Showing posts with label Fan Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fan Fiction. Show all posts

Friday, November 28, 2014

幸福在妳身邊 - Wishing for Happiness [PART 1]


Cast:
- Chen Nai Rong (Nylon Chen) as Fang Wei Qi
- Wei Man (Mandy Wei) as Chen Xie Li

Sore itu angin berhembus cukup kencang. Dedaunan kering di jalanan beterbangan, menimbulkan suara gesekan pada jalanan aspal. Suasana di jalan kecil pertengahan kota sudah mulai sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain di luar. Seorang gadis merapatkan cardigan berwarna pink pucat di tubuhnya. Rambut sebahu yang tergerai dengan poni rata di dahinya beterbangan, membuatnya tampak kacau. Namun gadis itu tidak repot-repot untuk merapikannya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah mempercepat langkahnya untuk bisa segera sampai di kamar apartemennya.

"Xie Li xiao jie, ni hui lai le."

Gadis bercardigan pink pucat yang bernama Chen Xie Li itu tersenyum dan mengangguk kecil pada Paman Wang, salah satu petugas keamanan di apartemen tempat ia tinggal saat ini. Sebenarnya dibilang apartemen, bangunan ini lebih cocok disebut sebagai wisma. Tapi entah mengapa pengelola gedung ini justru menamai tempat ini Bougenville Apartment. Sebenarnya Chen Xie Li bisa saja tinggal bersama orang tuanya, tapi ia berkeras ingin hidup mandiri dengan tinggal terpisah dengan orang tuanya dan memilih membuka usaha penyewaan buku di sebuah toko kecil dekat apartemennya. Sebagai pekerjaan sampingan, setiap tiga kali seminggu, Chen Xie Li akan pergi ke sanggar ballet pada sore hari untuk mengajar. Selain gemar membaca buku, Xie Li juga senang menari ballet sejak kecil. Hanya saja karena sebuah insiden kecil yang mengakibatkan tulang pergelangan kakinya terluka, maka Xie Li harus mengubur impiannya menjadi seorang ballerina.

"Selamat sore, Paman Wang." kata Xie Li pelan seraya melangkahkan kakinya menuju pintu lobby apartemen. Paman Wang memandang Xie Li dengan kernyitan di dahinya. Ada yang lain dengan Xie Li sore ini. Tadi pagi Xie Li masih menampakkan wajah ceria. Xie Li memang tipe seorang gadis yang selalu ceria dan tersenyum lebar. Seakan hidupnya tidak cukup sulit untuk bisa membuatnya bersedih bahkan sedetik pun. Namun sore ini, Xie Li tampak berbeda. Sangat berbeda. Ada mendung yang tersirat dalam mata dan wajahnya. Paman Wang yang cukup akrab dengan Xie Li karena gadis itu sudah tinggal di sana selama 4 tahun bisa membacanya dengan jelas.

"Selamat sore, Paman Wang!" belum selesai Paman Wang memikirkan perubahan Xie Li, seorang pemuda menepuk pelan bahunya. Ia langsung tersenyum lebar mengetahui siapa yang menyapanya. Satu lagi penghuni apartemen favoritnya. Seorang pria muda berusia 27 tahun bernama Fang Wei Qi juga memiliki sifat yang menyenangkan. Dia memang tidak seceria Chen Xie Li, namun pembawaannya yang selalu bersemangat dan optimis membuat pria itu begitu mudah disukai oleh siapa saja.

"Ah, Fang Wei Qi xian sheng. Kapan buku barumu terbit lagi? Aku sudah tidak sabar untuk membacanya."
"Paman Wang harus membelinya, jangan membaca gratisan terus."
"Kau ini bagaimana? Kau kan tau aku ini orang yang kurang mampu. Masa kau tega menyuruhku membeli novelmu yang mahal itu hanya demi kesenangan pribadi? Mumpung ada novelis terkenal sepertimu yang tinggal di apartemen ini, kenapa tidak kumanfaatkan saja?"
"Hahahaha.." Mereka berdua tertawa. Paman Wang memang suka bercanda. Tidak hanya kepada Fang Wei Qi, tapi juga hampir kepada seluruh penghuni apartemen.
"Masih lama, paman. Aku baru akan memikirkan ide ceritanya."
"Jangan lama-lama mencari idenya ya. Aku sungguh sudah tidak sabar. Buku-bukumu itu sangat bagus. Aku sampai terhanyut membacanya."
"Terima kasih." kata Fang Wei Qi seraya mengusap bagian belakang lehernya pertanda salah tingkah.

Walaupun sudah sering dipuji sebagai novelis handal, namun Fang Wei Qi masih belum terbiasa dengan pujian terang-terangan seperti ini. Lagipula yang mengetahui bahwa Fang Wei Qi adalah seorang novelis hanyalah segelintir orang yang dekat dengannya karena ia menggunakan nama pena untuk setiap karyanya dan tidak ingin fotonya dipublikasi.

"Kalau begitu, saya masuk dulu, Paman Wang."
"Ya, silahkan."

Dengan langkah tergesa-gesa, Fang Wei Qi memasuki pintu lobby apartemen. Paman Wang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fang Wei Qi. Siapa bilang semua pria tampan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi? Paman Wang tahu alasan Fang Wei Qi melangkah dengan tergesa-gesa seperti itu. Juga alasan Fang Wei Qi selalu pulang ke apartemen bertepatan dengan kepulangan Chen Xie Li. Ya, tak lain dan tak bukan adalah karena Fang Wei Qi menyukai Chen Xie Li. Ia tidak tahu kapan persisnya Fang Wei Qi mulai menyukai Chen Xie Li, tapi yang ia tahu, Fang Wei Qi selalu menatap Chen Xie Li seperti menatap sebuah berlian cantik dan mahal yang tidak bisa ia beli karena tidak punya cukup uang.

