Saturday, June 14, 2014

Aku Sayang Papa

          Selamat hari ayah, Pa! Kudoakan semoga papa sehat selalu, jangan stress lagi, dan hiduplah dengan senyum dan bahagia.
          Melalui surat ini, aku, anak kedua papa ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih atas semua yang telah papa berikan padaku. Papa selalu memberi aku dan saudara-saudaraku rasa aman dan tak berkekurangan baik materi maupun kasih sayang. Walau kadang kami tahu papa sangat sulit untuk melakukannya.
          Sebagai anak, tentu saja aku juga punya kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun tidak yang telah menyakiti hati papa. Papa selalu bercerita mengenai apa saja pada kami tapi kami tak lagi mendengarkannya dengan baik. Mungkin bagi anak-anakmu ini yang sudah beranjak dewasa, ceritamu mulai membosankan. Tapi percayalah, aku mendengarkan ceritamu, hanya saja aku bukan perespons yang baik. Aku hanya bisa menjadi pendengar. Maafkan aku atas sikap tersebut. Juga maafkan kesalahanku yang sering kesal saat disuruh membantu, aku yang terkadang tidak menjawab saat ditanya, dan aku yang sampai saat ini belum bisa memberikan sesuatu sebagai balasan atas kebaikan papa.
          Pa, aku sayang sama papa dan sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hatimu. Aku ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan, sungguh. Tapi aku juga tidak tahu kenapa terkadang aku bersikap seperti itu. Kata temanku, dia ingin bertukar ayah setiap kali mendengar ceritaku tentangmu, tentang humor yang sering kau lontarkan, tentang sikap tanggung jawabmu, tentang kebiasaanmu menceritakan sesuatu sebelum kami tidur walaupun kini hal tersebut sudah jarang terjadi karena sikap kami yang buruk. Sungguh, aku tidak ingin bertukar ayah dengan siapapun, apapun imbalannya. Aku hanya ingin papa, seburuk apapun sifat yang papa punya, papa yang pelupa, papa yang bawel, papa yang seperti radio rusak jika sedang stress, dan papa yang berisik karena ngorok saat tidur, dan papa yang kadang tidak mengerti apa yang kami ucapkan dan harus dijelaskan pelan-pelan. Semuanya memang menguji kesabaran, tapi itulah yang membuat kami sayang padamu. Aku bahkan tidak berani membayangkan jika di rumah ini tidak ada sosok dirimu. Rumah ini akan menjadi sunyi seperti kuburan. Tidak ada lagi "dongeng" sebelum tidur, tidak ada lagi yang berteriak menyuruh kami makan, tidak ada lagi humor-humor garing, tidak ada lagi yang memberikan nasihat-nasihat kehidupan, terutama padaku karena aku tidak terlalu dekat dengan ibu.
        Oleh karena itu, Pa, tetaplah bersama kami. Tetaplah sehat dan tersenyum. Kami di sini menyayangimu, kau harus tahu itu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak dan beribu maaf atas kesalahan atau sikap yang menyinggung perasaanmu.
   
        Selamat hari ayah! Aku sayang papa..

From ur second daughter,

Ling

Monday, June 9, 2014

Angela Zhang 张韶涵 - Tao Hao 讨好 [Cover with lyric]

Holaaa semuanya!! Kali ini aku mau share cover laguku. Selain menulis, aku juga hobi cover lagu loh! Tapi yang ku-cover sampai saat ini memang lagu-lagu mandarin karena kecintaanku pada Taiwan :D Ini aku share cover lagu yang terbaru! Bagi yang mau mendengarkan, semoga kalian suka ! ^^




Saturday, May 31, 2014

Love Food (Fan Fiction)

