Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Friday, November 28, 2014

幸福在妳身邊 - Wishing for Happiness [PART 1]


Cast:
- Chen Nai Rong (Nylon Chen) as Fang Wei Qi
- Wei Man (Mandy Wei) as Chen Xie Li

Sore itu angin berhembus cukup kencang. Dedaunan kering di jalanan beterbangan, menimbulkan suara gesekan pada jalanan aspal. Suasana di jalan kecil pertengahan kota sudah mulai sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di luar. Seorang gadis merapatkan cardigan berwarna pink pucat di tubuhnya. Rambut sebahu yang tergerai dengan poni rata di dahinya beterbangan, membuatnya tampak kacau. Namun gadis itu tidak repot-repot untuk merapikannya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah mempercepat langkahnya untuk bisa segera sampai di kamar apartemennya.

"Xie Li xiao jie, ni hui lai le."

Gadis bercardigan pink pucat yang bernama Chen Xie Li itu tersenyum dan mengangguk kecil pada Paman Wang, salah satu petugas keamanan di apartemen tempat ia tinggal saat ini. Sebenarnya dibilang apartemen, bangunan ini lebih cocok disebut sebagai wisma. Tapi entah mengapa pengelola gedung ini justru menamai tempat ini Bougenville Apartment. Sebenarnya Chen Xie Li bisa saja tinggal bersama orang tuanya, tapi ia berkeras ingin hidup mandiri dengan tinggal terpisah dengan orang tuanya dan memilih membuka usaha penyewaan buku di sebuah toko kecil dekat apartemennya. Sebagai pekerjaan sampingan, setiap tiga kali seminggu, Chen Xie Li akan pergi ke sanggar ballet pada sore hari untuk mengajar. Selain gemar membaca buku, Xie Li juga senang menari ballet sejak kecil. Hanya saja karena sebuah insiden kecil yang mengakibatkan tulang pergelangan kakinya terluka, maka Xie Li harus mengubur impiannya menjadi seorang ballerina.

"Selamat sore, Paman Wang." kata Xie Li pelan seraya melangkahkan kakinya menuju pintu lobby apartemen. Paman Wang memandang Xie Li dengan kernyitan di dahinya. Ada yang lain dengan Xie Li sore ini. Tadi pagi Xie Li masih menampakkan wajah ceria. Xie Li memang tipe seorang gadis yang selalu ceria dan tersenyum lebar. Seakan hidupnya tidak cukup sulit untuk bisa membuatnya bersedih bahkan sedetik pun. Namun sore ini, Xie Li tampak berbeda. Sangat berbeda. Ada mendung yang tersirat dalam mata dan wajahnya. Paman Wang yang cukup akrab dengan Xie Li karena gadis itu sudah tinggal di sana selama 4 tahun bisa membacanya dengan jelas.

"Selamat sore, Paman Wang!" belum selesai Paman Wang memikirkan perubahan Xie Li, seorang pemuda menepuk pelan bahunya. Ia langsung tersenyum lebar mengetahui siapa yang menyapanya. Satu lagi penghuni apartemen favoritnya. Seorang pria muda berusia 27 tahun bernama Fang Wei Qi juga memiliki sifat yang menyenangkan. Dia memang tidak seceria Chen Xie Li, namun pembawaannya yang selalu bersemangat dan optimis membuat pria itu begitu mudah disukai oleh siapa saja.

"Ah, Fang Wei Qi xian sheng. Kapan buku barumu terbit lagi? Aku sudah tidak sabar untuk membacanya."
"Paman Wang harus membelinya, jangan membaca gratisan terus."
"Kau ini bagaimana? Kau kan tau aku ini orang yang kurang mampu. Masa kau tega menyuruhku membeli novelmu yang mahal itu hanya demi kesenangan pribadi? Mumpung ada novelis terkenal sepertimu yang tinggal di apartemen ini, kenapa tidak kumanfaatkan saja?"
"Hahahaha.." Mereka berdua tertawa. Paman Wang memang suka bercanda. Tidak hanya kepada Fang Wei Qi, tapi juga hampir kepada seluruh penghuni apartemen.
"Masih lama, paman. Aku baru akan memikirkan ide ceritanya."
"Jangan lama-lama mencari idenya ya. Aku sungguh sudah tidak sabar. Buku-bukumu itu sangat bagus. Aku sampai terhanyut membacanya."
"Terima kasih." kata Fang Wei Qi seraya mengusap bagian belakang lehernya pertanda salah tingkah.

Walaupun sudah sering dipuji sebagai novelis handal, namun Fang Wei Qi masih belum terbiasa dengan pujian terang-terangan seperti ini. Lagipula yang mengetahui bahwa Fang Wei Qi adalah seorang novelis hanyalah segelintir orang yang dekat dengannya karena ia menggunakan nama pena untuk setiap karyanya dan tidak ingin fotonya dipublikasi.

"Kalau begitu, saya masuk dulu, Paman Wang."
"Ya, silahkan."

Dengan langkah tergesa-gesa, Fang Wei Qi memasuki pintu lobby apartemen. Paman Wang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fang Wei Qi. Siapa bilang semua pria tampan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi? Paman Wang tahu alasan Fang Wei Qi melangkah dengan tergesa-gesa seperti itu. Juga alasan Fang Wei Qi selalu pulang ke apartemen bertepatan dengan kepulangan Chen Xie Li. Ya, tak lain dan tak bukan adalah karena Fang Wei Qi menyukai Chen Xie Li. Ia tidak tahu kapan persisnya Fang Wei Qi mulai menyukai Chen Xie Li, tapi yang ia tahu, Fang Wei Qi selalu menatap Chen Xie Li seperti menatap sebuah berlian cantik dan mahal yang tidak bisa ia beli karena tidak punya cukup uang.

Fang Wei Qi sebenarnya punya peluang besar untuk mendapatkan hati Chen Xie Li, kalau saja Chen Xie Li tidak memiliki kekasih. Terkadang kekasihnya itu datang untuk menjemput Chen Xie Li berangkat kerja. Jangan ditanya bagaimana ekspresi Chen Xie Li setiap kali bertemu dengan kekasihnya. Wajahnya begitu cerah, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan matanya tampak bersinar. Sangat terlihat bahwa Chen Xie Li sangat mencintai kekasihnya itu. Namun hari ini sinar di mata Chen Xie Li meredup. Paman Wang tidak ingin menduga hal-hal yang belum pasti. Tapi sedikit banyak ia berharap hal ini ada hubungannya dengan kekasih Chen Xie Li. Sejujurnya Paman Wang sendiri tidak begitu menyukai kekasih Chen Xie Li. Entah mengapa, tapi ia merasa kekasih gadis itu tidak mencintai Chen Xie Li dengan tulus.
***
Sesaat sebelum Chen Xie Li menutup pintu lobby apartemen, Fang Wei Qi menahannya. Chen Xie Li sedikit terkejut tapi ia hanya tersenyum kaku dan melepaskan pegangannya pada pintu. Chen Xie Li memutar tubuhnya dan melangkah ke dalam apartemen. Fang Wei Qi mengernyitkan dahinya melihat reaksi Chen Xie Li yang tidak seperti biasanya. Ternyata bukan hanya Paman Wang saja yang merasakan keanehan itu. Fang Wei Qi pun sama. Biasanya saat mereka berpapasan seperti itu, Chen Xie Li akan tersenyum lebar dan membukakan pintu itu untuk Fang Wei Qi. Meskipun setelah itu mereka tidak lagi saling bertegur sapa, setidaknya Fang Wei Qi tahu, Chen Xie Li adalah orang yang ceria dengan senyuman lebarnya itu. Tapi hari ini ia tampak berbeda. Senyuman yang baru saja ditujukan padanya begitu kaku, juga tak ada binar cahaya di mata Chen Xie Li.

