Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Friday, September 19, 2014

嫁給我 (Jia Gei Wo) - Marry Me

Ni gen wo jie hun, hao bu hao? (Menikahlah denganku, ya?)”
Setelah dua tahun berpacaran, akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mulutku. Saat ini, aku dan pacarku sedang menikmati indahnya pemandangan kota Taipei di malam hari dari atas jembatan. Semalaman aku memikirkan kalimat ini. Aku mempertimbangkan semua perkataan teman-temanku. Katanya, jika aku mengatakan kalimat ini, maka harga diriku akan jatuh. Tapi aku sudah tidak peduli. Jika aku tidak mengatakannya, sampai kapanpun hubunganku tidak akan maju. Dan aku sudah bosan dengan ketidakpastian ini.
Sementara hatiku berdebar-debar menanti jawabannya, pria berkacamata di hadapanku malah menatapku bingung. Ya, kalian tidak salah baca atau mengira bahwa aku salah ketik. Pria di hadapanku ini adalah pacarku. Dan aku adalah wanita. Jadi, sekarang kalian mengerti, kan, mengapa teman-temanku berkata bahwa harga diriku akan jatuh jika aku mengucapkan kalimat yang seharusnya diucapkan oleh pria di hadapanku ini.
Aku gemas sekali melihat tingkahnya. Pacarku memang sangat pemalu. Bahkan dulu, aku yang mengajaknya berpacaran setelah melihat gerak-geriknya yang sepertinya menyukaiku. Dia memang menyukaiku, dan aku lega sekaligus senang dia menyetujui ajakanku berkencan. Aku selalu suka sifat pemalunya, membuatku ingin sering-sering menggodanya hanya untuk melihat reaksinya yang sangat manis di mataku.
Kupikir setelah lama berpacaran, dia akan berubah. Tapi ternyata tidak ada sedikitpun perubahan yang kurasakan. Bisa dibilang, selama ini akulah yang memegang kendali atas perjalanan cinta kami. Rasanya jiwa kami tertukar.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Seharusnya aku memutuskan hubungan ini dan mencari pria lain yang lebih memiliki prinsip dan ketegasan. Juga bisa kujadikan sandaran jika aku sedang bersedih. Tapi yang terjadi sekarang, aku malah mengajaknya menikah. Entahlah, mungkin karena aku mencintainya. Cinta? Benarkah aku mencintainya? Bisakah aku hidup bersama dengan orang selalu bergantung padaku?
Zheng Xi menundukkan kepalanya. Ini pertanda bahwa ia sedang malu atau takut. Kali ini aku tidak tahu yang mana perasaannya. Aku gemas sekaligus kesal. Apa segitu beratnya menjawab pertanyaanku? Kenapa ia harus ragu-ragu? Bukankah selama ini dia selalu menuruti apapun yang aku minta?
“Li.. Li Xue..” suara Zheng Xi sedikit bergetar saat ia memanggil namaku, sementara kepalanya masih menunduk. “Pernikahan itu… hanya sekali seumur hidup.. Apa.. kau.. yakin? Apa kau.. sungguh mencintaiku?”
Wah, ini sungguh kejadian yang sangat jarang terjadi. Zheng Xi mengutarakan pendapatnya!
“Mengapa? Kau tidak yakin? Kau tidak mencintaiku?” aku malah menantang Zheng Xi.
Zheng Xi mengangkat wajahnya dan menatapku dengan pandangan terkejut. Tapi ia tidak mengucapkan apa-apa.
“Zheng Xi, bisakah kau bersikap tegas sekali saja? Bisakah sekali saja kau yang memegang kendali atas hubungan kita? Kenapa selalu aku yang harus maju terlebih dahulu? Aku ini wanita, dan kau pria! Aku juga ingin bersandar pada seseorang di saat aku sedih. Tidak bisakah aku mendapatkannya darimu? Bisakah kau lebih memiliki prinsip? Bahkan ajakan menikah saja kau tidak bisa mengambil keputusan!” nada suaraku semakin meninggi.