Type: One Shoot
Cast: Kim Ryeowook, Han Hyun Mi, Eun Hyuk
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku melirik jam tanganku, sudah jam 10 malam dan aku masih berada di bus menuju tempat tinggalku di sebuah wisma. Aku tinggal sendirian di wisma itu karena orang tuaku tinggal di kota lain. Hari ini kerjaan kantor sangat banyak sehingga aku harus lembur sampai jam 9 malam. Aku bahkan belum makan sejak siang karena tidak sempat. Begitu pulang, mungkin aku akan masak mie instan saja, itupun kalau sempat.
Begitu sampai gang dekat wisma, aku turun dari bus. Dengan cepat aku berlari ke dalam gang dan sampai di wisma. Aku benar-benar sangat kelaparan. Setelah menginjak lantai kedua dan melewati beberapa kamar, aku langsung mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar. Lampu depan langsung menyala otomatis. Wisma ini memang tidak terlalu besar, harganya pun terjangkau, namun aku sangat nyaman dan betah tinggal di sini.
Aku memasuki kamarku dan mengernyit heran. Mengapa lampu dalam menyala? Ah, mungkin karena Ryewook oppa lupa mematikan lampu. Ini namanya pemborosan, aku menggerutu dalam hati. Ryeowook oppa adalah senior sekaligus teman dekatku sejak SMA. Dia memang suka seenaknya memasuki wisma-ku hanya untuk menyiapkan makan malam untukku. Dia memang pandai memasak. Ya, benar juga! Oppa pasti sudah memasak untukku, pikirku senang. Lalu aku menghampiri meja makan. Benar saja, di meja makan sudah tersedia aneka makanan. Mulai dari sup, daging, dan sayuran yang tentu saja tidak akan aku sentuh. Aku tidak suka sayuran!
“Ya, kau baru pulang?” Ryeowook tiba-tiba saja muncul di belakangku.
“Oppa! Kau mengagetkanku!”
Ryeowook mengucek matanya, sepertinya ia baru bangun tidur.
“Kenapa kau baru pulang?”
“Aku ada kerjaan kantor. Lembur.”
“Kau pasti belum makan. Ayo kita makan!”
“Kita? Oppa belum makan?”
“Tentu saja belum. Aku sudah menunggumu 3 jam sampai aku ketiduran di sofa.”
“Oppa bisa makan dulu, tidak perlu menungguku.”
“Sudahlah, ayo makan.”
Kami pun mengambil semangkuk nasi dan mulai makan.
“Hey, sprei tempat tidurmu sudah kuganti. Kau ini kenapa malas sekali. Sprei sudah bau begitu masih saja tidak kau ganti.”
“Ya! Seenaknya saja. Spreiku tidak bau!”
“Tapi kau harus tetap menggantinya seminggu sekali. Banyak kuman, kau bisa sakit.”
“Aku tidak sempat. Oppa saja yang menggantinya. Terima kasih!” kataku dengan cuek.
“Aish, kau ini. Ini sayuran dimakan, biar sehat.” Ryeowook menaruh sepotong brokoli ke dalam mangkuk nasiku.
“Oppa! Aku tidak suka sayur!”
“Kubilang makan! Ayo..”
Aku memasang muka cemberut tapi Ryeowook tidak peduli dan malah menatapku dengan tajam, mengawasiku seperti anak kecil. Dengan terpaksa aku memasukkan brokoli itu ke dalam mulut dan menelannya dengan ekspresi jijik. Oppa menyebalkan!
***
Aku berjalan cepat menuruni tangga. Jam makan siang sudah lama lewat tapi aku tidak sempat makan tadi, jadi sepulang kerja aku langsung cepat melangkah menuju kantin yang biasanya masih buka sampai pukul 8 malam.
“Auh!” di persimpangan tangga aku menabrak seseorang. Aku segera minta maaf dan berjalan cepat melewati pria tersebut.
“Hyun Mi-ssi?”
Aku menoleh bingung. “Ne?”
“Kau.. Hyun Mi-ssi?”
“Ye.. Waeyo? Kau tau namaku?”
“Hyun Mi-ya, kau tidak ingat padaku?”
Aku menatapnya bingung. Aku sungguh tidak mengenal dan tidak pernah melihat pria ini di kantor. Aku pun menggeleng.
“Aigoo.. Kau ini kejam sekali. Aku Eun Hyuk. Ingat?”
“Eun Hyuk?” aku berpikir keras. Siapa dia?
“Eun Hyuk. Teman sekelasmu di tempat kursus matematika saat SMP. Ingat?”
“Ah! Eun Hyuk-ssi! Kau rupanya! Ah, jinjja.. Maafkan aku karena tidak mengenalimu.”
“Gwenchanayo.. Kau bekerja di sini?”
“Ne. Sudah 3 tahun. Eun Hyuk-ssi juga bekerja di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
“Ye, aku baru saja diterima kemarin. Hari ini hari pertamaku bekerja.”
Aku mengangguk paham. “Lalu kau mau ke mana?”
“Aku mau menemui atasan sebentar. Kau? Sudah mau pulang?”
“Ye, kerjaanku sudah beres. Tapi aku mau mampir di kantin sebentar, tadi belum sempat makan.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Ah, baiklah. Aku nanti menyusul, kita makan bersama ya. Tunggu aku, tidak lama kok.”
“Baiklah. Aku duluan.”
“Yap!”
***
“Maaf, agak lama.” Eun Hyuk menghampiriku di kantin. Makananku baru saja datang.
“Tidak apa-apa. Kau tidak memesan?”
“Aku sudah memesan tadi. Kau makan dulu saja, pasti kau sudah lapar sekali.”
“Tidak apa-apa. Aku menunggu makananmu datang saja dulu.”
Sesaat suasana jadi agak canggung. Sebenarnya dulu aku dan Eun Hyuk tidak begitu dekat. Kami hanya mengobrol biasa di kelas kursus mengenai pelajaran jika ada kesempatan untuk mengobrol. Itu pun tidak terlalu sering. Aku sedikit lega saat akhirnya pesanan Eun Hyuk datang, dan langsung membelalak begitu melihat bahwa semua lauknya adalah daging, tidak ada sayur sedikitpun.
“Kau tidak makan sayur?” tanyaku.
“Haruskah aku makan sayur?”
“Ah tidak. Aku hanya berpikir sayur bisa menyeimbangkan makanan kita. Jadi bisa lebih sehat.” Itu yang Ryeowook oppa katakan padaku.
“Aku tidak suka sayur. Kau suka?”
“Eh? Sebenarnya aku juga tidak suka. Tapi ada yang terus memaksaku makan sayur.”
“Siapa? Ibumu?”
“Salah satunya.”
“Ah, pacarmu kah?”
“Aniyeo! Bukan pacarku. Dia sahabatku.”
Eun Hyuk tertawa kecil. Aku bingung mengapa ia tertawa.
“Waeyo?”
“Sahabatmu itu pasti seorang pria.”
“Darimana kau tau?”
“Dari ekspresimu saat berkata tidak. Kau seakan-akan sudah terbiasa mengelak pertanyaan seperti yang kulontarkan tadi.”
“Ah, begitukah?”
Eun Hyuk mengangguk. Ya, dia memang benar. Banyak sekali orang yang mengira aku dan Ryeowook oppa berpacaran karena kami dekat dan mungkin sudah ratusan kali aku mengelak pernyataan itu.
“Kalau kau tidak suka, jangan dipaksa. Aku selalu menyisihkan sayur yang ada di makananku.”
Aku berpikir sejenak. Sekali-sekali mungkin boleh juga aku tidak menuruti permintaan Ryeowook oppa. Lagipula ini kan makananku, terserah aku mau makan apa. Ya kan? Aku pun menyisihkan sayuran yang ada di makananku. Sekali ini saja, pikirku.
Kami melanjutkan makan sambil mengobrol tentang masa-masa kuliah. Ternyata Eun Hyuk lumayan asyik diajak ngobrol, dia selalu bisa mencari topic pembicaraan sehingga aku bisa ikut bercerita. Setelah makan, dia juga mengantarku pulang.
“Lembur lagi?” Ryeowook oppa menyapaku saat aku melewati kamarnya menuju kamarku sendiri. Ryeowook sedang duduk di depan kamarnya.
“Hm.. Tidak juga sih. Tadi aku bertemu teman lama, jadi makan dulu sebelum pulang.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah. Waeyo? Kau memasak untukku?”
“Anieyo. Aku hanya bertanya. Kau makan di mana?”
“Di kantin kantor.”
“Kau..”
“Tenang saja, oppa, aku makan sayur kok.” Ucapku berbohong supaya Ryeowook oppa tidak ngomel-ngomel lagi sehingga membuatku pusing.
“Baguslah..”
“Ya sudah, oppa, aku ke kamar dulu.”
“Ne.”
***
Sejak Eun Hyuk dan aku bekerja di kantor yang sama, kami jadi semakin akrab. Walaupun berbeda divisi tapi Eun Hyuk sering datang ke mejaku untuk sekedar ngobrol, mengajak makan siang, atau apapun. Aku sendiri tidak merasa terganggu karena ternyata aku dan Eun Hyuk memiliki berbagai persamaan, salah satunya adalah ketidaksukaan kami pada sayur. Eun Hyuk selalu punya rekomendasi restoran yang bagus. Seleranya oke juga, makanan yang dipilihkan Eun Hyuk selalu menggiurkan dan sebagian besar tanpa sayuran. Aku sangat menikmatinya. Aku jadi tidak merasa terbebani dengan kalimat “makan sayurnya” yang selalu dilontarkan oleh Ryeowook setiap kami makan bersama.
“Kenapa akhir-akhir ini kau pulang malam?” lagi-lagi Ryeowook menungguku di depan kamarnya.
“Memangnya kenapa, oppa? Aku kan banyak kerjaan.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah.” Jawabku singkat.
“Sekarang kau jadi sering makan di luar. Kau tau, makanan di luar itu belum terjamin higienitasnya.”