Sambil perlahan mengikuti langkah Chen Xie Li menuju elevator, Fang Wei Qi tak henti-hentinya mengamati Chen Xie Li. Gadis itu terus menunduk. Tidak bergeming. Hingga pintu elevator terbuka dan mereka melangkah masuk. Chen Xie Li menekan tombol 4, sedangkan Fang Wei  Qi  menekan tombol 3. Suasana sunyi di dalam elevator pun terasa berbeda. Biasanya kesunyian ini masih terasa indah bagi Fang Wei Qi. Tapi melihat wajah mendung Xie Li, kesunyian kali ini sungguh terasa hampa. Tidak ada sinar, tidak ada cahaya, tidak ada senyuman Xie Li yang bisa membuat hatinya hangat.

Elevator berhenti di lantai tiga dengan sebuah dentingan halus. Fang Wei Qi masih bergeming di tempatnya saat pintu elevator terbuka. Pikirannya masih terfokus pada Chen Xie Li.

"Sudah sampai di lantaimu." suara Chen Xie Li membuat Fang Wei Qi tersentak. Ia tidak tahu apakah harus senang atau sedih mendengar suara itu. Bisa dibilang ini kalimat pertama yang diucapkan Chen Xie Li padanya. Tapi kalimat yang dilontarkan padanya terdengar datar dan suram. Ia bahkan tidak menolehkan kepalanya pada Fang Wei Qi.

"Y.. Ya."

Dengan berat hati Fang Wei Qi melangkah keluar. Ia pun kemudian memutar tubuhnya kembali dan menatap Chen Xie Li yang masih ada di dalam elevator. Gadis itu masih menunduk. Dan... apakah Fang Wei Qi tidak salah lihat? Tampak segulir air mata mengalir di pipi Chen Xie Li. Apakah benar itu air mata? Sebelum sempat melihatnya lebih jelas, pintu elevator perlahan menutup, mengantar Xie Li ke lantai 4, kamar apartemennya.

Chen Xie Li... Apa yang terjadi? Siapa yang berani membuatmu bersedih seperti itu? Sebuah amarah dan kesedihan muncul di dalam hati Fang Wei Qi. Keinginan untuk memeluk dan menghibur gadis itu pun terasa sangat kuat. Namun ia sadar tak bisa melakukannya. Ia bukan siapa-siapa, hanya sesama penghuni apartemen.

Fang Wei Qi berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar apartemennya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya.

"Chen Xie Li, apa yang sedang kau lakukan di atas sana? Apa kau sedang menangis?"
"Jangan bersedih, Chen Xie Li. Aku ingin kau terus tersenyum."

Fang Wei Qi terus melontarkan kalimat-kalimat keresahannya. Seandainya penghuni kamar yang terletak tepat di atas kamarnya itu bisa mendengar isi hatinya. Fang Wei Qi memang sengaja menyewa kamar itu setelah tahu letak kamar Chen Xie Li agar ia bisa tidur nyenyak sambil menatap langit-langit kamarnya dengan membayangkan bahwa di atas sana, Chen Xie Li sedang melakukan hal yang sama. 

Namun sepertinya malam ini Fang Wei Qi tidak akan bisa tidur nyenyak. Air mata yang mengalir di pipi Chen Xie Li tadi masih terekam jelas dalam benaknya.
***
Chen Xie Li menutup pelan pintu apartemennya. Tanpa bisa ditahan lagi seketika itu juga kakinya terasa lunglai. Chen Xie Li terduduk di lantai kamarnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras begitu saja tanpa bisa dihentikan. Chen Xie Li terus membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, berusaha agar isakan tangisnya tidak terdengar sampai luar. Biarpun ia tinggal di apartemen, tapi setiap kamar hanya dibatasi tembok biasa. Tidak ada fasilitas mewah seperti peredam suara di dindingnya. Tangisan yang tertahan itu membuat nafas Chen Xie Li kian sesak, begitu pula dengan hatinya.

Perlahan Chen Xie Li membangunkan tubuhnya lalu merangkak naik ke atas tempat tidur. Diambilnya bantal bersarung putih miliknya lalu dibenamkan wajahnya pada bantal tersebut. Perlahan isak tangisnya menjadi kencang dan berubah menjadi sebuah teriakan. Namun berkat bantal yang dipeluknya, suara tangisan itu teredam sempurna. Kini Chen Xie Li bebas mengeluarkan tangisannya. Suara tangis nan pilu itu hanya memenuhi kamar Chen Xie Li yang gelap...

...TO BE CONTINUED

Tuesday, September 23, 2014

這樣的幸福剛剛好 (Zhe Yang Xing Fu Gang Gang Hao - This Kind of Happiness is Enough) - Short Story

“Ya Lun, wo xi huan ni (Aku menyukaimu)!” aku memejamkan mata saat meneriakkan kalimat itu. Lalu kubuka mataku untuk melihat reaksi Ya Lun. Sembari membubuhkan tanda tangan pada album terbarunya, ia menatapku dan tersenyum. Ya, senyum itulah yang membuatku tidak bisa tidur setiap malam selama 5 tahun belakangan ini. Senyuman yang sangat kurindukan.
Xie Xie (Terima kasih).” Katanya.
Aku mengerjapkan mataku. Terima kasih? Oh, bukan itu yang ingin kudengar. Aku tidak perlu ucapan terima kasihnya. Aku perlu jawaban. Tapi setelah berpikir bahwa di mata Ya Lun, hubunganku dan dia hanyalah sebatas idola dan penggemarnya, aku lantas kecewa dan menggelengkan kepalaku.
Bu shi! Wo xi huan ni! Zhen de xi huan ni. (Bukan! Aku menyukaimu! Benar-benar menyukaimu!)” Bagus! Kini aku terlihat seperti orang yang keras kepala dan tidak tahu malu. Sementara Ya Lun mengernyit bingung, namun senyuman belum lepas dari wajahnya.
“Ya Lun, ni ji de wo ma? (Kau ingat padaku tidak?)” tanyaku, masih tidak mau kalah.
Kernyit di dahi Ya Lun semakin dalam. Aku sadar aku telah melakukan hal bodoh. Kejadian antara aku dan Ya Lun sudah lama terjadi dan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang besar. Setidaknya untuk Ya Lun. Tapi bagiku, kejadian tersebut berdampak besar bagiku, terutama hatiku.
Xiao jie, ni de zhuan ji (Nona, ini albummu).” Kata salah satu staff sambil menyerahkan album yang telah ditandatangani Ya Lun padaku. Aku terpaksa mengalihkan perhatianku dan mengambil album tersebut.
Wo xi huan ni (Aku menyukaimu).” Kataku lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih serius.
“Oh, Xie xie.” Lagi-lagi ucapan terima kasih yang kudapat. Aku menghela nafas kecewa lalu berbalik pergi sebelum penggemar lain mendecak sebal karena aku menghalangi mereka untuk segera bertatap muka dengan Ya Lun.
Sementara Ya Lun kembali sibuk menyapa dan memberi tandatangan, aku masih menatapnya dari kejauhan. Kalau perlu sampai acara ini selesai.
Aku kembali mengulang kejadian antara diriku dengan Ya Lun. Sekitar lima tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku SMP.