Kalau ingin jujur, sebenarnya aku lelah dengan hubungan ini. Tapi bukannya memutuskan hubungan, aku malah mengajaknya menikah, yang kemudian mungkin akan berujung dengan pertengkaran.
“Kenapa kau diam? Ni shuo hua a! Wo men jie hun, hao ma? (Bicaralah! Kita menikah, oke?)”
“Li.. Li Xue.. Masalah itu…”
Ni ai wo ma? (Apa kau mencintaiku?)” Ah, kalimat itu sudah lama ingin kutanyakan, tapi aku selalu tidak tega. Aku tidak ingin meragukan hubungan kami. Tapi sekarang, aku sudah tidak tahan lagi dan akhirnya bertanya. Memang setelah dipikir-pikir, Zheng Xi sekalipun tidak pernah mengatakan cinta padaku. Jika aku mengatakan bahwa aku mencintainya, reaksi Zheng Xi hanya tersenyum malu dan menunduk. Dulu kupikir reaksi itu berarti bahwa dia juga mencintaiku. Namun, sekarang aku menjadi ragu. Dan semakin ragu dengan keputusanku untuk mengajaknya menikah.
Wo.. (Aku..)” Aku melihat Zheng Xi ingin mengatakan sesuatu namun terasa sangat sulit.
“Kau sulit mengatakannya? Apa karena kau takut menyakitiku?”
Zheng Xi malah terdiam. Baiklah, mungkin keputusanku ini salah. Kupikir selama ini Zheng Xi mencintaiku. Tapi ternyata ini hanya kesimpulanku sendiri. Aku merasa sangat bodoh sekarang.
Ni bu ai wo, dui ba? (Kau tidak mencintaiku, benar  kan?)”
Zheng Xi masih diam. Keringat mulai terlihat di keningnya. Ini mungkin memang jawabannya. Ia tidak mencintaiku. Seharusnya sejak dulu aku menanyakan hal ini.
Dui bu qi (Maaf). Selama ini aku telah memaksakan kehendakku. Aku mengajakmu pacaran, aku yang mengambil keputusan selama ini tanpa peduli bagaimana perasaanmu. Kupikir kau juga mencintaiku. Ternyata aku yang bodoh.”
Wo men fen shou, ba.. (Kita putus saja..)” kataku lirih setelah jeda beberapa saat. “Maaf sudah menyita waktumu selama dua tahun ini.” Dan bersamaan dengan itu, air mataku menggenang dan jatuh. Aku pun membalikkan tubuhku dan melangkah pergi.
Aku berharap Zheng Xi mengejarku, menarikku ke dalam pelukannya, dan berkata bahwa ia tidak bermaksud menyakitiku, bahwa ia sebenarnya mencintaiku, dan ia ingin menikah denganku. Tapi lagi-lagi hanya aku yang berpikir terlalu banyak. Zheng Xi tidak mengejarku. Bahkan sekedar memanggil namaku pun tidak. Aku sungguh kecewa. Aku telah menyia-nyiakan waktuku dan Zheng Xi dengan hubungan yang memang seharusnya tidak pernah terjalin.
***
Ni men fen shou?! Zen me hui! (Kalian putus? Bagaimana bisa!)”
“Ha ha.. Hao ke xiao, shi ba? (Lucu kan?)”
Yi dian dou bu ke xiao (Sama sekali tidak lucu)! Dui bu qi (Maaf), aku tidak tahu kau sedang sedih, aku malah asyik bercerita tentang pacarku.”
Mei guan xi la, ni kai xin, wo ye kai xin (Tidak apa apa, kau senang, aku pun ikut senang).” Kataku dengan lirih. Tapi sungguh, aku ikut bahagia jika sahabatku ini bahagia.
Ni shuo, wei shen me? Ni bu shi shuo ni yao gen ta jie hun ma? (Katakan, kenapa? Bukankah kau bilang ingin mengajaknya menikah?)”