“Ya! Oppa, aku makan di restoran yang bersih kok. Makanannya juga enak.”
“Apa makanannya ada sayurnya?”
“Aku makan sayur, oppa. Tenang saja.” Lagi-lagi aku berbohong.
“Biar bagaimanapun makanan rumah lebih sehat.”
“Oppa ini kenapa? Bagus dong kalau aku makan di luar. Lagipula aku tidak bisa masak. Oppa juga tidak perlu repot-repot lagi memasak makan malam untukku.”
“Dengan siapa kau pergi? Dengan teman lamamu itu?”
“Waeyo? Kenapa oppa bertanya hal itu?”
“Sejak kau bertemu teman lamamu itu, kau selalu makan di luar. Aku khawatir kau makan makanan yang tidak sehat.”
“Memangnya apa peduli oppa? Oppa tidak perlu memperhatikanku sampai seperti ini. Aku mau makan dengan siapa, terserah aku. Aku mau makan apa juga terserah aku. Oppa ini bukan kakakku beneran. Oppa hanya disuruh eomma untuk menjagaku, tapi kau tidak perlu sampai seperti ini, mengatur makanku segala.” Aku mulai emosi.
“Begitu?”
“Ne.”
“Yah, aku memang hanya  menjalankan amanah dari ibumu. Tapi kalau kau sendiri tidak mengizinkanku untuk memperhatikanmu, aku bisa apa? Terserah kau saja.”
Setelah itu Ryeowook oppa masuk ke kamar. Aku tau Ryeowook oppa kesal, tapi aku cuek saja. Biasanya Ryeowook oppa tidak akan pernah lama jika marah. Aku pun melangkah menuju kamarku dengan santai.
***
Esoknya aku bangun dengan ceria. Baru saja Eun Hyuk mengirimku pesan, ia akan mengajakku makan malam di restoran baru lagi. Eun Hyuk memang paling tau restoran mana yang menyajikan makanan-makanan lezat. Aku keluar kamar dan seperti biasa melewati kamar Ryeowook. Kebetulan Ryeowook sedang memakai sepatu dan bersiap untuk ke kantor.
“Pagi, oppa!” sapaku ceria. Ryeowook memandangku sekilas lalu melanjutkan memakai sepatu tanpa membalas sapaanku. Kemudian ia bangkit dan berjalan melewatiku begitu saja. Aneh, Ryeowook tidak pernah seperti ini. Apa ia masih marah?
Sepanjang hari itu aku selalu kepikiran Ryeowook oppa. Sikapnya benar-benar aneh. Apakah ucapanku semalam begitu menyakitinya? Bukankah apa yang aku katakan itu kenyataan? Ryeowook oppa seharusnya bisa lega karena tidak perlu lagi memasak makan malam untukku, apalagi sampai menungguku pulang setiap makan. Dia kan bukan siapa-siapa, hanya teman dekatku saja. Dia tidak perlu menuruti permintaan eomma untuk menjagaku, lagipula dulu eomma mengatakan hal itu tidak serius. Mengapa Ryeowook oppa terlalu serius menanggapinya?
“Kau kenapa?” Eun Hyuk bertanya padaku saat makan malam.
“Waeyo? Aku tidak apa-apa.”
“Seharian ini sepertinya kau melamun terus. Apa kau ada masalah?”
“Ah, tidak ada.”
“Benarkah? Kau pasti ada masalah. Apa kau berkelahi dengan sahabatmu itu? Siapa namanya?”
“Ryeowook. Ah, tidak, kami baik-baik saja.”
Eun Hyuk memandangku dengan tidak percaya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Kau berbohong.” Perkataan Eun Hyuk langsung menancap di hatiku.
“A.. Anieyo!”
“Yah, kau bisa bercerita padaku kalau kau ada masalah.  Hyun Mi yang kukenal tidak pernah melamun sepanjang hari seperti ini kecuali jika ada masalah.”
“Bagaimana kau tau?”
“Aku sering memperhatikanmu dulu saat di kelas kursus. Kau selalu ceria setiap hari. Lalu suatu hari saat kau mendapat teguran dari pak guru karena  nilaimu menurun, kau menjadi pemurung selama beberapa hari.”
“Kau memperhatikanku?”
“Ya. Karena aku menyukaimu.”
“M.. Mwo?!”
“Hahaha.. kau tidak perlu terkejut seperti itu. Aku menyukaimu dulu.”
“Dulu?”
“Ya. Kenapa? Kau berharap aku masih menyukaimu sekarang? Sayangnya aku sudah punya tambatan hati.”
“A.. Anieyo! Kau terlalu percaya diri! Aku hanya tidak menyangka kau menyukaiku dulu.”
“Kau memang tidak peka, Hyun Mi. Sebenarnya banyak cowok di kelas kursus yang menyukaimu. Tapi kau tidak pernah menyadarinya dan menganggap mereka semua hanya teman biasa. Kau baik pada semua orang, membuat kami jadi tidak punya nyali untuk jujur padamu.”
Aku hanya bisa melongo. Benarkah itu semua?
“Jadi? Apa benar kau sedang punya masalah dengan Ryeowook?”
“Hmm.. Hah.. baiklah aku ceritakan.”
Aku pun menceritakan kejadian semalam pada Eun Hyuk.
“Kurasa ia menyukaimu.” Perkataan Eun Hyuk yang satu ini sungguh membuatku tersedak. “Hei, pelan-pelan saja.”
Aku pun minum sejenak sebelum bertanya lebih lanjut.
“Kenapa kau bisa berkata begitu?”
“Menurutmu, kalau ada pria yang begitu memperhatikanmu sampai sedetail itu, apa artinya jika bukan suka?”
“Ia hanya menjalankan amanah dari eomma-ku.”
“Itu hanya alibi. Walaupun ia sahabatmu, belum tentu ia akan memperhatikan hal sedetail itu tentang dirimu, ia tidak akan begitu memperhatikan pola makanmu, apa yang kau makan, dengan siapa kau pergi. Kecuali ia menyukaimu.”
“Begitu menurutmu?”
“Kau menyukainya?”
Pertanyaan itu langsung membungkam mulutku. Apa aku menyukai Ryeowook?
“Tentu saja. Ia teman dekatku.”
“Bukan itu maksudku. Kau mencintainya?”
“Cinta?”
“Ya.”
“A.. Aku tidak tau.”
“Tanya hatimu baik-baik. Apa yang kau rasakan jika kau berada di dekatnya? Bagaimana perasaanmu saat ia rela menunggumu pulang dan memasak makan malam untukmu?”
***
Percakapanku dengan Eun Hyuk di restoran itu benar-benar semakin membuatku pusing. Mengapa kejadian ini sampai melibatkan masalah perasaan seperti ini? Benarkah Ryeowook menyukaiku? Ah tidak mungkin! Sikapnya selama ini lebih seperti seorang kakak. Lagipula, apa aku menyukai Ryeowook? Tentu saja tidak! Aku juga hanya menganggapnya kakak. Bagaimana perasaanku saat ia menungguku pulang malam dan memasak untukku? Tentu saja aku senang, aku tidak perlu berpikir harus makan apa, makan di mana, semuanya sudah disajikan di atas meja begitu aku pulang kerja. Tapi Ryeowook oppa selalu menyuruhku makan sayur. Ah! Pusing! Terserah lah, aku tidak mau berpikir terlalu banyak!
Menjelang pukul 9 malam aku baru sampai di wisma. Begitu melewati kamar Ryeowook, aku mengernyit heran. Mengapa kamarnya gelap sekali? Apa Ryeowook sudah tidur jam segini? Tapi lampu depan kamarnya juga tidak menyala. Atau dia belum pulang kerja?
“Hyun Mi-ssi..” seseorang memanggilku.
“Ah, ahjumma, selamat malam.” Kataku. Ternyata yang memanggilku adalah bibi pemilik wisma ini.
“Kau baru pulang?”
“Ye. Tadi aku makan malam dulu dengan temanku.”
“Oh.. Kau tidak mengantar Ryeowook ke bandara?”
“Bandara? Memangnya dia ke mana?”
“Kau tidak tau?”
“Ani..”
“Dia tidak memberitaumu? Siang tadi dia pulang dan langsung mengepak barang-barangnya. Katanya ia dipindahtugaskan keluar kota.”
“APA??! Pindah tugas? Keluar kota? Berapa lama?”
“Entahlah, mungkin akan lama karena sepertinya ia mengangkut semua barangnya dari sini. Bahkan ia bilang aku boleh menjual kamar ini pada orang lain. Aku tidak tau kenapa mendadak seperti ini. Bahkan kau saja sampai tidak tau.”
Rasanya aku ingin menangis mendengar berita itu. Begitu mengucapkan terima kasih aku langsung masuk ke kamarku, menyalakan lampu dan mencari Ryeowook oppa seperti orang gila. Aku masih berharap ini hanya lelucon, Ryeowook oppa akan muncul dari kamarku dan berkata ini semua hanya keisengannya membohongiku, dan kemudian menyuruhku makan bersama. Tapi kamarku benar-benar tidak ada orang. Tidak ada sosok Ryeowook oppa yang kuharapkan. Aku pun terduduk lemas di sofa sambil menangis.
“Waeyo, oppa? Kenapa kau pergi tanpa memberitauku? Apa kau terlalu serius menanggapi ucapanku semalam sehingga kau begitu marah dan meninggalkanku? Mianhae, oppa. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Aku tidak akan berbohong lagi padamu, aku akan makan masakanmu walaupun kau  memasak sayur yang paling tidak enak sekalipun.”
Dan saat itu pula aku menyadari bahwa aku begitu kehilangan Ryeowook, begitu sedih dengan kepergiannya. Aku memang menyukainya. Aku mencintainya.