“Hei, kau jangan kegenitan ya! Dong Xun itu pacarku! Jangan berani kau mendekatinya! Memangnya kau pikir kau ini siapa? Hanya gadis miskin tak tahu diri yang nyasar di sekolah kami!”
Aku terdiam saat dipojokkan oleh senior di sekolahku. Begitu bel pulang sekolah berbunyi dan aku melangkah keluar kelas, dua orang seniorku segera menyeretku keluar sekolah. Aku dibawa ke sebuah lapangan kosong yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Di sana sudah menunggu seorang siswi senior cantik yang tentunya sangat populer di sekolah bernama Vivian. Aku hampir tidak percaya bahwa sekarang akulah yang akan jadi korban penindasan mereka. Aku memang pernah mendengar betapa sadisnya senior cantik yang satu ini. Kata murid-murid yang lain, jangan pernah mendekati pacar Vivian jika tidak mau celaka. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa pacar Vivian yang dimaksud adalah Dong Xun, ketua klub sastra yang keren itu. Aku sudah jatuh cinta pada dunia sastra sejak kecil sehingga aku sangat senang saat mengetahui di sekolahku ini ada sebuah klub sastra, dan menjadi semakin semangat setelah bertemu dengan Dong Xun sebagai ketuanya. Dong Xun adalah orang yang sangat baik. Ia sering membantuku jika aku mengalami kesulitan, juga memberikan ilmu-ilmu sastra yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Aku senang dengan cara Dong Xun bercerita. Pembawaannya yang ceria membuatku ikut larut dalam setiap ucapannya. Senyumnya yang manis pun terkadang mampu membuat jantungku berdebar-debar.
“Kenapa kau diam saja? Kau tuli?!” Vivian mulai membentak, membuatku terkejut.
“A.. Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu? Kau tidak tahu Dong Xun itu pacarku? Hah! Kau memang benar-benar kurang pergaulan! Tidak pantas sekolah di tempat kami! Sebaiknya kau keluar saja! Jangan membuat sekolah kami kotor!”
Vivian kemudian mendorongku hingga jatuh. Aku meringis kesakitan.
“Hey!” Tepat saat aku terjatuh, sebuah suara terdengar dari kejauhan. Kami menoleh bersamaan dan melihat seorang pemuda sedang berlari menghampiri kami.
“Siapa kau?” tanya Vivian dengan nada dingin. Sementara pemuda tersebut sudah berdiri di depanku yang masih terduduk di atas tanah.
“Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Kalian tidak pantas melakukan penindasan seperti ini.” Kata pemuda itu dengan tegas.
“Kami tidak menindasnya. Dia yang mulai mencari masalah dengan kami.” Vivian tidak mau disalahkan.
“Bukan begini caranya. Pergi sekarang juga! Atau akan kulapor polisi atas tindakan penganiayaan.”
Wajah Vivian tampak sedikit pucat. Tapi ia masih berusaha bersikap tenang.
“Serius sekali. Kami kan hanya main-main.” Setelah mengatakan hal itu, Vivian mengajak dua temannya untuk pergi  meninggalkan lapangan.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya padaku. Dengan sedikit ragu aku mengulurkan tanganku dan berdiri. Pantatku masih sedikit sakit tapi kutahan.
“Terima kasih.” Kataku.
“Sama-sama.” Pemuda itu tersenyum padaku. Entah bagaimana caranya senyuman itu langsung tertanam di otakku. Menjalar ke seluruh tubuhku dan berujung pada jantungku yang berdebar kencang. Debaran ini bahkan melebihi debaran saat aku sedang memandangi Dong Xun. Dan debaran ini berbeda. Ia memberikan kehangatan di hatiku.
“Kau harus kuat, jangan mau ditindas seperti itu.” Katanya lagi. Refleks aku menganggukkan kepalaku.
“Bagus.” Katanya lalu menepuk pelan kepalaku. Kakiku lemas seketika. Sentuhan tangannya di kepalaku entah mengapa membuatku lumpuh. Kalau saja aku tidak tahu malu, aku pasti sudah terduduk lemas. Tapi aku berusah untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhku.
Wo shi Ya Lun. (Namaku Ya Lun). Kau?” Pemuda bernama Ya Lun itu mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.
“Mei Ling.” Aku membalas jabatan tangannya. Hangat. Rasanya aku tidak ingin melepaskannya. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Tapi apakah ini cinta? Aku sendiri belum paham benar.
“Kau mau minta tanda tanganku?”
“Hah?” Aku mengernyit atas pertanyaan anehnya.
“Hahaha.. Kai wan xiao de la (Aku bercanda). Siapa tahu nanti aku jadi terkenal, kau akan sulit untuk mendapatkan tanda tanganku.”
Aku tertawa kecil mendengar gurauannya. Kami pun akhirnya berpisah begitu saja. Tidak saling bertukar e-mail atau nomor ponsel. Dan aku terlalu sibuk dengan debaran jantungku sehingga tidak terpikir untuk memintanya.

Siapa sangka, gurauannya menjadi kenyataan. Lihatlah ia sekarang. Menjadi aktor dan penyanyi terkenal di Asia. Ini pertama kalinya aku bisa hadir di acara tanda tangan Ya Lun, bertatap muka lagi untuk kedua kalinya. Berharap ia menyapa dan menanyakan kabarku. Tapi mengingatku saja tidak. Mungkin baginya, kejadian kecil itu tidak berarti. Hanya sepotong kejadian tak penting yang kebetulan terselip dalam perjalanan hidupnya.
Aku kecewa, tentu saja. Aku sudah berharap banyak. Aku dengan pikiran bodohku. Artis se-terkenal Ya Lun mana mungkin ingat dengan kejadian itu. Siapalah diriku ini? Hanya satu dari sekian banyak penggemar, tak lebih dari seekor kutu sekalipun, yang bermimpi bahwa seorang Ya Lun akan mengingatku hanya dari sepotong kisah tak berarti.
Ya Lun kembali tersenyum pada penggemarnya. Senyum yang dulu kupikir hanya untukku dan tertanam di benakku seorang, kini sudah menjadi milik publik. Tapi sepotong kisah itu telah menjadi kenangan tersendiri untukku. Kenangan indah yang hanya melibatkan aku dan Ya Lun seorang, meskipun ia tidak mengingatnya.
Tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya.” Ucapku dalam hati, mencoba menghibur diriku sendiri. Ya, hanya dengan melihat senyuman itu sekali lagi saja, sudah cukup membuatku bahagia.