Ta bu ai wo. Wo hai neng shuo shen me ne? (Dia tidak mencintaiku. Apa lagi yang bisa kukatakan?)” kataku sambil  menarik nafas panjang. Air mata kembali menggenang di pelupuk mataku.
Hari sudah semakin larut. Sudah satu setengah jam berlalu sejak aku meninggalkan Zheng Xi di jembatan dan pulang ke rumah. Aku yang sedih dan butuh tempat curhat pun segera menelepon Xiao You. Ternyata hari ini Xiao You sedang bergembira karena mendapat kejutan dari pacarnya sehingga ia langsung bercerita panjang lebar bergitu aku meneleponnya. Aku pun terpaksa menunda untuk menceritakan kesedihanku hari ini. Sementara kami berbincang di telepon, hujan mulai turun deras di luar sana. Petir mulai bersahutan. Langit malam ini sepertinya mengerti kesedihanku dan turut menangis.
Ta zhen de bu ai ni? Ni zen me zhi dao? Ta gen ni shuo ma? (Dia benar-benar tidak mencintaimu? Bagaimana kau tahu? Apa dia mengatakannya padamu?)”
Bu yong shuo, wo jiu zhi dao le. Ta cong lai gen ben bu ai wo. (Tidak perlu dikatakan, aku sudah tahu. Dia selama ini memang tidak mencintaiku.)”
Dan shi, yi qian ta shuo ta xi huan ni ya. Ru guo bu xi huan, wei shen me ta yuan yi cheng wei ni de nan peng you ne? (Tapi dulu dia bilang menyukaimu. Jika tidak suka, kenapa dia mau menjadi pacarmu?)”
Ta xi huan wo. Bu shi ai. Ru guo ta ai wo, ta yi ding hui da ying gen wo jie hun. Wo xiang xiang, cong lai ta mei you shuo guo ai wo de hua. (Dia menyukaiku. Bukan cinta. Jika dia mencintaiku, dia pasti menyetujui ajakanku untuk menikah. Setelah dipikir-pikir selama ini dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.)” Aku tertawa getir.
Li Xue.. Ni bi xu nai xin. Wo xiang xin, you yi tian, ni neng zhao dao geng hao geng hao de nan sheng. (Kau harus bersabar. Aku percaya, suatu hari nanti kau bisa menemukan pria yang lebih baik.) Pria yang bisa kau jadikan sandaran, yang bisa kau andalkan, dan mencintaimu selamanya. Ni bu yao zai nan guo, hao ma? (Kau jangan bersedih lagi, oke?)”
Aku menghapus air mataku.
En..” aku menyanggupinya, walaupun aku tau akan sulit rasanya untuk tidak bersedih.
“Li Xue, sudah satu jam kita berbincang di telepon. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur. Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan. Putus cinta adalah hal yang wajar.”
“Entahlah apa aku bisa tidur atau tidak.”
“Kau harus bisa! Aku tidur dulu ya, sampai jumpa besok.”
“Ya. Sampai jumpa besok. Terima kasih sudah mau kutelepon malam-malam.”
Mei you wen ti la. Bu yao ke qi. Wo men shi hao peng you ma. (Tidak masalah. Jangan sungkan. Kita kan sahabat.)”
Aku tersenyum kecil. “Baiklah. Wan an (Selamat malam).”
“Ya, wan an, Li Xue.”
Telepon terputus. Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar suara hujan yang sangat deras di luar sana. Aku kembali menghela nafas panjang. Suasana sunyi ini mulai menyiksaku.

Yue xiang kan de jian, yue kan bu jian
Yue xiang kao xin li jin yi dian, yue zou de yao yuan..
Yue shi qian shan wan shui, yue xiang yong li qu zhui…
Wo de meng he shi neng bu luo kong..
Ni shi fou hui zai xia ge lu kou.”

Dengan malas aku mengambil ponselku yang berdering dan mataku seketika terbelalak melihat siapa yang meneleponku. Zheng Xi? Untuk apa lagi ia meneleponku?
