

“Hah?”

“Chen Xi, ni xiang cheng wei wo de nǚ peng you ma (kau mau jadi pacarku)?”

Saat itu juga aku melongo, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“A.. Apa?”

“Aku tau kedatanganku membuatmu tidak nyaman selama 4 bulan ini. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu, walaupun hanya memandang wajahmu yang selalu cemberut saat menatapku. Aku minta maaf karena sudah merusak akhir pekanmu setiap minggu. Aku..”

Ni shi zhen de ma (Kau serius)?” aku memotong ucapannya.

“Apa?”

Ni shuo de, shi zhen de ma (Kau serius dengan perkataanmu itu)?”

Da.. Dang ran ah~ (Te.. Tentu saja.)”

Ke shi (Tapi).. kau ini punya wajah yang tampan, melebihi pangeran berkuda putih.” Kata-kataku mulai terdengar kacau.

Ran hou ne (Lalu)?” Dean menatapku bingung.

Ni bu ke neng xi huan wo (Kau tak mungkin menyukaiku). Ma.. Maksudku, aku tidak mungkin disukai oleh pria tampan sepertimu. Maksudku.. aku selalu patah hati setiap kali menyukai seseorang, dan.. pria yang kusukai selalu memiliki wajah yang tampan. Dan kau.. kau bahkan memiliki wajah lebih tampan daripada pangeran berkuda putih. Kau.. Kau mengerti maksudku, kan? Jadi, tolong bangunkan aku dari mimpi indah ini, cubit aku, pukul aku agar terbangun..” aku mulai meracau.

Tapi bukannya mencubit atau memukulku, Dean malah menarik kepalaku dengan lembut dan mencium keningku. Seketika itu juga kehangatan mulai menjalari tubuhku. Ciuman di keningku saat ini, sama persis dengan yang tadi siang kurasakan saat sedang setengah tertidur. Apakah mungkin yang tadi menciumku adalah Dean? Dan kehangatan ini, bukankah sudah menunjukkan bahwa aku tidak bermimpi?

Begitu Dean menjauhkan bibirnya dari keningku, ia memandangku dengan lembut dan tersenyum.

“Apa sekarang kau masih belum yakin bahwa ini nyata? Chen Xi, wo zhen de xi huan ni (aku benar-benar menyukaimu). Sejak pertama kali aku melihatmu saat aku mengunjungi rumahmu 4 bulan yang lalu. Yah, walaupun kau tak pernah menyukai keberadaanku.”

Wo xi huan (Aku suka)!”

“Hah?”

“Sebenarnya aku suka kau datang. Aku.. Aku bukannya tidak suka. Aku selalu menghindarimu karena aku selalu berdebar-debar saat melihatmu. Aku selalu berusaha memadamkan perasaanku ini karena.. karena aku pikir.. aku tidak seharusnya menyukai seorang pria tampan lagi.” Aku mulai berkaca-kaca.

Dean menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau tak perlu memadamkan perasaanmu, Chen Xi, karena aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu.”

Aku mengangguk dalam pelukannya. Air mataku menetes karena terharu, tidak percaya bahwa Tuhan akan sebaik ini padaku. Aku selalu patah hati setiap kali menyukai seorang pria tampan, tapi Tuhan malah memberiku seorang pria yang bahkan jauh melebihi kata tampan. Bahkan Dean adalah sosok yang baik dan romantis. Buktinya, ia bisa dekat dengan ayahku yang umurnya berbeda jauh dengan Dean. Itu berarti ada sisi baik dari Dean yang disukai ayah.

“Dean, tadi siang, aku bermimpi.” Kataku. “Aku bermimpi ada seseorang yang mencium keningku. Seperti yang kau lakukan tadi.”

“Kau merasakannya?”

Aku mengangguk.

“Itu bukan mimpi.” Aku pun tersenyum, sudah menduga bahwa ciuman tadi siang memang terlalu nyata untuk bisa dikatakan mimpi.