***
Tiga tahun berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ryeowook. Semua permintaan maafku melalui e-mail maupun SMS tidak mendapat respon sama sekali. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, aku pun memutuskan untuk melanjutkan hidupku apa adanya. Aku masih menjalankan rutinitasku di kantor seperti biasa. Eun Hyuk pun akhirnya sudah menikah dengan tambatan hati yang dulu pernah ia katakan. Aku turut bahagia atas pernikahan mereka. Sampai sekarang pun aku selalu menghadirkan sayuran dalam makananku dan belajar memasak sendiri dengan panduan buku memasak yang aku beli di toko buku. Walaupun hasilnya tidak begitu memuaskan, tapi ini lebih baik daripada makan di luar. Perkataan Ryeowook masih terngiang di telingaku. Makanan rumah lebih sehat daripada makanan di luar. Aku masih tinggal di wisma yang sama. Sesekali bila aku melewati kamar Ryeowook dulu, aku selalu berhenti sejenak dan mengenang saat-saat ketika ia masih tinggal di kamar itu. Entah kenapa sampai saat ini belum ada yang menempati kamar itu. Tapi kupikir bagus juga, lebih baik kamar itu kosong daripada ditinggali oleh orang baru yang membuatku tidak bisa menatap kamar itu sambil mengenang sosok Ryeowook.
“Selamat pagi, Hyun Mi eonni..” salah satu tetanggaku yang baru menginap di wisma ini selama 1 bulan menyapa.
“Ne, selamat pagi.”
“Eonni mau berangkat kerja?”
“Ye. Kau?”
“Aku mau ke kampus. Eonni kenapa sering sekali memandangi kamar itu?”
“Ah, tidak apa-apa. Dulu temanku pernah tinggal di sini. Aku hanya merindukannya.”
“Jinjja? Aku dengar kamar ini sudah ada yang membeli. Hari ini sudah akan ditempati.”
“Benarkah?”
Gadis itu mengangguk.
“Aku ke kampus dulu ya, eonni. Eonni mau keluar bersama?”
“Ah, ye. Baiklah.”
Kami berdua pun keluar wisma bersama. Sayang sekali kamar itu akhirnya dibeli orang. Aku jadi tidak bisa memandanginya lagi. Sudahlah, mungkin ini pertanda bahwa aku memang harus melupakan Ryeowook oppa. Entah aku bisa atau tidak.
***
Memang benar. Saat aku pulang kerja kamar itu sudah berpenghuni. Lampu depan kamarnya menyala, namun lampu di dalam kamar tidak. Mungkin penghuninya sudah tidur karena ini sudah pukul 10 malam. Hah, aku sungguh merindukan Ryeowook oppa. Aku pun melangkah gontai menuju kamar.
“Eh?” aku melihat ada sebuah kotak bekal di meja depan kamarku dengan sebuah kartu di atasnya. Aku pun mengambil kartu itu dan membacanya.
“Untuk penghuni kamar B409.
Salam kenal. Aku penghuni baru di sini. Makanan ini sebagai salam perkenalan dariku. Tadinya aku ingin memberikan secara langsung tapi sepertinya kau belum pulang. Jadi aku taruh di atas meja. Semoga kau suka. ^^”
Aku membolak-balikkan kartu itu tapi tidak ada nama yang tertera di sana. Aneh sekali, jika ia ingin berkenalan dengan penghuni di sini, seharusnya ia memberitahukan namanya. Jadi jika besok aku bertemu dengannya, aku bisa menyapanya. Tapi ya sudahlah. Aku pun membawa kotak itu masuk ke dalam kamar dan membukanya di dapur. Di dalamnya ada seposi nasi beserta lauk berupa daging ayam cincang, sayur brokoli, dan wortel. Hah, lagi-lagi aku teringat Ryeowook oppa. Dia juga sering memasak brokoli dan wortel. Seketika itu juga perutku berbunyi. Ya, aku memang belum sempat makan malam. Aku pun membawa kotak itu ke meja dan melahapnya.
“Jadi kau sekarang suka makan sayur?” suara itu terdengar dari belakang. Aku langsung melonjak dan menoleh ke belakang.
“RYEOWOOK OPPA???!!!” aku begitu terkejut. Aku mengerjap-ngerjap dan menampar pelan pipiku. Tapi Ryeowook oppa masih di hadapanku. Tersenyum.
“Lama tidak berjumpa, Hyun Mi.”
Aku langsung berlari dan memukul Ryeowook. Air mataku sudah tidak terbendung lagi.
“Waeyo, oppa? Kau dari mana saja? Mengapa meninggalkanku tanpa kabar? Kenapa e-mail dan SMS-ku tidak dibalas? Oppa tau? Aku sangat merindukan oppa! Siapa yang memasak untukku? Aku harus memasak sendiri! Mengganti sprei sendiri. Oppa jahat! Jinjjayo!!” kali ini aku sungguh menumpahkan kekesalan sekaligus kesedihanku pada Ryeowook.
Ryeowook menarikku dalam pelukannya. Aku sempat memberontak tapi akhirnya aku luluh juga. Aku membiarkan Ryeowook memelukku, seperti dulu saat aku bersedih. Pelukan Ryeowook selalu membuatku tenang.
“Mianhae, Hyun Mi.”
“Oppa tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah. Mianhae, oppa. Aku telah menyakiti hatimu malam itu. Aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hati oppa.”
“Gwenchana, Hyun Mi. Aku yang seharusnya minta maaf. Waktu itu aku sebenarnya ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak sanggup. Aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Tapi malam itu aku merasa kau memang tidak membutuhkan aku lagi. Jadi lebih baik aku diam-diam meninggalkanmu. Tapi sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Siapa bilang aku tidak membutuhkan oppa? Selama oppa pergi aku selalu merindukan masakan oppa. Aku selalu berharap oppa pulang memasakkan makan malam untukku.”
“Bukankah kau bisa makan di luar?”
“Bukankah oppa bilang makanan rumah lebih sehat?”
“Jadi kau merindukan masakanku?”
“Tentu saja!”
“Apa kau merindukanku?”
Aku melepaskan pelukan Ryeowook.
“Ani!” aku menunduk salah tingkah.
“Jinjjayo?”
“Ne.”
Ryeowook hanya menghela nafas. Mungkin ia kecewa. Aku tau sebenarnya Ryeowook oppa menyukaiku, tapi mengapa ia tidak pernah jujur padaku. Aku menunggumu, oppa. Katakan saja perasaanmu! Aku semakin gemas melihat tingkahnya.
“Oppa berharap aku merindukan oppa?” aku memancingnya dengan pertanyaan itu.
“Mwo?” Ryeowook oppa tampak terkejut. Tampangnya lucu sekali. Sudah jelas ekspresinya menyiratkan bahwa ia tidak percaya aku bisa mengetahuinya.
“Aku memang tidak merindukanmu. Tapi lebih dari itu. Aku sangat merindukanmu. Saranghae, oppa.” Kataku pelan tapi mantap. Ryeowook semakin melongo. Seketika itu juga aku melihat wajahnya memerah. Ryeowook oppa malu! Ini pertama kalinya aku melihat wajah malu oppa.
“Kenapa oppa diam? Oppa tidak mencintaiku? Yah, sudahlah, berarti aku bertepuk sebelah tangan. Kkaja, lupakan saja. Aku mau lanjut makan.”
“Sa.. Saranghae, Hyun Mi.” Ryeowook oppa akhirnya mengatakannya. Aku pun menahan senyum.
“Mwo? Kau bilang apa tadi? Suaramu terlalu kecil, aku tidak mendengarnya.”
“Aishh.. Jinjja, Hyun Mi! Masa kau tidak mendengarnya?”
“Sama sekali tidak. Kau seperti berbisik.”
Ryeowook oppa menggaruk kepalanya dan menunduk salah tingkah.
“Ah, oppa ini payah sekali. Huh!” aku pura-pura marah.
“SARANGHAE, HYUN MI!” Ryeowook sedikit berteriak. Aku langsung tertawa.
“Tidak perlu berteriak seperti itu, aku tidak tuli.”
“Kau mengerjaiku ya?”
Aku memeletkan lidah. Ryeowook langsung menghampiriku dan mengelitik pinggangku. Aku terus memberontak karena geli, namun Ryeowook terlalu kuat memelukku sampai aku tidak bisa menghindar.
“Cukup, oppa! Ampun!!” teriakku.
Kami berdua tertawa bersama.
“Awas kau kalau mengerjaiku lagi. Aku akan memasak sayur yang banyak dan menyuruhmu makan semuanya!”
“Silahkan saja! Aku sudah terbiasa makan sayur.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.”
“Oh ya, oppa, kau tau, bekas kamarmu dulu sudah ditempati orang lain. Lihat, ini bekal makanan dari orang itu. Dia meletakkannya di meja depan kamarku karena aku belum pulang tadi. Tapi aneh sekali, ia tidak menulis namanya. Huh, padahal aku ingin oppa tinggal di sebelah kamarku lagi. Oh ya, oppa tinggal di mana sekarang? Biar aku bisa mengunjungimu kapan-kapan.”
“Kau bisa mengunjungiku setiap hari.”
“Mwo? Kau tinggal di dekat sini? Di mana?”
“Sebenarnya bekal itu dariku.”
“MWO??! Ini bekal dari oppa? Jadi oppa yang..”
“Ne. Aku yang tinggal di kamar sebelah. Lucu ya, ternyata belum ada yang membeli kamar itu. Jadi aku memutuskan untuk membelinya lagi.”
“Itu bukan lucu namanya. Tapi jodoh! Oppa dan aku memang ditakdirkan bersama.” Aku tersenyum. Ryeowook juga ikut tersenyum lalu mengusap rambutku dengan lembut.
“Saranghae, Hyun Mi..” Ryeowook mulai bisa mengungkapkan perasaannya. Aku senang sekali.
“Saranghaeyo, oppa..”