Fang Wei Qi sebenarnya punya peluang besar untuk mendapatkan hati Chen Xie Li, kalau saja Chen Xie Li tidak memiliki kekasih. Terkadang kekasihnya itu datang untuk menjemput Chen Xie Li berangkat kerja. Jangan ditanya bagaimana ekspresi Chen Xie Li setiap kali bertemu dengan kekasihnya. Wajahnya begitu cerah, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, dan matanya tampak bersinar. Sangat terlihat bahwa Chen Xie Li sangat mencintai kekasihnya itu. Namun hari ini sinar di mata Chen Xie Li meredup. Paman Wang tidak ingin menduga hal-hal yang belum pasti. Tapi sedikit banyak ia berharap hal ini ada hubungannya dengan kekasih Chen Xie Li. Sejujurnya Paman Wang sendiri tidak begitu menyukai kekasih Chen Xie Li. Entah mengapa, tapi ia merasa kekasih gadis itu tidak mencintai Chen Xie Li dengan tulus.
***
Sesaat sebelum Chen Xie Li menutup pintu lobby apartemen, Fang Wei Qi menahannya. Chen Xie Li sedikit terkejut tapi ia hanya tersenyum kaku dan melepaskan pegangannya pada pintu. Chen Xie Li memutar tubuhnya dan melangkah ke dalam apartemen. Fang Wei Qi mengernyitkan dahinya melihat reaksi Chen Xie Li yang tidak seperti biasanya. Ternyata bukan hanya Paman Wang saja yang merasakan keanehan itu. Fang Wei Qi pun sama. Biasanya saat mereka berpapasan seperti itu, Chen Xie Li akan tersenyum lebar dan membukakan pintu itu untuk Fang Wei Qi. Meskipun setelah itu mereka tidak lagi saling bertegur sapa, setidaknya Fang Wei Qi tahu, Chen Xie Li adalah orang yang ceria dengan senyuman lebarnya itu. Tapi hari ini ia tampak berbeda. Senyuman yang baru saja ditujukan padanya begitu kaku, juga tak ada binar cahaya di mata Chen Xie Li.

Sambil perlahan mengikuti langkah Chen Xie Li menuju elevator, Fang Wei Qi tak henti-hentinya mengamati Chen Xie Li. Gadis itu terus menunduk. Tidak bergeming. Hingga pintu elevator terbuka dan mereka melangkah masuk. Chen Xie Li menekan tombol 4, sedangkan Fang Wei  Qi  menekan tombol 3. Suasana sunyi di dalam elevator pun terasa berbeda. Biasanya kesunyian ini masih terasa indah bagi Fang Wei Qi. Tapi melihat wajah mendung Xie Li, kesunyian kali ini sungguh terasa hampa. Tidak ada sinar, tidak ada cahaya, tidak ada senyuman Xie Li yang bisa membuat hatinya hangat.

Elevator berhenti di lantai tiga dengan sebuah dentingan halus. Fang Wei Qi masih bergeming di tempatnya saat pintu elevator terbuka. Pikirannya masih terfokus pada Chen Xie Li.

"Sudah sampai di lantaimu." suara Chen Xie Li membuat Fang Wei Qi tersentak. Ia tidak tahu apakah harus senang atau sedih mendengar suara itu. Bisa dibilang ini kalimat pertama yang diucapkan Chen Xie Li padanya. Tapi kalimat yang dilontarkan padanya terdengar datar dan suram. Ia bahkan tidak menolehkan kepalanya pada Fang Wei Qi.

"Y.. Ya."

Dengan berat hati Fang Wei Qi melangkah keluar. Ia pun kemudian memutar tubuhnya kembali dan menatap Chen Xie Li yang masih ada di dalam elevator. Gadis itu masih menunduk. Dan... apakah Fang Wei Qi tidak salah lihat? Tampak segulir air mata mengalir di pipi Chen Xie Li. Apakah benar itu air mata? Sebelum sempat melihatnya lebih jelas, pintu elevator perlahan menutup, mengantar Xie Li ke lantai 4, kamar apartemennya.

Chen Xie Li... Apa yang terjadi? Siapa yang berani membuatmu bersedih seperti itu? Sebuah amarah dan kesedihan muncul di dalam hati Fang Wei Qi. Keinginan untuk memeluk dan menghibur gadis itu pun terasa sangat kuat. Namun ia sadar tak bisa melakukannya. Ia bukan siapa-siapa, hanya sesama penghuni apartemen.

Fang Wei Qi berbalik dan melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar apartemennya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya.

"Chen Xie Li, apa yang sedang kau lakukan di atas sana? Apa kau sedang menangis?"
"Jangan bersedih, Chen Xie Li. Aku ingin kau terus tersenyum."

Fang Wei Qi terus melontarkan kalimat-kalimat keresahannya. Seandainya penghuni kamar yang terletak tepat di atas kamarnya itu bisa mendengar isi hatinya. Fang Wei Qi memang sengaja menyewa kamar itu setelah tahu letak kamar Chen Xie Li agar ia bisa tidur nyenyak sambil menatap langit-langit kamarnya dengan membayangkan bahwa di atas sana, Chen Xie Li sedang melakukan hal yang sama. 

Namun sepertinya malam ini Fang Wei Qi tidak akan bisa tidur nyenyak. Air mata yang mengalir di pipi Chen Xie Li tadi masih terekam jelas dalam benaknya.
***
Chen Xie Li menutup pelan pintu apartemennya. Tanpa bisa ditahan lagi seketika itu juga kakinya terasa lunglai. Chen Xie Li terduduk di lantai kamarnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir deras begitu saja tanpa bisa dihentikan. Chen Xie Li terus membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, berusaha agar isakan tangisnya tidak terdengar sampai luar. Biarpun ia tinggal di apartemen, tapi setiap kamar hanya dibatasi tembok biasa. Tidak ada fasilitas mewah seperti peredam suara di dindingnya. Tangisan yang tertahan itu membuat nafas Chen Xie Li kian sesak, begitu pula dengan hatinya.

Perlahan Chen Xie Li membangunkan tubuhnya lalu merangkak naik ke atas tempat tidur. Diambilnya bantal bersarung putih miliknya lalu dibenamkan wajahnya pada bantal tersebut. Perlahan isak tangisnya menjadi kencang dan berubah menjadi sebuah teriakan. Namun berkat bantal yang dipeluknya, suara tangisan itu teredam sempurna. Kini Chen Xie Li bebas mengeluarkan tangisannya. Suara tangis nan pilu itu hanya memenuhi kamar Chen Xie Li yang gelap...