“Kau tau, aku tidak akan pernah berani mengajakmu keluar tanpa izin ayahmu.” Dean kembali berkata.

Aku melepaskan pelukanku dan menatap Dean.

“Maksudmu, ayah sudah mengizinkanmu mengajakku keluar?”

Dean menggeleng.

“Lalu?”

“Ayahmu.. sudah merestuiku untuk menjadi calon menantunya.”

Aku terbelalak. “Zhen de ma (Benarkah)?”

Dean mengangguk dan tersenyum. Aku pun memeluknya dengan erat. Ini adalah hari paling indah seumur hidupku. Dan kehidupan indah ini akan terus berlanjut selamanya. Aku yakin itu.

Ting zhe na shi jian di da de zhou
Dui jie de ni zai dian tou
Hao xiang yi ge meng jian jian zou dao wo qian tou
Hao xiang zhi dao ni de yi bai fen hui gei zen yang de ren
Qin’ai de ni, bu yao zai mo sheng, zheng jia wo xi fen
Wo xiang wen qin’ai de ni,
Ba gan qing sheng deng peng you bian cheng qing ren
Ke bu ke yi gao su wo biao zhun
Bu yao rang wo yi zhi deng
-Rainie Yang_Li Xiang Qing Ren-

***END***

Thursday, October 24, 2013

7 Days Love Story

Sekolah SMA Bunda Kasih sudah terlihat sepi. Langit memang sudah mulai gelap. Lapangan parkir sudah lengang, hanya tersisa 3 mobil yang terparkir manis, menunggu sang pemilik datang dan membawanya pulang ke rumah. Namun di parkiran tidak hanya mobil saja yang terparkir manis. Seorang siswi SMA yang pastinya adalah murid sekolah itu tampak duduk manis di bangku yang terletak di pinggir lapangan. Sambil sesekali melihat jam tangannya dan melihat ke dalam gedung sekolah, seakan sedang menunggu seseorang.
Sementara itu dari kejauhan, tampak segerombol siswa yang sedang melangkah menuju gerbang depan sekolah sambil tertawa dan bercanda ria. Siswi yang sedari tadi menunggu pun mulai memasang senyum gembira. Ia mengambil tas di sampingnya dan menyampirkannya ke bahu lalu berdiri. Gerombolan siswa itu mulai mendekat.
“Hai, Dew.. Setia nih ye nunggu Yayang Adit.” Celetuk salah satu dari gerombolan itu. Yang diajak bicara hanya tersenyum ramah. Kemudian seorang siswa yang tak lain adalah Adit, mendahului langkah teman-temannya dan menghampiri siswi tersebut yang ternyata bernama Dewi, diiringi siulan teman-temannya.
“Kok belum pulang, Dew? Kan aku udah bilang pulang duluan aja, udah sore begini.”
Sekali lagi Dewi tersenyum manis. “Gak apa-apa kok. Aku cuma mau nunggu kamu aja. Biar bisa pulang bareng. Boleh kan?”
Adit tersenyum simpul, seperti senyum yang agak dipaksa. “Tentu boleh. Tapi kan aku gak enak sama kamu. Aku rapat sampai sore begini. Lain kali gak usah nunggu ya kalau aku rapat. Aku gak mau kamu kecapean.”
Dewi lagi-lagi tersenyum, kali ini dengan ekspresi malu-malu senang. Ternyata Adit begitu memperhatikannya.
“Duluan ya, Dit, Dew, jangan kelamaan pacaran, nanti dicariin Mama.” Lagi-lagi celetukan salah satu siswa terdengar diiringi tawa semua gerombolan itu. Adit dan Dewi hanya melambaikan tangan dan berpaling lagi pada Dewi.
“Iya deh, cuma sekali ini aja kok aku nungguin kamu. Makasih ya udah perhatian sama aku.”
“Yuk pulang.” Adit perlahan menggandeng tangan Dewi. Dewi sendiri terkejut sesaat namun kemudian tersenyum senang. Pipinya merona merah. Ia merasa ingin selamanya menggandeng tangan Adit.