***THE END***

Tuesday, February 25, 2014

Cinta dan Hujan

Cinta itu seperti hujan.
Terlalu banyak akan menimbulkan bencana,
membuat kita terkungkung dan tak bisa keluar.
Terlalu sedikit akan membuat kita "haus" dan kekurangan.

Merdu suara gemericiknya menghanyutkan
Menyejukkan di tengah-tengah teriknya musim kemarau
Membuai kita yang bergelung di balik selimut hangat

Kadang angin kencang dan suara petir membuat kita terjaga.
Resah, gelisah, takut, dan waspada.
Namun hujan membuat kita percaya,
akan ada mentari dan pelangi sesudahnya..


Wednesday, February 19, 2014

Michael Learns To Rock - The Most Romantic Valentine Concert in Jakarta (19-02-2014)

Selamat siang, semuanya. Kali ini gue bakal ceritain tentang pengalaman pertama gue menghadiri konser salah satu band legendaris idola gue yang berasal dari Denmark! Yap, mereka adalah Michael Learns To Rock! Sebuah band yang sudah melegenda sejak gue lahir. MLTR punya 3 anggota, yaitu Jascha Richter, Mikkel Lentz, dan Kåre Wanscher.

Ehm, gue gak gitu inget sih sejak kapan tepatnya gue mulai suka sama mereka, yang pasti bukan sejak gue lahir. hehehe.. Kayaknya sih pas gue kelas 1 SMA deh, kebetulan gue entah disodorin sama siapa akhirnya dengerin salah satu lagu mereka. Dan gue juga gak gitu inget lagu pertama yang gue dengerin yang akhirnya membuat gue jatuh cinta (kayaknya sih That's Why You Go Away). Pertama kali gue denger lagu mereka, suaranya, musiknya, liriknya yang super romantis, bikin gue langsung suka, jatuh cinta. Dan akhirnya gue mulai mengumpulkan lagu-lagu mereka. Kebetulan temen kakak gue juga ada yang ngefans dan punya lagu-lagu mereka. Berhubung waktu itu gue masih gaptek banget dengan dunia internet, gue mengumpulkan lagu mereka bukan dengan download, tapi dengan minta ke temen kakak gue itu. Anyway, kakak gue juga fans berat mereka. :) Lagu-lagu yang bejibun itu gue masukin deh ke HP, jadi waktu itu HP gue sebagian besar adalah lagu-lagu MLTR. Gue sering banget denger lagu-lagu mereka sejak saat itu dan mulai menghafal liriknya. Semakin lama, kecintaan gue pada mereka semakin dalam. Gue dan kakak gue pun memutuskan membeli album mereka di toko kaset. Tapi yang namanya telat nge-fans, ya gak bisa dapetin semua album mereka. Budget kita juga terbatas. Akhirnya sampai sekarang, album MLTR yang kita punya cuma ada 4, Paint My Love (The Greatest Hits), 19 Love Ballads, Eternity, dan Scandinavia (album terakhir mereka). Saking ngefans nya juga, gue sampe cari-cari foto-foto mereka di internet, terutama foto Jascha, gue paling suka sama dia, secara dia itu lead vocal yang suaranya udah bikin gue jatuh cinta setengah mati! Hehe..

Gue sebenernya udah lama pengen banget ketemu sama mereka, terutama Jascha. Sampe-sampe gue edit foto gue bareng mereka. hehehe.. Kesempatan itu datang tahun lalu, mereka akhirnya datang ke Indonesia, yang akhirnya harus membuat gue gigit jari dan menahan kecewa, karena mereka mengadakan konser di kota lain, bukan di Jakarta. Gue pun merelakan keinginan gue itu untuk bertemu mereka. Tapi ternyata Tuhan memberikan kesempatan lagi. Tahun ini mereka datang lagi ke sini dan konser di Jakarta! Pertama kali gue baca artikel tentang mereka yang mau konser di Jakarta, secepat kilat gue langsung menghubungi kakak gue yang sekarang lagi nge-kos. Kami berdua begitu excited! Tanpa pikir panjang kami pun bertekad membeli tiketnya.

Tiket konser MLTR tahun ini terbagi menjadi 5 kelas: Diamond, Platinum, Gold, Silver, dan Bronze. Karena budget yang lagi-lagi terbatas, kami memutuskan untuk membeli tiket Silver. Sayangnya, limit kartu kredit kakak gue tidak mencukupi untuk membeli 2 tiket Silver. Mau pinjam bokap juga gak enak, karena begitu tahu kami mau nonton konser, bokap langsung gak excited, menceramahi gue dengan muka yang gak enak. Alhasil, kami tidak bisa berbuat apa-apa selain membeli tiket Bronze, berharap kami bisa mendapat setidaknya bangku barisan depan, sehingga bisa melihat MLTR lebih dekat.

Yap, hari yang dinantikan pun tiba! 19 Februari 2014. MLTR Romantic Valentine Concert akan diadakan hari itu! Gue janjian ketemu sama kakak gue di halte Transjakarta Sumber Waras jam 4 sore karena kami belum menukar e-voucher kami dengan tiket asli. Tepat jam 2 siang, gue berangkat ke Pulogadung naik mikrolet 31. Sampai Pulogadung kira-kira jam 3. Lalu gue lanjut naik Transjakarta ke Harmoni dan sampai pukul 15.30, langsung mendapat bus arah Kalideres, kemudian turun di Halte Sumber Waras. Jam menunjukkan pukul 15.40 ketika gue sampai. Mau gak mau gue mesti nunggu kakak gue 20 menit. Kakak gue sedikir terlambat, untungnya bus arah Lebak Bulus gak lama datangnya. Kami pun naik menuju Mal Gandaria City.

Pukul 17.00 lewat, kami sampai di Gandaria City, lalu langsung mencari tempat penukaran tiket. Karena sebelumnya gue udah telepon ke pihak penjual tiket, maka kami udah tau letaknya. Yep! Akhirnya kami dapat tiket asli MLTR nya!


Saat menukar tiket, kami shock saat mengetahui bahwa sistem tempat duduknya adalah Free Seating! Yah, mungkin sistem itu sudah diberitahu sebelumnya, tapi karena gue yang gak peka, gue baru tau saat itu. Kalau tau sistemnya free seating, kami bakal datang jauh lebih awal dan bisa mendapat tempat duduk paling depan. Setelah menukar tiket, kami gak langsung menuju antrian masuk hall, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu, karena konser ini kan pasti sampai malam, takut gak bisa makan lagi nanti. Kami pun makan di Pizza e Birra, memesan pizza The Naked Gun ukuran reguler dan Sausage Hangover. Selesai makan sekitar pukul 18.30, kami langsung capcus ke tempat antrian masuk hall dari lantai 2. Saat kami sampai, antrian belum begitu panjang (untuk ukuran antri konser). Kami lega, dan tidak sampai satu jam kami sudah memasuki Skenoo Hall di lantai 3. Sedikit beruntung karena kami mendapat kursi di barisan ketiga. Lumayan sih, daripada di barisan belakang.