Wei..” aku menjawab dengan nada dingin.
Terdengar suara berisik di seberang telepon. Di mana Zheng Xi berada sekarang? Apa ia sedang di luar rumah? Bukankah di luar sedang hujan?
Suara desahan nafas terdengar.
Wei? Zheng Xi?” aku mulai panik.
“…”
“Zheng Xi? Ni zai na’r?”
“Li.. Li Xue..” akhirnya suara Zheng Xi terdengar, meskipun hampir kalah dengan suara berisik dari sekelilingnya. “Bu.. Buka pintu. Kumohon..”
“Hah? Wei? Zheng Xi? Kau di mana?”
“Bu.. Buka pintu. Aku ada di depan wisma.”
Aku segera membanting ponselku begitu otakku bisa mencerna ucapan Zheng Xi. Zheng Xi ada di depan wisma? Aku pun berlari keluar kamar setelah mengambil payung dan kunci gembok, kemudian dengan cepat menuruni tangga menuju gerbang depan. Satpam tidak terlihat di pos nya, entah ke mana. Aku mulai kesal dengan kinerja keamanan di wisma tempatku tinggal.
Aku membuka payung begitu sampai di lantai bawah dan kakiku menjadi lemas seketika melihat Zheng Xi berdiri di depan gerbang sambil menggigil kedinginan. Sudah berapa lama ia berada di luar? Mengapa ia ada di sini? Begitu banyak pertanyaan yang melintas dalam otakku. Namun aku berusaha mengabaikannya. Dengan cepat aku membuka gembok dan gerbang wisma. Kupayungi Zheng Xi. Ia tersenyum melihatku.
Bodoh! Dalam keadaan begini ia masih bisa tersenyum.
“Zheng Xi! Ni shi sha gua ya (Kau bodoh ya)? Kenapa kau bisa ada di sini? Masuklah. Hari ini menginap saja di tempatku.”
“Tidak.” Zheng Xi menarik tangannya saat aku hendak menariknya masuk ke dalam wisma.
“Zheng Xi! Kau bisa sakit jika berada di luar. Aku tahu, kau tidak sudi menginjak kamarku lagi. Aku tahu kau tidak mau berada di dekatku lagi. Tapi kumohon, masuklah.”
“Aku sudah mengumpulkan semua keberanianku. Jadi sebelum keberanianku surut, aku ingin menyelesaikannya sekarang.” Kata Zheng Xi dengan sedikit gemetar.
“Keberanian apa? Kau bisa mengatakannya di dalam.”
Bu xing (tidak bisa).”
“Kenapa tidak bisa? Kumohon, masuk ke dalam. Aku tidak ingin kau sakit. Keringkan badanmu dulu. Apa yang ingin kau bicarakan, bisa kita bicarakan di dalam. Ayo!”
Aku kembali menarik tangan Zheng Xi. Namun ia masih bergeming. Sedetik kemudian Zheng Xi malah menarik tanganku dan memelukku dengan erat. Bajunya yang basah mengenai bajuku. Seketika tangan dan kakiku menjadi lemas. Payung yang kupegang terjatuh dan dengan cepat hujan membasahi seluruh tubuhku. Tapi aku tidak peduli. Yang ada di pikiranku saat ini adalah ketidakpercayaanku pada apa yang sedang terjadi.
Zheng Xi memelukku! Dia memelukku dengan erat! Meskipun hujan membasahi tubuhku, tapi entah mengapa aku justru merasa hangat. Dan kehangatan ini menjalar ke seluruh tubuhku, terutama hatiku.
“Zheng.. Zheng Xi.” Aku memanggilnya dengan lirih dari balik bahunya. “Ke.. Kenapa..”
Wo ai ni(Aku mencintaimu), Li Xue.”
Kalimat itu memang terdengar lemah, tapi aku yakin aku tidak salah mendengar. Ucapan itu terasa begitu dekat di telingaku.