Adit dan Dewi. Baru kemarin mereka jadian. Dewi adalah siswi kelas satu SMA yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Adit yang ternyata sudah menginjak kelas tiga SMA. Dewi mulai menyukai Adit saat MOS berlangsung. Adit adalah kakak pembimbing di kelasnya. Adit berbeda dengan kakak kelas yang lain. Adit baik, tidak pernah marah apalagi membentak juniornya, sabar, dan bersahabat. Bila ada yang melanggar aturan, Adit hanya memberinya sedikit teguran dan hukuman yang ringan. Dewi menyukai senyuman Adit yang mempesona, yang mampu membuatnya ikut tersenyum.
Dewi tetap menyukai Adit walaupun MOS telah berakhir. Banyak siswa baru yang berwajah tampan di kelasnya, namun tak satupun yang mampu menggantikan Adit di mata Dewi. Baginya, Adit-lah sosok yang paling sempurna, lagipula Adit adalah kakak kelasnya, pastinya lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Diam-diam Dewi sering memperhatikan Adit. Dewi selalu menunggu Adit lewat di depan kelasnya saat istirahat tiba hanya untuk memandang wajahnya. Dewi pun tak segan-segan mengikuti Adit diam-diam ke kantin dan mencari tau makanan apa yang dibeli Adit di sana. Dewi sendiri pura-pura membeli minuman dan duduk di belakang meja yang Adit untuk menikmati pemandangan indah di hadapannya, walaupun yang terlihat hanya punggungnya saja yang sesekali bergetar karena tawa yang ia keluarkan bersama teman-temannya. Dewi sampai hafal kebiasaan Adit, keluar kelas lima menit setelah bel istirahat berbunyi, ke kantin, lalu membeli semangkuk soto ayam juga jus tomat. Dewi mulai menyukai jus tomat sejak saat itu.
“Cewek di belakang kayaknya ngeliatin lo mulu, Dit.” Kata teman Adit yang sedang makan di kantin bersama Adit suatu hari. Dewi hampir tersedak mendengarnya dan berpura-pura sibuk dengan HP-nya dan menikmati jus tomat di hadapannya. Adit menoleh, membuat jantung Dewi semakin berdebar tidak keruan. Itu pertama kalinya Adit memandangnya. Dewi senang tapi pura-pura tidak tau. Begitu Adit kembali pada posisinya, Dewi menarik nafas lega lalu dengan cepat minggat dari tempat itu.
Lalu entah ada angin apa, suatu hari saat pulang sekolah, Dewi yang sedang melangkah keluar gedung sekolah melihat sosok Adit dari kejauhan sedang berdiri bersandar pada pos satpam. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan ia menatap sepatunya dengan ekspresi datar. Dewi terpesona dengan gaya Adit yang seperti itu. Ingin sekali ia mengeluarkan ponselnya dan memotret, mengabadikan gaya Adit itu. Dewi pun dengan gugup terus berjalan. Ia pura-pura tidak melihat Adit ada di sana. Lalu saat sudah mendekati Adit, Dewi mempercepat langkahnya dan menatap lurus ke depan. Ia pun berhasil melewati Adit dan bernafas lega.
“Dewi!” Kelegaan Dewi musnah. Jantungnya mulai berdebar lagi, kali ini jauh lebih kencang. Apa ia tidak salah dengar? Bukankah itu suara Adit? Adit memanggilnya? Ah, tidak mungkin, pikir Dewi. Pasti ada salah satu temannya yang suaranya mirip dengan Adit. Dengan gugup Dewi menoleh, mencari temannya yang mungkin memanggilnya tadi.
