Thursday, October 24, 2013

7 Days Love Story

Sekolah SMA Bunda Kasih sudah terlihat sepi. Langit memang sudah mulai gelap. Lapangan parkir sudah lengang, hanya tersisa 3 mobil yang terparkir manis, menunggu sang pemilik datang dan membawanya pulang ke rumah. Namun di parkiran tidak hanya mobil saja yang terparkir manis. Seorang siswi SMA yang pastinya adalah murid sekolah itu tampak duduk manis di bangku yang terletak di pinggir lapangan. Sambil sesekali melihat jam tangannya dan melihat ke dalam gedung sekolah, seakan sedang menunggu seseorang.
Sementara itu dari kejauhan, tampak segerombol siswa yang sedang melangkah menuju gerbang depan sekolah sambil tertawa dan bercanda ria. Siswi yang sedari tadi menunggu pun mulai memasang senyum gembira. Ia mengambil tas di sampingnya dan menyampirkannya ke bahu lalu berdiri. Gerombolan siswa itu mulai mendekat.
“Hai, Dew.. Setia nih ye nunggu Yayang Adit.” Celetuk salah satu dari gerombolan itu. Yang diajak bicara hanya tersenyum ramah. Kemudian seorang siswa yang tak lain adalah Adit, mendahului langkah teman-temannya dan menghampiri siswi tersebut yang ternyata bernama Dewi, diiringi siulan teman-temannya.
“Kok belum pulang, Dew? Kan aku udah bilang pulang duluan aja, udah sore begini.”
Sekali lagi Dewi tersenyum manis. “Gak apa-apa kok. Aku cuma mau nunggu kamu aja. Biar bisa pulang bareng. Boleh kan?”
Adit tersenyum simpul, seperti senyum yang agak dipaksa. “Tentu boleh. Tapi kan aku gak enak sama kamu. Aku rapat sampai sore begini. Lain kali gak usah nunggu ya kalau aku rapat. Aku gak mau kamu kecapean.”
Dewi lagi-lagi tersenyum, kali ini dengan ekspresi malu-malu senang. Ternyata Adit begitu memperhatikannya.
“Duluan ya, Dit, Dew, jangan kelamaan pacaran, nanti dicariin Mama.” Lagi-lagi celetukan salah satu siswa terdengar diiringi tawa semua gerombolan itu. Adit dan Dewi hanya melambaikan tangan dan berpaling lagi pada Dewi.
“Iya deh, cuma sekali ini aja kok aku nungguin kamu. Makasih ya udah perhatian sama aku.”
“Yuk pulang.” Adit perlahan menggandeng tangan Dewi. Dewi sendiri terkejut sesaat namun kemudian tersenyum senang. Pipinya merona merah. Ia merasa ingin selamanya menggandeng tangan Adit.
Adit dan Dewi. Baru kemarin mereka jadian. Dewi adalah siswi kelas satu SMA yang kelasnya bersebelahan dengan kelas Adit yang ternyata sudah menginjak kelas tiga SMA. Dewi mulai menyukai Adit saat MOS berlangsung. Adit adalah kakak pembimbing di kelasnya. Adit berbeda dengan kakak kelas yang lain. Adit baik, tidak pernah marah apalagi membentak juniornya, sabar, dan bersahabat. Bila ada yang melanggar aturan, Adit hanya memberinya sedikit teguran dan hukuman yang ringan. Dewi menyukai senyuman Adit yang mempesona, yang mampu membuatnya ikut tersenyum.
Dewi tetap menyukai Adit walaupun MOS telah berakhir. Banyak siswa baru yang berwajah tampan di kelasnya, namun tak satupun yang mampu menggantikan Adit di mata Dewi. Baginya, Adit-lah sosok yang paling sempurna, lagipula Adit adalah kakak kelasnya, pastinya lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Diam-diam Dewi sering memperhatikan Adit. Dewi selalu menunggu Adit lewat di depan kelasnya saat istirahat tiba hanya untuk memandang wajahnya. Dewi pun tak segan-segan mengikuti Adit diam-diam ke kantin dan mencari tau makanan apa yang dibeli Adit di sana. Dewi sendiri pura-pura membeli minuman dan duduk di belakang meja yang Adit untuk menikmati pemandangan indah di hadapannya, walaupun yang terlihat hanya punggungnya saja yang sesekali bergetar karena tawa yang ia keluarkan bersama teman-temannya. Dewi sampai hafal kebiasaan Adit, keluar kelas lima menit setelah bel istirahat berbunyi, ke kantin, lalu membeli semangkuk soto ayam juga jus tomat. Dewi mulai menyukai jus tomat sejak saat itu.
“Cewek di belakang kayaknya ngeliatin lo mulu, Dit.” Kata teman Adit yang sedang makan di kantin bersama Adit suatu hari. Dewi hampir tersedak mendengarnya dan berpura-pura sibuk dengan HP-nya dan menikmati jus tomat di hadapannya. Adit menoleh, membuat jantung Dewi semakin berdebar tidak keruan. Itu pertama kalinya Adit memandangnya. Dewi senang tapi pura-pura tidak tau. Begitu Adit kembali pada posisinya, Dewi menarik nafas lega lalu dengan cepat minggat dari tempat itu.
Lalu entah ada angin apa, suatu hari saat pulang sekolah, Dewi yang sedang melangkah keluar gedung sekolah melihat sosok Adit dari kejauhan sedang berdiri bersandar pada pos satpam. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan ia menatap sepatunya dengan ekspresi datar. Dewi terpesona dengan gaya Adit yang seperti itu. Ingin sekali ia mengeluarkan ponselnya dan memotret, mengabadikan gaya Adit itu. Dewi pun dengan gugup terus berjalan. Ia pura-pura tidak melihat Adit ada di sana. Lalu saat sudah mendekati Adit, Dewi mempercepat langkahnya dan menatap lurus ke depan. Ia pun berhasil melewati Adit dan bernafas lega.
“Dewi!” Kelegaan Dewi musnah. Jantungnya mulai berdebar lagi, kali ini jauh lebih kencang. Apa ia tidak salah dengar? Bukankah itu suara Adit? Adit memanggilnya? Ah, tidak mungkin, pikir Dewi. Pasti ada salah satu temannya yang suaranya mirip dengan Adit. Dengan gugup Dewi menoleh, mencari temannya yang mungkin memanggilnya tadi.
“Hei, aku yang memanggilmu.” Adit berkata, membuat Dewi ingin pingsan. Adit memanggilnya? Adit tau namanya? Tak urung Dewi merasa sangat senang. Tapi ia masih ingin jual mahal, malu kan kalau ternyata bukan ia yang dimaksud? Dewi menoleh ke belakang, memastikan bahwa memang dirinyalah yang dipanggil.
“Iya, kamu. Hanya satu Dewi yang aku kenal.” Kata Adit. Dewi pun tersenyum ramah, walau dalam hatinya ia ingin tersenyum lebih lebar. Dewi pun menghampiri Adit, tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
“Kak.. Kak Adit manggil saya? Ada apa?”
“Pulang bareng yuk.” Kata Adit enteng.
WHAT?! Pulang bareng? Mimpi apa Dewi semalam? Ia bisa mendapat durian runtuh hari ini. Adit mengajaknya pulang bersama? Kok bisa? Adit mengenalnya?
“Tapi..” Dewi masih berusaha menjaga gengsi.
“Ayolah. Jarang-jarang nih aku ngajak cewe pulang bareng.”
Dewi tersenyum sumringah. “Boleh deh.” Katanya dengan nada yang dipelankan supaya tidak terdengar begitu gembira.
Adit pun mengantar Dewi ke mobilnya dan mengantar Dewi pulang. Banyak yang mereka bicarakan di dalam mobil, namun hanya sekedar obrolan biasa antara sesama murid SMA Bunda Kasih, pelajaran di sekolah, guru yang menyebalkan dan mengasyikkan, teman-teman yang rese, sampai kegiatan ekstrakulikuler. Dari situ Dewi tau ternyata Adit ikut ekskul basket, tapi sejak kelas tiga SMA, Adit sudah undur diri karena begitulah peraturan dari sekolah mereka.
“Sudah sampai.” Kata Adit begitu mereka sampai di depan rumah Dewi.
“Terima kasih ya, Kak.” Dengan berat hati Dewi membuka pintu mobil.
“Dewi..” Adit memanggilnya lagi. Dewi menghentikan gerakannya dan menoleh pada Adit. “Besok aku jemput, boleh?”
Bagai ditaburi bunga-bunga dalam hatinya, Dewi semakin tidak percaya dengan omongan Adit barusan. Namun dengan cepat Dewi mengangguk.
“Thanks ya. Kamu asyik diajak ngobrol. Aku suka.”
SUKA?! Apa artinya kalimat terakhir Adit itu? Sebuah pernyataan kah? Adit menyukainya? Tapi Dewi tak ingin cepat-cepat mengambil kesimpulan dan terlalu gembira. Mungkin saja yang dimaksud Adit adalah ia menyukai sifat Dewi yang enak diajak ngobrol, bukan menyukai dirinya dalam arti yang lebih jauh. Dewi pun hanya tersenyum kecil dan keluar dari mobil, lalu menunggu mobil Adit melaju dan menghilang di belokan.
***
“Aku suka padamu.” Kalimat itu terlontar dengan mudahnya dari mulut Adit, seakan Adit sudah berpengalaman dalam mengungkapkan isi hatinya. Dewi yang mendengar hal itu langsung bengong dan tidak jadi menyuapi nasi goreng yang tinggal setengah senti lagi dari mulutnya.
“Aku suka padamu, Dewi.” Adit mengucapkannya lagi karena ia tidak mendapat respon dari Dewi. Dewi masih saja diam. Lalu sendok di tangannya jatuh begitu saja, membuat Adit terkejut, begitu pula Dewi.
“Eh, sori..” Dewi membereskan nasi yang terlempar keluar piring dengan tisu. “Kau bilang apa? Suka? Sama aku?” Dewi salah tingkah, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Ya, aku suka. Kau menyukaiku kan?”
“Kau.. Kau tau?”
“Terlihat jelas, Dewi. Aku menyukaimu. Aku menyukai tingkahmu yang malu-malu itu. Tapi aku juga menyukaimu saat kau bersikap apa adanya, tidak ditutup-tutupi dengan gengsi. Aku suka.”
Seketika itu juga wajah Dewi memerah. Segitu jelaskah sikapnya selama ini?
“Kau mau jadi pacarku?”
Dewi mengangguk sambil menunduk malu. Akhirnya ia dan Adit berpacaran. Dewi tidak menyangka cintanya kali ini akan terbalas.
***
Dewi menunggu di depan kelas Adit. Sudah lima belas menit setelah pulang sekolah, tapi kelas Adit belum juga bubar. Mungkin karena guru Sejarah tersebut masih betah memberikan pengetahuannya kepada murid-murid. Dewi mengintip sedikit, dilihatnya Adit tengah menguap. Lucunya! Tanpa sadar Dewi tersenyum.
Akhirnya lima menit kemudian guru Sejarah itu membubarkan kelas. Seisi kelas langsung berhamburan keluar. Dewi melihat Adit masih membereskan bukunya saat kelas itu sudah hampir kosong. Dewi masuk ke dalam kelas dan menghampiri Adit.
“Hai, Dit.” Dewi menyapanya dengan ceria.
Adit menoleh dan sedikit terkejut dengan kedatangan Dewi. Sempat ia melirik teman-temannya di meja belakang lalu tersenyum pada Dewi. Dewi ikut melirik ke arah teman-teman Adit. Ada tiga orang siswi perempuan di meja belakang, mungkin satu geng, karena mereka terlihat kompak dengan gaya nyentriknya. Salah satu siswi itu menatap Dewi dan tersenyum memaksa, Dewi membalasnya. Sedangkan yang lainnya menatap Dewi dengan sinis, begitulah yang Dewi rasakan. Mungkin mereka sebal karena ada adik kelas yang masuk kelas senior seenaknya. Tapi Dewi tidak terlalu peduli.
“Pulang bareng?” Adit bertanya yang langsung disusul dengan anggukan manis oleh Dewi. Adit pun menyelesaikan beres-beresnya dan merangkul Dewi sambil mengajaknya keluar kelas. Ini perkembangan yang drastis. Adit merangkulnya! Dewi senang. Ia tidak bisa berhenti tersenyum.
