Sunday, June 21, 2015

Surat untuk Cinta Pertamaku


Hai...

Ah, aku tidak perlu menanyakan kabarmu, tentu saja. Melihat postingan-mu di Instagram dan Facebook, aku tahu kau baik-baik saja di sana, dan bahagia bersama istrimu tercinta. Selamat atas pernikahamu. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang setelah sekitar satu tahun sejak hari itu. Yah, walaupun surat ini juga tak akan kau baca.

Aku ada di sana saat itu. Di pesta pernikahanmu, maksudku. Kau tampak bahagia. Dalam setelan tuxedo berwarna putih gading, kau terlihat jauh lebih tampan. Kapan terakhir kali aku melihat wajahmu secara langsung sebelumnya? Aku pun tak lagi ingat. Kita memang tinggal di pulau yang berbeda. Istrimu cantik saat itu. Tentu saja semua wanita akan terlihat cantik di hari bahagianya. Hm.. Oke, oke. Memang menurutku istrimu tidak cantik-cantik amat. Ayolah, pria setampan dirimu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik. Oh, tidak, tidak. Aku juga tidak cantik, jangan bandingkan dengan diriku. Aku juga tahu diri. Jika dibandingkan denganku, tentu saja istrimu jauh lebih cantik. Tapi... Yah, baiklah! Istrimu memang cantik! Dan ramah! Tidak, aku tidak cemburu. Aku tidak pantas cemburu.

Kepada cinta pertamaku,
Aku menulis surat ini bukan tanpa tujuan. Aku hanya ingin sedikit mengenang tentang kita berdua. Sebetulnya aku juga bingung apa yang bisa dikenang di antara kita. Kebersamaan kita terlampau singkat. Aku mengenalmu saat aku berusia... Kira-kira 4 atau 3 tahun atau bahkan sebelumnya. Sepertinya aku belum bersekolah saat itu, dan aku masih tinggal di pulau yang sama denganmu. Kau sering menginap di rumahku, bermain bersamaku, bahkan kau pernah tidur di kamarku. Aku selalu senang jika kau datang. Entahlah, kehadiranmu selalu membuat hatiku melonjak gembira. Kau yang baik hati, kau yang selalu menghiburku saat sedih, kau yang menemaniku di hari-hari pertamaku bersekolah, kau yang mengajakku ke lapangan basket untuk melihatmu bermain, dan kau juga yang sering berkata bahwa akulah kesayanganmu.

Aku tidak mengerti perasaan itu. Ayolah, yang benar saja? Seorang anak berusia 3 tahun memangnya bisa mengerti apa? Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas menyebutmu sebagai cinta pertamaku. Tapi bukankah perasaan bahagia atas kehadiranmu itu seharusnya bisa dikategorikan dengan cinta? Atau minimal rasa suka? Entahlah, aku sendiri bahkan tidak bisa menjawabnya.Ya, anggaplah itu hanya perasaan bahagia yang umumnya dimiliki oleh seorang anak kecil ketika diajak bermain oleh temannya, dan mustahil seorang anak berusia 3 tahun memiliki perasaan seperti itu. Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa perasaan itu tetap ada hingga aku beranjak remaja?

Kita masih saling berkirim pesan di awal-awal kepindahanku ke Jakarta. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali membaca pesanmu. Bahkan saat kau sempat datang ke Jakarta dan menemuiku, aku merasa gugup dan berdebar-debar. Kau terlihat jauh lebih tampan dari kali terakhir aku melihatmu. Senyummu semakin menawan, suaramu menjadi berat, dan tubuhmu tegap layaknya pria dewasa.

Namun semakin aku terpesona padamu, semakin aku memaksa diriku untuk berhenti. Biar bagaimanapun, kau dan aku tidak akan mungkin menjadi "kita". Kau dan aku akan memiliki kehidupan kita sendiri nantinya. Kata-katamu dulu bahwa aku adalah kesayanganmu pun pada akhirnya tak akan bermakna apa-apa. Hingga suatu hari setelah aku tahu kau akhirnya telah memiliki seseorang, aku benar-benar memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan itu.

Lalu di hari bahagiamu saat itu, aku senang melihat senyuman bahagiamu, dan aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku tidak cemburu karena perasaan itu memang tidak seharusnya kumiliki. Setelah dipikir-pikir, di antara kita mungkin memang banyak yang bisa dikenang, tapi kenangan itu cukuplah untuk diriku sendiri. Kau sudah bahagia dengan keluarga kecilmu, tidak perlu terbebani dengan perasaanku yang tidak penting. Aku hanya berharap suatu hari aku pun bisa bahagia sepertimu.

Aku tidak menyesal pernah menyukaimu karena dari dirimu-lah aku mengenal perasaan ini. Aku juga tidak akan ragu-ragu untuk menceritakan hal ini pada sahabat-sahabatku. Ketika mereka bertanya siapa cinta pertamaku, maka dengan bangga aku akan menjawab, "Kakak sepupuku."