“Hei, aku yang memanggilmu.” Adit berkata, membuat Dewi ingin pingsan. Adit memanggilnya? Adit tau namanya? Tak urung Dewi merasa sangat senang. Tapi ia masih ingin jual mahal, malu kan kalau ternyata bukan ia yang dimaksud? Dewi menoleh ke belakang, memastikan bahwa memang dirinyalah yang dipanggil.
“Iya, kamu. Hanya satu Dewi yang aku kenal.” Kata Adit. Dewi pun tersenyum ramah, walau dalam hatinya ia ingin tersenyum lebih lebar. Dewi pun menghampiri Adit, tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
“Kak.. Kak Adit manggil saya? Ada apa?”
“Pulang bareng yuk.” Kata Adit enteng.
WHAT?! Pulang bareng? Mimpi apa Dewi semalam? Ia bisa mendapat durian runtuh hari ini. Adit mengajaknya pulang bersama? Kok bisa? Adit mengenalnya?
“Tapi..” Dewi masih berusaha menjaga gengsi.
“Ayolah. Jarang-jarang nih aku ngajak cewe pulang bareng.”
Dewi tersenyum sumringah. “Boleh deh.” Katanya dengan nada yang dipelankan supaya tidak terdengar begitu gembira.
Adit pun mengantar Dewi ke mobilnya dan mengantar Dewi pulang. Banyak yang mereka bicarakan di dalam mobil, namun hanya sekedar obrolan biasa antara sesama murid SMA Bunda Kasih, pelajaran di sekolah, guru yang menyebalkan dan mengasyikkan, teman-teman yang rese, sampai kegiatan ekstrakulikuler. Dari situ Dewi tau ternyata Adit ikut ekskul basket, tapi sejak kelas tiga SMA, Adit sudah undur diri karena begitulah peraturan dari sekolah mereka.
“Sudah sampai.” Kata Adit begitu mereka sampai di depan rumah Dewi.
“Terima kasih ya, Kak.” Dengan berat hati Dewi membuka pintu mobil.
“Dewi..” Adit memanggilnya lagi. Dewi menghentikan gerakannya dan menoleh pada Adit. “Besok aku jemput, boleh?”
Bagai ditaburi bunga-bunga dalam hatinya, Dewi semakin tidak percaya dengan omongan Adit barusan. Namun dengan cepat Dewi mengangguk.
“Thanks ya. Kamu asyik diajak ngobrol. Aku suka.”
SUKA?! Apa artinya kalimat terakhir Adit itu? Sebuah pernyataan kah? Adit menyukainya? Tapi Dewi tak ingin cepat-cepat mengambil kesimpulan dan terlalu gembira. Mungkin saja yang dimaksud Adit adalah ia menyukai sifat Dewi yang enak diajak ngobrol, bukan menyukai dirinya dalam arti yang lebih jauh. Dewi pun hanya tersenyum kecil dan keluar dari mobil, lalu menunggu mobil Adit melaju dan menghilang di belokan.
***
“Aku suka padamu.” Kalimat itu terlontar dengan mudahnya dari mulut Adit, seakan Adit sudah berpengalaman dalam mengungkapkan isi hatinya. Dewi yang mendengar hal itu langsung bengong dan tidak jadi menyuapi nasi goreng yang tinggal setengah senti lagi dari mulutnya.
“Aku suka padamu, Dewi.” Adit mengucapkannya lagi karena ia tidak mendapat respon dari Dewi. Dewi masih saja diam. Lalu sendok di tangannya jatuh begitu saja, membuat Adit terkejut, begitu pula Dewi.
“Eh, sori..” Dewi membereskan nasi yang terlempar keluar piring dengan tisu. “Kau bilang apa? Suka? Sama aku?” Dewi salah tingkah, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Ya, aku suka. Kau menyukaiku kan?”
“Kau.. Kau tau?”