***
Tidak seperti pasangan lain, Adit tidak pernah menelepon Dewi. Biasanya pasangan yang baru saja jadian akan saling menelepon setiap malam hingga berjam-jam. Ini sudah hari keempat, tapi Adit belum juga mulai menelepon. Padahal Dewi sudah kangen berat sama Adit. Di sekolah ia hanya bisa bertemu dengan Adit di jam istirahat dan pulang sekolah. Akhirnya karena tidak bisa lagi menahan rasa rindunya, Dewi mengambil inisiatif. Ia akan menelepon duluan, tidak peduli bila Adit akan menganggapnya agresif.
Halo, Dew, kenapa?
“Hai, Dit. Lagi sibuk?”
Hm.. Lumayan. Kenapa?
“Aku kangen.”
Oh.” Hanya itu resppon Adit. Dewi agak kecewa.
“Kau tidak kangen padaku?”
Iya, aku juga kangen.”
Diam. Adit terdengar canggung di telepon. Bukan Adit yang ceria seperti di sekolah. Apa benar Adit kangen padanya?
“Kau sibuk ya. Kalau begitu maaf aku mengganggu. Aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa besok.”
Ya. Bye.
Telepon terputus. Ada rasa sedih dan kecewa yang dalam di hati Dewi. Benar-benar percakapan yang singkat dan tak berarti. Dewi menaruh ponselnya di meja dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Hatinya mulai tak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganggu.
***
“Mantannya Adit?” Dewi terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sebangkunya, Sarah.
“Iya, kau kenal dia tidak?”
“Aku saja tidak tau Adit punya mantan pacar. Anak mana?”
“Anak sini! Sekelas dengan Adit.”
“SEKELAS???!!!”
“Yap. Kakakku kan juga sekelas dengan Adit. Aku tau dari dia. Katanya dia baru putus dengan Adit sebulan yang lalu.”
“SEBULAN? Kau yakin? Tapi..”
“Aku tau, Dew, kau dan Adit baru jadian lima hari yang lalu. Itu berarti Adit menyatakan perasaannya padamu 1 bulan setelah dia putus. Hmm.. Maaf sebelumnya, Dew, tapi.. Apa kau tidak merasa aneh?”
“Maksudmu? Kau ingin bilang kalau aku ini hanya pelarian?”
“Hm.. Bukan begitu, hanya saja…”
“Stop, Sarah. Aku tidak ingin mendengar omonganmu. Aku percaya pada Adit. Adit bukan orang seperti itu. Aku bisa melihatnya.”
Sarah hanya bisa diam dan tidak berkomentar apa-apa. Tapi ia yakin firasatnya benar.
***
“Dewi!” Adit memanggil Dewi dan menghampirinya.
“Adit? Hai..”
“Kau tidak menungguku di depan kelas?”
“Eh? Iya, kupikir ingin langsung pulang saja karena kau bilang ada rapat.”
“Oh, kau mau pulang? Kau sudah makan?”
“Sudah. Kau?”
“Aku juga. Kalau memang kau mau pulang, hati-hati ya.”
Adit membelai rambut Dewi dengan sayang. Dewi tersenyum. Ia bahagia. Semua yang dikatakan Sarah salah. Adit begitu menyayangi Dewi. Ia tak mungkin menjadikan Dewi sebagai pelarian. Buktinya, Adit terlihat kecewa saat Dewi tidak menunggunya di depan kelas, juga sikap-sikap Adit yang perhatian pada Dewi seperti saat ini. Dewi yakin Adit benar-benar mencintainya.
“Ya. Kau juga jangan sampai kelelahan, banyak minum dan jangan terlambat makan. Aku tidak ingin kau sakit.”
“Iya, Sayang. Makasih ya.”
Tuh kan! Adit memanggilnya sayang!
Adit dan Dewi pun berpisah. Dewi melangkah keluar gerbang dengan senyum mengembang.
“Dewi!” seorang siswi memanggilnya. Dewi menoleh. Dilihatnya seorang siswi berjalan ke arahnya tanpa ekspresi. Dewi mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengenal gadis itu. Eh tapi.. Sepertinya wajahnya pernah dilihat Dewi. Di mana ya? Dewi terus mengingat dan akhirnya ia ingat bahwa gadis itu adalah teman sekelas Adit yang waktu itu tersenyum padanya saat ia masuk ke kelas Adit.
“Ya?” Dewi agak takut menjawabnya. Jangan-jangan ia akan dilabrak karena waktu itu berani masuk ke kelas senior. Atau jangan-jangan gadis ini adalah salah satu penggemar Adit. Gawat!
“Kau Dewi kan?” Dewi mengangguk. “Aku ingin bicara. Bisa?” Dewi mengangguk lagi. Gadis itu lalu berjalan mendahului Dewi, Dewi mengikutinya dan sampailah mereka di halaman belakang sekolah dan duduk di salah satu bangku. Diam sejenak.
“Kau mengenalku?” gadis itu bertanya. Dewi menggeleng cepat.
“Tapi aku tau kakak sekelas dengan Adit.”
“Aku mantan pacar Adit.” Tanpa basa-basi gadis itu berbicara. “Namaku Clara.”
Oh, Tuhan! Mantan pacar Adit?!
“Y.. Ya.. Aku.. Pernah mendengarnya.”
“Aku baru putus dengan Adit sebulan yang lalu.” Dewi tidak terkejut karena sudah mendengarnya dari Sarah. Namun yang ia takutkan, apakah Clara akan menyuruhnya menjauhi Adit seperti di film-film?
“Aku senang Adit sudah memiliki pacar baru. Selamat ya. Kau beruntung mendapatkannya.” Dewi tersenyum. Ternyata Clara adalah orang yang baik. “Dia pasti sangat memperhatikanmu, meneleponmu setiap malam dan memberikan kejutan-kejutan kecil setiap hari. Juga selalu menomorsatukan dirimu dibanding tugas-tugas sekolah. Dasar bodoh si Adit itu.” Clara tersenyum pahit.
Dewi menggeleng. “Tidak. Ia tidak pernah menelepon dan memberiku kejutan kecil. Yah.. Mungkin baru awal pacaran, jadi dia masih malu.”
“Benarkah?!” Clara terlihat sangat terkejut. “Itu tidak mungkin. Dulu saat kami baru pacaran, dia sudah memperlakukanku seperti itu. Katanya ia pasti akan melakukan hal itu kalau ia memang benar-benar mencintai seseorang.”
Dewi terkejut. Benarkah yang dikatakan Clara? Kalau begitu apakah mungkin…
“Maaf, Dew, aku tidak bermaksud..”
“Tidak apa-apa.” Dewi berusaha terlihat tenang. Tapi matanya mulai berkaca-kaca. “Apa aku boleh tau kenapa kalian putus?” Entah mengapa Dewi ingin mengetahuinya. Ia sedikit menyesal karena jawaban Clara mungkin akan menyakitinya, tapi Dewi tidak peduli, ia ingin tau kebenarannya.
Diam sejenak.
“Aku mencintai Adit.” Clara mulai bercerita. “Hm.. Aku memberitaumu bukan karena aku ingin kau menjauhinya.” Dewi mengangguk mengerti. “Kami berpisah karena ada kesalahpahaman. Waktu itu aku bertemu dengan mantan pacarku, maksudku.. sebelum Adit. Kami bertemu dan berbincang-bincang banyak karena sudah lama tidak bertemu. Tapi saat kami akan berpisah, mantanku mengatakan bahwa ia masih mencintaiku dan ingin aku kembali. Lalu ia mencium keningku.” Mata Clara mulai berkaca-kaca. “Sialnya Adit melihat itu semua. Ia pergi dan mendiamkanku selama berhari-hari. Aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Tiba-tiba saja sebulan yang lalu ia mendatangiku dan menyatakan ingin berpisah. Adit lagi-lagi tidak mau mendengar ketika aku ingin menjelaskannya. Jadi aku hanya bisa menerima keputusannya.”
“Aku senang Adit telah menemukan seseorang yang ia cintai sekarang. Aku harap kau dan Adit bisa terus bersama. Kalau Adit bahagia, aku juga akan tenang. Kulihat tadi kalian sangat mesra. Adit pasti sangat menyayangimu.” Clara melanjutkan. Dewi tertegun, seperti baru saja disiram air dingin. Ia sedih, kecewa, dan marah. Kini sepertinya ia mulai mengerti situasinya. Mungkinkah tadi Adit tau bahwa ada Clara di dekat mereka? Jadi ia sengaja bersikap mesra pada Dewi. Lagipula saat Dewi mendatangi Adit di kelas, Adit seperti terkejut dan melirik ke arah Clara. Ya, tidak salah lagi! Sarah benar, Dewi mungkin hanya dijadikan pelarian, dan hanya ada satu cara untuk membuktikannya.
“Kak, aku permisi dulu. Aku buru-buru.” Dewi langsung pergi meninggalkan Clara. Ia sudah tidak sanggup menahan air matanya. Ia berlari keluar sekolah sambil menangis. Tapi Dewi bukan pulang ke rumah, ia pergi ke rumah Adit. Beberapa hari yang lalu ia pernah menanyakan alamat rumah Adit dan ia langsung mengetahui di mana rumah Adit. Tentu saja Adit tidak ada di rumah. Dewi pun memutuskan untuk menunggunya di depan rumah Adit, duduk di trotoar pinggir jalan. Dewi memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya ke lutut. Ia menangis di sana.
Menjelang sore, Dewi menghapus air matanya, menatap wajahnya di cermin dan memperbaiki penampilannya yang berantakan karena menangis tadi.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan Adit datang. Dewi langsung berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Adit. Adit terkejut dan mempercepat langkahnya mendekati Dewi.“Dewi? Kenapa kau ke sini?”
“Hai, Dit. Aku kangen. Makanya aku ke sini.”
“Sudah sore, Dew, sebaiknya kau pulang.”
“Pulang? Aku ingin mengobrol dulu denganmu. Boleh ya?” Dewi bersikap manja.
“Aku masih banyak tugas, Dew, sebentar lagi ujian.”
“Sebentar saja, Dit.”
“Kau ini kenapa sih? Aku sibuk, Dew, aku harus segera menyelesaikan tugasku. Kau pulang ya, sudah mulai gelap.”
“Ok, aku pulang. Tapi nanti malam telepon aku ya.”
“Aku tidak bisa, Dew.”
“Kenapa?! Kau tidak mencintaiku?” Dewi mulai emosi.
“Kau ini bicara apa?”
“Aku bicara tentang kebenaran. Kau tidak mencintaiku kan? Kau hanya menjadikanku pelarian dari kak Clara kan?”
“Clara? Clara cuma masa laluku. Kau tidak usah membahasnya.”
“Ini harus kita bahas, Dit. Aku sudah tau semuanya. Selama ini kau sengaja memperlakukanku dengan mesra di depan kak Clara, tapi setelah itu kau berubah. Seperti sekarang ini.”
“Aku sudah bilang aku sibuk, Dew. Tidak ada hubungannya dengan Clara.”
“Tentu saja ada. Dit, aku mau kau jujur. Tadi aku bertemu dengan kak Clara.”
Adit terkejut dan langsung pucat.
“Kalian baru putus sebulan yang lalu kan? Secepat itukah hatimu berpindah padaku?”
Adit masih diam.
“Kak Clara bilang, sejak awal pacaran, kau selalu meneleponnya setiap malam, memberinya kejutan kecil hampir setiap hari. Juga menomorsatukan kak Clara dibanding tugas-tugas sekolahmu. Tapi aku tidak mendapatkan itu semua, Dit. Kenapa? Kau tidak mencintaiku kan? Jujur, Dit.” Dewi menangis lagi.
“Maaf, Dew. Aku memang orang jahat. Aku tidak sebaik yang kau kira. Aku tidak pantas kau banggakan dalam hatimu. Aku tidak pantas untuk gadis sebaik dirimu.”
“Kembalilah pada kak Clara.” Adit terkejut mendengar ucapan Dewi. “Yang terjadi di antara kalian hanya kesalahpahaman. Aku tau kalian masih saling mencintai. Beri dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kak Clara orang baik, ia tidak seburuk yang kau pikirkan.”
“Tapi kau..”
“Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan aku. Terima kasih, Dit, atas semuanya.” Dewi pun melangkah pergi meninggalkan Adit yang masih terdiam. Dewi masih berharap Adit akan mengejarnya, memeluknya, dan berkata bahwa ia mencintai Dewi. Tapi Dewi tau itu tidak akan mungkin. Adit mencintai Clara. Itulah kenyataannya.
***
Dewi tersenyum. Ia melihat Adit dan Clara sedang berpelukan di halaman belakang sekolah. Ternyata mereka sudah baikan. Belum pernah Dewi merasa selega ini. Walaupun ia masih sedih, tapi ia tidak ingin menangis lagi, sudah cukup semalam ia membasahi bantalnya dengan air mata. Kenangan tujuh hari bersama Adit akan selalu tersimpan dalam hatinya.