Tepat jam 20.00, konser di mulai. Kami masih belum excited karena ada acara pembuka dari penyanyi Indonesia yang membawakan beberapa lagu sampai pukul 20.30. Setelah itu MC kembali muncul untuk membagikan hadiah album Scandinavia bagi 2 penonton yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.

Yang ditunggu-tunggu pun tiba! MLTR muncul, penonton langsung berteriak-teriak senang, termasuk gue. Lagu pertama yang mereka bawakan adalah Sleeping Child. Kami pun bernyanyi bersama-sama. Hampir semua lagu kesukaan kami dinyanyikan, seperti Paint My Love, That's Why You Go Away, Naked Like The Moon, Someday, Nothing To Lose, Blue Night, You Took My Heart Away, The Actor, Wild Women, Love Will Never Lie, Complicated Heart, Breaking My Heart, Out Of The Blue, It's Gonna Make Sense, Anyway You Want It, 25 Minutes, Take Me To Your Heart, Paint My Love, Romantic Balcony, I'm Gonna Be Around. Kalo ada lagu lain, gue gak inget deh, hehe.. Sayangnya lagu kesukaan gue, The Ghost Of You, gak dinyanyiin. :'(

Moment yang paling bikin gue iri dan teriak-teriak setengah mati adalah ketika Jascha membawa seikat bunga mawar dan turun panggung. Wah, enak banget tuh yang dapet duduk depan. Dan salah satu penonton akhirnya mendapatkan bunga itu. Beruntung banget!! Ternyata itulah adegan yang dijanjikan MLTR bahwa mereka akan menyajikan konser yang romantis. Kemudian saat Mikkel turun dari panggung, semuanya menjerit histeris, yang duduk di bagian depan pada bisa foto bersama. Ah, pokoknya bikin iri banget itu penonton depan! Hiks.. 

Selain moment yang bikin iri itu, ada juga moment yang paling gak bisa gue lupain, yaitu saat MLTR membawakan lagu 25 Minutes, kami semua langsung menjerit histeris, dan menyanyikan lagu itu bersama. Kemudian saat sampai di bagian chorus terakhir, Jascha memelankan musiknya, dan memberi kesempatan penonton untuk menyanyikan bagian itu secara serempak. Lalu Jascha pun mengacungkan 2 jempolnya. Dia pun mengatakan, "You're Awesome!" Wah, moment itu bener-bener bikin gue merasa bangga bisa menjadi salah satu fans dari band legendaris itu!

Sayangnya moment-moment berharga ini tidak bisa diabadikan dengan baik oleh kamera ponsel gue, maupun kamera ponsel kakak gue. Ponsel gue, kameranya tidak bisa di zoom, jadi gue harus pasrah gak bisa rekam dan foto dari jarak dekat. Semua rekaman dan foto gue kecil-kecil banget, MLTR nya hampir tidak terlihat. Layar proyektornya juga gak gede-gede banget. Sedangkan ponsel kakak gue, kalo buat rekam video tidak bisa fokus, kalau kameranya di zoom pun gak jernih hasilnya. Yah, beginilah nasib kami yang budgetnya terbatas, belum bisa membeli kamera pocket.

Berikut adalah beberapa hasil jepretan kami yang gak bisa dibilang bagus, tapi lumayan daripada foto-foto yang lain. :P







Kemudian ini waktu udah di penghujung acara. Sayangnya, gue gak sempet foto dengan latar ini. :'(

Konser pun selesai pada pukul 22.30. Sambil menunggu dijemput, gue foto-foto di banner yang ada di area hall. :)






Begitulah pengalaman pertama gue nonton konser band legendaris, Michael Learns To Rock! Intinya gue seneng banget bisa melihat mereka langsung, walaupun dari jauh. Walaupun agak menyesal membeli tiket Bronze, tapi bisa melihat mereka aja gue udah seneng. Next time, gue berharap mereka bakal dateng lagi ke sini, ke Jakarta, dan kalau saat itu datang (semoga), gue dan kakak gue udah bertekad membeli tiket di atas Bronze dan membeli kamera pocket. Pokoknya next time mesti dapet foto dengan kualitas yang oke! :)

See you, MLTR! 


Thursday, January 9, 2014

不止白馬王子 (More than Prince Charming)


Story type     : One Shoot
Chinese Title : 不止白馬王子
English Title  : More Than Prince Charming
Cast:   - Dean Fujioka
           - Lin Chen Xi

***

“Zhao bu dao ren shuo xin li de ji mo
Zhao bu dao ren dong pa hei de zhe mo
Zhao bu dao ming zhong zhu ding zai yi qi de na ge ren
Hen duo ren dou xiang wo, yi ge ren guo sheng huo
Ai zhe you jian dan bi hua
Que bi xiang xiang fu zha, hen an ding ai bian hua
Wo ai guo ji ge ren, ye bei ai guo ji bian
Que hai shi mei neng jiang xing fu liu xia
Ai shi bu ke shu de ma
Wei he wo hai xiang xin ta bu shi du xing xia
Wo zai deng yi ge ren, zai deng wo de yong heng
Gao su wo ai bu dan xing, bie hai pa.”
-Show Luo_Ai Bu Dan Xing-

“Chen Xi, qu kai men. You ren lai! (Buka pintu. Ada tamu!)” ibuku berteriak sangat kencang di saat aku sedang menikmati lagu-lagu kesukaanku di kamarku yang nyaman. Hari ini adalah hari Minggu, hari di saat aku berhak untuk beristirahat sejenak dari kepenatan setelah 5 hari bekerja. Tapi kenapa ibu tidak mau mengerti? Kenapa harus aku yang membuka pintu? Tidak bisakah ibu sendiri yang membukanya? Lagipula tamu itu pasti bukan untukku, entah tamu untuk ayah atau ibu. Teman-teman sekantorku bisa dibilang tidak mungkin datang ke rumahku karena rumah kami yang sangat berjauhan.

“Chen Xi!! Ibu sedang memasak, cepat turun dan buka pintu!” seolah menjawab pertanyaanku, ibu kembali berteriak, membuatku mau tak mau turun dari ranjangku dengan perasaan tidak rela dan mematikan player di atas meja.

“Iya, bu!!”

Aku pun keluar kamar dan sempat melihat ibu kembali ke dapur dengan tergesa-gesa. Memangnya ibu sedang  memasak apa? Biasanya setiap Minggu ibu tak pernah memasak dan kami sekeluarga akan makan di luar ataupun menggunakan jasa delivery.

Begitu pintu depan rumah kubuka, tampak seorang pria sedang memunggungiku dengan setelan kaos berkerah berwarna putih dan celana jeans. Dari potongan rambutnya yang sedikit panjang, aku langsung tau siapa yang datang.

“Qing jin. Wo qu jiao wo ba. (Masuk saja, biar kupanggilkan ayah).” Kataku singkat dan agak ketus.

Dean langsung membalikkan badannya. Detik berikutnya ia tersenyum manis padaku. Senyuman yang selalu kulihat setiap minggu akhir-akhir ini. Entah kenapa sejak 4 bulan yang lalu, Dean, salah satu rekan bisnis ayahku, selalu datang ke rumahku setiap akhir pekan untuk menemui ayah. Entah apa yang membuat mereka terlihat dekat, mengingat usia Dean yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Dan aku juga tak pernah tahu apa yang mereka bicarakan, yang pasti mereka akan menghabiskan waktu berbincang-bincang hingga sore tiba.