***

Friday, September 19, 2014

嫁給我 (Jia Gei Wo) - Marry Me

Ni gen wo jie hun, hao bu hao? (Menikahlah denganku, ya?)”
Setelah dua tahun berpacaran, akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mulutku. Saat ini, aku dan pacarku sedang menikmati indahnya pemandangan kota Taipei di malam hari dari atas jembatan. Semalaman aku memikirkan kalimat ini. Aku mempertimbangkan semua perkataan teman-temanku. Katanya, jika aku mengatakan kalimat ini, maka harga diriku akan jatuh. Tapi aku sudah tidak peduli. Jika aku tidak mengatakannya, sampai kapanpun hubunganku tidak akan maju. Dan aku sudah bosan dengan ketidakpastian ini.
Sementara hatiku berdebar-debar menanti jawabannya, pria berkacamata di hadapanku malah menatapku bingung. Ya, kalian tidak salah baca atau mengira bahwa aku salah ketik. Pria di hadapanku ini adalah pacarku. Dan aku adalah wanita. Jadi, sekarang kalian mengerti, kan, mengapa teman-temanku berkata bahwa harga diriku akan jatuh jika aku mengucapkan kalimat yang seharusnya diucapkan oleh pria di hadapanku ini.
Aku gemas sekali melihat tingkahnya. Pacarku memang sangat pemalu. Bahkan dulu, aku yang mengajaknya berpacaran setelah melihat gerak-geriknya yang sepertinya menyukaiku. Dia memang menyukaiku, dan aku lega sekaligus senang dia menyetujui ajakanku berkencan. Aku selalu suka sifat pemalunya, membuatku ingin sering-sering menggodanya hanya untuk melihat reaksinya yang sangat manis di mataku.
Kupikir setelah lama berpacaran, dia akan berubah. Tapi ternyata tidak ada sedikitpun perubahan yang kurasakan. Bisa dibilang, selama ini akulah yang memegang kendali atas perjalanan cinta kami. Rasanya jiwa kami tertukar.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Seharusnya aku memutuskan hubungan ini dan mencari pria lain yang lebih memiliki prinsip dan ketegasan. Juga bisa kujadikan sandaran jika aku sedang bersedih. Tapi yang terjadi sekarang, aku malah mengajaknya menikah. Entahlah, mungkin karena aku mencintainya. Cinta? Benarkah aku mencintainya? Bisakah aku hidup bersama dengan orang selalu bergantung padaku?
Zheng Xi menundukkan kepalanya. Ini pertanda bahwa ia sedang malu atau takut. Kali ini aku tidak tahu yang mana perasaannya. Aku gemas sekaligus kesal. Apa segitu beratnya menjawab pertanyaanku? Kenapa ia harus ragu-ragu? Bukankah selama ini dia selalu menuruti apapun yang aku minta?
“Li.. Li Xue..” suara Zheng Xi sedikit bergetar saat ia memanggil namaku, sementara kepalanya masih menunduk. “Pernikahan itu… hanya sekali seumur hidup.. Apa.. kau.. yakin? Apa kau.. sungguh mencintaiku?”
Wah, ini sungguh kejadian yang sangat jarang terjadi. Zheng Xi mengutarakan pendapatnya!
“Mengapa? Kau tidak yakin? Kau tidak mencintaiku?” aku malah menantang Zheng Xi.
Zheng Xi mengangkat wajahnya dan menatapku dengan pandangan terkejut. Tapi ia tidak mengucapkan apa-apa.
“Zheng Xi, bisakah kau bersikap tegas sekali saja? Bisakah sekali saja kau yang memegang kendali atas hubungan kita? Kenapa selalu aku yang harus maju terlebih dahulu? Aku ini wanita, dan kau pria! Aku juga ingin bersandar pada seseorang di saat aku sedih. Tidak bisakah aku mendapatkannya darimu? Bisakah kau lebih memiliki prinsip? Bahkan ajakan menikah saja kau tidak bisa mengambil keputusan!” nada suaraku semakin meninggi.
Kalau ingin jujur, sebenarnya aku lelah dengan hubungan ini. Tapi bukannya memutuskan hubungan, aku malah mengajaknya menikah, yang kemudian mungkin akan berujung dengan pertengkaran.
“Kenapa kau diam? Ni shuo hua a! Wo men jie hun, hao ma? (Bicaralah! Kita menikah, oke?)”
“Li.. Li Xue.. Masalah itu…”
Ni ai wo ma? (Apa kau mencintaiku?)” Ah, kalimat itu sudah lama ingin kutanyakan, tapi aku selalu tidak tega. Aku tidak ingin meragukan hubungan kami. Tapi sekarang, aku sudah tidak tahan lagi dan akhirnya bertanya. Memang setelah dipikir-pikir, Zheng Xi sekalipun tidak pernah mengatakan cinta padaku. Jika aku mengatakan bahwa aku mencintainya, reaksi Zheng Xi hanya tersenyum malu dan menunduk. Dulu kupikir reaksi itu berarti bahwa dia juga mencintaiku. Namun, sekarang aku menjadi ragu. Dan semakin ragu dengan keputusanku untuk mengajaknya menikah.
Wo.. (Aku..)” Aku melihat Zheng Xi ingin mengatakan sesuatu namun terasa sangat sulit.
“Kau sulit mengatakannya? Apa karena kau takut menyakitiku?”
Zheng Xi malah terdiam. Baiklah, mungkin keputusanku ini salah. Kupikir selama ini Zheng Xi mencintaiku. Tapi ternyata ini hanya kesimpulanku sendiri. Aku merasa sangat bodoh sekarang.
Ni bu ai wo, dui ba? (Kau tidak mencintaiku, benar  kan?)”
Zheng Xi masih diam. Keringat mulai terlihat di keningnya. Ini mungkin memang jawabannya. Ia tidak mencintaiku. Seharusnya sejak dulu aku menanyakan hal ini.
Dui bu qi (Maaf). Selama ini aku telah memaksakan kehendakku. Aku mengajakmu pacaran, aku yang mengambil keputusan selama ini tanpa peduli bagaimana perasaanmu. Kupikir kau juga mencintaiku. Ternyata aku yang bodoh.”
Wo men fen shou, ba.. (Kita putus saja..)” kataku lirih setelah jeda beberapa saat. “Maaf sudah menyita waktumu selama dua tahun ini.” Dan bersamaan dengan itu, air mataku menggenang dan jatuh. Aku pun membalikkan tubuhku dan melangkah pergi.
Aku berharap Zheng Xi mengejarku, menarikku ke dalam pelukannya, dan berkata bahwa ia tidak bermaksud menyakitiku, bahwa ia sebenarnya mencintaiku, dan ia ingin menikah denganku. Tapi lagi-lagi hanya aku yang berpikir terlalu banyak. Zheng Xi tidak mengejarku. Bahkan sekedar memanggil namaku pun tidak. Aku sungguh kecewa. Aku telah menyia-nyiakan waktuku dan Zheng Xi dengan hubungan yang memang seharusnya tidak pernah terjalin.
***
Ni men fen shou?! Zen me hui! (Kalian putus? Bagaimana bisa!)”
“Ha ha.. Hao ke xiao, shi ba? (Lucu kan?)”
Yi dian dou bu ke xiao (Sama sekali tidak lucu)! Dui bu qi (Maaf), aku tidak tahu kau sedang sedih, aku malah asyik bercerita tentang pacarku.”
Mei guan xi la, ni kai xin, wo ye kai xin (Tidak apa apa, kau senang, aku pun ikut senang).” Kataku dengan lirih. Tapi sungguh, aku ikut bahagia jika sahabatku ini bahagia.
Ni shuo, wei shen me? Ni bu shi shuo ni yao gen ta jie hun ma? (Katakan, kenapa? Bukankah kau bilang ingin mengajaknya menikah?)”
Ta bu ai wo. Wo hai neng shuo shen me ne? (Dia tidak mencintaiku. Apa lagi yang bisa kukatakan?)” kataku sambil  menarik nafas panjang. Air mata kembali menggenang di pelupuk mataku.
Hari sudah semakin larut. Sudah satu setengah jam berlalu sejak aku meninggalkan Zheng Xi di jembatan dan pulang ke rumah. Aku yang sedih dan butuh tempat curhat pun segera menelepon Xiao You. Ternyata hari ini Xiao You sedang bergembira karena mendapat kejutan dari pacarnya sehingga ia langsung bercerita panjang lebar bergitu aku meneleponnya. Aku pun terpaksa menunda untuk menceritakan kesedihanku hari ini. Sementara kami berbincang di telepon, hujan mulai turun deras di luar sana. Petir mulai bersahutan. Langit malam ini sepertinya mengerti kesedihanku dan turut menangis.
Ta zhen de bu ai ni? Ni zen me zhi dao? Ta gen ni shuo ma? (Dia benar-benar tidak mencintaimu? Bagaimana kau tahu? Apa dia mengatakannya padamu?)”
Bu yong shuo, wo jiu zhi dao le. Ta cong lai gen ben bu ai wo. (Tidak perlu dikatakan, aku sudah tahu. Dia selama ini memang tidak mencintaiku.)”
Dan shi, yi qian ta shuo ta xi huan ni ya. Ru guo bu xi huan, wei shen me ta yuan yi cheng wei ni de nan peng you ne? (Tapi dulu dia bilang menyukaimu. Jika tidak suka, kenapa dia mau menjadi pacarmu?)”
Ta xi huan wo. Bu shi ai. Ru guo ta ai wo, ta yi ding hui da ying gen wo jie hun. Wo xiang xiang, cong lai ta mei you shuo guo ai wo de hua. (Dia menyukaiku. Bukan cinta. Jika dia mencintaiku, dia pasti menyetujui ajakanku untuk menikah. Setelah dipikir-pikir selama ini dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.)” Aku tertawa getir.
Li Xue.. Ni bi xu nai xin. Wo xiang xin, you yi tian, ni neng zhao dao geng hao geng hao de nan sheng. (Kau harus bersabar. Aku percaya, suatu hari nanti kau bisa menemukan pria yang lebih baik.) Pria yang bisa kau jadikan sandaran, yang bisa kau andalkan, dan mencintaimu selamanya. Ni bu yao zai nan guo, hao ma? (Kau jangan bersedih lagi, oke?)”
Aku menghapus air mataku.
En..” aku menyanggupinya, walaupun aku tau akan sulit rasanya untuk tidak bersedih.
“Li Xue, sudah satu jam kita berbincang di telepon. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur. Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan. Putus cinta adalah hal yang wajar.”
“Entahlah apa aku bisa tidur atau tidak.”
“Kau harus bisa! Aku tidur dulu ya, sampai jumpa besok.”
“Ya. Sampai jumpa besok. Terima kasih sudah mau kutelepon malam-malam.”
Mei you wen ti la. Bu yao ke qi. Wo men shi hao peng you ma. (Tidak masalah. Jangan sungkan. Kita kan sahabat.)”
Aku tersenyum kecil. “Baiklah. Wan an (Selamat malam).”
“Ya, wan an, Li Xue.”
Telepon terputus. Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar suara hujan yang sangat deras di luar sana. Aku kembali menghela nafas panjang. Suasana sunyi ini mulai menyiksaku.