SELESAI

We Are All Silly (Fan Fiction)

“Eun Hwa, kau yakin mau meneruskan pernikahan ini?” sahabatku, Kang Ji Soo bertanya padaku dengan ekspresi cemas. Saat ini aku sedang duduk di ruang rias, menunggu pesta pernikahanku dimulai. Aku hanya mengangguk lemah tanpa menatap sahabatku itu. Hal itu pula yang kulakukan pada semua teman-temanku yang menanyakan hal yang sama.
“Kau mencintainya?” ini pertanyaan telak yang sangat menusuk-nusuk hatiku, dan aku hanya bisa diam.
“Aku tau kau tidak mencintainya. Lalu kenapa kau mau menikah dengannya?”
“Aku menyukainya.” Kataku akhirnya.
“Eun Hwa, suka dan cinta itu dua hal yang berbeda. Katakan padaku, kenapa kau berbuat seperti ini?”
Lagi-lagi aku terdiam.
“Baiklah, terserah padamu. Kau yang menjalani pernikahan ini. Tapi aku sangat berharap kau bisa berpikir ulang. Masih ada waktu untuk membatalkannya. Pikirkan baik-baik.”
Ji Soo meninggalkanku sendiri di ruang rias. Sekali lagi aku menghela nafas. Aku juga tidak tau mengapa pada akhirnya aku menerima lamaran Heechul. Kami memang sudah saling mengenal sejak lama. Aku, Heechul, dan Ji Soo. Saking lamanya kami berteman, aku jadi sangat bergantung pada mereka, terutama Heechul, dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia selalu membantuku di saat aku kesulitan, juga menghiburku di saat aku sedih. Aku senang berada di dekatnya, rasanya tidak ada yang perlu kutakutkan jika ada Heechul. Namun semua itu berubah sejak kehadiran Sungmin. Dia adalah pegawai baru di kantorku sejak satu tahun yang lalu. Apakah kalian pernah mengalami suatu kejadian di mana kalian memandang seseorang untuk pertama kalinya dan hatimu langsung berdebar-debar seolah berkata “Dia orangnya!”? Aku pernah mengalaminya. Ya, saat pertama kali memandang Sungmin, hatiku langsung melonjak kegirangan, berdebar-debar, seolah-olah aku pernah mengenal dia sebelumnya.
Kuakui, Sungmin memang tampan. Ah, mungkin tidak bisa dibilang tampan karena wajahnya cenderung manis dan imut seperti anak kecil, walaupun usianya sudah menginjak 30 tahun. Dia sosok yang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas. Bahkan atasan kami sering memujinya. Selama 3 bulan pertama aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan, hanya saling bertegur sapa jika kebetulan bertemu. Itu saja sudah membuatku berdebar-debar dan susah tidur. Setiap kali aku berbicara padanya, aku selalu menumpahkan kegembiraanku pada buku diary. Tentu saja Heechul dan Ji Soo tidak mengetahui hal ini. Bahkan sampai saat ini aku tidak memberitahu mereka bahwa aku mencintai Sungmin. Bukannya aku tidak percaya pada mereka, tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana memberitahu mereka tentang perasaanku ini. Aku memang tidak pandai mengungkapkan perasaanku.
Lalu pada bulan keempat, aku mendapat sebuah tugas yang mengharuskanku bekerja sama dengan Sungmin. Sejak saat itulah aku mulai dekat dengannya. Aku senang sekali dan berharap bahwa kedekatan kami akan berkembang lebih jauh. Namun semua itu tinggal harapan. Sungmin tidak pernah menembakku. Bodoh sekali aku berharap terlalu jauh. Berkali-kali aku mengira bahwa Sungmin juga menyukaiku, tapi mungkin saja itu hanya perasaanku, aku yang terlalu jauh mengkhayal. Mungkin Sungmin hanya menganggapku rekan kerjanya.
Sampai pada akhirnya Heechul tiba-tiba saja menembakku, bahkan langsung melamarku. Kejadian ini terjadi saat ia mengajakku makan malam hanya berdua. Awalnya aku tidak menaruh curiga karena Heechul bilang Ji Soo tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak. Namun selesai makan malam, tiba-tiba saja Heechul mengeluarkan sebuah cincin dan menyatakan perasaannya padaku. Entah apa yang merasukiku saat itu, aku langsung mengangguk dan menerima lamarannya. Mungkin aku sudah sangat putus asa atas hubunganku dengan Sungmin sehingga aku tidak bisa lagi berpikir panjang. Lagipula tidak ada salahnya menikah dengan Heechul, dia sudah sangat mengenalku, begitu pula sebaliknya. Bukankah ini justru bagus? Kami sudah bisa menerima satu sama lain apa adanya.
Yah, keputusan sudah diambil. Aku tidak bisa mundur lagi. Menyesal pun tidak ada gunanya sekarang karena hari ini adalah hari pernikahanku.
***
Aku berdiri di ambang pintu gereja. Para tamu menatapku dengan takjub. Lalu beberapa saat kemudian aku pun mulai melangkah menuju podium diiringi ayahku. Aku menatap sekelilingku. Tak butuh waktu lama untuk menemukan sosok Sungmin. Aku memang selalu bisa menemukannya sekalipun di tempat yang sangat ramai. Sungmin tersenyum melihatku, dan senyuman itu membuat hatiku perih. Aku langsung mengalihkan pandanganku, berpura-pura tidak melihatnya dan focus pada Heechul yang sudah berdiri di hadapanku smabil tersenyum. Bahkan senyuman Heechul yang biasanya dapat membuatku tenang, kini malah membuatku semakin ingin menangis. Bukan dia yang kucintai, aku baru benar-benar menyadarinya sekarang. Seandainya yang menungguku di depan podium saat ini adalah Sungmin, pasti wajahku akan dipenuhi oleh senyuman bahagia. Sekarang, untuk tersenyum pun sangat sulit. Daripada aku meneteskan air mata saat memaksakan senyuman, lebih baik aku diam saja.
Begitu sampai di hadapan Heechul, ayahku melepaskan genggaman tangannya dan menyerahkan tanganku pada Heechul.  Lalu ayah menepuk bahu Heechul seakan berkata “jaga putriku baik-baik.” Kemudian duduk di kursi barisan paling depan. Aku menatap ayah dengan sedih, perasaanku sama seperti saat aku pertama kali duduk di bangku TK, aku tidak ingin ayah pergi meninggalkanku bersama teman-teman yang masih sangat asing bagiku. Tapi yang ada di hadapanku saat ini bukanlah orang asing. Dia adalah Heechul, tapi mengapa aku bisa merasakan perasaan seperti itu?
“Kau sakit?” bisik Heechul di telingaku.
Aku sedikit terkejut lalu menggeleng.
“Syukurlah..” lagi–lagi Heechul tersenyum dan menuntunku berjalan menuju podium. Aku melingkarkan lenganku pada lengan Heechul. Ini pertama kalinya aku berjalan beriringan sambil bertautan lengan seperti ini dengan Heechul, tapi aku sama sekali tidak merasa bahagia. Aku merasa sangat asing. Hubungan ini seharusnya tidak seperti ini.
“Kau yakin baik-baik saja?” aku tau sejak tadi Heechul terus memandangiku, dan aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Aku malah jadi salah tingkah dipandangi oleh Heechul.
Aku hanya mengangguk tanpa memandang Heechul. Acara pernikahanku pun dimulai. Pastur mulai membacakan janji-janji yang harus dipatuhi oleh sepasang suami-istri. Aku sama sekali tidak fokus, semua perkataan pastur itu bagaikan angin lalu.
“Saudara Kim Heechul, apakah Anda bersedia menjadi suami dari saudari Song Eun Hwa, menjadi ayah yang baik dari anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara, saling menghormati, mengasihi, dan menyayangi di saat senang maupun susah seumur hidup Anda?”
Aku memejamkan mata. Sebentar lagi adalah giliranku. Ya, Tuhan, apa yang harus kulakukan? Sudah benarkah keputusanku ini. Tapi hatiku sungguh sangat menolak pernikahan ini. Tapi aku sudah sampai di sini, aku sudah tidak mungkin lagi membatalkannya. Aku menjerit dalam hati.
“Tidak. Saya tidak bersedia.”
Aku langsung membuka mataku dan dengan cepat memandang Heechul tidak percaya. Suasana gereja menjadi sangat hening. Pastur pun terdiam. Keheningan ini terasa sangat lama hingga akhirnya ayahku bangkit dan berkata, “Apa maksudmu, Heechul?”
Heechul membalikkan tubuhnya. Semua tamu memandang kami, terutama Heechul, dengan tatapan tidak percaya. Ada juga yang memandangnya dengan tatapan mencemooh. Aku sungguh tidak tau apa yang dilakukan Heechul. Mengapa ia berkata tidak? Mengapa ia mempermalukan dirinya seperti ini?
Heechul membungkuk lalu menegakkan badannya.
“Aku sungguh minta maaf kepada semua hadirin, terutama kepada keluarga Eun Hwa dan keluargaku, juga pada Eun Hwa. Aku sungguh tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Sebenarnya aku.. tidak mencintai Eun Hwa. Aku sungguh tidak bisa meneruskannya. Maaf.”
“Keterlaluan!” ayah Heechul menghampiri kami dan menampar Heechul dengan keras. Aku sangat terkejut. Ini sungguh di luar dugaan. Mengapa jadi seperti ini? Kenapa Heechul melakukan hal ini?
“Kau tidak memikirkan perasaan Eun Hwa?! Berani-beraninya kau menghancurkan pernikahan ini! Kau..” ayah Heechul mulai limbung, para hadirin yang duduk di dekat kami langsung membantu memapahnya, begitu pula denganku.
Acara pernikahan pun batal begitu saja. Para tamu kecewa, ada beberapa yang mengumpat Heechul, berkata bahwa ia sungguh pria yang kejam.
Kami membawa ayah Heechul ke rumah sakit. Untungnya kondisi beliau masih stabil, hanya perlu beristirahat. Aku yang masih mengenakan gaun pengantin pun duduk di ruang tunggu rumah sakit. Heechul duduk di sebelah kami. Hanya ada kami berdua saat ini. Keluarga kami yang lain sebagian sudah pulang, sisanya sedang mengurus administrasi dan menjaga ayah di dalam kamar.
“Kenapa?” aku memulai pembicaraan.
“Apa?”
“Kenapa kau melakukan ini? Kau tidak memikirkan ayahmu? Kau tidak memikirkan dirimu sendiri? Kau sudah mempermalukan diri sendiri di gereja.”