***

Wednesday, June 3, 2015

[Review] Kamera Pengisap Jiwa - Ruwi Meita

Penulis: Ruwi Meita
Editor: Ry Azzura & Ario Sasongko
Proofreader: Funy D.R,W
Layout: Irene Yunita
Desain Sampul: Gita Mariana
Ilustrasi Sampul: Rudiyanto
Penerbit: Bukune
Cetakan Pertama: Agustus 2014
132 hlm; 13x19 cm
ISBN 602-220-135-7
Genre: Horror







CEKREEEK!

"Terlambat. Kamera tua itu sudah memotret kamu dan keluargamu. Tidak ada satu pun yang bisa selamat." Anak perempuan itu berbicara dengan tatapan kosong. Dia pergi dengan cepat, Anabel tidak bisa menemukannya.

Anabel tidak ingin percaya. Namun, keanehan demi keanehan terus menghampiri. Keluarganya melakukan kegiatan yang sama terus-menerus. Papa berkebun, Mama memasak, dan adiknya bermain trampolin; tanpa makan, mandi, atau tidur! Dan, ah... apa sebenarnya makhluk mengerikan yang dilihatnya itu? Dia  menjerat leher keluarga Anabel dan mengambil jiwa mereka....


Kamera Pengisap Jiwa adalah novel Seri Takut dan karya Ruwi Meita pertama yang aku baca. Saat membaca judulnya, aku yang menyukai cerita misteri langsung tertarik dan sangat senang saat tahu pihak Bukune menggratiskan e-book ini di Play Store untuk jangka waktu tertentu. Aku jadi teringat dengan kakakku yang hobi memotret dan membayangkan bagaimana jadinya jika sebuah kamera dapat mengambil jiwa seseorang. Maka segeralah aku mengunduh e-book ini.

Seperti novel misteri pada umumnya, Kamera Pengisap Jiwa diawali dengan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga dengan Anabel si anak sulung sebagai tokoh utama. Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Sigi yang biasa dipanggil Bayi Sigi oleh Anabel ketika dia sedang kesal akan kelakuan adiknya. Sigi memang anak yang pecicilan, ia memiliki sifat yang ceria, cerewet, dan tidak bisa diam. Jalannya selalu melompat-lompat karena sejak dulu Sigi ingin sekali memiliki trampolin di rumahnya. Namun apa daya rumah mereka tidak cukup untuk menaruh sebuah trampolin.

Kebalikan dengan Sigi, Anabel cenderung lebih diam. Oleh karena itu ia kurang menyukai adiknya yang tidak bisa diam dan selalu mengganggunya. Anabel sangat suka membuat kartu ucapan. Ia sering membuatkannya kepada teman-temannya. Selain itu, Anabel juga suka memotret dan memiliki sebuah kamera polaroid kesayangan.

Suatu ketika ayah Anabel mendapat hadiah dari perusahaan tempatnya bekerja. Memang setiap tahun perusahaan tersebut selalu memberikan hadiah kepada para karyawannya. Tahun ini sungguh beruntung bagi keluarga Anabel karena mereka mendapat hadiah berlibur ke Plateau Dieng dan berkesempatan menginap di vila milik Harta Wijaya, pemilik dari perusahaan tempat ayahnya bekerja. Namun, benarkah mereka beruntung mendapatkan hadiah tersebut?

Vila milik Harta Wijaya dijaga oleh Pak Simhar, seorang lelaki tua yang sudah bungkuk dengan mata sebelah kirinya terbuat dari kaca. Di ruang tengah vila terdapat ratusan foto berpigura yang digantung di dinding, Foto-foto tersebut adalah foto semua tamu yang pernah menginap di vila tersebut yang anehnya mereka semua sama seperti keluarga Anabel, keluarga yang hanya beranggotakan empat orang dengan dua anak. Pak Simhar meminta keluarga Anabel bersiap-siap nanti malam untuk difoto dan akan dipajang di ruangan tersebut. Saat hendak berfoto, Anabel sedikit merasa aneh dengan vila itu, ia melihat sosok seorang anak perempuan berambut panjang di belakang Pak Simhar namun ketika ditanya, Pak Simhar tidak tahu-menahu soal kehadiran gadis itu. Setelah foto mereka diambil dengan sebuah kamera tua bernama Commodore, kejadian-kejadian aneh pun dimulai.

Keesokan harinya, Anabel mendengar teriakan Sigi dari sebuah ruangan. Saat Anabel menghampirinya, Sigi tengah berteriak senang karena menemukan sebuah trampolin besar di ruangan itu. Setelah Anabel puas bermain dengan Sigi, Anabel berencana mencari orang tuanya namun ia tidak menemukannya. Dari Pak Simhar-lah Anabel tahu bahwa ibunya sedang berada di dapur, sedangkan ayahnya berada di kebun.