Yue xiang kan de jian, yue kan bu jian
Yue xiang kao xin li jin yi dian, yue zou de yao yuan..
Yue shi qian shan wan shui, yue xiang yong li qu zhui…
Wo de meng he shi neng bu luo kong..
Ni shi fou hui zai xia ge lu kou.”

Dengan malas aku mengambil ponselku yang berdering dan mataku seketika terbelalak melihat siapa yang meneleponku. Zheng Xi? Untuk apa lagi ia meneleponku?
Wei..” aku menjawab dengan nada dingin.
Terdengar suara berisik di seberang telepon. Di mana Zheng Xi berada sekarang? Apa ia sedang di luar rumah? Bukankah di luar sedang hujan?
Suara desahan nafas terdengar.
Wei? Zheng Xi?” aku mulai panik.
“…”
“Zheng Xi? Ni zai na’r?”
“Li.. Li Xue..” akhirnya suara Zheng Xi terdengar, meskipun hampir kalah dengan suara berisik dari sekelilingnya. “Bu.. Buka pintu. Kumohon..”
“Hah? Wei? Zheng Xi? Kau di mana?”
“Bu.. Buka pintu. Aku ada di depan wisma.”
Aku segera membanting ponselku begitu otakku bisa mencerna ucapan Zheng Xi. Zheng Xi ada di depan wisma? Aku pun berlari keluar kamar setelah mengambil payung dan kunci gembok, kemudian dengan cepat menuruni tangga menuju gerbang depan. Satpam tidak terlihat di pos nya, entah ke mana. Aku mulai kesal dengan kinerja keamanan di wisma tempatku tinggal.
Aku membuka payung begitu sampai di lantai bawah dan kakiku menjadi lemas seketika melihat Zheng Xi berdiri di depan gerbang sambil menggigil kedinginan. Sudah berapa lama ia berada di luar? Mengapa ia ada di sini? Begitu banyak pertanyaan yang melintas dalam otakku. Namun aku berusaha mengabaikannya. Dengan cepat aku membuka gembok dan gerbang wisma. Kupayungi Zheng Xi. Ia tersenyum melihatku.
Bodoh! Dalam keadaan begini ia masih bisa tersenyum.
“Zheng Xi! Ni shi sha gua ya (Kau bodoh ya)? Kenapa kau bisa ada di sini? Masuklah. Hari ini menginap saja di tempatku.”
“Tidak.” Zheng Xi menarik tangannya saat aku hendak menariknya masuk ke dalam wisma.
“Zheng Xi! Kau bisa sakit jika berada di luar. Aku tahu, kau tidak sudi menginjak kamarku lagi. Aku tahu kau tidak mau berada di dekatku lagi. Tapi kumohon, masuklah.”
“Aku sudah mengumpulkan semua keberanianku. Jadi sebelum keberanianku surut, aku ingin menyelesaikannya sekarang.” Kata Zheng Xi dengan sedikit gemetar.
“Keberanian apa? Kau bisa mengatakannya di dalam.”
Bu xing (tidak bisa).”
“Kenapa tidak bisa? Kumohon, masuk ke dalam. Aku tidak ingin kau sakit. Keringkan badanmu dulu. Apa yang ingin kau bicarakan, bisa kita bicarakan di dalam. Ayo!”
Aku kembali menarik tangan Zheng Xi. Namun ia masih bergeming. Sedetik kemudian Zheng Xi malah menarik tanganku dan memelukku dengan erat. Bajunya yang basah mengenai bajuku. Seketika tangan dan kakiku menjadi lemas. Payung yang kupegang terjatuh dan dengan cepat hujan membasahi seluruh tubuhku. Tapi aku tidak peduli. Yang ada di pikiranku saat ini adalah ketidakpercayaanku pada apa yang sedang terjadi.
Zheng Xi memelukku! Dia memelukku dengan erat! Meskipun hujan membasahi tubuhku, tapi entah mengapa aku justru merasa hangat. Dan kehangatan ini menjalar ke seluruh tubuhku, terutama hatiku.
“Zheng.. Zheng Xi.” Aku memanggilnya dengan lirih dari balik bahunya. “Ke.. Kenapa..”
Wo ai ni(Aku mencintaimu), Li Xue.”
Kalimat itu memang terdengar lemah, tapi aku yakin aku tidak salah mendengar. Ucapan itu terasa begitu dekat di telingaku.
“Aku mencintaimu.” Zheng Xi mengulang ucapannya, membuatku semakin yakin bahwa aku memang tidak salah dengar. “Aku tau aku selama ini bodoh, membebanimu dengan sikap pengecutku. Aku membiarkanmu sendirian mengayuh perahu kita. Aku pengecut karena tidak dapat mengutarakan pendapatku selama ini. Aku.. Aku bahagia bisa bersamamu selama dua tahun ini. Dan aku tentu bahagia saat kau mengajakku menikah denganku tadi, tapi juga sekaligus sedih dan marah. Seharusnya akulah yang mengucapkan kalimat itu, bukan kau. Tapi aku terlalu pengecut untuk sekedar mengatakan isi hatiku, sehingga kau pergi meninggalkanku. Aku telah membiarkanmu berpikir bahwa aku tidak mencintaimu. Aku.. Aku mencintaimu, Li Xue. Sungguh. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya. Saat kau pergi tadi, aku tersadar. Aku sadar bahwa aku salah selama ini. Aku tidak bisa kehilanganmu hanya karena sifatku ini.”
Ya, Tuhan, ini kalimat terpanjang yang pernah Zheng Xi ucapkan selama aku mengenalnya. Sekarang justru aku yang dibuat tak mampu berkata-kata oleh Zheng Xi. Aku terlalu hanyut dalam setiap kata yang diucapkannya.
Perlahan Zheng Xi melepaskan pelukannya. Wajahnya kini tampak semakin pucat dan gemetar. Aku sungguh tidak tega melihatnya.
“Zheng Xi,  masuklah. Kumohon. Kau sudah mengucapkan apa yang ingin kau ucapkan.” Kataku lirih.
Zheng Xi mengangguk. Aku pun tersenyum, kemudian mengambil payung dan menarik Zheng Xi masuk ke dalam wisma.
“Mandilah. Aku akan menyiapkan coklat hangat dan selimut untukmu.” Kataku setelah memberikan handuk,  kaos besar, dan celana rumah milikku untuk Zheng Xi. Zheng Xi mengangguk sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi. Hatiku menghangat kembali. Ini juga pertama kalinya Zheng Xi mandi di wisma-ku.
Setelah mengambil selimut dan meletakkanya di sofa ruang tamu, aku segera menyiapkan segelas coklat hangat untuknya. Sembari menunggu Zheng Xi selesai mandi, aku merenungkan ucapannya tadi sambil mengeringkan rambutku sendiri dengan handuk. Zheng Xi mencintaiku. Sungguh aku sangat bahagia dengan pengakuannya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, aku segera menghampiri Zheng Xi dan menyuruhnya duduk di sofa. Aku pun mengambil coklat hangat yang telah kubuat dan kutaruh di atas meja dekat sofa.
“Minumlah.” Kataku.
Xie xie (terima kasih).”
Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya, memandangi Zheng Xi yang sedang meneguk coklatnya. Aku memang sering mengamati wajah Zheng Xi. Bagaimana bentuk rahangnya yang tegas, mata coklatnya yang teduh dengan kacamata yang membingkai, hidungnya yang mancung, dan bibir penuh yang indah. Dengan balutan kaos milikku yang ternyata sedikit ketat, membuat badannya yang bidang terlihat sangat kokoh. Aku sendiri masih tidak menyangka, pria segagah Zheng Xi bisa memiliki sifat yang sangat pemalu.
“Kau istirahatlah.” Kataku setelah Zheng Xi menghabiskan coklatnya. Aku pun beranjak dari sofa, hendak masuk ke dalam kamar dan tidur. Tapi Zheng Xi menahanku sehingga aku kembali duduk di sofa.
Zen me le (Kenapa)?” tanyaku.
Zheng Xi tidak menjawab. Ia merogoh kantong celana milikku yang sedang dipakainya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang basah.
“Li.. Li Xue.. Kau tahu? Aku selalu membawa kotak ini ke manapun aku pergi. Tapi hari ini aku lupa membawanya. Karena itulah aku sangat terkejut dengan ucapanmu di jembatan tadi.”
Aku menatapnya dengan bingung. Zheng Xi menarik nafas kemudian melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya.. Saat itu juga aku ingin menghentikan ucapanmu dan mengatakan hal yang seharusnya akulah yang mengucapkannya. Tapi aku… Aku tidak bisa mengucapkannya tanpa kotak ini.”
Jantungku mulai berdetak kencang. Apa ini? Apa Zheng Xi mau melamarku? Tidak mungkin, kan?
“Makanya aku tidak menahanmu saat kau pergi. Aku malah berlari pulang untuk mengambil kotak ini, dan menuju wisma-mu. Aku tidak peduli hujan deras dan petir menyambar. Yang ada di pikiranku tadi adalah aku tidak mau semuanya berakhir. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku sudah berulang kali mengetuk gerbang tapi tidak ada yang membukanya. Aku mencoba meneleponmu berulang-ulang tapi selalu nada sibuk.”
Aku pun teringat bahwa tadi aku memang berbincang dengan Xiao You di telepon selama satu jam. Dan selama itu pula Zheng Xi menungguku di bawah. Aku benar-benar terkejut dan menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku begitu jahat, membiarkan Zheng Xi menunggu di luar selama itu! Zheng Xi bisa saja sakit karena kedinginan.
Air mata mulai menggenang. Aku tidak tahu Zheng Xi bisa berbuat sejauh itu.
Bu shi ni de cuo (Bukan salahmu)..” Zheng Xi berkata sambil menyeka air mataku yang mengalir. “Aku yang bodoh.” Lanjutnya.
Aku menggeleng. Zheng Xi sama sekali tidak bodoh. Perbuatannya itu sukses membuat hatiku lumpuh.
Zheng Xi tersenyum lembut, senyuman yang selalu aku suka. Ia pun membuka kotak beludru itu dan tampaklah sebuah cincin yang sangat cantik, dengan berlian berbentuk bintang di atasnya. Bintang. Objek favoritku.
“Li.. Li Xue..” katanya masih dengan malu-malu. Aku tersenyum kecil melihatnya. “Ni yuan yi.. jia gei wo ma (Apa kau bersedia menikah denganku)?”
Meskipun aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan Zheng Xi, tapi aku masih merasa takjub. Seorang Zheng Xi yang tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, kini mengajakku menikah. Keberanian Zheng Xi ini sungguh membuatku terharu.
Wo yuan yi (Aku bersedia).” Kataku tanpa keraguan sama sekali.
Mata Zheng Xi berbinar cerah. Ia pun memakaikan cincin pemberiannya di jari manisku. Aku tersenyum senang.
“Li Xue, cong jin tian kai shi (mulai hari ini), biarkan aku yang mendayung perahu kita.” Kata Zheng Xi dengan lembut.
Aku menggeleng kuat. “Zheng Xi, kita akan mendayungnya bersama.” Kataku, membuat mata Zheng Xi semakin bersinar. Aku pun memeluk Zheng Xi. Tubuh Zheng Xi sempat menegang karena kupeluk dengan tiba-tiba, tapi kemudian ia balas memelukku.
“Ya, kita akan mendayungnya bersama.” Zheng Xi mengulangi ucapanku. Kemudian dengan sebuah kalimat lanjutan yang membuatku kian melayang, “Wo ai ni, Li Xue.”