“Aku tau ayahku akan kaget. Syukurlah ayah tidak apa-apa. Dan aku tidak peduli pada apa yang akan orang-orang katakan tentangku. Aku lebih memikirkan dirimu.”
“Kenapa denganku? Aku baik-baik saja.”
“Kau sungguh tidak baik-baik saja, Eun Hwa. Aku tau kau tidak menginginkan pernikahan ini.”
Aku memandang Heechul tidak percaya. Dia tau perasaanku?
“Sepanjang acara pernikahan, kau sama sekali tidak tersenyum. Mempelai mana yang sama sekali tidak tersenyum di acara pernikahannya sendiri? Bahkan jauh sebelum kita menikah, aku tau aku hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi aku sungguh egois. Aku nekat melamarmu. Saat kau menerima lamaranku, aku sangat senang. Kupikir aku sudah bisa mengambil hatimu. Tapi kau tetap saja tidak pernah tersenyum bahagia saat bersamaku. Egoku juga tidak hilang, aku terus berusaha membuatmu tertawa dan bahagia. Tapi sampai hari ini pun, aku tidak pernah mendapat tempat di hatimu. Daripada aku melihatmu menderita seumur hidup, lebih baik aku melepaskanmu.”
“Kau.. tau?”
“Aku sangat mengenalmu lebih dari yang kau tahu, Eun Hwa. Aku juga tau kau mencintai Sungmin.”
“Apa?!” kali ini aku sungguh-sungguh terkejut.
Heechul tersenyum. “Sudahlah, kau tidak perlu lagi menutupinya. Aku tau semua perasaanmu. Kau mencintainya, benar kan?”
Aku menunduk. Lalu kemudian mengangguk.
“Si bodoh itu..” Heechul bergumam.
“Apa?”
“Ah tidak. Kau mau minum sesuatu? Biar aku belikan. Kau pasti lelah.”
Aku mengangguk lagi. Heechul pun pergi meninggalkanku sendirian di ruang tunggu.
“Eun Hwa!! Eun Hwa!” seseorang memanggilku.
Sungmin?? Seketika itu juga jantungku berdetak cepat. Kenapa Sungmin ada di sini? Sungmin duduk di sebelahku dan menatapku dengan khawatir.
“Kau tidak apa-apa?”
Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa. Paman Kim baik-baik saja, aku jadi tenang.”
“Eh? Em.. Yah, syukurlah kalau begitu. Bagaimana denganmu? Kau tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa.”
“Benarkah? Pernikahan ini batal begitu saja. Kau pasti sangat sedih. Mana Heechul? Berani-beraninya dia membatalkan pernikahan ini!” gumamnya marah.
“Tidak perlu. Aku malah senang pernikahan ini batal.”
“A.. Apa?”
Aku menghela nafas panjang.
“Sebenarnya.. Bukan Heechul yang tidak mencintaiku. Aku yang tidak mencintainya. Dia melindungiku. Dia mempermalukan dirinya sendiri karena aku.”
“Apa?”
“Yah, aku memang menganggapnya kakak, tidak lebih. Dia baik sekali. Seandainya saja aku bisa mencintainya, mungkin hari ini adalah hari yang paling bahagia seumur hidupku.”
“Lalu.. Kenapa kau mau menikah dengannya? Maksudku.. Kenapa kau menerima lamarannya?”
Aku terdiam. Bagaimana aku harus menjawabnya? Haruskah aku berkata bahwa ini semua karena Sungmin? Karena aku sudah putus asa dengan hubungan kami?
“Ah maaf. Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab.”
“Karena aku mencintai seseorang.” Kataku akhirnya. “Dan aku sudah putus asa dengan hubungan itu. Lalu tanpa pikir panjang aku menerima lamarannya.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk.
“Lalu siapa pria yang kau cintai itu? Bodoh sekali dia tidak menembakmu. Kau ini cantik, pintar, dan menyenangkan. Hah, dia akan menyesal!”
Benarkah? Benarkah kau akan menyesal? Apakah kau termasuk bodoh jika tidak menembakku?” aku tersenyum pahit.
“Bagaimana kalau denganku saja?”
Aku menatapnya dengan tidak percaya. Apa katanya? Apa dia serius mengatakan hal itu? Apa dia sedang menembakku sekarang?
“A.. Apa?”
Sungmin tampak salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
“Ehm.. Sebenarnya ini memang bukan waktu yang tepat. Tapi.. Kau lihat sendiri, aku juga tampan dan pintar. Aku pasti tidak kalah jauh dengan pria yang kau cintai itu kan?”
Aku terdiam. Apakah ini benar-benar terjadi?
“Ah, sudahlah, lupakan saja. Jangan serius begitu. Aku hanya bercanda, supaya kau terhibur. Tapi ternyata leluconku payah. Maaf ya sudah membuatmu terkejut..” Sungmin tersenyum.
“Ah, kau ini bodoh sekali!” aku sedikit membentak dan pergi meninggalkan Sungmin. Sebenarnya bukan Sungmin yang bodoh, tapi aku. Mengapa aku bisa saja mempercayai kata-katanya tadi? Sejak awal dia memang hanya menganggapku temannya, tidak lebih. Dasar bodoh!
***
Sejak kejadian hari itu aku tidak lagi mempedulikan Sungmin. Aku tau bahwa aku dan Sungmin akan tetap menjadi teman, selamanya akan begitu. Sedapat mungkin aku tidak berpapasan dengannya di kantor. Aku selalu menghindarinya. Jika memang sangat terpaksa harus berpapasan, aku hanya menyapa sekedarnya lalu buru-buru pergi. Perasaan ini harus segera dihilangkan, aku harus move on! Tidak boleh terus-terusan bersedih. Sungmin juga sepertinya tidak masalah dengan sikapku. Ia bahkan tidak berusaha mendekatiku. Aku sedikit kecewa tapi mungkin memang ini jalan terbaik. Sejak awal hubungan ini memang tidak mungkin ada kemajuan.
“Kau mau makan siang bersama?” suatu hari Sungmin menghampiri meja kerjaku. Aku sedikit terkejut dan senang tapi aku tetap berusaha tenang.
“Tidak. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.”
“Mau sampai kapan kau seperti ini?”
“Seperti ini bagaimana?”
“Kau sudah lebih dari sebulan menghindariku. Apa aku punya salah padamu?”
“Tidak. Hanya perasaanmu saja.”
Sebenarnya akulah yang bersalah.” Kataku dalam hati.
“Baiklah. Tapi kau harus makan, jangan sampai sakit.”
“Bukan urusanmu. Aku bisa makan sendiri jika aku lapar.”
“Ikut aku.”
Sungmin menarik tanganku begitu saja.
“Hey, mau ke mana?”
Sungmin tidak menjawab, ia terus menarikku hingga keluar kantor, lalu berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu penumpang dan menyuruhku masuk.
“Mau ke mana?”
“Masuk saja.”
Aku menggerutu kesal dan masuk ke dalam mobil. Sungmin membawaku ke sebuah restoran outdoor. Aku belum pernah ke sini sebelumnya. Restoran ini seperti sebuah taman, dengan meja yang disusun sedemikian rupa. Lalu di tengah-tengah taman terdapat kolam dengan sebuah air mancur di tengahnya. Romantis sekali tempat ini, mungkin khusus dibangun untuk pasangan yang ingin berkencan.
“Ini restoran kesukaanku. Biasanya aku ke sini sendirian. Baru kali ini aku mengajak seorang teman ke sini.”
Teman..” aku mengulangi perkataannya dalam hati.
“Pesan saja apa yang kau suka. Aku traktir.”
“Sudah kubilang aku tidak lapar. Dan aku bisa membayar sendiri.”
“Kau ini sebenarnya ada apa? Kau marah padaku?”
“Tidak. Kenapa aku harus marah?”
“Itulah yang ingin kutanyakan. Kau terus menghindariku. Sebenarnya apa salahku?”
“Kau tidak punya salah.”
“Lalu mengapa kau bersikap seperti ini? Kalau kau ada masalah, ceritakan padaku.”
“Memangnya kau ini siapa? Apa pedulimu terhadap masalahku?”
“Kita ini teman, kan? Aku bisa membantumu jika kau memang ada masalah.”
“Aku tidak punya masalah, dan kalaupun ada, aku tidak harus mengatakannya padamu. Ya, kita ini teman, kita HANYA teman biasa. Mengapa kau begitu peduli padaku?!”
“Karena aku menyukaimu!”
Aku terdiam.
“A.. Apa?”
“Aku menyukaimu. Aku.. Mencintaimu..”
“Kau tidak usah bercanda lagi. Kau tidak perlu menghiburku dengan lelucon payahmu itu. Aku tidak akan percaya lagi padamu!”
“Aku serius! Waktu itu di rumah sakit aku juga serius. Aku tau kau mencintai pria lain. Aku tidak mau membuatmu bingung, makanya aku pura-pura berkata bahwa aku hanya bercanda. Sungguh!”
Air mataku mulai mengalir. Benarkah ini semua? Benarkah Sungmin ternyata juga mencintaiku? Apakah ini hanya mimpi?
“Kau.. Kau ini bodoh sekali!!” aku meringis. Hatiku mulai berbunga-bunga saat ini.
“Kenapa kau selalu mengatakan aku bodoh? Waktu itu kau juga bilang aku bodoh.”
“Ya, kau memang bodoh! Kau tidak pernah menyadari perasaanku!”
“Maksudmu?”
“Bodoh! Pria yang aku cintai itu kau, Sungmin!”
“A.. Apa? Be.. Benarkah?” Sungmin meraih tanganku. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Dasar bodoh!” kataku pelan sambil tertawa.
“Bodoh sekali aku ini. Ya, aku bodoh.”
“Kita berdua bodoh. Aku juga tidak pernah menyadari perasaanmu.”
Sungmin tampak salah tingkah.
“Tapi sekarang kita sudah mengetahui isi hati masing-masing.” Sungmin tersenyum. Senyuman yang selalu kusukai.
“Kau ini umur berapa? Kenapa manis sekali sih? Aku jadi terlihat lebih tua darimu.” Kataku dengan wajah cemberut.
“Kau ini! Aku ini memang terlahir dengan baby face. Makanya kau bisa menyukaiku.”
Aku mendecak sebal.
“Jangan marah.. Kau juga manis, sungguh. Pria manis sepertiku pasti juga menyukai wanita yang manis sepertimu.”
Ya! Kau ini gombal sekali!”
“Sungguh!”
“Ah, sudahlah. Ayo kita pesan makan saja. Aku lapar!” kataku mengalihkan pembicaraan.
Sungmin tersenyum melihatku yang salah tingkah.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu? Ayo pesan!”
“Eun Hwa.. Saranghae..”
“Aish, cepat pesan!” aku menunduk malu dan pura-pura memilih makanan, sedangkan Sungmin masih saja tersenyum lebar menatapku. Sungmin memang selalu bisa membuatku berdebar-debar seperti ini. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagiku.
Saranghaeyo, Sungmin oppa..” kataku dalam hati.