Melihat ibunya yang asyik memasak dan ayahnya yang juga asyik berkebun, Anabel memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di sekitar vila hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan dengan berbagai macam hiasan yang bagus untuk dijadikan kartu ucapan. Ia pun dengan bersemangat membuat kartu-kartu ucapan terutama untuk Sigi karena adiknya itu sudah lama meminta Anabel membuatkan kartu ucapan untuknya. Hobinya membuat kartu ucapan membuat Anabel lupa waktu hingga akhirnya ia tertidur karena lelah.

Tinggal cukup lama di vila tersebut membuat Anabel menyadari bahwa keluarganya mulai bertingkah aneh. Ibunya terus memasak di dapur tanpa henti, begitu pula dengan ayahnya yang terus-menerus berada di kebun. Ditambah lagi dengan kamar Anabel yang tiba-tiba menjadi berantakan dan terdapat secarik kertas bertuliskan 'Bakar vila ini!'Anabel segera mencari Sigi dan memberitahu semua keanehan tersebut. Ia juga menunjukkan kegiatan ayahnya di kebun dan sebuah tali merah yang menjerat leher ayahnya. Mulanya Sigi sama sekali tidak percaya dengan ucapan Anabel karena ia tidak melihat tali yang menjerat leher ayahnya tersebut, hingga pada akhirnya Anabel memotret Sigi dan menunjukkan foto leher Sigi yang dijerat tali berwarna merah padanya, barulah Sigi percaya.

Anabel dan Sigi mencari solusi bersama. Anabel yang sempat melihat sosok anak perempuan saat ia membuat kartu ucapan, mengajak Sigi menemui gadis tersebut dan ternyata gadis bernama Arumi itu sudah meninggal. Jiwa Arumi-lah yang dilihat oleh Anabel dan Sigi. Dari penuturan Arumi, Anabel dan Sigi akhirnya mengetahui kebenaran dari vila tersebut dan sosok Pak Simhar tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini.

Monday, June 1, 2015

Jalan Pintas

“Ma...” Aku terisak menatap mama yang kini sedikitpun tidak ingin melihatku. Mata mama memerah, aku tahu mama sedang menahan tangisnya. Belum pernah aku bertengkar hebat dengan mama seperti ini. Bertengkar mungkin bukan kata yang tepat. Lebih tepatnya akulah yang membuat mama marah. Tidak, mama pasti sangat kecewa ketimbang marah.
“Kenapa, Dewi?” mama berbicara setelah bermenit-menit kami dikelilingi oleh rasa sepi yang menyesakkan.
“Dewi.. Dewi tidak tahu, Ma. Bukan sekali ini saja Dewi merasakan hal seperti itu.”
“Sejak kapan?” Nada suara mama masih terdengar datar.
“Sejak.. SMP..” kataku dengan terpatah-patah. “Dewi tidak tahu kenapa Dewi berbeda dengan teman-teman yang lain... Mereka.. Mereka menyukai teman sebaya kami, sedangkan Dewi.. Tidak tertarik. Dewi malah.. Malah menyukai seorang guru.”
Mata mama terpejam kala mendengar kalimat terakhirku. Beberapa saat kemudian mama menarik nafas dalam-dalam dan bertanya, “Apa karena ayah? Apa semua ini karena kau merindukan sosok seorang ayah?!” Nada suara mama meninggi, aku tertegun mendengarnya. Bibirku terkatup rapat memikirkan pertanyaan mama.
Benarkah yang mama katakan barusan? Benarkah aku lebih menyukai pria yang usianya jauh di atasku karena aku merindukan sosok seorang ayah? Kata mama, ayah sudah meninggal sebelum aku lahir. Sejak kecil aku memang sering bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Melihat teman-temanku digendong dan dimanja oleh ayahnya membuatku iri. Aku pernah bertanya kepada mama mengapa ia tidak menikah lagi, mama menjawab bahwa ia tidak membutuhkan pengganti ayahku. Mama tidak ingin aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Aku senang mendengar jawaban mama, tapi keinginan untuk memiliki seorang ayah terlalu kuat di dalam hatiku.
Hingga suatu hari aku bertemu dengan Thomas Brawijaya. Aku bekerja di sebuah biro periklanan dan Thomas adalah salah satu klienku. Pertemuan kami tidak istimewa layaknya seorang konsultan dan klien. Namun semakin hari perbincangan kami yang semula hanya melibatkan pekerjaan, menjurus ke sesuatu yang bersifat pribadi. Jujur aku merasa nyaman berbincang dengan Thomas. Ada perbedaan yang kurasakan saat mencurahkan isi hatiku padanya. Ia pendengar yang baik, tidak pernah mengintimidasi, dan selalu memberikan solusi yang hebat.
Aku tahu ada yang salah pada diriku. Namun aku tak memungkiri betapa bahagianya aku saat mengetahui bahwa Thomas belum berkeluarga. Sekian lama kami berteman, Thomas akhirnya mengungkapkan perasaannya padaku. Aku menerimanya dan kami pun jadian. Aku bahagia, namun aku tahu cepat atau lambat kebahagiaan ini akan berakhir. Mama pasti tidak akan menyetujui hubungan kami.
“Demi Tuhan, Dewi, dia lebih pantas menjadi ayahmu!” Sepertinya mama menjadi marah karena aku tidak mampu menjawab pertanyaan mama tadi.
“A.. Aku tahu..” Isakanku terdengar semakin keras. “Tapi Thomas belum berkeluarga. Apa salahnya?”
“Kau tidak akan bahagia, Dewi! Usia kalian terlampau jauh. Pokoknya mama tidak akan merestui!”
Tanpa menunggu jawabanku, mama beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar, disusul dengan suara pintu dibanting. Aku kembali menangis. Sepertinya aku tidak akan bisa meyakinkan mama. Sambil terisak aku merogoh saku dan mengeluarkan ponselku. Kutekan sebuah nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Tidak sampai tiga deringan suara Thomas terdengar di ujung telepon.
“Halo, Wi.”
“Thomas.. Aku setuju.” Demi meyakinkan hatiku, aku memejamkan mata lalu melanjutkan, “Kita kawin lari saja.”