...TO BE CONTINUED

Tuesday, September 23, 2014

這樣的幸福剛剛好 (Zhe Yang Xing Fu Gang Gang Hao - This Kind of Happiness is Enough) - Short Story

“Ya Lun, wo xi huan ni (Aku menyukaimu)!” aku memejamkan mata saat meneriakkan kalimat itu. Lalu kubuka mataku untuk melihat reaksi Ya Lun. Sembari membubuhkan tanda tangan pada album terbarunya, ia menatapku dan tersenyum. Ya, senyum itulah yang membuatku tidak bisa tidur setiap malam selama 5 tahun belakangan ini. Senyuman yang sangat kurindukan.
Xie Xie (Terima kasih).” Katanya.
Aku mengerjapkan mataku. Terima kasih? Oh, bukan itu yang ingin kudengar. Aku tidak perlu ucapan terima kasihnya. Aku perlu jawaban. Tapi setelah berpikir bahwa di mata Ya Lun, hubunganku dan dia hanyalah sebatas idola dan penggemarnya, aku lantas kecewa dan menggelengkan kepalaku.
Bu shi! Wo xi huan ni! Zhen de xi huan ni. (Bukan! Aku menyukaimu! Benar-benar menyukaimu!)” Bagus! Kini aku terlihat seperti orang yang keras kepala dan tidak tahu malu. Sementara Ya Lun mengernyit bingung, namun senyuman belum lepas dari wajahnya.
“Ya Lun, ni ji de wo ma? (Kau ingat padaku tidak?)” tanyaku, masih tidak mau kalah.
Kernyit di dahi Ya Lun semakin dalam. Aku sadar aku telah melakukan hal bodoh. Kejadian antara aku dan Ya Lun sudah lama terjadi dan tidak bisa dikatakan sebagai sebuah peristiwa yang besar. Setidaknya untuk Ya Lun. Tapi bagiku, kejadian tersebut berdampak besar bagiku, terutama hatiku.
Xiao jie, ni de zhuan ji (Nona, ini albummu).” Kata salah satu staff sambil menyerahkan album yang telah ditandatangani Ya Lun padaku. Aku terpaksa mengalihkan perhatianku dan mengambil album tersebut.
Wo xi huan ni (Aku menyukaimu).” Kataku lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih serius.
“Oh, Xie xie.” Lagi-lagi ucapan terima kasih yang kudapat. Aku menghela nafas kecewa lalu berbalik pergi sebelum penggemar lain mendecak sebal karena aku menghalangi mereka untuk segera bertatap muka dengan Ya Lun.
Sementara Ya Lun kembali sibuk menyapa dan memberi tandatangan, aku masih menatapnya dari kejauhan. Kalau perlu sampai acara ini selesai.
Aku kembali mengulang kejadian antara diriku dengan Ya Lun. Sekitar lima tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku SMP.

“Hei, kau jangan kegenitan ya! Dong Xun itu pacarku! Jangan berani kau mendekatinya! Memangnya kau pikir kau ini siapa? Hanya gadis miskin tak tahu diri yang nyasar di sekolah kami!”
Aku terdiam saat dipojokkan oleh senior di sekolahku. Begitu bel pulang sekolah berbunyi dan aku melangkah keluar kelas, dua orang seniorku segera menyeretku keluar sekolah. Aku dibawa ke sebuah lapangan kosong yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Di sana sudah menunggu seorang siswi senior cantik yang tentunya sangat populer di sekolah bernama Vivian. Aku hampir tidak percaya bahwa sekarang akulah yang akan jadi korban penindasan mereka. Aku memang pernah mendengar betapa sadisnya senior cantik yang satu ini. Kata murid-murid yang lain, jangan pernah mendekati pacar Vivian jika tidak mau celaka. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa pacar Vivian yang dimaksud adalah Dong Xun, ketua klub sastra yang keren itu. Aku sudah jatuh cinta pada dunia sastra sejak kecil sehingga aku sangat senang saat mengetahui di sekolahku ini ada sebuah klub sastra, dan menjadi semakin semangat setelah bertemu dengan Dong Xun sebagai ketuanya. Dong Xun adalah orang yang sangat baik. Ia sering membantuku jika aku mengalami kesulitan, juga memberikan ilmu-ilmu sastra yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Aku senang dengan cara Dong Xun bercerita. Pembawaannya yang ceria membuatku ikut larut dalam setiap ucapannya. Senyumnya yang manis pun terkadang mampu membuat jantungku berdebar-debar.
“Kenapa kau diam saja? Kau tuli?!” Vivian mulai membentak, membuatku terkejut.
“A.. Aku tidak tahu.”
“Tidak tahu? Kau tidak tahu Dong Xun itu pacarku? Hah! Kau memang benar-benar kurang pergaulan! Tidak pantas sekolah di tempat kami! Sebaiknya kau keluar saja! Jangan membuat sekolah kami kotor!”
Vivian kemudian mendorongku hingga jatuh. Aku meringis kesakitan.
“Hey!” Tepat saat aku terjatuh, sebuah suara terdengar dari kejauhan. Kami menoleh bersamaan dan melihat seorang pemuda sedang berlari menghampiri kami.
“Siapa kau?” tanya Vivian dengan nada dingin. Sementara pemuda tersebut sudah berdiri di depanku yang masih terduduk di atas tanah.
“Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Kalian tidak pantas melakukan penindasan seperti ini.” Kata pemuda itu dengan tegas.
“Kami tidak menindasnya. Dia yang mulai mencari masalah dengan kami.” Vivian tidak mau disalahkan.
“Bukan begini caranya. Pergi sekarang juga! Atau akan kulapor polisi atas tindakan penganiayaan.”
Wajah Vivian tampak sedikit pucat. Tapi ia masih berusaha bersikap tenang.
“Serius sekali. Kami kan hanya main-main.” Setelah mengatakan hal itu, Vivian mengajak dua temannya untuk pergi  meninggalkan lapangan.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya padaku. Dengan sedikit ragu aku mengulurkan tanganku dan berdiri. Pantatku masih sedikit sakit tapi kutahan.
“Terima kasih.” Kataku.
“Sama-sama.” Pemuda itu tersenyum padaku. Entah bagaimana caranya senyuman itu langsung tertanam di otakku. Menjalar ke seluruh tubuhku dan berujung pada jantungku yang berdebar kencang. Debaran ini bahkan melebihi debaran saat aku sedang memandangi Dong Xun. Dan debaran ini berbeda. Ia memberikan kehangatan di hatiku.
“Kau harus kuat, jangan mau ditindas seperti itu.” Katanya lagi. Refleks aku menganggukkan kepalaku.
“Bagus.” Katanya lalu menepuk pelan kepalaku. Kakiku lemas seketika. Sentuhan tangannya di kepalaku entah mengapa membuatku lumpuh. Kalau saja aku tidak tahu malu, aku pasti sudah terduduk lemas. Tapi aku berusah untuk tetap menjaga keseimbangan tubuhku.
Wo shi Ya Lun. (Namaku Ya Lun). Kau?” Pemuda bernama Ya Lun itu mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman.
“Mei Ling.” Aku membalas jabatan tangannya. Hangat. Rasanya aku tidak ingin melepaskannya. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Tapi apakah ini cinta? Aku sendiri belum paham benar.
“Kau mau minta tanda tanganku?”
“Hah?” Aku mengernyit atas pertanyaan anehnya.
“Hahaha.. Kai wan xiao de la (Aku bercanda). Siapa tahu nanti aku jadi terkenal, kau akan sulit untuk mendapatkan tanda tanganku.”
Aku tertawa kecil mendengar gurauannya. Kami pun akhirnya berpisah begitu saja. Tidak saling bertukar e-mail atau nomor ponsel. Dan aku terlalu sibuk dengan debaran jantungku sehingga tidak terpikir untuk memintanya.