“Aku mencintaimu.” Zheng Xi mengulang ucapannya, membuatku semakin yakin bahwa aku memang tidak salah dengar. “Aku tau aku selama ini bodoh, membebanimu dengan sikap pengecutku. Aku membiarkanmu sendirian mengayuh perahu kita. Aku pengecut karena tidak dapat mengutarakan pendapatku selama ini. Aku.. Aku bahagia bisa bersamamu selama dua tahun ini. Dan aku tentu bahagia saat kau mengajakku menikah denganku tadi, tapi juga sekaligus sedih dan marah. Seharusnya akulah yang mengucapkan kalimat itu, bukan kau. Tapi aku terlalu pengecut untuk sekedar mengatakan isi hatiku, sehingga kau pergi meninggalkanku. Aku telah membiarkanmu berpikir bahwa aku tidak mencintaimu. Aku.. Aku mencintaimu, Li Xue. Sungguh. Maafkan aku karena tidak pernah mengatakannya. Saat kau pergi tadi, aku tersadar. Aku sadar bahwa aku salah selama ini. Aku tidak bisa kehilanganmu hanya karena sifatku ini.”
Ya, Tuhan, ini kalimat terpanjang yang pernah Zheng Xi ucapkan selama aku mengenalnya. Sekarang justru aku yang dibuat tak mampu berkata-kata oleh Zheng Xi. Aku terlalu hanyut dalam setiap kata yang diucapkannya.
Perlahan Zheng Xi melepaskan pelukannya. Wajahnya kini tampak semakin pucat dan gemetar. Aku sungguh tidak tega melihatnya.
“Zheng Xi,  masuklah. Kumohon. Kau sudah mengucapkan apa yang ingin kau ucapkan.” Kataku lirih.
Zheng Xi mengangguk. Aku pun tersenyum, kemudian mengambil payung dan menarik Zheng Xi masuk ke dalam wisma.
“Mandilah. Aku akan menyiapkan coklat hangat dan selimut untukmu.” Kataku setelah memberikan handuk,  kaos besar, dan celana rumah milikku untuk Zheng Xi. Zheng Xi mengangguk sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi. Hatiku menghangat kembali. Ini juga pertama kalinya Zheng Xi mandi di wisma-ku.
Setelah mengambil selimut dan meletakkanya di sofa ruang tamu, aku segera menyiapkan segelas coklat hangat untuknya. Sembari menunggu Zheng Xi selesai mandi, aku merenungkan ucapannya tadi sambil mengeringkan rambutku sendiri dengan handuk. Zheng Xi mencintaiku. Sungguh aku sangat bahagia dengan pengakuannya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, aku segera menghampiri Zheng Xi dan menyuruhnya duduk di sofa. Aku pun mengambil coklat hangat yang telah kubuat dan kutaruh di atas meja dekat sofa.
“Minumlah.” Kataku.
Xie xie (terima kasih).”
Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya, memandangi Zheng Xi yang sedang meneguk coklatnya. Aku memang sering mengamati wajah Zheng Xi. Bagaimana bentuk rahangnya yang tegas, mata coklatnya yang teduh dengan kacamata yang membingkai, hidungnya yang mancung, dan bibir penuh yang indah. Dengan balutan kaos milikku yang ternyata sedikit ketat, membuat badannya yang bidang terlihat sangat kokoh. Aku sendiri masih tidak menyangka, pria segagah Zheng Xi bisa memiliki sifat yang sangat pemalu.
“Kau istirahatlah.” Kataku setelah Zheng Xi menghabiskan coklatnya. Aku pun beranjak dari sofa, hendak masuk ke dalam kamar dan tidur. Tapi Zheng Xi menahanku sehingga aku kembali duduk di sofa.
Zen me le (Kenapa)?” tanyaku.
Zheng Xi tidak menjawab. Ia merogoh kantong celana milikku yang sedang dipakainya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang basah.
“Li.. Li Xue.. Kau tahu? Aku selalu membawa kotak ini ke manapun aku pergi. Tapi hari ini aku lupa membawanya. Karena itulah aku sangat terkejut dengan ucapanmu di jembatan tadi.”