Aku mengangguk. “Wo ye ai ni (aku juga mencintaimu).” Kataku kemudian semakin membenamkan kepalaku di dada Zheng Xi. Menghirup aroma tubuhnya yang menenangkanku, yang kini sedikit bercampur dengan sabun mandiku. Aku bahagia.

Thursday, January 9, 2014

不止白馬王子 (More than Prince Charming)


Story type     : One Shoot
Chinese Title : 不止白馬王子
English Title  : More Than Prince Charming
Cast:   - Dean Fujioka
           - Lin Chen Xi

***

Zhao bu dao ren shuo xin li de ji mo
Zhao bu dao ren dong pa hei de zhe mo
Zhao bu dao ming zhong zhu ding zai yi qi de na ge ren
Hen duo ren dou xiang wo, yi ge ren guo sheng huo
Ai zhe you jian dan bi hua
Que bi xiang xiang fu zha, hen an ding ai bian hua
Wo ai guo ji ge ren, ye bei ai guo ji bian
Que hai shi mei neng jiang xing fu liu xia
Ai shi bu ke shu de ma
Wei he wo hai xiang xin ta bu shi du xing xia
Wo zai deng yi ge ren, zai deng wo de yong heng
Gao su wo ai bu dan xing, bie hai pa.
-Show Luo_Ai Bu Dan Xing-

“Chen Xi, qu kai menYou ren lai! (Buka pintu. Ada tamu!)” ibuku berteriak sangat kencang di saat aku sedang menikmati lagu-lagu kesukaanku di kamarku yang nyaman. Hari ini adalah hari Minggu, hari di saat aku berhak untuk beristirahat sejenak dari kepenatan setelah 5 hari bekerja. Tapi kenapa ibu tidak mau mengerti? Kenapa harus aku yang membuka pintu? Tidak bisakah ibu sendiri yang membukanya? Lagipula tamu itu pasti bukan untukku, entah tamu untuk ayah atau ibu. Teman-teman sekantorku bisa dibilang tidak mungkin datang ke rumahku karena rumah kami yang sangat berjauhan.

“Chen Xi!! Ibu sedang memasak, cepat turun dan buka pintu!” seolah menjawab pertanyaanku, ibu kembali berteriak, membuatku mau tak mau turun dari ranjangku dengan perasaan tidak rela dan mematikan player di atas meja.

“Iya, bu!!”

Aku pun keluar kamar dan sempat melihat ibu kembali ke dapur dengan tergesa-gesa. Memangnya ibu sedang  memasak apa? Biasanya setiap Minggu ibu tak pernah memasak dan kami sekeluarga akan makan di luar ataupun menggunakan jasa delivery.

Begitu pintu depan rumah kubuka, tampak seorang pria sedang memunggungiku dengan setelan kaos berkerah berwarna putih dan celana jeans. Dari potongan rambutnya yang sedikit panjang, aku langsung tau siapa yang datang.

Qing jinWo qu jiao wo ba. (Masuk saja, biar kupanggilkan ayah).” Kataku singkat dan agak ketus.

Dean langsung membalikkan badannya. Detik berikutnya ia tersenyum manis padaku. Senyuman yang selalu kulihat setiap minggu akhir-akhir ini. Entah kenapa sejak 4 bulan yang lalu, Dean, salah satu rekan bisnis ayahku, selalu datang ke rumahku setiap akhir pekan untuk menemui ayah. Entah apa yang membuat mereka terlihat dekat, mengingat usia Dean yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Dan aku juga tak pernah tahu apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka akan menghabiskan waktu berbincang-bincang hingga sore tiba.