Aku sendiri tidak begitu suka dengan kehadiran Dean karena ia telah merusak hari tenangku di akhir pekan. Aku yang biasanya banyak berbincang-bincang dengan ayah di akhir pekan, akhir-akihir ini jadi berkurang sejak kehadiran Dean. Dan aku harus rela hanya dengan menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik di kamar.

Tapi sebenarnya.. Bukan hanya alasan itu saja yang membuatku tidak menyukai kedatangan Dean. Setiap kali aku melihat wajah Dean dan senyum manisnya yang kuakui cukup menawan, kadang membuat jantungku berdetak lebih cepat dan nafasku terasa lebih sesak, namun.. menenangkan. Aku tidak tau apa yang kurasakan dan aku tidak mau tau karena yang aku tau, ini pertanda buruk.

Bagi wanita biasa sepertiku yang selalu patah hati, menyukai seseorang adalah hal yang paling kuhindari. Aku tidak mau lagi jatuh di kubangan yang sama. Aku tidak mau lagi menyukai seseorang dan selalu berakhir dengan patah hati. Aku selalu berharap bisa menyukai seseorang dengan penampilan yang biasa saja, tapi hatiku selalu memilih pria dengan penampilan bak seorang pangeran berkuda putih dan itulah yang menyebabkan perjalanan cintaku tak pernah mulus. Entah karena pria itu sudah memiliki pacar, bahkan sudah punya istri, atau hanya karena ia tidak menyukaiku. Ya, pria tampan memang tak pernah ditakdirkan untukku.

Dean, adalah salah satu dari pria dengan wajah setampan pangeran berkuda putih, bahkan lebih indah dari itu. Darah Jepang dan Cina mengalir dalam tubuhnya, membuat wajah orientalnya tampak berbeda dengan pria kebanyakan. Dan itu berarti bencana bagiku! Aku harus menghindarinya, itulah keputusanku.

Dean mengangguk. Aku pun masuk ke dalam rumah diikuti Dean. Begitu aku hendak naik ke atas untuk memanggil ayah, tiba-tiba saja ayah sudah ada di hadapanku, membuatku sedikit terkejut.

“Chen Xi, buatkan minuman untuk Dean.” Kata ayah.

Aku mengernyit sebentar. Biasanya ibu yang menyuguhkan minuman untuk Dean. Lalu aku teringat bahwa ibu sedang memasak di dapur. Jadi mau tak mau aku mengangguk dan berjalan ke dapur. Tapi setelah beberapa langkah aku menepuk dahiku pelan, dan membalikkan tubuhku.

“Dean, ni yao he shen me (ingin minum apa)?” kataku lagi-lagi dengan nada yang sengaja kubuat tidak bersahabat.

“Teh manis hangat saja.” Katanya dengan senyuman yang lagi-lagi membuat jantungku berhenti berdetak.

Aku langsung mengabaikan perasaan itu dan kembali melangkah ke dapur. Kulihat ibuku sedang sibuk dengan penggorengan dan spatulanya.

“Ibu sedang masak apa sih? Tumben sekali hari Minggu begini ibu memasak.”

Ibu hanya menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Aku melihat ke dalam isi penggorengan dan melihat ibu yang ternyata sedang membuat mi goreng.

“Kenapa ibu memasak mi goreng?”

“Bukankah sudah tradisi jika ada yang berulang tahun, kita harus makan mi?” pertanyaan balik ibu membuatku mengernyit.

“Memangnya siapa yang ulang tahun?” aku kembali mengingat tanggal hari ini. Sepertinya hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari ulang tahun ayah ataupun ibu.

“Dean.” nama yang keluar dari mulut ibu itu membuatku tersentak.

“De.. Dean? Jin tian shi ta de sheng ri ma (Dia ulang tahun hari ini)?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa ia ke sini? Bukankah seharusnya ia merayakan ulang tahun bersama keluarganya?”

“Orang tuanya tinggal di Jepang. Ia di sini sendirian. Makanya ayah menyuruhnya datang untuk makan bersama.”

“Oh.” Hanya itu yang kuucapkan. Jadi hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kasihan juga ia tinggal sendiri di sini.

“Hei, kau ke dapur untuk apa?” tanya ibuku.

“Oh iya, hampir saja lupa. Aku mau membuatkan teh untuk Dean.”

Aku segera menyiapkan kantong teh dan membuatkan teh manis hangat untuk Dean. Setelah selesai membuat teh, aku melangkah keluar dari dapur dan segera meletakkan teh itu di atas meja ruang tamu. Aku menatap Dean sekilas yang sepertinya sedang membicarakan masalah bisnis dengan ayah. Aku menimbang sejenak, apa seharusnya aku mengucapkan selamat ulang tahun? Biar bagaimanapun, aku sudah mengetahui hal ini, jadi sudah seharusnya aku mengucapkan selamat, kan? Tapi melihat Dean yang sedang asyik berbincang, aku pun memilih diam dan membantu ibu menyiapkan makan siang di dapur.
...

Makan siang hari ini adalah makan siang paling membosankan yang pernah aku alami. Bagaimana tidak? Sepanjang makan siang, ayah, ibu, dan Dean terus saja bercerita, cerita yang tak pernah bisa kupahami karena itu menyangkut bisnis ayah di kantor. Dan aku hanya bisa terus mengunyah, berharap makanan di atas piringku cepat habis. Begitu piringku kosong, aku segera membawa piringku ke dapur dan mencucinya. Dan tanpa permisi, aku langsung naik ke atas untuk kembali mendengarkan lagu-lagu favoritku, sementara mereka masih saja asyik bercanda tawa. Lama-lama aku jadi merasa mempunyai seorang kakak, dan aku adalah adik tiri yang diabaikan.

Kali ini aku memutuskan untuk mendengarkan lagu di balkon lantai atas rumahku. Mengurung diri di dalam kamar juga lama-lama membuatku bosan. Lebih baik aku mencoba keluar dan menikmati angin siang yang tampak damai. Aku mengambil mp3 dan headset dari kamarku, lalu berjalan ke balkon dan duduk di salah satu kursi. Balkon ini salah satu tempat favoritku dan ayah untuk berbincang-bincang atau bermain monopoli.

Aku pun mulai memasang headset di telingaku dan menikmati setiap lantunan lagu. Semakin lama kesadaranku semakin memudar. Aku hampir tertidur pulas saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat menempel di keningku sekilas. Seperti sebuah kecupan yang biasanya ibu berikan padaku sebelum tidur. Tapi ini terasa berbeda. Aku mencoba membangunkan diriku sendiri. Tapi karena aku sudah terlanjur mengantuk, aku kembali tertidur, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya bagian dari mimpiku.

Entah berapa lama aku tertidur, saat kubuka mataku, lagu dari mp3-ku masih melantun, langit sudah berubah menjadi sedikit teduh, mungkin sudah hampir sore.

“Ni qi lai le ba (Kau sudah bangun)?” suara itu membuatku tersentak dan menoleh ke sampingku. Jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya saat menemukan Dean sedang duduk di kursi sebelahku, menatapku, dan tersenyum.

“De.. Dean? Ni zen me zai zhe’r (Kenapa kau ada di sini)?”

“Wo deng ni qi lai (Aku menunggumu bangun).” Katanya.

“Hah? Untuk apa? Bukankah kau biasanya berbincang-bincang dengan ayah?”

“Jin tian wo yao dai ni qu zou zou. (Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan). Di sekitar sini saja.”

“Qu zou zou (Jalan-jalan)?”

“Shi. Ni yao ma (Ya. Kau mau)?”

Tentu saja aku mau! Aku berteriak dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah “Ke yi (Boleh).” yang tentunya dengan nada datar. Kadang hati dan mulut memang tidak sejalan, atau memang aku yang sengaja membuatnya tidak sejalan karena aku tau aku tidak boleh menyukai pria dengan jenis seperti ini.