***

Sunday, May 24, 2015

From A Stranger who Unreasonably Love You


Hai, kau yang di sana. Namaku Sarah, 24 tahun. Masih ingat? Kurasa tidak. Ya, bagaimana mungkin kau bisa ingat? Tiga belas tahun sudah berlalu sejak terakhir kali kita bertemu. Dan bagaimana mungkin kau bisa ingat sedangkan murid-muridmu berjumlah ratusan bahkan ribuan? Dan nama Sarah sungguh sangat pasaran.
Kau tahu? Di suatu malam ketika hanya aku seorang yang masih membuka mata, entah bagaimana wajahmu tiba-tiba terbayang. Aneh memang. Aku memang senang berkhayal sebelum tidur, mencari-cari ide yang mungkin saja bisa kujadikan bahan menulis novel. Ah ya, sekedar informasi untukmu, cita-citaku menjadi seorang novelis. Tidak penting memang, tapi biarlah aku berbagi sedikit tentangku. Mungkin saja suatu hari kau membaca tulisan ini dan ingin mengenalku. Haha..
Kembali ke topik utama. Ya, wajahmu yang tiba-tiba terlintas. Sungguh aku tidak tahu mengapa. Oh, tidak. Tidak ada kejadian spesial di antara kita. Hubungan di antara kita hanya guru dan murid. Kau pernah menjadi wali kelasku dua kali. Meskipun begitu, aku yakin kau tidak mengingatku. Aku bukan murid yang menonjol. Aku cenderung pendiam. Bahkan aku hanya punya 3 orang teman saat itu.
Sejak malam itu, sejak wajahmu terlintas dalam pikiranku, hampir setiap malam aku berpikir mengenai sebuah cerita. Kisah seorang wanita yang jatuh cinta pada pria berusia jauh di atasnya atau yang biasa disebut dengan istilah Sugar Daddy. Ya, tentu saja wajahmu yang selalu kubayangkan saat itu. Jangan kira aku lupa bagaimana rupa wajahmu. Aku ingat, sangat ingat dengan jelas. Kulitmu sedikit gelap, bertubuh tinggi dan tegap, janggut tipis menghiasi dagumu, juga kacamata yang membingkai matamu. Kau tampak seperti pria pemalu, namun di sisi lain bisa tampak gagah dan tegas dengan suara baritonmu. Usiamu kutaksir sekitar 35 tahun saat itu.
Ah, semakin sering aku membayangkanmu, semakin aku penasaran. Bagaimana dirimu yang sekarang? Tanpa sadar aku membuka akun Facebook, mencari-cari namamu. Siapa tahu kau punya akun Facebook. Tapi... Astaga, aku bahkan tidak tahu nama lengkapmu. Aku sedikit putus asa. Hanya nama depanmu yang kucari dan hasil pencarian yang kudapatkan terlampau banyak. Ya, seperti namaku, namamu juga pasaran. Hehehe..
Bermalam-malam kuhabiskan dengan mencari akunmu namun tak juga kutemukan. Kupikir kau memang tidak memiliki akun Facebook. Berapakah usiamu saat ini? Di usiamu yang sekarang mungkin saja kau terlalu malas untuk mengikuti perkembangan zaman. Aku pun mulai putus asa.
Ting! Saat aku hendak memejamkan mata dan menghentikan pencarianku, tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikiranku. Aku ingat sekarang! Aku pernah dimasukkan dalam sebuah grup alumni sekolah dasarku. Dan seingatku pernah ada salah satu temanku yang mengunggah foto kelas saat kami masih menginjak kelas 6. Dengan cepat aku membuka grup tersebut. Ku-scroll layar smartphone-ku untuk mencari foto tersebut. Beberapa menit berlalu, aku tak juga menemukannya. Ah, mengapa mereka harus menulis hal-hal yang tidak penting di grup ini? Aku jadi kesulitan mencarinya.
Jantungku langsung berdegup kencang begitu mendapati foto itu di sana. Ya, ini foto yang aku maksud. Segera kubuka foto tersebut dan memperbesarnya sehingga aku bisa membaca nama-nama yang tertera di bagian bawah foto.
Wali kelas: Albertus Widjaya.
Benar. Itu kau.
Segera aku menekan tombol search dan mencari nama tersebut.
Ketemu! Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana bahagianya hatiku.
Dan dimulailah kegiatan stalking-ku sejak saat itu...