Aku menatapnya dengan bingung. Zheng Xi menarik nafas kemudian melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya.. Saat itu juga aku ingin menghentikan ucapanmu dan mengatakan hal yang seharusnya akulah yang mengucapkannya. Tapi aku… Aku tidak bisa mengucapkannya tanpa kotak ini.”
Jantungku mulai berdetak kencang. Apa ini? Apa Zheng Xi mau melamarku? Tidak mungkin, kan?
“Makanya aku tidak menahanmu saat kau pergi. Aku malah berlari pulang untuk mengambil kotak ini, dan menuju wisma-mu. Aku tidak peduli hujan deras dan petir menyambar. Yang ada di pikiranku tadi adalah aku tidak mau semuanya berakhir. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku sudah berulang kali mengetuk gerbang tapi tidak ada yang membukanya. Aku mencoba meneleponmu berulang-ulang tapi selalu nada sibuk.”
Aku pun teringat bahwa tadi aku memang berbincang dengan Xiao You di telepon selama satu jam. Dan selama itu pula Zheng Xi menungguku di bawah. Aku benar-benar terkejut dan menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku begitu jahat, membiarkan Zheng Xi menunggu di luar selama itu! Zheng Xi bisa saja sakit karena kedinginan.
Air mata mulai menggenang. Aku tidak tahu Zheng Xi bisa berbuat sejauh itu.
Bu shi ni de cuo (Bukan salahmu)..” Zheng Xi berkata sambil menyeka air mataku yang mengalir. “Aku yang bodoh.” Lanjutnya.
Aku menggeleng. Zheng Xi sama sekali tidak bodoh. Perbuatannya itu sukses membuat hatiku lumpuh.
Zheng Xi tersenyum lembut, senyuman yang selalu aku suka. Ia pun membuka kotak beludru itu dan tampaklah sebuah cincin yang sangat cantik, dengan berlian berbentuk bintang di atasnya. Bintang. Objek favoritku.
“Li.. Li Xue..” katanya masih dengan malu-malu. Aku tersenyum kecil melihatnya. “Ni yuan yi.. jia gei wo ma (Apa kau bersedia menikah denganku)?”
Meskipun aku sudah tahu apa yang ingin dikatakan Zheng Xi, tapi aku masih merasa takjub. Seorang Zheng Xi yang tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, kini mengajakku menikah. Keberanian Zheng Xi ini sungguh membuatku terharu.
Wo yuan yi (Aku bersedia).” Kataku tanpa keraguan sama sekali.
Mata Zheng Xi berbinar cerah. Ia pun memakaikan cincin pemberiannya di jari manisku. Aku tersenyum senang.
“Li Xue, cong jin tian kai shi (mulai hari ini), biarkan aku yang mendayung perahu kita.” Kata Zheng Xi dengan lembut.
Aku menggeleng kuat. “Zheng Xi, kita akan mendayungnya bersama.” Kataku, membuat mata Zheng Xi semakin bersinar. Aku pun memeluk Zheng Xi. Tubuh Zheng Xi sempat menegang karena kupeluk dengan tiba-tiba, tapi kemudian ia balas memelukku.
“Ya, kita akan mendayungnya bersama.” Zheng Xi mengulangi ucapanku. Kemudian dengan sebuah kalimat lanjutan yang membuatku kian melayang, “Wo ai ni, Li Xue.”

Aku mengangguk. “Wo ye ai ni (aku juga mencintaimu).” Kataku kemudian semakin membenamkan kepalaku di dada Zheng Xi. Menghirup aroma tubuhnya yang menenangkanku, yang kini sedikit bercampur dengan sabun mandiku. Aku bahagia.

Wednesday, August 6, 2014

It’s so Scary Loving You Like This

Type: Song fiction
Original Song: Freya Lim – Zhe Yang Ai Ni Hao Ke Pa
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Perkenalkan, ini Winda, pacarku.”