“Terlihat jelas, Dewi. Aku menyukaimu. Aku menyukai tingkahmu yang malu-malu itu. Tapi aku juga menyukaimu saat kau bersikap apa adanya, tidak ditutup-tutupi dengan gengsi. Aku suka.”
Seketika itu juga wajah Dewi memerah. Segitu jelaskah sikapnya selama ini?
“Kau mau jadi pacarku?”
Dewi mengangguk sambil menunduk malu. Akhirnya ia dan Adit berpacaran. Dewi tidak menyangka cintanya kali ini akan terbalas.
***
Dewi menunggu di depan kelas Adit. Sudah lima belas menit setelah pulang sekolah, tapi kelas Adit belum juga bubar. Mungkin karena guru Sejarah tersebut masih betah memberikan pengetahuannya kepada murid-murid. Dewi mengintip sedikit, dilihatnya Adit tengah menguap. Lucunya! Tanpa sadar Dewi tersenyum.
Akhirnya lima menit kemudian guru Sejarah itu membubarkan kelas. Seisi kelas langsung berhamburan keluar. Dewi melihat Adit masih membereskan bukunya saat kelas itu sudah hampir kosong. Dewi masuk ke dalam kelas dan menghampiri Adit.
“Hai, Dit.” Dewi menyapanya dengan ceria.
Adit menoleh dan sedikit terkejut dengan kedatangan Dewi. Sempat ia melirik teman-temannya di meja belakang lalu tersenyum pada Dewi. Dewi ikut melirik ke arah teman-teman Adit. Ada tiga orang siswi perempuan di meja belakang, mungkin satu geng, karena mereka terlihat kompak dengan gaya nyentriknya. Salah satu siswi itu menatap Dewi dan tersenyum memaksa, Dewi membalasnya. Sedangkan yang lainnya menatap Dewi dengan sinis, begitulah yang Dewi rasakan. Mungkin mereka sebal karena ada adik kelas yang masuk kelas senior seenaknya. Tapi Dewi tidak terlalu peduli.
“Pulang bareng?” Adit bertanya yang langsung disusul dengan anggukan manis oleh Dewi. Adit pun menyelesaikan beres-beresnya dan merangkul Dewi sambil mengajaknya keluar kelas. Ini perkembangan yang drastis. Adit merangkulnya! Dewi senang. Ia tidak bisa berhenti tersenyum.
***
Tidak seperti pasangan lain, Adit tidak pernah menelepon Dewi. Biasanya pasangan yang baru saja jadian akan saling menelepon setiap malam hingga berjam-jam. Ini sudah hari keempat, tapi Adit belum juga mulai menelepon. Padahal Dewi sudah kangen berat sama Adit. Di sekolah ia hanya bisa bertemu dengan Adit di jam istirahat dan pulang sekolah. Akhirnya karena tidak bisa lagi menahan rasa rindunya, Dewi mengambil inisiatif. Ia akan menelepon duluan, tidak peduli bila Adit akan menganggapnya agresif.
Halo, Dew, kenapa?
“Hai, Dit. Lagi sibuk?”
Hm.. Lumayan. Kenapa?
“Aku kangen.”
Oh.” Hanya itu resppon Adit. Dewi agak kecewa.
“Kau tidak kangen padaku?”
Iya, aku juga kangen.”
Diam. Adit terdengar canggung di telepon. Bukan Adit yang ceria seperti di sekolah. Apa benar Adit kangen padanya?
“Kau sibuk ya. Kalau begitu maaf aku mengganggu. Aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa besok.”
Ya. Bye.
Telepon terputus. Ada rasa sedih dan kecewa yang dalam di hati Dewi. Benar-benar percakapan yang singkat dan tak berarti. Dewi menaruh ponselnya di meja dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Hatinya mulai tak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganggu.