Dean memilih untuk menaiki sepeda untuk berjalan-jalan di sekitar komplek perumahan tempat tinggalku. Kebetulan aku memang punya sepeda yang sering kugunakan untuk pergi berbelanja di minimarket dekat rumahku. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat duduk di belakang Dean. Hatiku benar-benar berdebar-debar, rasanya ingin melompat keluar. Punggung Dean yang lebar dan bidang membuatku ingin sekali menyandarkan kepalaku di sana. Aroma tubuhnya yang lembut membuat hidungku terbuai. Namun lagi-lagi kutepis pikiran gilaku ini dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh membiarkan perasaan ini terus bertumbuh.

Jalanan yang sedikit berbatu membuatku oleng berkali-kali. Ingin rasanya aku memeluk pinggang Dean, tapi aku tau aku tidak bisa melakukannya. Jadi aku memilih untuk mencengkeram sedikit bagian dari kursi boncengan yang terbuat dari besi, membuat tanganku agak sakit.

Dean menghentikan sepeda saat kami tiba di sebuah taman.

“Turunlah.” Katanya.

Aku pun turun dari sepeda dan melihat ke tanganku yang memerah sekilas.

“Untuk apa kita ke sini?” tanyaku.

“Hanya sekedar menikmati pemandangan. Kau pasti bosan di rumah kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung melangkah menuju ayunan, mainan favoritku di taman ini. Dean menyusulku. Sebelum aku sempat mengayunkan ayunanku, ia berjongkok di hadapanku sehingga pandangan mata kami sejajar, membuatku terkejut dan bingung.

“Perlihatkan tanganmu.” Katanya.

“Shen me (Apa)?”

“Kubilang, perlihatkan tanganmu.” Nada suaranya terdengar tegas namun lembut, membuatku mengarahkan tanganku padanya.

Dengan cepat ia membalikkan telapak tanganku sehingga tampaklah telapak tanganku yang memerah karena cengkeramanku pada besi boncengan sepeda tadi.

“Kau tidak perlu membuat tanganmu seperti ini.” Katanya sambil mengelus telapak tanganku. Ada rasa hangat yang mengalir dari sana. Aku hanya bisa diam. Menikmati setiap sentuhan tangannya. “Kau bisa memeluk pinggangku lain kali. Lebih aman.” Katanya sambil tersenyum padaku. Aku tidak tau lagi harus berbuat atau berkata apa. Pikiranku kosong, seperti terhipnotis oleh setiap kata, sentuhan, dan senyumannya.

“Sheng ri kuai le (Selamat ulang tahun).” Hanya itu kalimat yang terlintas di otakku, mengingat bahwa aku belum mengucapkan selamat padanya.

“Xie xie (Terima kasih). Kau tidak ingin memberikanku hadiah?”

“Li wu (Hadiah)? Ni yao shen me li wu ne (Memangnya kau mau hadiah apa)?”

“Ni (Kau).”

“Hah?”

“Chen Xi, ni xiang cheng wei wo de nǚ peng you ma (kau mau jadi pacarku)?”

Saat itu juga aku melongo, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“A.. Apa?”

“Aku tau kedatanganku membuatmu tidak nyaman selama 4 bulan ini. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu, walaupun hanya memandang wajahmu yang selalu cemberut saat menatapku. Aku minta maaf karena sudah merusak akhir pekanmu setiap minggu. Aku..”

“Ni shi zhen de ma (Kau serius)?” aku memotong ucapannya.

“Apa?”

“Ni shuo de, shi zhen de ma (Kau serius dengan perkataanmu itu)?”

“Da.. Dang ran ah~ (Te.. Tentu saja.)”

“Ke shi (Tapi).. kau ini punya wajah yang tampan, melebihi pangeran berkuda putih.” Kata-kataku mulai terdengar kacau.

“Ran hou ne (Lalu)?” Dean menatapku bingung.

“Ni bu ke neng xi huan wo (Kau tak mungkin menyukaiku). Ma.. Maksudku, aku tidak mungkin disukai oleh pria tampan sepertimu. Maksudku.. aku selalu patah hati setiap kali menyukai seseorang, dan.. pria yang kusukai selalu memiliki wajah yang tampan. Dan kau.. kau bahkan memiliki wajah lebih tampan daripada pangeran berkuda putih. Kau.. Kau mengerti maksudku, kan? Jadi, tolong bangunkan aku dari mimpi indah ini, cubit aku, pukul aku agar terbangun..” aku mulai meracau.

Tapi bukannya mencubit atau memukulku, Dean malah menarik kepalaku dengan lembut dan mencium keningku. Seketika itu juga kehangatan mulai menjalari tubuhku. Ciuman di keningku saat ini, sama persis dengan yang tadi siang kurasakan saat sedang setengah tertidur. Apakah mungkin yang tadi menciumku adalah Dean? Dan kehangatan ini, bukankah sudah menunjukkan bahwa aku tidak bermimpi?

Begitu Dean menjauhkan bibirnya dari keningku, ia memandangku dengan lembut dan tersenyum.

“Apa sekarang kau masih belum yakin bahwa ini nyata? Chen Xi, wo zhen de xi huan ni (aku benar-benar menyukaimu). Sejak pertama kali aku melihatmu saat aku mengunjungi rumahmu 4 bulan yang lalu. Yah, walaupun kau tak pernah menyukai keberadaanku.”

“Wo xi huan (Aku suka)!”

“Hah?”

“Sebenarnya aku suka kau datang. Aku.. Aku bukannya tidak suka. Aku selalu menghindarimu karena aku selalu berdebar-debar saat melihatmu. Aku selalu berusaha memadamkan perasaanku ini karena.. karena aku pikir.. aku tidak seharusnya menyukai seorang pria tampan lagi.” Aku mulai berkaca-kaca.

Dean menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau tak perlu memadamkan perasaanmu, Chen Xi, karena aku pun memiliki perasaan yang sama denganmu.”

Aku mengangguk dalam pelukannya. Air mataku menetes karena terharu, tidak percaya bahwa Tuhan akan sebaik ini padaku. Aku selalu patah hati setiap kali menyukai seorang pria tampan, tapi Tuhan malah memberiku seorang pria yang bahkan jauh melebihi kata tampan. Bahkan Dean adalah sosok yang baik dan romantis. Buktinya, ia bisa dekat dengan ayahku yang umurnya berbeda jauh dengan Dean. Itu berarti ada sisi baik dari Dean yang disukai ayah.

“Dean, tadi siang, aku bermimpi.” Kataku. “Aku bermimpi ada seseorang yang mencium keningku. Seperti yang kau lakukan tadi.”

“Kau merasakannya?”

Aku mengangguk.

“Itu bukan mimpi.” Aku pun tersenyum, sudah menduga bahwa ciuman tadi siang memang terlalu nyata untuk bisa dikatakan mimpi.

“Kau tau, aku tidak akan pernah berani mengajakmu keluar tanpa izin ayahmu.” Dean kembali berkata.

Aku melepaskan pelukanku dan menatap Dean.

“Maksudmu, ayah sudah mengizinkanmu mengajakku keluar?”

Dean menggeleng.

“Lalu?”

“Ayahmu.. sudah merestuiku untuk menjadi calon menantunya.”

Aku terbelalak. “Zhen de ma (Benarkah)?”

Dean mengangguk dan tersenyum. Aku pun memeluknya dengan erat. Ini adalah hari paling indah seumur hidupku. Dan kehidupan indah ini akan terus berlanjut selamanya. Aku yakin itu.

“Ting zhe na shi jian di da de zhou
Dui jie de ni zai dian tou
Hao xiang yi ge meng jian jian zou dao wo qian tou
Hao xiang zhi dao ni de yi bai fen hui gei zen yang de ren
Qin’ai de ni, bu yao zai mo sheng, zheng jia wo xi fen
Wo xiang wen qin’ai de ni,
Ba gan qing sheng deng peng you bian cheng qing ren
Ke bu ke yi gao su wo biao zhun
Bu yao rang wo yi zhi deng”
-Rainie Yang_Li Xiang Qing Ren-

***END***