Hai, kau yang di sana. Percayakah dirimu jika kukatakan bahwa...
Mungkin... mungkin saja... aku...
Menyukaimu?
Kau tidak percaya? Ya, aku sendiri pun tidak percaya. Kau boleh tertawa karena aku juga sedang melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Aku tidak tahu. Sebenarnya aku juga belum pasti dengan perasaan ini. Hei, kita bahkan tidak pernah bertemu selama 13 tahun. Dan kita tak pernah punya kenangan sekecil apapun. Kau dan aku bagai dua orang asing. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Bahkan ingat denganku saja tidak, kan?
Begini. Logikanya, usiamu saat ini sudah hampir menginjak 50 tahun. Kau lebih pantas menjadi ayahku. Bahkan aku tak ingat wajahmu sekuyu itu saat aku pertama kali menemukan akunmu di Facebook. Lalu, adakah alasan aku menyukaimu?
Sama sekali tidak ada.
Aku tahu ini bodoh sekali. Dirimu bahkan sudah berkeluarga, mungkin sudah lama sebelum kita berjumpa. Lihatlah anak-anakmu sekarang sudah hampir sama usianya denganku. Lalu pantaskah aku memiliki perasaan ini?
Oh, tidak, tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak punya pikiran untuk mengganggumu. Dan tulisan ini benar-benar hanya isi hatiku. Tidak ada niat sedikitpun. Aku sungguh tidak berhak, bukan begitu?
Baiklah, aku tidak akan berlama-lama lagi. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku saat ini. Mungkin suatu hari nanti aku akan membuat sebuah cerita tentang kita sebagai ungkapan atas perasaanku ini.



From: A Strangers who Unreasonably Love You 


NB: Aku memang sedang berencana untuk membuat cerita di atas ke dalam sebuah novel. Semoga bisa kesampaian, karena aku ingin sekali membuat tema cerita seperti itu. Doakan ya! ^^

Tuesday, April 14, 2015

郁可唯 Yisa Yu - 幸福难不难 (Xing Fu Nan Bu Nan) Happiness is Hard - Lyric and Indonesia Translation

现在过得很好 为什么苦恼
wǒ xiàn zài guò de hěn hǎo  bù wèi shén me kǔ nǎo 
日子像悠游的水草 也不怕回忆惊扰
rì zi xiàng yōu yóu de shuǐ cǎo  yě bù pà huí yì jīng rǎo
过去多在意的 过境迁了随风飘
guò qù duō zài yì de  shì guò jìng qiān le suí fēng piāo

*谁等在我的昨天 左右不了明天
shuí děng zài wǒ de zuó tiān  zuǒ yòu bù liǎo míng tiān 
爱过几年 缘分总是少一
ài guò jǐ nián  yuán fèn zǒng shì shǎo yī tiān

** 一个人一辈子 一次幸福难不难
yī gè rén yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán 
每次想走得很 越渴望越无力向前
měi cì xiǎng zǒu de hěn yuǎn  yuè kě wàng yuè wú lì xiàng qián
如果那么爱你 最后还要失去你 为你伤
rú guǒ nà me ài nǐ  zuì hòu hái yào shī qù nǐ  wèi nǐ shāng xīn
可能 我会宁愿不去冒
kě néng  wǒ huì nìng yuàn bù qù mào xiǎn
一句话一辈子 一次幸福难不难
yī jù huà yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán
过多少永远 怀念拥抱你的瞬间
tīng guò duō shǎo yǒng yuǎn  zhǐ huái niàn yōng bào nǐ de shùn jiān
如果遗失的梦 还能再找回
rú guǒ yí shī de mèng  hái néng zài zhǎo huí lái 
我会勇敢 可是选择离开就别遗
wǒ huì yǒng gǎn  kě shì xuǎn zé lí kāi jiù bié yí hàn
(*), (**)

转身一辈子 一次幸福难不难
yī zhuǎn shēn yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán 
时说了再见 见面时空都已蜕变
dāng shí shuō le zài jiàn  zài jiàn miàn shí kōng dōu yǐ tuì biàn
如果遗失的梦 还能再找回
rú guǒ yí shī de mèng  hái néng zài zhǎo huí lái 
我会勇敢 可是选择离开就别遗
wǒ huì yǒng gǎn  kě shì xuǎn zé lí kāi jiù bié yí hàn
DA DA DA DA  DA DA DA DA DA~
放开一切才能握住你的手

fàng kāi yī qiè cái néng wò zhù nǐ de shǒu

INDONESIA TRANSLATION
Saat ini yang kujalani sangat baik, tidak bersedih untuk apapun
Hari-hari bagaikan rumput yang riang, juga tidak takut pada kenangan yang mengganggu
Masa lalu yang dipenuhi oleh banyak kepedulian telah hilang dibawa angin