Siapa sangka, gurauannya menjadi kenyataan. Lihatlah ia sekarang. Menjadi aktor dan penyanyi terkenal di Asia. Ini pertama kalinya aku bisa hadir di acara tanda tangan Ya Lun, bertatap muka lagi untuk kedua kalinya. Berharap ia menyapa dan menanyakan kabarku. Tapi mengingatku saja tidak. Mungkin baginya, kejadian kecil itu tidak berarti. Hanya sepotong kejadian tak penting yang kebetulan terselip dalam perjalanan hidupnya.
Aku kecewa, tentu saja. Aku sudah berharap banyak. Aku dengan pikiran bodohku. Artis se-terkenal Ya Lun mana mungkin ingat dengan kejadian itu. Siapalah diriku ini? Hanya satu dari sekian banyak penggemar, tak lebih dari seekor kutu sekalipun, yang bermimpi bahwa seorang Ya Lun akan mengingatku hanya dari sepotong kisah tak berarti.
Ya Lun kembali tersenyum pada penggemarnya. Senyum yang dulu kupikir hanya untukku dan tertanam di benakku seorang, kini sudah menjadi milik publik. Tapi sepotong kisah itu telah menjadi kenangan tersendiri untukku. Kenangan indah yang hanya melibatkan aku dan Ya Lun seorang, meskipun ia tidak mengingatnya.
Tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya.” Ucapku dalam hati, mencoba menghibur diriku sendiri. Ya, hanya dengan melihat senyuman itu sekali lagi saja, sudah cukup membuatku bahagia.

***

Saturday, May 31, 2014

Love Food (Fan Fiction)