***

Wednesday, December 19, 2012

The Story Of My Dream 1: Wo Zai Deng Zhi Ni (I'm Waiting for You)

Aku mengenakan sebuah gaun berwarna coklat selutut dengan sebuah syal melingkari leherku. Dengan cepat aku mengambil tas dan payung transparanku keluar kamar asramaku. Di luar hujan sangat deras. Aku membuka payung dan berlari keluar untuk mencari taksi. Hari ini aku akan menemui seseorang di sebuah bandara, seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Aku mengenalnya melalui situs jejaring sosial. Dia pria yang menyenagkan, umurnya 26 tahun, 5 tahun di atasku. Sayangnya ia tidak pernah memasang foto dirinya di sana dan menurut khayalanku, ia adalah seorang pria yang tampan, tinggi, dan putih, mengingat bahwa ia mengaku dirinya adalah keturunan chinese, sama denganku.

Setelah kurang lebih satu tahun aku mengenalnya, aku merasa aku mulai menyukainya, bahkan bisa dibilang aku jatuh cinta padanya. Konyol, memang, tapi aku tau hatiku tidak pernah berbohong. Kami tinggal di kota yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun menerima ajakannya untuk bertemu. Aku takut kecewa, takut bila semuanya tidak sesuai dengan harapanku, takut dia juga tidak menyukaiku dan hubungan kami akan kandas begitu saja. Dia memaklumi alasanku untuk tidak menemuinya. Aku senang ia mau memahamiku.

Namun kemarin saat kami sedang mengobrol di chatting, kabar buruk itu datang secara mendadak. Pria itu bilang bahwa ia akan keluar negeri untuk waktu yang lumayan lama dan kemungkinan kami untuk sering ngobrol pun akan berkurang. Aku sedih sekali mendengarnya, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk menyusulnya ke bandara hari ini. Aku juga sudah memberitahunya hal ini dan ia sangat antusias dengan keputusanku ini.

Sialnya hari ini aku bangun kesiangan. Pesawat akan berangkat pukul 11 dan aku baru bangun pukul 10. Dengan cepat aku mandi, mungkin mandi tercepat yang pernah kulakukan dan langsung berangkat ke bandara. Dan di sinilah aku berada, di dalam taksi yang tengah melewati jalanan yang ramai menuju bandara. Hatiku sangat gelisah. Aku terus saja memandangi jam tangan, sebentar lagi pukul 11 dan aku masih setengah perjalanan.

Singkat cerita, aku sampai di bandara pukul 11.15, pupus sudah harapanku untuk bertemu dengannya. Tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya, aku berharap pesawatnya akan mengalami delay. Aku langsung berlari menuju sebuah cafe di mana aku dan dia berjanji untuk bertemu kemarin. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling cafe, berusaha mencari sosok pria yang kucari, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku berharap instingku bisa diandalkan kali ini. Begitu banyak pengunjung di cafe itu dan aku tidak tau pria itu di mana.

"Ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita pelayan cafe menghampiriku.
"Ah, aku sedang mencari seseorang."
"Apakah anda yang bernama Xiao Ling?"
"Ah iya! Dari mana anda tau?"
"Tadi ada seorang pria yang menitipkan pesan bahwa ia sudah harus pergi ke ruang tunggu pesawat dan ia menitipkan surat ini."
Aku kecewa dan kakiku langsung lemas. Sudah terlambat, aku tidak bisa lagi menemuinya.
"Tapi tadi saya dengar pesawat yang ditumpangi pria itu mengalami delay setengah jam. Anda pasti mengharapkan seperti itu bukan? Pria itu juga berharap begitu, tadi ia mengatakannya padaku."
"Benarkah?"
"Pergilah."
"Apa?"
"Kejar dia. Mungkin dia masih ada di ruang tunggu pesawat."
Aku mematung sejenak kemudian tersenyum gembira.
"Baiklah, terima kasih!"