Ini kali pertama aku bertemu dengan Toni setelah 2 tahun yang lalu hubungan kami berakhir. Aku tahu dia sudah pulang dari Amerika 3 bulan yang lalu. Tapi aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Melihatnya di restoran ini bersama seorang wanita cantik, membuatku terus saja berdoa semoga wanita tersebut bukan pacar barunya. Tapi ternyata apa yang tak ingin kudengar, justru dengan jelas terucap dari bibir Toni sendiri. Aku mulai menyesal mengapa aku tidak langsung kabur begitu melihat Toni juga berada di restoran ini. Mengapa otak dan kakiku tidak sejalan? Mengapa kakiku tidak bergerak sampai pada akhirnya Toni melihatku dan menghampiriku, kemudian memperkenalkan wanita tersebut padaku? Dan mengapa pula dari sekian banyak restoran yang ada di kota ini, Toni harus datang ke restoran yang sama denganku? Padahal selama ini aku sudah berusaha untuk tidak lagi mendatangi tempat manapun yang bisa mengingatkanku pada dirinya.
“Winda.” Wanita itu mengulurkan tangannya padaku.
Bodoh! Di saat seperti ini aku hanya bisa terdiam. Tersenyum pun tak bisa, apalagi membalas uluran tangannya. Mataku mulai berkaca-kaca. Oh, Tuhan! Jangan biarkan aku menangis di sini. Setidaknya jangan di depan Toni dan pacar barunya ini.
“Cindy? Kau kenapa? Kau baik-baik saja?” Toni menatapku dengan khawatir karena aku masih belum merespon uluran tangan Winda. Saat itu pula aku tersadar dan segera mengulurkan tangan, plus senyuman yang kupaksakan.
“Cindy.” Kataku sambil menjabat tangan Winda selama sepersekian detik.
“Ah, kebetulan kita bertemu. Kau sendirian? Mau bergabung dengan kami?” Toni menawarkan, membuatku seketika menjadi panik.
“Oh, tidak usah. Aku janjian dengan teman-temanku kok. Aku tidak mau mengganggu kencan kalian.” Kataku dengan sedikit kerlingan di mata. WOW! Sungguh akting yang sangat bagus! Aku sendiri tidak tahu dari mana bakatku ini. Mungkin aku cocok juga menjadi artis!
“Baiklah. Kalau begitu kami ke sana dulu.” Kata Toni yang diikuti oleh senyuman manis Winda.
“Ya, silahkan.”
“Senang bertemu denganmu.” Kata Winda.
“Aku juga.”
Ah, sekarang aku tidak bisa kabur lagi! Aku sudah terlanjur mengatakan bahwa aku ada janji dengan teman-temanku di sini. Tidak lucu jika aku langsung keluar dari restoran ini. Sebenarnya aku datang ke sini sendirian, berencana untuk menenangkan pikiran dari pekerjaan yang menumpuk, ditambah dengan pikiran-pikiran mengenai Toni yang masih saja berputar di kepalaku selama 3 tahun ini. Sialnya, aku malah bertemu dengannya di sini!
Aku melangkahkan kakiku menuju meja yang paling jauh dari meja Toni dan Winda, lalu mendaratkan pantatku dengan sedikit keras. Sekarang nafsu makanku sudah hilang. Aku pun memanggil pelayan dan hanya memesan segelas teh manis hangat.
Sembari menunggu pesanan, aku tidak bisa menahan pandanganku dari Toni dan Winda. Mereka sedang berbincang dengan asyiknya, sambil beberapa kali tertawa. Hatiku masih saja sakit melihat kelakuan mereka.
Cindy, kau kenapa?” pertanyaan Toni tadi masih terngiang di pikiranku. Kenapa katanya? Apa perlu ia bertanya seperti itu? Apa dia tidak melihat mataku yang sudah berkaca-kaca dan kelakuan bodohku yang lama terdiam saat ia mengenalkan pacar barunya? Bukankah dulu dia bilang, dia yang paling mengerti diriku? Lalu kenapa sekarang dia harus bertanya seperti itu? Apa dia mau mempermalukan aku di depan Winda? Apa dia merasa menang sekarang? Dasar Toni bodoh!