***
“Mantannya Adit?” Dewi terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sebangkunya, Sarah.
“Iya, kau kenal dia tidak?”
“Aku saja tidak tau Adit punya mantan pacar. Anak mana?”
“Anak sini! Sekelas dengan Adit.”
“SEKELAS???!!!”
“Yap. Kakakku kan juga sekelas dengan Adit. Aku tau dari dia. Katanya dia baru putus dengan Adit sebulan yang lalu.”
“SEBULAN? Kau yakin? Tapi..”
“Aku tau, Dew, kau dan Adit baru jadian lima hari yang lalu. Itu berarti Adit menyatakan perasaannya padamu 1 bulan setelah dia putus. Hmm.. Maaf sebelumnya, Dew, tapi.. Apa kau tidak merasa aneh?”
“Maksudmu? Kau ingin bilang kalau aku ini hanya pelarian?”
“Hm.. Bukan begitu, hanya saja…”
“Stop, Sarah. Aku tidak ingin mendengar omonganmu. Aku percaya pada Adit. Adit bukan orang seperti itu. Aku bisa melihatnya.”
Sarah hanya bisa diam dan tidak berkomentar apa-apa. Tapi ia yakin firasatnya benar.
***
“Dewi!” Adit memanggil Dewi dan menghampirinya.
“Adit? Hai..”
“Kau tidak menungguku di depan kelas?”
“Eh? Iya, kupikir ingin langsung pulang saja karena kau bilang ada rapat.”
“Oh, kau mau pulang? Kau sudah makan?”
“Sudah. Kau?”
“Aku juga. Kalau memang kau mau pulang, hati-hati ya.”
Adit membelai rambut Dewi dengan sayang. Dewi tersenyum. Ia bahagia. Semua yang dikatakan Sarah salah. Adit begitu menyayangi Dewi. Ia tak mungkin menjadikan Dewi sebagai pelarian. Buktinya, Adit terlihat kecewa saat Dewi tidak menunggunya di depan kelas, juga sikap-sikap Adit yang perhatian pada Dewi seperti saat ini. Dewi yakin Adit benar-benar mencintainya.
“Ya. Kau juga jangan sampai kelelahan, banyak minum dan jangan terlambat makan. Aku tidak ingin kau sakit.”
“Iya, Sayang. Makasih ya.”
Tuh kan! Adit memanggilnya sayang!
Adit dan Dewi pun berpisah. Dewi melangkah keluar gerbang dengan senyum mengembang.
“Dewi!” seorang siswi memanggilnya. Dewi menoleh. Dilihatnya seorang siswi berjalan ke arahnya tanpa ekspresi. Dewi mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengenal gadis itu. Eh tapi.. Sepertinya wajahnya pernah dilihat Dewi. Di mana ya? Dewi terus mengingat dan akhirnya ia ingat bahwa gadis itu adalah teman sekelas Adit yang waktu itu tersenyum padanya saat ia masuk ke kelas Adit.
“Ya?” Dewi agak takut menjawabnya. Jangan-jangan ia akan dilabrak karena waktu itu berani masuk ke kelas senior. Atau jangan-jangan gadis ini adalah salah satu penggemar Adit. Gawat!
“Kau Dewi kan?” Dewi mengangguk. “Aku ingin bicara. Bisa?” Dewi mengangguk lagi. Gadis itu lalu berjalan mendahului Dewi, Dewi mengikutinya dan sampailah mereka di halaman belakang sekolah dan duduk di salah satu bangku. Diam sejenak.
“Kau mengenalku?” gadis itu bertanya. Dewi menggeleng cepat.
“Tapi aku tau kakak sekelas dengan Adit.”
“Aku mantan pacar Adit.” Tanpa basa-basi gadis itu berbicara. “Namaku Clara.”
Oh, Tuhan! Mantan pacar Adit?!
“Y.. Ya.. Aku.. Pernah mendengarnya.”
“Aku baru putus dengan Adit sebulan yang lalu.” Dewi tidak terkejut karena sudah mendengarnya dari Sarah. Namun yang ia takutkan, apakah Clara akan menyuruhnya menjauhi Adit seperti di film-film?