Aku pun berlari sambil menangis. Aku sungguh berharap aku masih sempat. Sambil menggenggam surat darinya, aku tidak berhenti berlari. Sesampainya di ruang tunggu aku mengedarkan padanganku. Aku terus berdoa dalam hati, kembali mengandalkan instingku untuk mengenalinya. Aku menutup mata, meminta bantuan Tuhan untuk menemukannya. Tapi saat kubuka mataku dan kembali memandangi seluruh ruangan, aku belum juga menemukannya. Ya, Tuhan, yang mana dirinya? Mengapa susah sekali mengenalinya? Kenapa dia tidak pernah memasang fotonya di situs sosial itu? Dasar bodoh!

Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu titik. Ada seorang pria tidak jauh dariku yang sedang memainkan ponselnya dengan serius. Sesekali ia mendekatkan ponsel itu di telinganya. Pria itu tampak gelisah. Wajahnya putih dan tampan, sesuai dengan khayalanku tentang pria yang kukenal itu. Lalu aku tersadar. Ponsel! Mengapa aku begitu bodoh? Sekarang aku hidup di jaman apa?! Aku kan bisa menghubungi ponselnya. Bodoh sekali aku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tasku. Ada 20 misscall di sana. Sejak kemarin aku memang men-silent ponselku, kebiasaanku saat hendak tidur supaya aku tidak terganggu dengan bunyi SMS di pagi-pagi buta dan aku lupa mengaktifkan nada deringnya lagi karena bangun kesiangan. Betapa terkejutnya saat kubuka siapa yang misscall itu. Semuanya dari pria itu. Aku hendak meneleponnya balik saat tiba-tiba ponselku berdering lagi dan jantungku berhenti berdetak begitu melihat namanya. Pria itu! Berarti ia belum naik ke pesawat. Harapanku kembali timbul. Aku berdebar-debar saat mengangkatnya.

"Ha.. Halo.." kataku grogi.
"Hei, akhirnya kau angkat juga. Kau di mana? Tidak jadi datang? Kau tidak apa-apa kan? Aku menunggumu dari tadi. Aku khawatir sekali. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" nadanya terdengar kecewa dan cemas. Aku senang ia mengkhawatirkanku.
"A.. Aku bangun kesiangan. Maaf.."
"Syukurlah, aku kira kau kenapa-kenapa. Jadi kau sekarang masih di asrama?"
Aku terdiam. Haruskah aku mengakuinya? Sejujurnya aku masih takut untuk menemuinya, tapi kapan lagi? Ini kesempatan terakhirku.
"Aku.. Aku sudah di bandara."
"Apa?! Kau dimana?" suara pria itu terdengar sedikit keras sehingga aku menjauhkan sedikit ponselku. Seketika itu juga aku melihat pria tampan tadi berdiri dari kursinya dan melihat-lihat ke sekelilingnya. Jantungku semakin berdetak cepat. Apakah pria itu yang aku cari?
"Da Dong ge (kakak laki-laki dalam bahasa mandarin), kau di mana sekarang? Kau pakai baju apa?" aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku sudah di ruang tunggu bandara. Aku memakai kemeja berwana biru dan celana putih. Hey, kenapa kau menanyakan hal itu? Kau di mana sekarang?"
"Aku.. Aku sedang melihatmu, ge.. Aku juga ada di ruang tunggu sekarang."
Ya benar! Pria tampan itulah yang sedang kucari, dan begitu mendengar jawabanku pria itu terdiam sejenak. Matanya mengelilingi ruang tunggu dan kemudian berhenti saat pandangannya terarah kepadaku. Jantungku berdebar cepat. Da Dong mengenaliku? Benarkah?

"Kau mengenakan gaun coklat dengan syal hitam di lehermu?"
Aku melihat pria itu menggerakkan bibirnya sambil terus menatap ke arahku. Ponselnya masih di telinganya. Aku mengangguk pelan.
"Iya.."
Pria itu kemudian menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia berjalan menghampiriku. Jantungku semakin cepat berdetak, rasanya ingin pingsan saja. Pria tampan itu benar-benar Wang Dong Cheng, yang biasa aku panggil Da Dong. Dialah pria yang selama setahun ini membuat hari-hariku semakin berwarna. Dialah pria yang kucintai, meski aku tidak pernah bertemu dengannya.

Semakin dekat ia berjalan, langkahnya semakin cepat. Perlahan aku menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam saku gaunku, tepat saat Da Dong sudah berdiri di hadapanku.
"Kau.. Xiao Ling?"
Aku mengangguk. Air mataku sudah tak terbendung. Aku bahagia, akhirnya aku bisa bertemu dengannya.
"Hey, kenapa kau menangis?" Da Dong menghapus air mataku dengan jarinya yang hangat. Hatiku senang dan hangat karena sentuhannya.
"Kau.. tidak kecewa bertemu denganku?" aku bertanya dengan hati-hati.
"Kenapa aku harus kecewa? Kau.. cantik.. Rambutmu.. Kupikir rambutmu panjang seperti di foto profilmu. Makanya aku tidak mengenalimu tadi."
"Y.. Ya.. Aku memotong rambutku 3 bulan yang lalu. Itu foto lamaku. Ke.. kenapa? Terlihat aneh?"
"Tidak. tentu saja tidak. Kau.. cantik.. sungguh.."
Aku tersenyum.
"Kau sendiri? Tidak kecewa bertemu denganku? Kau selalu bilang bahwa kau takut kalau kita bertemu. Kau takut kecewa saat tau wajahku tidak seperti bayanganmu kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Hey, kita sudah satu tahun berteman. Walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu, bukan berarti aku tidak mengenalmu. Aku tau semua isi hatimu."
Wajahku memerah. Semua isi hatiku? Apakah dia juga tau bahwa aku menyukainya?
"Jadi? Kau kecewa?" tanyanya lagi.
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang, sungguh."
"Karena wajahku tampan? Karena itukah kau senang? Tapi jika wajahku jelek, kau akan kecewa?"
Bukan! Bukan itu maksudku.. Bagaimana mungkin ia berpikir seperti itu?!
"Hahaha.." tiba-tiba ia tertawa. "Aku hanya bercanda. Aku tau kau tidak akan kecewa bagaimanapun penampilanku. Kau sudah datang ke sini saja, itu sudah menandakan bahwa kau serius berteman denganku, tidak peduli bagaimana wajahku nantinya kan?"
Aku mengangguk cepat. Aku memang menyukainya, tidak peduli bagaimana penampilannya. Mungkin aku memang akan sedikit kecewa apabila tidak sesuai dengan khayalanku selama ini, tapi aku sudah terlanjur menyukainya, mencintainya!

"Kau suka padaku?" pertanyaan yang terlontar dari mulutnya membuatku terbelalak.
"A.. apa?"
"Hahaha.. Kau ini lucu sekali!"
Ugh, ternyata ia hanya mempermainkanku! Aku merengut.
"Ehm.. Maaf.. Tapi.. Pertanyaanku serius. Kau menyukaiku?"
Aku jadi salah tingkah. Wajahku memanas. Haruskah aku mengatakan ya? Tapi jika ia tidak punya perasaan yang sama, bagaimana?
"Sayang sekali bila kau tidak menyukaiku. Berarti aku baru saja patah hati."
"Apa?" Maksudnya? Dia..?
"Aku menyukaimu. Ehm.. Aku mencintaimu." Da Dong memandang mataku dengan tatapan yang sangat dalam. Wajahku kembali memanas, pasti sekarang wajahku sudah memerah sekarang.
"Kau menyukaiku?" aku bertanya ragu.
"Ya.." Da Dong menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. "Mungkin ini terdengar bodoh, padahal aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi setiap kali aku ngobrol denganmu di telepon, atau bahkan melihat namamu sedang online, hatiku berdebar, aku senang sekali, ingin selalu berbagi cerita denganmu dan mendengar semua kegiatanmu. Semua ceritamu itu membuatku merasa, kau adalah wanita yang ceria. Walau mood-mu gampang berubah, tapi aku menyukainya. Aku.. menyukaimu."
"Kau.. Kau tidak bodoh.." aku akhirnya berani bersuara. "Karena aku.. merasakan apa yang kau rasakan." kataku perlahan.
"Benarkah?" Da Dong tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, membuatku ingin sekali memeluknya.
Aku mengangguk pasti.

Da Dong memelukku dengan cepat. Membuatku sedikit terkejut karena baru saja aku berpikir ingin memeluknya. Kami berpelukan lama sekali, tidak peduli semua mata tertuju pada kami.
"Pesawat _______ akan segera berangkat. Diharapkan semua penumpang memasuki pesawat." informasi itu membuat hatiku mencelos. Inikah saatnya aku akan berpisah dengan Da Dong? Secepat ini?
"Xiao Ling." Da Dong berbisik di telingaku, kami masih saja berpelukan.
"Ya?" aku berusaha tegar, air mataku sudah mengumpul di pelupuk mata tapi aku menahannya.
"Maukah kau menungguku? Tiga tahun. Apakah terlalu lama?"
"Tentu saja tidak. Aku akan menunggu." Jangan pergi! Aku ingin sekali meneriakkannya.
"Aku akan berusaha menghubungimu kapanpun aku sempat."
"Take your time, ge. Jangan mengkhawatirkanku. Jaga dirimu ya."
"Kau juga. Aku akan segera kembali. Aku janji."
Da Dong melepas pelukannya dan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak beludru berwarna merah. Ia membukanya dan tampaklah sebuah cincin yang sangat indah.
"Maukah kau memakainya? Mungkin ini bukan cincin mahal yang pantas kuberikan padamu. Tapi aku janji, tiga tahun lagi aku akan kembali dan menukarnya dengan cincin yang lebih indah dari ini, dengan namaku terukir di dalamnya.."
Aku mengangguk. Air mataku pun mengalir.
"Jangan menangis. Oke?" Da Dong menghapus lagi air mataku dan memakaikan cincin itu di jari manis kananku. Kemudian mencium keningku.
"Sampai jumpa." katanya lalu mengambil kopernya. Menatapku sejenak, tersenyum dan melambaikan tangan sambil melangkah menuju pesawat. Aku pun membalas lambaian tangannya dengan senyuman.