Type: One Shoot
Cast: Kim Ryeowook, Han Hyun Mi, Eun Hyuk
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku melirik jam tanganku, sudah jam 10 malam dan aku masih berada di bus menuju tempat tinggalku di sebuah wisma. Aku tinggal sendirian di wisma itu karena orang tuaku tinggal di kota lain. Hari ini kerjaan kantor sangat banyak sehingga aku harus lembur sampai jam 9 malam. Aku bahkan belum makan sejak siang karena tidak sempat. Begitu pulang, mungkin aku akan masak mie instan saja, itupun kalau sempat.
Begitu sampai gang dekat wisma, aku turun dari bus. Dengan cepat aku berlari ke dalam gang dan sampai di wisma. Aku benar-benar sangat kelaparan. Setelah menginjak lantai kedua dan melewati beberapa kamar, aku langsung mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar. Lampu depan langsung menyala otomatis. Wisma ini memang tidak terlalu besar, harganya pun terjangkau, namun aku sangat nyaman dan betah tinggal di sini.
Aku memasuki kamarku dan mengernyit heran. Mengapa lampu dalam menyala? Ah, mungkin karena Ryewook oppa lupa mematikan lampu. Ini namanya pemborosan, aku menggerutu dalam hati. Ryeowook oppa adalah senior sekaligus teman dekatku sejak SMA. Dia memang suka seenaknya memasuki wisma-ku hanya untuk menyiapkan makan malam untukku. Dia memang pandai memasak. Ya, benar juga! Oppa pasti sudah memasak untukku, pikirku senang. Lalu aku menghampiri meja makan. Benar saja, di meja makan sudah tersedia aneka makanan. Mulai dari sup, daging, dan sayuran yang tentu saja tidak akan aku sentuh. Aku tidak suka sayuran!
Ya, kau baru pulang?” Ryeowook tiba-tiba saja muncul di belakangku.
Oppa! Kau mengagetkanku!”
Ryeowook mengucek matanya, sepertinya ia baru bangun tidur.
“Kenapa kau baru pulang?”
“Aku ada kerjaan kantor. Lembur.”
“Kau pasti belum makan. Ayo kita makan!”
“Kita? Oppa belum makan?”
“Tentu saja belum. Aku sudah menunggumu 3 jam sampai aku ketiduran di sofa.”
Oppa bisa makan dulu, tidak perlu menungguku.”
“Sudahlah, ayo makan.”
Kami pun mengambil semangkuk nasi dan mulai makan.
“Hey, sprei tempat tidurmu sudah kuganti. Kau ini kenapa malas sekali. Sprei sudah bau begitu masih saja tidak kau ganti.”
Ya! Seenaknya saja. Spreiku tidak bau!”
“Tapi kau harus tetap menggantinya seminggu sekali. Banyak kuman, kau bisa sakit.”
“Aku tidak sempat. Oppa saja yang menggantinya. Terima kasih!” kataku dengan cuek.
“Aish, kau ini. Ini sayuran dimakan, biar sehat.” Ryeowook menaruh sepotong brokoli ke dalam mangkuk nasiku.
Oppa! Aku tidak suka sayur!”
“Kubilang makan! Ayo..”
Aku memasang muka cemberut tapi Ryeowook tidak peduli dan malah menatapku dengan tajam, mengawasiku seperti anak kecil. Dengan terpaksa aku memasukkan brokoli itu ke dalam mulut dan menelannya dengan ekspresi jijik. Oppa menyebalkan!
***
Aku berjalan cepat menuruni tangga. Jam makan siang sudah lama lewat tapi aku tidak sempat makan tadi, jadi sepulang kerja aku langsung cepat melangkah menuju kantin yang biasanya masih buka sampai pukul 8 malam.
“Auh!” di persimpangan tangga aku menabrak seseorang. Aku segera minta maaf dan berjalan cepat melewati pria tersebut.
“Hyun Mi-ssi?”
Aku menoleh bingung. “Ne?
“Kau.. Hyun Mi-ssi?”
Ye.. Waeyo? Kau tau namaku?”
“Hyun Mi-ya, kau tidak ingat padaku?”
Aku menatapnya bingung. Aku sungguh tidak mengenal dan tidak pernah melihat pria ini di kantor. Aku pun menggeleng.
Aigoo.. Kau ini kejam sekali. Aku Eun Hyuk. Ingat?”
“Eun Hyuk?” aku berpikir keras. Siapa dia?
“Eun Hyuk. Teman sekelasmu di tempat kursus matematika saat SMP. Ingat?”
“Ah! Eun Hyuk-ssi! Kau rupanya! Ah, jinjja.. Maafkan aku karena tidak mengenalimu.”
Gwenchanayo.. Kau bekerja di sini?”
Ne. Sudah 3 tahun. Eun Hyuk-ssi juga bekerja di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
Ye, aku baru saja diterima kemarin. Hari ini hari pertamaku bekerja.”
Aku mengangguk paham. “Lalu kau mau ke mana?”
“Aku mau menemui atasan sebentar. Kau? Sudah mau pulang?”
Ye, kerjaanku sudah beres. Tapi aku mau mampir di kantin sebentar, tadi belum sempat makan.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Ah, baiklah. Aku nanti menyusul, kita makan bersama ya. Tunggu aku, tidak lama kok.”
“Baiklah. Aku duluan.”
“Yap!”
***
“Maaf, agak lama.” Eun Hyuk menghampiriku di kantin. Makananku baru saja datang.
“Tidak apa-apa. Kau tidak memesan?”
“Aku sudah memesan tadi. Kau makan dulu saja, pasti kau sudah lapar sekali.”
“Tidak apa-apa. Aku menunggu makananmu datang saja dulu.”
Sesaat suasana jadi agak canggung. Sebenarnya dulu aku dan Eun Hyuk tidak begitu dekat. Kami hanya mengobrol biasa di kelas kursus mengenai pelajaran jika ada kesempatan untuk mengobrol. Itu pun tidak terlalu sering. Aku sedikit lega saat akhirnya pesanan Eun Hyuk datang, dan langsung membelalak begitu melihat bahwa semua lauknya adalah daging, tidak ada sayur sedikitpun.
“Kau tidak makan sayur?” tanyaku.
“Haruskah aku makan sayur?”
“Ah tidak. Aku hanya berpikir sayur bisa menyeimbangkan makanan kita. Jadi bisa lebih sehat.” Itu yang Ryeowook oppa katakan padaku.
“Aku tidak suka sayur. Kau suka?”
“Eh? Sebenarnya aku juga tidak suka. Tapi ada yang terus memaksaku makan sayur.”
“Siapa? Ibumu?”
“Salah satunya.”
“Ah, pacarmu kah?”
Aniyeo! Bukan pacarku. Dia sahabatku.”
Eun Hyuk tertawa kecil. Aku bingung mengapa ia tertawa.
Waeyo?
“Sahabatmu itu pasti seorang pria.”
“Darimana kau tau?”
“Dari ekspresimu saat berkata tidak. Kau seakan-akan sudah terbiasa mengelak pertanyaan seperti yang kulontarkan tadi.”
“Ah, begitukah?”
Eun Hyuk mengangguk. Ya, dia memang benar. Banyak sekali orang yang mengira aku dan Ryeowook oppa berpacaran karena kami dekat dan mungkin sudah ratusan kali aku mengelak pernyataan itu.
“Kalau kau tidak suka, jangan dipaksa. Aku selalu menyisihkan sayur yang ada di makananku.”