“Aku senang Adit sudah memiliki pacar baru. Selamat ya. Kau beruntung mendapatkannya.” Dewi tersenyum. Ternyata Clara adalah orang yang baik. “Dia pasti sangat memperhatikanmu, meneleponmu setiap malam dan memberikan kejutan-kejutan kecil setiap hari. Juga selalu menomorsatukan dirimu dibanding tugas-tugas sekolah. Dasar bodoh si Adit itu.” Clara tersenyum pahit.
Dewi menggeleng. “Tidak. Ia tidak pernah menelepon dan memberiku kejutan kecil. Yah.. Mungkin baru awal pacaran, jadi dia masih malu.”
“Benarkah?!” Clara terlihat sangat terkejut. “Itu tidak mungkin. Dulu saat kami baru pacaran, dia sudah memperlakukanku seperti itu. Katanya ia pasti akan melakukan hal itu kalau ia memang benar-benar mencintai seseorang.”
Dewi terkejut. Benarkah yang dikatakan Clara? Kalau begitu apakah mungkin…
“Maaf, Dew, aku tidak bermaksud..”
“Tidak apa-apa.” Dewi berusaha terlihat tenang. Tapi matanya mulai berkaca-kaca. “Apa aku boleh tau kenapa kalian putus?” Entah mengapa Dewi ingin mengetahuinya. Ia sedikit menyesal karena jawaban Clara mungkin akan menyakitinya, tapi Dewi tidak peduli, ia ingin tau kebenarannya.
Diam sejenak.
“Aku mencintai Adit.” Clara mulai bercerita. “Hm.. Aku memberitaumu bukan karena aku ingin kau menjauhinya.” Dewi mengangguk mengerti. “Kami berpisah karena ada kesalahpahaman. Waktu itu aku bertemu dengan mantan pacarku, maksudku.. sebelum Adit. Kami bertemu dan berbincang-bincang banyak karena sudah lama tidak bertemu. Tapi saat kami akan berpisah, mantanku mengatakan bahwa ia masih mencintaiku dan ingin aku kembali. Lalu ia mencium keningku.” Mata Clara mulai berkaca-kaca. “Sialnya Adit melihat itu semua. Ia pergi dan mendiamkanku selama berhari-hari. Aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Tiba-tiba saja sebulan yang lalu ia mendatangiku dan menyatakan ingin berpisah. Adit lagi-lagi tidak mau mendengar ketika aku ingin menjelaskannya. Jadi aku hanya bisa menerima keputusannya.”
“Aku senang Adit telah menemukan seseorang yang ia cintai sekarang. Aku harap kau dan Adit bisa terus bersama. Kalau Adit bahagia, aku juga akan tenang. Kulihat tadi kalian sangat mesra. Adit pasti sangat menyayangimu.” Clara melanjutkan. Dewi tertegun, seperti baru saja disiram air dingin. Ia sedih, kecewa, dan marah. Kini sepertinya ia mulai mengerti situasinya. Mungkinkah tadi Adit tau bahwa ada Clara di dekat mereka? Jadi ia sengaja bersikap mesra pada Dewi. Lagipula saat Dewi mendatangi Adit di kelas, Adit seperti terkejut dan melirik ke arah Clara. Ya, tidak salah lagi! Sarah benar, Dewi mungkin hanya dijadikan pelarian, dan hanya ada satu cara untuk membuktikannya.
“Kak, aku permisi dulu. Aku buru-buru.” Dewi langsung pergi meninggalkan Clara. Ia sudah tidak sanggup menahan air matanya. Ia berlari keluar sekolah sambil menangis. Tapi Dewi bukan pulang ke rumah, ia pergi ke rumah Adit. Beberapa hari yang lalu ia pernah menanyakan alamat rumah Adit dan ia langsung mengetahui di mana rumah Adit. Tentu saja Adit tidak ada di rumah. Dewi pun memutuskan untuk menunggunya di depan rumah Adit, duduk di trotoar pinggir jalan. Dewi memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya ke lutut. Ia menangis di sana.