*Siapa yang menungguku kemarin tidak akan ada lagi di sekitarku besok
Mencintai bertahun-tahun, takdir selalu berkurang satu hari

** Seorang diri, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Setiap kali ingin pergi jauh, semakin berkeinginan semakin lemah untuk meneruskan
Jika begitu mencintaimu namun pada akhirnya harus kehilangan dan membuatku sedih
Mungkin aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko
Sebuah kalimat, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Aku telah mendengar banyak kata selamanya, hanya merindukan saat-saat aku memelukmu
Jika mimpi yang telah hilang bisa didapatkan kembali, aku akan berani
Tapi janganlah menyesal jika sudah memilih untuk pergi

(*) (**)

Sekali membalikkan badan, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Saat kalimat selamat tinggal telah diucapkan, kita akan bertemu lagi di ruang dan waktu yang lain
Jika mimpi yang telah hilang bisa didapatkan kembali, aku akan berani
Tapi janganlah menyesal jika sudah memilih untuk pergi

Monday, March 30, 2015

Yisa 郁可唯 & Freya 林凡 - 聽你說 (Ting Ni Shuo - Hear You Say) - Lyric and Indonesia Translation


我很開心因為努力生活 和你們分享榮耀的那一秒鐘
Wǒ hěn kāi xīn yīn wèi nǔ lì shēng huó hé nǐ men fēn xiǎng róng yào de nà yī miǎo zhōng
如果難過你肩膀最遼闊 你幫我帶走烏雲滿布的天空
Rú guǒ nán guò nǐ jiān bǎng zuì liáo kuò nǐ bāng wǒ dài zǒu wū yún mǎn bù de tiān kōng
如果生活少了有你陪我 我整天開著手機也感到失落
Rú guǒ shēng huó shǎo le yǒu nǐ péi wǒ wǒ zhěng tiān kāi zhuó shǒu jī yě gǎn dào shī luò
因為我們都最想看到彼此燦爛的笑容
Yīn wèi wǒ men dōu zuì xiǎng kàn dào bǐ cǐ càn làn de xiào róng

我懂星座卻沒有人像我 真的喜歡一個人安靜的自由
Wǒ dǒng xīng zuò què méi yǒu rén xiàng wǒ zhēn de xǐ huān yī gè rén ān jìng de zì yóu
我做的夢我堅持做到最後 就算我爬到雲端也繼續作夢
Wǒ zuò de mèng wǒ jiān chí zuò dào zuì hòu jiù suàn wǒ pá dào yún duān yě jì xù zuò mèng
我唱的歌只希望能快樂 其他的我也不想要想的太多
Wǒ chàng de gē zhǐ xī wàng néng kuài lè qí tā de wǒ yě bù xiǎng yào xiǎng de tài duō
因為我們都最想擁有自己最真的感動
Yīn wèi wǒ men dōu zuì xiǎng yǒng yǒu zì jǐ zuì zhēn de gǎn dòng

聽你說 聽你說 我們同時擁有一個真心的朋友
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men tóng shí yǒng yǒu yī gè zhēn xīn de péng yǒu
聊日出日落 因為有夢 所以更認真生活
Liáo rì chū rì luò yīn wèi yǒu mèng suǒ yǐ gèng rèn zhēn shēng huó

聽你說 聽你說 我們真實擁有一片美好的天空
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men zhēn shí yǒng yǒu yī piàn měi hǎo de tiān kōng
不能常聯絡 卻更緊握 我們交換的美夢 只想聽你說
Bù néng cháng lián luò què gèng jǐn wò wǒ men jiāo huàn d
e měi mèng zhǐ xiǎng tīng nǐ shuō

我懂星座卻沒有人像我 真的喜歡一個人安靜的自由
Wǒ dǒng xīng zuò què méi yǒu rén xiàng wǒ zhēn de xǐ huān yī gè rén ān jìng de zì yóu
我做的夢我堅持做到最後 就算我爬到雲端也繼續作夢
Wǒ zuò de mèng wǒ jiān chí zuò dào zuì hòu jiù suàn wǒ pá dào yún duān yě jì xù zuò mèng
我唱的歌只希望能快樂 其他的我也不想要想的太多
Wǒ chàng de gē zhǐ xī wàng néng kuài lè qí tā de wǒ yě bù xiǎng yào xiǎng de tài duō
因為我們都最想擁有自己最真的感動
Yīn wèi wǒ men dōu zuì xiǎng yǒng yǒu zì jǐ zuì zhēn de gǎn dòng

聽你說 聽你說 我們同時擁有一個真心的朋友
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men tóng shí yǒng yǒu yī gè zhēn xīn de péng yǒu
聊日出日落 因為有夢 所以更認真生活
Liáo rì chū rì luò yīn wèi yǒu mèng suǒ yǐ gèng rèn zhēn shēng huó