Aku sendiri tidak begitu suka dengan kehadiran Dean karena ia telah merusak hari tenangku di akhir pekan. Aku yang biasanya banyak berbincang-bincang dengan ayah di akhir pekan, akhir-akihir ini jadi berkurang sejak kehadiran Dean. Dan aku harus rela hanya dengan menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik di kamar.

Tapi sebenarnya.. Bukan hanya alasan itu saja yang membuatku tidak menyukai kedatangan Dean. Setiap kali aku melihat wajah Dean dan senyum manisnya yang kuakui cukup menawan, kadang membuat jantungku berdetak lebih cepat dan nafasku terasa lebih sesak, namun.. menenangkan. Aku tidak tau apa yang kurasakan dan aku tidak mau tau karena yang aku tau, ini pertanda buruk.

Bagi wanita biasa sepertiku yang selalu patah hati, menyukai seseorang adalah hal yang paling kuhindari. Aku tidak mau lagi jatuh di kubangan yang sama. Aku tidak mau lagi menyukai seseorang dan selalu berakhir dengan patah hati. Aku selalu berharap bisa menyukai seseorang dengan penampilan yang biasa saja, tapi hatiku selalu memilih pria dengan penampilan bak seorang pangeran berkuda putih dan itulah yang menyebabkan perjalanan cintaku tak pernah mulus. Entah karena pria itu sudah memiliki pacar, bahkan sudah punya istri, atau hanya karena ia tidak menyukaiku. Ya, pria tampan memang tak pernah ditakdirkan untukku.

Dean, adalah salah satu dari pria dengan wajah setampan pangeran berkuda putih, bahkan lebih indah dari itu. Darah Jepang dan Cina mengalir dalam tubuhnya, membuat wajah orientalnya tampak berbeda dengan pria kebanyakan. Dan itu berarti bencana bagiku! Aku harus menghindarinya, itulah keputusanku.

Dean mengangguk. Aku pun masuk ke dalam rumah diikuti Dean. Begitu aku hendak naik ke atas untuk memanggil ayah, tiba-tiba saja ayah sudah ada di hadapanku, membuatku sedikit terkejut.

“Chen Xi, buatkan minuman untuk Dean.” Kata ayah.

Aku mengernyit sebentar. Biasanya ibu yang menyuguhkan minuman untuk Dean. Lalu aku teringat bahwa ibu sedang memasak di dapur. Jadi mau tak mau aku mengangguk dan berjalan ke dapur. Tapi setelah beberapa langkah aku menepuk dahiku pelan, dan membalikkan tubuhku.

“Dean, ni yao he shen me (ingin minum apa)?” kataku lagi-lagi dengan nada yang sengaja kubuat tidak bersahabat.

“Teh manis hangat saja.” Katanya dengan senyuman yang lagi-lagi membuat jantungku berhenti berdetak.

Aku langsung mengabaikan perasaan itu dan kembali melangkah ke dapur. Kulihat ibuku sedang sibuk dengan penggorengan dan spatulanya.

“Ibu sedang masak apa sih? Tumben sekali hari Minggu begini ibu memasak.”

Ibu hanya menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Aku melihat ke dalam isi penggorengan dan melihat ibu yang ternyata sedang membuat mi goreng.

“Kenapa ibu memasak mi goreng?”

“Bukankah sudah tradisi jika ada yang berulang tahun, kita harus makan mi?” pertanyaan balik ibu membuatku mengernyit.

“Memangnya siapa yang ulang tahun?” aku kembali mengingat tanggal hari ini. Sepertinya hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari ulang tahun ayah ataupun ibu.

“Dean.” nama yang keluar dari mulut ibu itu membuatku tersentak.

“De.. Dean? Jin tian shi ta de sheng ri ma (Dia ulang tahun hari ini)?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa ia ke sini? Bukankah seharusnya ia merayakan ulang tahun bersama keluarganya?”

“Orang tuanya tinggal di Jepang. Ia di sini sendirian. Makanya ayah menyuruhnya datang untuk makan bersama.”

“Oh.” Hanya itu yang kuucapkan. Jadi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kasihan juga ia tinggal sendiri di sini.

“Hei, kau ke dapur untuk apa?” tanya ibuku.

“Oh iya, hampir saja lupa. Aku mau membuatkan teh untuk Dean.”

Aku segera menyiapkan kantong teh dan membuatkan teh manis hangat untuk Dean. Setelah selesai membuat teh, aku melangkah keluar dari dapur dan segera meletakkan teh itu di atas meja ruang tamu. Aku menatap Dean sekilas yang sepertinya sedang membicarakan masalah bisnis dengan ayah. Aku menimbang sejenak, apa seharusnya aku mengucapkan selamat ulang tahun? Biar bagaimanapun, aku sudah mengetahui hal ini, jadi sudah seharusnya aku mengucapkan selamat, kan? Tapi melihat Dean yang sedang asyik berbincang, aku pun memilih diam dan membantu ibu menyiapkan makan siang di dapur.
...

Makan siang hari ini adalah makan siang paling membosankan yang pernah aku alami. Bagaimana tidak? Sepanjang makan siang, ayah, ibu, dan Dean terus saja bercerita, cerita yang tak pernah bisa kupahami karena itu menyangkut bisnis ayah di kantor. Dan aku hanya bisa terus mengunyah, berharap makanan di atas piringku cepat habis. Begitu piringku kosong, aku segera membawa piringku ke dapur dan mencucinya. Dan tanpa permisi, aku langsung naik ke atas untuk kembali mendengarkan lagu-lagu favoritku, sementara mereka masih saja asyik bercanda tawa. Lama-lama aku jadi merasa mempunyai seorang kakak, dan aku adalah adik tiri yang diabaikan.

Kali ini aku memutuskan untuk mendengarkan lagu di balkon lantai atas rumahku. Mengurung diri di dalam kamar juga lama-lama membuatku bosan. Lebih baik aku mencoba keluar dan menikmati angin siang yang tampak damai. Aku mengambil mp3 dan headset dari kamarku, lalu berjalan ke balkon dan duduk di salah satu kursi. Balkon ini salah satu tempat favoritku dan ayah untuk berbincang-bincang atau bermain monopoli.

Aku pun mulai memasang headset di telingaku dan menikmati setiap lantunan lagu. Semakin lama kesadaranku semakin memudar. Aku hampir tertidur pulas saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat menempel di keningku sekilas. Seperti sebuah kecupan yang biasanya ibu berikan padaku sebelum tidur. Tapi ini terasa berbeda. Aku mencoba membangunkan diriku sendiri. Tapi karena aku sudah terlanjur mengantuk, aku kembali tertidur, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya bagian dari mimpiku.

Entah berapa lama aku tertidur, saat kubuka mataku, lagu dari mp3-ku masih melantun, langit sudah berubah menjadi sedikit teduh, mungkin sudah hampir sore.

Ni qi lai le ba (Kau sudah bangun)?” suara itu membuatku tersentak dan menoleh ke sampingku. Jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya saat menemukan Dean sedang duduk di kursi sebelahku, menatapku, dan tersenyum.

“De.. Dean? Ni zen me zai zhe’r (Kenapa kau ada di sini)?”

Wo deng ni qi lai (Aku menunggumu bangun).” Katanya.

“Hah? Untuk apa? Bukankah kau biasanya berbincang-bincang dengan ayah?”

Jin tian wo yao dai ni qu zou zou. (Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan). Di sekitar sini saja.”

Qu zou zou (Jalan-jalan)?”

Shi. Ni yao ma (Ya. Kau mau)?”

Tentu saja aku mau! Aku berteriak dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah “Ke yi (Boleh).” yang tentunya dengan nada datar. Kadang hati dan mulut memang tidak sejalan, atau memang aku yang sengaja membuatnya tidak sejalan karena aku tau aku tidak boleh menyukai pria dengan jenis seperti ini.