Aku berpikir sejenak. Sekali-sekali mungkin boleh juga aku tidak menuruti permintaan Ryeowook oppa. Lagipula ini kan makananku, terserah aku mau makan apa. Ya kan? Aku pun menyisihkan sayuran yang ada di makananku. Sekali ini saja, pikirku.
Kami melanjutkan makan sambil mengobrol tentang masa-masa kuliah. Ternyata Eun Hyuk lumayan asyik diajak ngobrol, dia selalu bisa mencari topic pembicaraan sehingga aku bisa ikut bercerita. Setelah makan, dia juga mengantarku pulang.
“Lembur lagi?” Ryeowook oppa menyapaku saat aku melewati kamarnya menuju kamarku sendiri. Ryeowook sedang duduk di depan kamarnya.
“Hm.. Tidak juga sih. Tadi aku bertemu teman lama, jadi makan dulu sebelum pulang.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah. Waeyo? Kau memasak untukku?”
Anieyo. Aku hanya bertanya. Kau makan di mana?”
“Di kantin kantor.”
“Kau..”
“Tenang saja, oppa, aku makan sayur kok.” Ucapku berbohong supaya Ryeowook oppa tidak ngomel-ngomel lagi sehingga membuatku pusing.
“Baguslah..”
“Ya sudah, oppa, aku ke kamar dulu.”
Ne.
***
Sejak Eun Hyuk dan aku bekerja di kantor yang sama, kami jadi semakin akrab. Walaupun berbeda divisi tapi Eun Hyuk sering datang ke mejaku untuk sekedar ngobrol, mengajak makan siang, atau apapun. Aku sendiri tidak merasa terganggu karena ternyata aku dan Eun Hyuk memiliki berbagai persamaan, salah satunya adalah ketidaksukaan kami pada sayur. Eun Hyuk selalu punya rekomendasi restoran yang bagus. Seleranya oke juga, makanan yang dipilihkan Eun Hyuk selalu menggiurkan dan sebagian besar tanpa sayuran. Aku sangat menikmatinya. Aku jadi tidak merasa terbebani dengan kalimat “makan sayurnya” yang selalu dilontarkan oleh Ryeowook setiap kami makan bersama.
“Kenapa akhir-akhir ini kau pulang malam?” lagi-lagi Ryeowook menungguku di depan kamarnya.
“Memangnya kenapa, oppa? Aku kan banyak kerjaan.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah.” Jawabku singkat.
“Sekarang kau jadi sering makan di luar. Kau tau, makanan di luar itu belum terjamin higienitasnya.”
Ya! Oppa, aku makan di restoran yang bersih kok. Makanannya juga enak.”
“Apa makanannya ada sayurnya?”
“Aku makan sayur, oppa. Tenang saja.” Lagi-lagi aku berbohong.
“Biar bagaimanapun makanan rumah lebih sehat.”
Oppa ini kenapa? Bagus dong kalau aku makan di luar. Lagipula aku tidak bisa masak. Oppa juga tidak perlu repot-repot lagi memasak makan malam untukku.”
“Dengan siapa kau pergi? Dengan teman lamamu itu?”
Waeyo? Kenapa oppa bertanya hal itu?”
“Sejak kau bertemu teman lamamu itu, kau selalu makan di luar. Aku khawatir kau makan makanan yang tidak sehat.”
“Memangnya apa peduli oppa? Oppa tidak perlu memperhatikanku sampai seperti ini. Aku mau makan dengan siapa, terserah aku. Aku mau makan apa juga terserah aku. Oppa ini bukan kakakku beneran. Oppa hanya disuruh eomma untuk menjagaku, tapi kau tidak perlu sampai seperti ini, mengatur makanku segala.” Aku mulai emosi.
“Begitu?”
Ne.
“Yah, aku memang hanya  menjalankan amanah dari ibumu. Tapi kalau kau sendiri tidak mengizinkanku untuk memperhatikanmu, aku bisa apa? Terserah kau saja.”
Setelah itu Ryeowook oppa masuk ke kamar. Aku tau Ryeowook oppa kesal, tapi aku cuek saja. Biasanya Ryeowook oppa tidak akan pernah lama jika marah. Aku pun melangkah menuju kamarku dengan santai.
***
Esoknya aku bangun dengan ceria. Baru saja Eun Hyuk mengirimku pesan, ia akan mengajakku makan malam di restoran baru lagi. Eun Hyuk memang paling tau restoran mana yang menyajikan makanan-makanan lezat. Aku keluar kamar dan seperti biasa melewati kamar Ryeowook. Kebetulan Ryeowook sedang memakai sepatu dan bersiap untuk ke kantor.
“Pagi, oppa!” sapaku ceria. Ryeowook memandangku sekilas lalu melanjutkan memakai sepatu tanpa membalas sapaanku. Kemudian ia bangkit dan berjalan melewatiku begitu saja. Aneh, Ryeowook tidak pernah seperti ini. Apa ia masih marah?
Sepanjang hari itu aku selalu kepikiran Ryeowook oppa. Sikapnya benar-benar aneh. Apakah ucapanku semalam begitu menyakitinya? Bukankah apa yang aku katakan itu kenyataan? Ryeowook oppa seharusnya bisa lega karena tidak perlu lagi memasak makan malam untukku, apalagi sampai menungguku pulang setiap makan. Dia kan bukan siapa-siapa, hanya teman dekatku saja. Dia tidak perlu menuruti permintaan eomma untuk menjagaku, lagipula dulu eomma mengatakan hal itu tidak serius. Mengapa Ryeowook oppa terlalu serius menanggapinya?
“Kau kenapa?” Eun Hyuk bertanya padaku saat makan malam.
Waeyo? Aku tidak apa-apa.”
“Seharian ini sepertinya kau melamun terus. Apa kau ada masalah?”
“Ah, tidak ada.”
“Benarkah? Kau pasti ada masalah. Apa kau berkelahi dengan sahabatmu itu? Siapa namanya?”
“Ryeowook. Ah, tidak, kami baik-baik saja.”
Eun Hyuk memandangku dengan tidak percaya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Kau berbohong.” Perkataan Eun Hyuk langsung menancap di hatiku.
A.. Anieyo!”
“Yah, kau bisa bercerita padaku kalau kau ada masalah.  Hyun Mi yang kukenal tidak pernah melamun sepanjang hari seperti ini kecuali jika ada masalah.”
“Bagaimana kau tau?”
“Aku sering memperhatikanmu dulu saat di kelas kursus. Kau selalu ceria setiap hari. Lalu suatu hari saat kau mendapat teguran dari pak guru karena  nilaimu menurun, kau menjadi pemurung selama beberapa hari.”
“Kau memperhatikanku?”
“Ya. Karena aku menyukaimu.”
M.. Mwo?!”
“Hahaha.. kau tidak perlu terkejut seperti itu. Aku menyukaimu dulu.”
“Dulu?”
“Ya. Kenapa? Kau berharap aku masih menyukaimu sekarang? Sayangnya aku sudah punya tambatan hati.”
A.. Anieyo! Kau terlalu percaya diri! Aku hanya tidak menyangka kau menyukaiku dulu.”
“Kau memang tidak peka, Hyun Mi. Sebenarnya banyak cowok di kelas kursus yang menyukaimu. Tapi kau tidak pernah menyadarinya dan menganggap mereka semua hanya teman biasa. Kau baik pada semua orang, membuat kami jadi tidak punya nyali untuk jujur padamu.”
Aku hanya bisa melongo. Benarkah itu semua?