聽你說 聽你說 我們真實擁有一片美好的天空
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men zhēn shí yǒng yǒu yī piàn měi hǎo de tiān kōng
不能常聯絡 卻更緊握 我們交換的美夢 只想聽你說
Bù néng cháng lián luò què gèng jǐn wò wǒ men jiāo huàn d
e měi mèng zhǐ xiǎng tīng nǐ shuō


聽你說 聽你說 我們同時擁有一個真心的朋友
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men tóng shí yǒng yǒu yī gè zhēn xīn de péng yǒu聊日出日落 因為有夢 所以更認真生活
Liáo rì chū rì luò yīn wèi yǒu mèng suǒ yǐ gèng rèn zhēn shēng huó

聽你說 聽你說 我們同時擁有一個真心的朋友
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men tóng shí yǒng yǒu yī gè zhēn xīn de péng yǒu聊日出日落 因為有夢 所以更認真生活
Liáo rì chū rì luò yīn wèi yǒu mèng suǒ yǐ gèng rèn zhēn shēng huó

聽你說 聽你說 我們真實擁有一片美好的天空
Tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō wǒ men zhēn shí yǒng yǒu yī piàn měi hǎo de tiān kōng
不能常聯絡 卻更緊握 我們交換的美夢 只想聽你說
Bù néng cháng lián luò què gèng jǐn wò wǒ men jiāo huàn d
e měi mèng zhǐ xiǎng tīng nǐ shuō

只想聽你說聽你說
Zhǐ xiǎng tīng nǐ shuō tīng nǐ shuō

INDONESIA TRANSLATION
Aku sangat senang karena berusaha dalam hidup, berbagi kemuliaan pada detik itu dengan kalian
Jika sedih bahumu-lah yang paling luas, kau membantuku mengusir awan gelap yang menutupi langit
Jika hidup menjadi kecil ada kau yang menemaniku, sepanjang hari membuka ponsel juga merasa kehilangan
Karena kita paling ingin melihat satu sama lain tersenyum cemerlang

Aku mengerti tentang rasi bintang tapi tidak ada orang sepertiku yang menyukai kesendirian dalam kebebasan yang tenang
Aku bersikeras melakukan mimpiku hingga akhir, terus bermimpi sekalipun harus menaiki awan
Hanya berharap lagu yang kunyanyikan dapat membuatku bahagia, hal lainnya aku juga tidak ingin berpikir terlalu banyak
Karena kita paling ingin memiliki perasaan yang paling nyata milik diri sendiri

Mendengar kau berkata kita memiliki satu orang teman sejati pada saat yang sama
Berbincang dari matahari terbit hingga terbenam, menjalani hidup lebih serius karena mempunyai mimpi

Mendengar kau berkata kita sungguh memiliki sebuah langit indah
Tidak bisa sering berbincang tapi lebih erat menggenggam mimpi yang kita tukar, hanya ingin mendengar kau berkata

Aku mengerti tentang rasi bintang tapi tidak ada orang sepertiku yang menyukai kesendirian dalam kebebasan yang tenang
Aku bersikeras melakukan mimpiku hingga akhir, terus bermimpi sekalipun harus menaiki awan
Hanya berharap lagu yang kunyanyikan dapat membuatku bahagia, hal lainnya aku juga tidak ingin berpikir terlalu banyak
Karena kita paling ingin memiliki perasaan yang paling nyata milik diri sendiri

Mendengar kau berkata kita memiliki satu orang teman sejati pada saat yang sama
Berbincang dari matahari terbit hingga terbenam, menjalani hidup lebih serius karena mempunyai mimpi

Mendengar kau berkata kita sungguh memiliki sebuah langit indah
Tidak bisa sering berbincang tapi lebih erat menggenggam mimpi yang kita tukar, hanya ingin mendengar kau berkata

Mendengar kau berkata kita memiliki satu orang teman sejati pada saat yang sama
Berbincang dari matahari terbit hingga terbenam, menjalani hidup lebih serius karena mempunyai mimpi

Mendengar kau berkata kita memiliki satu orang teman sejati pada saat yang sama
Berbincang dari matahari terbit hingga terbenam, menjalani hidup lebih serius karena mempunyai mimpi

Mendengar kau berkata kita sungguh memiliki sebuah langit indah
Tidak bisa sering berbincang tapi lebih erat menggenggam mimpi yang kita tukar, hanya ingin mendengar kau berkata

Hanya ingin mendengar kau berkata, mendengar kau berkata


Wednesday, January 28, 2015

Pets Tseng 曾沛慈 - 多年後 (Duo Nian Hou - Years Later) Lyric and Indonesia Translation