Aku akan menunggumu, Da Dong ge. Aku janji. Sampai jumpa! Wo ai ni 

Diadaptasi dari Sebuah Mimpi Pribadi
oleh: Phelina Felim
pemeran wanita: Xiao Ling (nama asli)
pemeran pria: Wang Dong Cheng (diambil dari nama penyanyi dan aktor Taiwan)

Wednesday, November 14, 2012

Ga Punya Pacar karena Terbiasa Dengan Keadaan?

Well, saat ini saya masih duduk di bangku kuliah semester 7. Tahun depan saya akan lulus kuliah (amin!).  Selama kuliah ga banyak teman yang saya punya. Memang hal ini disebabkan oleh sifat pendiam saya yang tidak terlalu bisa bergaul dengan banyak orang dan lebih nyaman berada pada lingkungan yang tidak terlalu ramai. Teman terdekat saya ada tiga orang, dua di antaranya adalah teman SMA-ku (yang satu teman SMP malah!). Saya merasa beruntung bisa terus bersama mereka berdua, mungkin memang sudah takdirnya saat kami daftar di kuliah yang sama bersama-sama, mendapatkan nomor induk mahasiswa yang berurutan dan ditempatkan di kelas yang sama hingga saat ini. Nah, kami mulai mengenal teman dekat yang satu lagi sekitar semester tiga. Saat itu kami tergabung dalam sebuah kelompok di kelas Kewirausahaan. Esoknya kami mulai ngobrol dan kumpul bersama, hingga nebeng mobilnya untuk pulang. Sejak saat itu lah kami mulai dekat hingga sekarang.
Hingga suatu hari, entah bagaimana pembicaraan ini bermula, kami membahas soal pacar. Kami semua memang masih single, sehingga topik semacam ini jarang kami bicarakan. Saya bercerita mengenai teman sekantor saya yang menargetkan untuk menikah di usia 25 tahun. Saya langsung mengeluarkan pendapat saya mengenai hal itu. Saya tidak pernah menargetkan di usia berapa saya akan menikah, toh pacar saja saya belum punya. Terlepas dari penampilan fisik, menurut saya di usia 25 tahun adalah usia yang sangat matang dan pas untuk berkarir dan menjadi orang sukses. Jadi saya berpikir, saya akan mensukseskan diri saya sendiri dulu baru saya akan menikah. Mungkin kalian pikir, ini harusnya dikatakan oleh seorang pria, toh nantinya wanita bila sudah menikah akan tetap mengurus rumah tangga, jadi buat apa meniti karir tinggi-tinggi?
Well, bagi saya, menjadi orang sukses itu penting, walaupun saya adalah wanita. Saudara saya perempuan semua, yang biasanya anak perempuan itu nantinya akan bergantung pada suaminya. Lantas bagaimana nasib orang tua saya? Apakah hanya karena mereka tidak memiliki anak laki-laki, lantas mereka tidak bisa menikmati masa tua nya dengan bahagia? Tidak! Sejak dulu saya ingin sekali membuat orang tua saya bahagia. Melihat bagaimana perjuangan mereka menghidupi kami berempat, dari saat saya masih hidup berkecukupan hingga saat ini di mana ada kalanya kami merasa kekurangan dan tidak sanggup untuk membiayai keperluan kami, terutama untuk biaya sekolah atau kuliah. Sulit sekali mereka mengumpulkan uang yang untungnya selalu bisa terbayar dan kami bisa sekolah dengan lancar. Saya sudah bertekad dan berjanji bahwa saya nantinya akan bekerja dan menjadi orang sukses, supaya saya bisa membaginya dengan orang tua saya, membantu mereka meringankan biaya sekolah adik-adik saya. Jadi pantaslah saya memiliki pemikiran seperti ini. Mereka menargetkan usia pernikahan karena memang mereka sudah menemukan pasangan dan mereka memiliki saudara laki-laki yang bisa mereka andalkan untuk meringankan beban orang tua. Saya tidak menganggap menjadi orang sukses adalah beban, melainkan sebagai tanggung jawab dan keinginan saya sendiri untuk bisa membantu orang tua.
Lalu, pembicaraan berlanjut dengan sebuah pertanyaan, mengapa sampai sekarang kami belum juga punya pacar? Yah secara fisik kami memang tidak terlalu buruk (kecuali aku tentunya, LOL). Lalu sebuah kalimat dari teman dekat saya begitu terpatri dalam benak saya. “Mungkin karena kita sudah terbiasa bersama, makanya kita gak membuka hati kita untuk orang lain. Apalagi bila orang-orang melihat kita yang begitu dekat, mereka pikir kita pacaran (kami memang terdiri dari 2 cewe dan 2 cowo), jadi mereka ga berani mendekati kita.”
Apa benar seperti itu? Yah, mungkin ada benarnya juga. Selama ini kami ke mana-mana selalu bersama, menikmati persahabatan kami yang kadang diselingi dengan pertengkaran, namun lebih banyak tawa canda yang kami alami, semua itu membuat kami semakin dekat satu sama lain. Mungkin karena kenyamanan inilah yang membuat kami “buta” bahwa kami sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lain selain persahabatan, yaitu cinta. Kemudian kalimat berikutnya lebih membuatku berpikir hingga saat ini, yaitu “Gue takut kalau nantinya gue punya pacar, gak akan sedekat gue ke kalian, ga akan merasa nyaman kayak gini.” Ini dicetuskan oleh temen cowo saya. Ya, saya pernah berpikir seperti itu. Saya merasa bila kita nantinya bertemu dengan pasangan kita, akan membutuhkan proses yang agak lama untuk bisa menjadi akrab seperti persahabatan kami. Saya harus memulainya dari awal, perkenalan, PDKT, dan lain-lain. Hal itu sangat melelahkan. Jauh lebih baik bila pasangan kita adalah orang yang sudah akrab dengan kita. Mungkin pemikiran seperti ini yang ada di pikiran mereka yang akhirnya jadian dengan sahabat mereka sendiri. Tapi kemudian ada sesuatu dalam hati saya yang membantah. Kalau kita jadian dengan sahabat kita sendiri, lalu di mana sisi “surprise”nya? Kita sudah terlalu mengenal dirinya, sehingga segala sesuatunya akan terlihat sama dan biasa saja. Jadi tidak ada bedanya dengan saat-saat mereka masih menjadi sahabat. Mungkin juga pemikiran inilah yang membuat sebagian mereka yang jadian dengan sahabat akhirnya kandas dan memilih untuk kembali menjadi sahabat.
Yah, semua hal itu memang butuh proses. Sebenarnya sih tidak perlu takut bila nanti kita menemukan pasangan, kita tidak bisa menjadi sedekat persahabatan kami. Tapi saya yakin, bila memang kita bisa membawa diri, bisa beradaptasi, dan kalau memang itulah takdir kita, kenapa tidak? Bahkan hubungan kita dengan pasangan bisa jauh lebih dekat dari persahabatan.
Itulah obrolan kami mengenai pacar. Mungkin ada benarnya bahwa kami telah merasa nyaman dengan persahabatan kami, tapi hey! Kita kan masih kuliah. Masih panjang perjalanan, masih ada dunia kerja yang menanti kita. Toh nanti saat lulus kuliah kami akan berpisah juga, tidak mungkin lagi bisa bekerja di tempat yang sama (kecuali kalau memang Tuhan yang menghendakinya, haha..). Kita akan bertemu dengan orang-orang baru, pertemanan yang baru, dan mungkin saja di tempat itulah kita menemukan pasangan kita. Siapa yang tahu? Yah, jalani saja apa yang ada saat ini, jodoh di tangan Tuhan, kalau memang saatnya tepat, kita pasti akan menemukannya. Sekarang, nikmati saja persahabatan ini di sisa-sisa waktu menjelang tugas akhir, skripsi, dan kelulusan!! Yeay~

With Love,

Phelina Felim
15.11.2012 / 9.20

Wednesday, September 26, 2012

Pelayanan Citilink Indonesia Mengecewakan

Saya menulis ini hanya untuk mengeluarkan unek-unek dan kekecewaan keluarga saya terhadap pelayanan Citilink yang sangat buruk menurut kami.
Pada hari Selasa, 25 September 2012, saya dan keluarga saya baru saja pulang dari kota Medan ke Jakarta sehabis menghadiri resepsi pernikahan sepupu saya. Begitu sampai di Jakarta, hari sudah larut malam, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 11.00. Kami adalah penumpang terakhir yang keluar dari pesawat, ditambah dengan insiden kakak saya yang mencari ponselnya yang kami pikir terjatuh di kursi penumpang (ternyata ponsel tersebut hanya terselip dalam tasnya, cape deh.. :D ), alhasil setelah kami keluar dari kabin pesawat menuju tempat pengambilan bagasi, sudah tidak ada penumpang yang terlihat, bandara menjadi sangat sepi dan lengang.
Kami pun akhirnya sampai di tempat pengambilan bagasi, di sana barang-barang kami ternyata sudah keluar dan terpisah-pisah. Kami pun mengambil tas-tas dan koper, serta kardus milik kami. Betapa terkejutnya kami karena semua koper dan tas kami basah kuyup. Kardus yang berisi oleh-oleh dan souvenir pun hancur,  dan ada satu kardus berisi sepatu yang sudah tak berbentuk lagi. Parahnya, sepatu adik saya hilang sebelah. Adik saya pun kesal, kami sekeluarga langsung komplain pada petugas bandara, mengapa barang-barang kami bisa jadi seperti ini. Mereka berulang kali memberi alasan bahwa di Medan tadi hujan lebat. Alasan tersebut sebenarnya sangat tidak masuk akal. Kalau sudah tau hujan lebat, seharusnya petugas bagasi mengantarkan barang-barang penumpang dengan terpal, sehingga kalaupun terkena hujan, hanya basah sedikit. Kakak saya mengatakan bahwa dulu saat mereka juga terbang dari Medan ke Jakarta menggunakan Lion Air, hujan lebat terjadi di Medan, tapi tas mereka aman semua, tidak basah sedikitpun.
Sayangnya, karena hari sudah larut, tidak ada lagi petugas Citilink yang berjaga, petugas bandara pun tidak berhasil menghubungi petugas Citilink di Medan. Akhirnya kami sekeluarga hanya membuat laporan yang akan dikirim pada Citilink, berharap kerugian yang kami alami bisa terselesaikan dengan baik.
Kami memang tidak terlalu mengharapkan apapun, kami hanya ingin komplain atas pelayanan Citilink yang sangat buruk dan membagikan pengalaman mengecewakan ini kepada semua yang membaca tulisan ini, di mana tanggung jawab Citilink atas kerugian penumpang seperti ini? Mengapa petugas Citilink segitu malasnya memasang terpal saat mengantar bagasi? Kami sangat kecewa, begitu pula penumpang lain saat itu karena sebelum kami mengambil koper kami, sebenarnya ada satu penumpang yang komplain karena kardusnya juga hancur, namun penumpang tersebut tidak begitu mempermasalahkannya seperti halnya keluarga saya. Saya rasa pelayanan seperti ini seharusnya ditindak lanjuti, diperbaiki, demi keamanan dan kenyamanan para penumpang.
Semoga tulisan ini bisa memberikan pelajaran bagi semua maskapai penerbangan, tidak hanya Citilink.