Dean memilih untuk menaiki sepeda untuk berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan tempat tinggalku. Kebetulan aku memang punya sepeda yang sering kugunakan untuk pergi berbelanja di minimarket dekat rumahku. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat duduk di belakang Dean. Hatiku benar-benar berdebar-debar, rasanya ingin melompat keluar. Punggung Dean yang lebar dan bidang membuatku ingin sekali menyandarkan kepalaku di sana. Aroma tubuhnya yang lembut membuat hidungku terbuai. Namun lagi-lagi kutepis pikiran gilaku ini dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terus bertumbuh.

Jalanan yang sedikit berbatu membuatku oleng berkali-kali. Ingin rasanya aku memeluk pinggang Dean, tapi aku tau aku tidak bisa melakukannya. Jadi aku memilih untuk mencengkeram sedikit bagian dari kursi boncengan yang terbuat dari besi, membuat tanganku agak sakit.

Dean menghentikan sepeda saat kami tiba di sebuah taman.

“Turunlah.” Katanya.

Aku pun turun dari sepeda dan melihat ke tanganku yang memerah sekilas.

“Untuk apa kita ke sini?” tanyaku.

“Hanya sekedar menikmati pemandangan. Kau pasti bosan di rumah kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung melangkah menuju ayunan, mainan favoritku di taman ini. Dean menyusulku. Sebelum aku sempat mengayunkan ayunanku, ia berjongkok di hadapanku sehingga pandangan mata kami sejajar, membuatku terkejut dan bingung.

“Perlihatkan tanganmu.” Katanya.

Shen me (Apa)?”

“Kubilang, perlihatkan tanganmu.” Nada suaranya terdengar tegas namun lembut, membuatku mengarahkan tanganku padanya.

Dengan cepat ia membalikkan telapak tanganku sehingga tampaklah telapak tanganku yang memerah karena cengkeramanku pada besi boncengan sepeda tadi.

“Kau tidak perlu membuat tanganmu seperti ini.” Katanya sambil mengelus telapak tanganku. Ada rasa hangat yang mengalir dari sana. Aku hanya bisa diam. Menikmati setiap sentuhan tangannya. “Kau bisa memeluk pinggangku lain kali. Lebih aman.” Katanya sambil tersenyum padaku. Aku tidak tau lagi harus berbuat atau berkata apa. Pikiranku kosong, seperti terhipnotis oleh setiap kata, sentuhan, dan senyumannya.

Sheng ri kuai le (Selamat ulang tahun).” Hanya itu kalimat yang terlintas di otakku, mengingat bahwa aku belum mengucapkan selamat padanya.

Xie xie (Terima kasih). Kau tidak ingin memberikanku hadiah?”

Li wu (Hadiah)? Ni yao shen me li wu ne (Memangnya kau mau hadiah apa)?”

Ni (Kau).”

“Hah?”

“Chen Xi, ni xiang cheng wei wo de nǚ peng you ma (kau mau jadi pacarku)?”

Saat itu juga aku melongo, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“A.. Apa?”

“Aku tau kedatanganku membuatmu tidak nyaman selama 4 bulan ini. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu, walaupun hanya memandang wajahmu yang selalu cemberut saat menatapku. Aku minta maaf karena sudah merusak akhir pekanmu setiap minggu. Aku..”

Ni shi zhen de ma (Kau serius)?” aku memotong ucapannya.

“Apa?”

Ni shuo de, shi zhen de ma (Kau serius dengan perkataanmu itu)?”

Da.. Dang ran ah~ (Te.. Tentu saja.)”

Ke shi (Tapi).. kau ini punya wajah yang tampan, melebihi pangeran berkuda putih.” Kata-kataku mulai terdengar kacau.

Ran hou ne (Lalu)?” Dean menatapku bingung.

Ni bu ke neng xi huan wo (Kau tak mungkin menyukaiku). Ma.. Maksudku, aku tidak mungkin disukai oleh pria tampan sepertimu. Maksudku.. aku selalu patah hati setiap kali menyukai seseorang, dan.. pria yang kusukai selalu memiliki wajah yang tampan. Dan kau.. kau bahkan memiliki wajah lebih tampan daripada pangeran berkuda putih. Kau.. Kau mengerti maksudku, kan? Jadi, tolong bangunkan aku dari mimpi indah ini, cubit aku, pukul aku agar terbangun..” aku mulai meracau.

Tapi bukannya mencubit atau memukulku, Dean malah menarik kepalaku dengan lembut dan mencium keningku. Seketika itu juga kehangatan mulai menjalari tubuhku. Ciuman di keningku saat ini, sama persis dengan yang tadi siang kurasakan saat sedang setengah tertidur. Apakah mungkin yang tadi menciumku adalah Dean? Dan kehangatan ini, bukankah sudah menunjukkan bahwa aku tidak bermimpi?

Begitu Dean menjauhkan bibirnya dari keningku, ia memandangku dengan lembut dan tersenyum.

“Apa sekarang kau masih belum yakin bahwa ini nyata? Chen Xi, wo zhen de xi huan ni (aku benar-benar menyukaimu). Sejak pertama kali aku melihatmu saat aku mengunjungi rumahmu 4 bulan yang lalu. Yah, walaupun kau tak pernah menyukai keberadaanku.”

Wo xi huan (Aku suka)!”

“Hah?”

“Sebenarnya aku suka kau datang. Aku.. Aku bukannya tidak suka. Aku selalu menghindarimu karena aku selalu berdebar-debar saat melihatmu. Aku selalu berusaha memadamkan perasaanku ini karena.. karena aku pikir.. aku tidak seharusnya menyukai seorang pria tampan lagi.” Aku mulai berkaca-kaca.

Dean menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau tak perlu memadamkan perasaanmu, Chen Xi, karena aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu.”

Aku mengangguk dalam pelukannya. Air mataku menetes karena terharu, tidak percaya bahwa Tuhan akan sebaik ini padaku. Aku selalu patah hati setiap kali menyukai seorang pria tampan, tapi Tuhan malah memberiku seorang pria yang bahkan jauh melebihi kata tampan. Bahkan Dean adalah sosok yang baik dan romantis. Buktinya, ia bisa dekat dengan ayahku yang umurnya berbeda jauh dengan Dean. Itu berarti ada sisi baik dari Dean yang disukai ayah.

“Dean, tadi siang, aku bermimpi.” Kataku. “Aku bermimpi ada seseorang yang mencium keningku. Seperti yang kau lakukan tadi.”

“Kau merasakannya?”

Aku mengangguk.

“Itu bukan mimpi.” Aku pun tersenyum, sudah menduga bahwa ciuman tadi siang memang terlalu nyata untuk bisa dikatakan mimpi.

“Kau tau, aku tidak akan pernah berani mengajakmu keluar tanpa izin ayahmu.” Dean kembali berkata.

Aku melepaskan pelukanku dan menatap Dean.

“Maksudmu, ayah sudah mengizinkanmu mengajakku keluar?”

Dean menggeleng.

“Lalu?”

“Ayahmu.. sudah merestuiku untuk menjadi calon menantunya.”

Aku terbelalak. “Zhen de ma (Benarkah)?”

Dean mengangguk dan tersenyum. Aku pun memeluknya dengan erat. Ini adalah hari paling indah seumur hidupku. Dan kehidupan indah ini akan terus berlanjut selamanya. Aku yakin itu.

Ting zhe na shi jian di da de zhou
Dui jie de ni zai dian tou
Hao xiang yi ge meng jian jian zou dao wo qian tou
Hao xiang zhi dao ni de yi bai fen hui gei zen yang de ren
Qin’ai de ni, bu yao zai mo sheng, zheng jia wo xi fen
Wo xiang wen qin’ai de ni,
Ba gan qing sheng deng peng you bian cheng qing ren
Ke bu ke yi gao su wo biao zhun
Bu yao rang wo yi zhi deng
-Rainie Yang_Li Xiang Qing Ren-

***END***