說愛情總是一個突然的衝動
Shuo ai qing zong shi yi ge tu ran de chong dong
赤裸裸在人面前攤開雙手
Chi luo luo zai ren mian qian tan kai shuang shou
講的每一句話一個念頭
Jiang de mei yi ju hua yi ge nian tou
無非成為下個故事的暖身動作
Wu fei cheng wei xia ge gu shi de nuan shen dong zuo

現在的我和他仍一樣的傻
Xian zai de wo he ta reng yi yang de sha
一直都很晴朗少了一些漂蕩
Yi zhi dou hen qing lang shao le yi xie piao dang
屋裡的暖色調還有咖啡的香
Wu li de nuan se diao hai you ka fei de xiang
就算失眠了我想你也不會怎樣
Jiu suan shi mian le wo xiang ni ye bu hui zen yang

多年後不再習慣成為了一種習慣
Duo nian hou bu zai xi guan cheng wei le yi zhong xi guan
多年後你的喜歡再也不是我的喜歡
Duo nian hou ni de xi huan zai ye bu shi wo de xi huan
換了另一個地方繼續和別人晚餐
Huan le ling yi ge di fang ji xu he bie ren wan can
是勇敢還是笨蛋
Shi yong gan hai shi ben dan
讓兩個人相聚了又解散
Rang liang ge ren xiang ju le you jie san

現在的我和他仍一樣的傻
Xian zai de wo he ta reng yi yang de sha
一直都很晴朗少了一些漂蕩
Yi zhi dou hen qing lang shao le yi xie piao dang
屋裡的暖色調還有咖啡的香
Wu li de nuan se diao hai you ka fei de xiang
就算失眠了我想你也不會怎樣
Jiu suan shi mian le wo xiang ni ye bu hui zen yang

多年後不再習慣成為了一種習慣
Duo nian hou bu zai xi guan cheng wei le yi zhong xi guan
多年後你的喜歡再也不是我的喜歡
Duo nian hou ni de xi huan zai ye bu shi wo de xi huan
換了另一個地方繼續和別人晚餐
Huan le ling yi ge di fang ji xu he bie ren wan can
是勇敢還是笨蛋
Shi yong gan hai shi ben dan
讓兩個人相聚了又解散
Rang liang ge ren xiang ju le you jie san

時間是極度瘋狂隨時要爆炸的船
Shi jian shi ji du feng kuang sui shi yao bao zha de chuan
回憶在心中搖晃
Hui yi zai xin zhong yao huang
讓你要想不想要斷不斷
Rang ni yao xiang bu xiang yao duan bu duan

多年後如果再見又想起你的喜歡
Duo nian hou ru guo zai jian you xiang qi ni de xi huan
多年後如果再見再也不是一種背叛
Duo nian hou ru guo zai jian zai ye bu shi yi zhong bei pan
換了另一個地方繼續兩人的晚餐
Huan le ling yi ge di fang ji xu liang ren de wan can
是勇敢還是笨蛋
Shi yong gan hai shi ben dan
很有默契相聚了又解散
Hen you mo qi xiang ju le you jie san

INDONESIA TRANSLATION:
Katanya cinta adalah sebuah dorongan yang muncul tiba-tiba
Setiap kata yang diucapkan dan setiap pemikiran
Hanya akan menjadi cerita aksi pemanasan selanjutnya

Sekarang aku dan dia sama-sama bodoh
Selalu menjadi sangat bagus, sejumlah angan pun berkurang
Rumah yang berwarna hangat, juga aroma kopi
Walaupun tidak bisa tidur, aku pikir kau juga tidak bisa seperti itu

Bertahun-tahun kemudian, tidak lagi terbiasa untuk menjadi sebuah kebiasaan
Bertahun-tahun kemudian, kesukaanmu juga bukan lagi menjadi kesukaanku
Tempat yang lain telah berubah, melanjutkan makan malam bersama orang lain
Berani ataukah bodoh
Membiarkan dua orang bertemu kemudian berpisah

Sekarang aku dan dia sama-sama bodoh
Selalu menjadi sangat bagus, sejumlah angan pun berkurang
Rumah yang berwarna hangat, juga aroma kopi
Walaupun tidak bisa tidur, aku pikir kau juga tidak bisa seperti itu

Bertahun-tahun kemudian, tidak lagi terbiasa untuk menjadi sebuah kebiasaan
Bertahun-tahun kemudian, kesukaanmu juga bukan lagi menjadi kesukaanku
Tempat yang lain telah berubah, melanjutkan makan malam bersama orang lain
Berani ataukah bodoh
Membiarkan dua orang bertemu kemudian berpisah

Waktu adalah perahu gila yang bisa meledak setiap saat
Kenangan di hati pun bergetar
Membiarkanmu berpikir apakah akan putus atau tidak

Bertahun-tahun kemudian jika bertemu kembali dan memikirkan kesukaanmu
Bertahun-tahun kemudian jika bertemu kembali, bukan lagi sebuah pengkhianatan
Tempat yang lain telah berubah, melanjutkan makan malam berdua
Berani ataukah bodoh
Bersama melakukan persetujuan tanpa kata-kata kemudian berpisah