“Jadi? Apa benar kau sedang punya masalah dengan Ryeowook?”
“Hmm.. Hah.. baiklah aku ceritakan.”
Aku pun menceritakan kejadian semalam pada Eun Hyuk.
“Kurasa ia menyukaimu.” Perkataan Eun Hyuk yang satu ini sungguh membuatku tersedak. “Hei, pelan-pelan saja.”
Aku pun minum sejenak sebelum bertanya lebih lanjut.
“Kenapa kau bisa berkata begitu?”
“Menurutmu, kalau ada pria yang begitu memperhatikanmu sampai sedetail itu, apa artinya jika bukan suka?”
“Ia hanya menjalankan amanah dari eomma-ku.”
“Itu hanya alibi. Walaupun ia sahabatmu, belum tentu ia akan memperhatikan hal sedetail itu tentang dirimu, ia tidak akan begitu memperhatikan pola makanmu, apa yang kau makan, dengan siapa kau pergi. Kecuali ia menyukaimu.”
“Begitu menurutmu?”
“Kau menyukainya?”
Pertanyaan itu langsung membungkam mulutku. Apa aku menyukai Ryeowook?
“Tentu saja. Ia teman dekatku.”
“Bukan itu maksudku. Kau mencintainya?”
“Cinta?”
“Ya.”
“A.. Aku tidak tau.”
“Tanya hatimu baik-baik. Apa yang kau rasakan jika kau berada di dekatnya? Bagaimana perasaanmu saat ia rela menunggumu pulang dan memasak makan malam untukmu?”
***
Percakapanku dengan Eun Hyuk di restoran itu benar-benar semakin membuatku pusing. Mengapa kejadian ini sampai melibatkan masalah perasaan seperti ini? Benarkah Ryeowook menyukaiku? Ah tidak mungkin! Sikapnya selama ini lebih seperti seorang kakak. Lagipula, apa aku menyukai Ryeowook? Tentu saja tidak! Aku juga hanya menganggapnya kakak. Bagaimana perasaanku saat ia menungguku pulang malam dan memasak untukku? Tentu saja aku senang, aku tidak perlu berpikir harus makan apa, makan di mana, semuanya sudah disajikan di atas meja begitu aku pulang kerja. Tapi Ryeowook oppa selalu menyuruhku makan sayur. Ah! Pusing! Terserah lah, aku tidak mau berpikir terlalu banyak!
Menjelang pukul 9 malam aku baru sampai di wisma. Begitu melewati kamar Ryeowook, aku mengernyit heran. Mengapa kamarnya gelap sekali? Apa Ryeowook sudah tidur jam segini? Tapi lampu depan kamarnya juga tidak menyala. Atau dia belum pulang kerja?
“Hyun Mi-ssi..” seseorang memanggilku.
“Ah, ahjumma, selamat malam.” Kataku. Ternyata yang memanggilku adalah bibi pemilik wisma ini.
“Kau baru pulang?”
Ye. Tadi aku makan malam dulu dengan temanku.”
“Oh.. Kau tidak mengantar Ryeowook ke bandara?”
“Bandara? Memangnya dia ke mana?”
“Kau tidak tau?”
Ani..”
“Dia tidak memberitaumu? Siang tadi dia pulang dan langsung mengepak barang-barangnya. Katanya ia dipindahtugaskan keluar kota.”
“APA??! Pindah tugas? Keluar kota? Berapa lama?”
“Entahlah, mungkin akan lama karena sepertinya ia mengangkut semua barangnya dari sini. Bahkan ia bilang aku boleh menjual kamar ini pada orang lain. Aku tidak tau kenapa mendadak seperti ini. Bahkan kau saja sampai tidak tau.”
Rasanya aku ingin menangis mendengar berita itu. Begitu mengucapkan terima kasih aku langsung masuk ke kamarku, menyalakan lampu dan mencari Ryeowook oppa seperti orang gila. Aku masih berharap ini hanya lelucon, Ryeowook oppa akan muncul dari kamarku dan berkata ini semua hanya keisengannya membohongiku, dan kemudian menyuruhku makan bersama. Tapi kamarku benar-benar tidak ada orang. Tidak ada sosok Ryeowook oppa yang kuharapkan. Aku pun terduduk lemas di sofa sambil menangis.
Waeyo, oppa? Kenapa kau pergi tanpa memberitauku? Apa kau terlalu serius menanggapi ucapanku semalam sehingga kau begitu marah dan meninggalkanku? Mianhae, oppa. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Aku tidak akan berbohong lagi padamu, aku akan makan masakanmu walaupun kau  memasak sayur yang paling tidak enak sekalipun.”
Dan saat itu pula aku menyadari bahwa aku begitu kehilangan Ryeowook, begitu sedih dengan kepergiannya. Aku memang menyukainya. Aku mencintainya.
***
Tiga tahun berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ryeowook. Semua permintaan maafku melalui e-mail maupun SMS tidak mendapat respon sama sekali. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, aku pun memutuskan untuk melanjutkan hidupku apa adanya. Aku masih menjalankan rutinitasku di kantor seperti biasa. Eun Hyuk pun akhirnya sudah menikah dengan tambatan hati yang dulu pernah ia katakan. Aku turut bahagia atas pernikahan mereka. Sampai sekarang pun aku selalu menghadirkan sayuran dalam makananku dan belajar memasak sendiri dengan panduan buku memasak yang aku beli di toko buku. Walaupun hasilnya tidak begitu memuaskan, tapi ini lebih baik daripada makan di luar. Perkataan Ryeowook masih terngiang di telingaku. Makanan rumah lebih sehat daripada makanan di luar. Aku masih tinggal di wisma yang sama. Sesekali bila aku melewati kamar Ryeowook dulu, aku selalu berhenti sejenak dan mengenang saat-saat ketika ia masih tinggal di kamar itu. Entah kenapa sampai saat ini belum ada yang menempati kamar itu. Tapi kupikir bagus juga, lebih baik kamar itu kosong daripada ditinggali oleh orang baru yang membuatku tidak bisa menatap kamar itu sambil mengenang sosok Ryeowook.
“Selamat pagi, Hyun Mi eonni..” salah satu tetanggaku yang baru menginap di wisma ini selama 1 bulan menyapa.
Ne, selamat pagi.”
Eonni mau berangkat kerja?”
Ye. Kau?”
“Aku mau ke kampus. Eonni kenapa sering sekali memandangi kamar itu?”
“Ah, tidak apa-apa. Dulu temanku pernah tinggal di sini. Aku hanya merindukannya.”
Jinjja? Aku dengar kamar ini sudah ada yang membeli. Hari ini sudah akan ditempati.”
“Benarkah?”
Gadis itu mengangguk.
“Aku ke kampus dulu ya, eonni. Eonni mau keluar bersama?”
“Ah, ye. Baiklah.”
Kami berdua pun keluar wisma bersama. Sayang sekali kamar itu akhirnya dibeli orang. Aku jadi tidak bisa memandanginya lagi. Sudahlah, mungkin ini pertanda bahwa aku memang harus melupakan Ryeowook oppa. Entah aku bisa atau tidak.
***
Memang benar. Saat aku pulang kerja kamar itu sudah berpenghuni. Lampu depan kamarnya menyala, namun lampu di dalam kamar tidak. Mungkin penghuninya sudah tidur karena ini sudah pukul 10 malam. Hah, aku sungguh merindukan Ryeowook oppa. Aku pun melangkah gontai menuju kamar.