Menjelang sore, Dewi menghapus air matanya, menatap wajahnya di cermin dan memperbaiki penampilannya yang berantakan karena menangis tadi.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan Adit datang. Dewi langsung berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Adit. Adit terkejut dan mempercepat langkahnya mendekati Dewi.“Dewi? Kenapa kau ke sini?”
“Hai, Dit. Aku kangen. Makanya aku ke sini.”
“Sudah sore, Dew, sebaiknya kau pulang.”
“Pulang? Aku ingin mengobrol dulu denganmu. Boleh ya?” Dewi bersikap manja.
“Aku masih banyak tugas, Dew, sebentar lagi ujian.”
“Sebentar saja, Dit.”
“Kau ini kenapa sih? Aku sibuk, Dew, aku harus segera menyelesaikan tugasku. Kau pulang ya, sudah mulai gelap.”
“Ok, aku pulang. Tapi nanti malam telepon aku ya.”
“Aku tidak bisa, Dew.”
“Kenapa?! Kau tidak mencintaiku?” Dewi mulai emosi.
“Kau ini bicara apa?”
“Aku bicara tentang kebenaran. Kau tidak mencintaiku kan? Kau hanya menjadikanku pelarian dari kak Clara kan?”
“Clara? Clara cuma masa laluku. Kau tidak usah membahasnya.”
“Ini harus kita bahas, Dit. Aku sudah tau semuanya. Selama ini kau sengaja memperlakukanku dengan mesra di depan kak Clara, tapi setelah itu kau berubah. Seperti sekarang ini.”
“Aku sudah bilang aku sibuk, Dew. Tidak ada hubungannya dengan Clara.”
“Tentu saja ada. Dit, aku mau kau jujur. Tadi aku bertemu dengan kak Clara.”
Adit terkejut dan langsung pucat.
“Kalian baru putus sebulan yang lalu kan? Secepat itukah hatimu berpindah padaku?”
Adit masih diam.
“Kak Clara bilang, sejak awal pacaran, kau selalu meneleponnya setiap malam, memberinya kejutan kecil hampir setiap hari. Juga menomorsatukan kak Clara dibanding tugas-tugas sekolahmu. Tapi aku tidak mendapatkan itu semua, Dit. Kenapa? Kau tidak mencintaiku kan? Jujur, Dit.” Dewi menangis lagi.
“Maaf, Dew. Aku memang orang jahat. Aku tidak sebaik yang kau kira. Aku tidak pantas kau banggakan dalam hatimu. Aku tidak pantas untuk gadis sebaik dirimu.”
“Kembalilah pada kak Clara.” Adit terkejut mendengar ucapan Dewi. “Yang terjadi di antara kalian hanya kesalahpahaman. Aku tau kalian masih saling mencintai. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kak Clara orang baik, ia tidak seburuk yang kau pikirkan.”
“Tapi kau..”
“Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan aku. Terima kasih, Dit, atas semuanya.” Dewi pun melangkah pergi meninggalkan Adit yang masih terdiam. Dewi masih berharap Adit akan mengejarnya, memeluknya, dan berkata bahwa ia mencintai Dewi. Tapi Dewi tau itu tidak akan mungkin. Adit mencintai Clara. Itulah kenyataannya.
***
Dewi tersenyum. Ia melihat Adit dan Clara sedang berpelukan di halaman belakang sekolah. Ternyata mereka sudah baikan. Belum pernah Dewi merasa selega ini. Walaupun ia masih sedih, tapi ia tidak ingin menangis lagi, sudah cukup semalam ia membasahi bantalnya dengan air mata. Kenangan tujuh hari bersama Adit akan selalu tersimpan dalam hatinya.


SELESAI