Sekian pengalaman terbang saya bersama Citilink. Terima kasih.

Sunday, September 2, 2012

I Like Her, No Matter What You Said!

Hi, bloggers! Udah lama nih ga nulis2 lagi di blog.  Kali ini aku cuma mau cerita dikit.
Hm.. Sekarang ini aku lagi ngefans sama seorang pubic figure. Tapi dia bukan seorang cowo. Yap! Aku lagi suka sama seorang aktris, yang tak lain dan tak bukan adalah Rainie Yang (Yang Cheng Lin).

Mungkin di antara kalian ada yang udah tau, ada juga yang belum kenal. Rainie adalah seorang aktris dan penyanyi yang berasal dari Taiwan. Aku ga perlu menjelaskan secara detail ya, kalian bisa cari sendiri di internet. Hehehe..
Aku mulai suka dengan sosok Rainie bukan sejak dia main sebagai pemeran sampingan di Meteor Garden (sebagai teman kerja San Cai), tapi sejak aku nonton drama yang berjudul Devil Beside You sebagai pemeran utama dengan Mike He sebagai lawan mainnya, aku mulai menyukainya sejak tahun 2012 awal. Jadi bisa dibilang aku masih orang baru yang menjadi penggemar Rainie. Awalnya aku menemukan judul drama itu dari internet, lalu aku coba mencarinya di Youtube, dan aku lihat sepertinya jalan ceritanya menarik. Saat itu aku belum begitu memperhatikan sosok Rainie. Lalu aku pun berniat membeli DVD nya yang ternyata masih banyak dijual. Nah, setelah aku nonton drama itu di rumah, aku mulai tertarik dengan sosok Rainie, terutama dengan aktingnya yang sangat profesional dan terkesan alami. Paras wajahnya pun polos natural, tidak berlebihan.
Sejak saat itu aku mulai mencari informasi mengenai Rainie, ternyata sudah banyak drama yang ia mainkan sebagai pemeran utama, dan yang aku lihat di semua dramanya, Rainie memang terlihat sangat natural, dan tentu saja menarik serta cantik. Aku jadi tertarik dan berniat untuk membeli drama Rainie yang lain. Sejak saat itu pula aku mulai mengumpulkan foto-foto Rainie di laptopku, mungkin sekarang sudah 1000 lebih foto yang kusimpan. Untungnya aku bisa menemukan Facebook, Twitter, dan Youtube officialnya Rainie, jadi aku bisa update terus berita terbaru tentangnya.
Sebagai orang baru, aku cukup terkejut setelah mengetahui bahwa ternyata aku sudah tertinggal jauh, yah bisa dibilang ketinggalan jaman. Rainie sudah memainkan banyak film&drama serta telah mengeluarkan 6 album (saat itu. Baru-baru ini ia sudah mengeluarkan album ketujuh yang bernama Wishing for Happiness). Aku langsung mengejar ketinggalanku dengan mendownload semua lagu-lagunya.
Untuk masalah drama dan film, aku sungguh menyesal karena baru sekarang menjadi penggemarnya, karena sudah jarang ditemukan drama yang ia perankan. Dari sekian banyak drama, aku baru punya Devil Beside You, Why Why Love (yang sayangnya tidak aku tonton karena DVD nya macet2 dan belum beli lagi :P), Hi My Sweetheart, Sunshine Angel, Miss No Good, Together, Drunken To Love You, dan Heartbeat Love. Film horror yang berjudul Child's Eye saja aku download dari YT karena tidak menemukan DVD nya. Sedangkan drama yang lain aku juga tidak bisa menemukannya karena sudah terlalu lama.

Hmm.. Kalau ada yang nanya, kenapa sih aku segitu sukanya sama Rainie? Simpel aja, karena Rainie itu satu-satunya aktris yang NATURAL. Natural di sini dalam semua bidang. Dimulai dari penampilannya, tidak pernah sekalipun aku melihat dia dandan berlebihan, setiap make up yang dipakainya selalu berkesan natural, jadi jika ia tidak memakai make up sekalipun, ia masih terlihat cantik.
Kemudian dari segi akting, aktingnya sangat bagus, profesional seperti yang sudah aku sebutkan di atas, dan membuat penonton terbawa suasana. Jadi bila ia sedang akting menangis, aku akan ikut merasakan kesedihannya, begitu pula saat ia tertawa, perlu kalian ketahui, aku paling suka melihat tawanya, karena aku akan ikut merasa bahagia dan ikut tersenyum. Bicara soal profesional, ia pun bisa memainkan peran sebagai seorang lesbian, terbukti dalam film White Lili, MV Shai Jiao De Yi Shuang Er Duo, dan micro-film Wishing for Happiness di mana ia harus berciuman dengan seorang wanita. Ia memerankannya dengan sangat bagus dan aku salut dengan profesionalitasnya. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada satu peran pun yang tidak bisa ia mainkan. Ia bahkan pernah memainkan peran sebagai gadis tomboy seperti preman dalam drama hi My Sweetheat (drama favoritku).
Rainie juga orang yang ramah, aku tau itu. Dari paras wajahnya, berita-berita tentang dirinya di mana dia tak sungkan-sungkan untuk dekat dengan para fans nya. Terbukti dari sebuah jejaring sosial official yang memungkinkan Rainie untuk berkomunikasi dengan fansnya secara langsung! Jadi di waktu itu, Rainie akan membalas sebanyak mungkin pertanyaan-pertanyaan dari para fans. Dia juga sering meng-update QQ nya, untuk menginformasikan suasana hati ataupun kegiatan yang sedang ia lakukan.
Dan alasan yang terakhir dan tidak kalah penting adalah SUARANYA. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, bahwa Rainie juga seorang penyanyi, suaranya benar-benar merdu. Aku tidak bohong, aku pernah menonton sebuah video di mana Rainie bernyanyi tanpa musik, dan suaranya asli TOP BANGET! Suaranya lembut dan khas sekali, membuat aku tidak bosan-bosan mendengar lagunya.

Jadi, alasanku untuk menyukai sosok Rainie begitu kuat, bukan? Aku tidak peduli bila ada yang berkomentar, "Kok lo bisa suka sama Rainie? Dia kan cewe!" atau "Astaga, sadar donk, dia itu cewe. Kok segitu tergila-gilanya sih? Aneh banget.", aku hanya bisa menjawab dengan, "SO WHAT?! Masalah buat lo?!"

Yap, memangnya kenapa kalau aku menyukai Rainie? Memangnya ada peraturan bahwa seseorang tidak boleh ngefans dengan artis sesama jenis? Gak ada kan? Lagipula, sukanya aku sama Rainie, beda dengan sukanya aku dengan Heechul, misalnya. Aku memandang sosok Rainie sebagai figur wanita yang sempurna. Apalagi yang tidak dimilikinya? Karir oke, penampilan menarik, suara bagus, dan ramah pada fans nya. Hanya sayangnya ia belum juga menemukan seorang pangeran berkuda putih di usianya yang telah menginjak 28 tahun. Tapi di luar hal itu, aku menganggapnya sebagai sosok yang sempurna sebagai seorang wanita. Aku ingin menjadi seperti dia, sukses namun tetap rendah hati. Aku menyukainya sebagai panutan, bukan sebagai seorang wanita kepada seorang pria.
Aku tidak memujanya, aku hanya menyukai dan mengaguminya. Mengagumi semua prestasi yang telah ia capai, mengagumi kelebihan yang ia miliki tanpa mempedulikan kekurangan yang ia miliki.
Jadi, apa aku salah? Apa aku tidak normal? Tentu saja tidak! Karena dari semua followers di fanpage Twitter yang aku kelola, hampir semuanya cewe. Wajar kan?
So, please, jangan men-judge orang sembarangan. Kalian bisa berkata seperti itu karena kalian belum mengalaminya. Percayalah, bila kalian sudah mengalaminya, kalian tidak akan berbicara seperti itu.

Sekian deh tulisan dari aku tentang Rainie Yang. Aku akan terus mengaguminya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesuksesan. Jia you, Yang Cheng Lin! Keep working until the end of time, I always support you and keep Wishing for Your Happiness! Keep smiling, Rainie :)

NB: bicara soal Twitter dan Facebook, aku memang membuat akun fanpage khusus Rainie Yang, aku akan meng-update informasi mengenai Rainie dan tentu saja membagi foto-foto terbarunya. Jadi, bila kalian juga fans Rainie, follow ya @RainieYang_INA dan like fanpage facebook nya di https://www.facebook.com/RainieYangFC.INA?ref=hl .. Thank you :)

With RainieLove,

Phelina Felim