“Eh?” aku melihat ada sebuah kotak bekal di meja depan kamarku dengan sebuah kartu di atasnya. Aku pun mengambil kartu itu dan membacanya.
Untuk penghuni kamar B409.
Salam kenal. Aku penghuni baru di sini. Makanan ini sebagai salam perkenalan dariku. Tadinya aku ingin memberikan secara langsung tapi sepertinya kau belum pulang. Jadi aku taruh di atas meja. Semoga kau suka. ^^”
Aku membolak-balikkan kartu itu tapi tidak ada nama yang tertera di sana. Aneh sekali, jika ia ingin berkenalan dengan penghuni di sini, seharusnya ia memberitahukan namanya. Jadi jika besok aku bertemu dengannya, aku bisa menyapanya. Tapi ya sudahlah. Aku pun membawa kotak itu masuk ke dalam kamar dan membukanya di dapur. Di dalamnya ada seposi nasi beserta lauk berupa daging ayam cincang, sayur brokoli, dan wortel. Hah, lagi-lagi aku teringat Ryeowook oppa. Dia juga sering memasak brokoli dan wortel. Seketika itu juga perutku berbunyi. Ya, aku memang belum sempat makan malam. Aku pun membawa kotak itu ke meja dan melahapnya.
“Jadi kau sekarang suka makan sayur?” suara itu terdengar dari belakang. Aku langsung melonjak dan menoleh ke belakang.
“RYEOWOOK OPPA???!!!” aku begitu terkejut. Aku mengerjap-ngerjap dan menampar pelan pipiku. Tapi Ryeowook oppa masih di hadapanku. Tersenyum.
“Lama tidak berjumpa, Hyun Mi.”
Aku langsung berlari dan memukul Ryeowook. Air mataku sudah tidak terbendung lagi.
Waeyo, oppa? Kau dari mana saja? Mengapa meninggalkanku tanpa kabar? Kenapa e-mail dan SMS-ku tidak dibalas? Oppa tau? Aku sangat merindukan oppa! Siapa yang memasak untukku? Aku harus memasak sendiri! Mengganti sprei sendiri. Oppa jahat! Jinjjayo!!” kali ini aku sungguh menumpahkan kekesalan sekaligus kesedihanku pada Ryeowook.
Ryeowook menarikku dalam pelukannya. Aku sempat memberontak tapi akhirnya aku luluh juga. Aku membiarkan Ryeowook memelukku, seperti dulu saat aku bersedih. Pelukan Ryeowook selalu membuatku tenang.
Mianhae, Hyun Mi.”
Oppa tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah. Mianhae, oppa. Aku telah menyakiti hatimu malam itu. Aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hati oppa.”
Gwenchana, Hyun Mi. Aku yang seharusnya minta maaf. Waktu itu aku sebenarnya ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak sanggup. Aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Tapi malam itu aku merasa kau memang tidak membutuhkan aku lagi. Jadi lebih baik aku diam-diam meninggalkanmu. Tapi sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Siapa bilang aku tidak membutuhkan oppa? Selama oppa pergi aku selalu merindukan masakan oppa. Aku selalu berharap oppa pulang memasakkan makan malam untukku.”
“Bukankah kau bisa makan di luar?”
“Bukankah oppa bilang makanan rumah lebih sehat?”
“Jadi kau merindukan masakanku?”
“Tentu saja!”
“Apa kau merindukanku?”
Aku melepaskan pelukan Ryeowook.
Ani!” aku menunduk salah tingkah.
Jinjjayo?”
Ne.
Ryeowook hanya menghela nafas. Mungkin ia kecewa. Aku tau sebenarnya Ryeowook oppa menyukaiku, tapi mengapa ia tidak pernah jujur padaku. Aku menunggumu, oppa. Katakan saja perasaanmu! Aku semakin gemas melihat tingkahnya.
Oppa berharap aku merindukan oppa?” aku memancingnya dengan pertanyaan itu.
Mwo?” Ryeowook oppa tampak terkejut. Tampangnya lucu sekali. Sudah jelas ekspresinya menyiratkan bahwa ia tidak percaya aku bisa mengetahuinya.
“Aku memang tidak merindukanmu. Tapi lebih dari itu. Aku sangat merindukanmu. Saranghae, oppa.” Kataku pelan tapi mantap. Ryeowook semakin melongo. Seketika itu juga aku melihat wajahnya memerah. Ryeowook oppa malu! Ini pertama kalinya aku melihat wajah malu oppa.
“Kenapa oppa diam? Oppa tidak mencintaiku? Yah, sudahlah, berarti aku bertepuk sebelah tangan. Kkaja, lupakan saja. Aku mau lanjut makan.”
Sa.. Saranghae, Hyun Mi.” Ryeowook oppa akhirnya mengatakannya. Aku pun menahan senyum.
Mwo? Kau bilang apa tadi? Suaramu terlalu kecil, aku tidak mendengarnya.”
“Aishh.. Jinjja, Hyun Mi! Masa kau tidak mendengarnya?”
“Sama sekali tidak. Kau seperti berbisik.”
Ryeowook oppa menggaruk kepalanya dan menunduk salah tingkah.
“Ah, oppa ini payah sekali. Huh!” aku pura-pura marah.
SARANGHAE, HYUN MI!” Ryeowook sedikit berteriak. Aku langsung tertawa.
“Tidak perlu berteriak seperti itu, aku tidak tuli.”
“Kau mengerjaiku ya?”
Aku memeletkan lidah. Ryeowook langsung menghampiriku dan mengelitik pinggangku. Aku terus memberontak karena geli, namun Ryeowook terlalu kuat memelukku sampai aku tidak bisa menghindar.
“Cukup, oppa! Ampun!!” teriakku.
Kami berdua tertawa bersama.
“Awas kau kalau mengerjaiku lagi. Aku akan memasak sayur yang banyak dan menyuruhmu makan semuanya!”
“Silahkan saja! Aku sudah terbiasa makan sayur.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.”
“Oh ya, oppa, kau tau, bekas kamarmu dulu sudah ditempati orang lain. Lihat, ini bekal makanan dari orang itu. Dia meletakkannya di meja depan kamarku karena aku belum pulang tadi. Tapi aneh sekali, ia tidak menulis namanya. Huh, padahal aku ingin oppa tinggal di sebelah kamarku lagi. Oh ya, oppa tinggal di mana sekarang? Biar aku bisa mengunjungimu kapan-kapan.”
“Kau bisa mengunjungiku setiap hari.”
Mwo? Kau tinggal di dekat sini? Di mana?”
“Sebenarnya bekal itu dariku.”
MWO??! Ini bekal dari oppa? Jadi oppa yang..”
Ne. Aku yang tinggal di kamar sebelah. Lucu ya, ternyata belum ada yang membeli kamar itu. Jadi aku memutuskan untuk membelinya lagi.”
“Itu bukan lucu namanya. Tapi jodoh! Oppa dan aku memang ditakdirkan bersama.” Aku tersenyum. Ryeowook juga ikut tersenyum lalu mengusap rambutku dengan lembut.
Saranghae, Hyun Mi..” Ryeowook mulai bisa mengungkapkan perasaannya. Aku senang sekali.
Saranghaeyo, oppa..”


***THE END***