Hah, aku jadi teringat lagi saat-saat kami akan berpisah.


Tiga tahun yang lalu…

“Kita putus saja.” Akhirnya setelah aku memantapkan hatiku, kalimat itu terucap.
“Apa?” Toni menatapku dengan pandangan tidak percaya. “Kenapa?”
“Kau masih tanya kenapa? Toni, kau tahu aku selalu ingin berada di sampingmu, tapi.. Kau akan ke Amerika. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa dirimu.”
“Tapi.. Kita kan masih bisa berkomunikasi lewat internet.”
“Aku tidak bisa, Toni. Terlalu lama. Kau memilih untuk pergi. Aku tidak ingin menahanmu di sini, kau harus menggapai impianmu. Aku membebaskanmu. Pergilah. Jangan hiraukan aku.”
“Cindy..” Toni menatapku dengan pandangan memohon, tapi aku segera mengangkat tanganku.
“Sudahlah. Kita akhiri saja semua ini.”
Keheningan melanda kami selama beberapa saat sebelum akhirnya Toni menghela nafasnya dan bertanya, “Kau serius?”
Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Apa aku serius? Kalau boleh jujur, aku juga tidak ingin mengakhiri hubungan ini. Aku mencintai Toni. Tapi aku tidak akan bisa hidup tanpa dia di sampingku. Aku terlalu mengandalkannya. Dengan pilihan Toni untuk berangkat ke Amerika, akhirnya menyadarkanku bahwa tidak selamanya aku bisa bersandar padanya. Ada kalanya aku harus lepas, dan mungkin inilah saatnya. Aku harus mengandalkan diriku sendiri mulai saat ini. Aku tidak boleh menahan Toni. Biarkan ini menjadi keputusan yang terbaik.
“Ya.” Kataku selama jeda beberapa saat. “Kalau memang kita berjodoh, pasti akan bersatu kembali. Percayalah. Mungkin ini memang jalan terbaik. Kalau suatu hari nanti kau bertemu dengan seorang wanita, bukalah hatimu. Jangan pikirkan aku lagi. Oke?”
Toni menatapku dalam. Mungkin ia berharap aku menarik kembali ucapanku. Tapi itu tidak akan terjadi. Aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya menarik ucapanku. Dan ucapanku ini sudah aku pikirkan dengan matang selama tiga malam.
“Baiklah. Kalau itu maumu.”
Di satu sisi aku lega karena semua ini berjalan sesuai dengan skenario di otakku. Tapi di sisi lain, ada bagian dari hatiku yang terasa sakit dan menyayat. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin Toni bersikeras untuk tidak ingin berpisah denganku. Namun ini sudah menjadi keputusanku. Aku yang memutuskan dan hal itu tidak akan kuubah.

“Silahkan, Nona, teh hangatnya.” Segelas teh hangat yang dibawakan pelayan langsung membuyarkan lamunanku. Aku pun menyesap teh-ku beberapa teguk dan kembali memperhatikan Toni.
Kau baik-baik saja?” pertanyaan Toni tadi kembali terngiang. Aku tersenyum kecil.
Apa menurutmu aku baik-baik saja? Ya, aku akan baik-baik saja kalau ternyata pacar barumu itu tidak lebih baik dariku. Kau mungkin akan kembali mengingat kebersamaan kita. Aku akan baik-baik saja kalau kau dan pacar barumu itu ternyata tidak cocok dan mulai bertengkar. Setidaknya kau akan tahu bahwa hanya diriku yang pantas untukmu.
Aku yang dulu meminta berpisah, dan sekarang aku yang menyesal. Apalagi setelah melihat dirimu bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar baru, sementara aku di sini masih terpaku dalam ingatan akan dirimu. Aku sadar aku memang egois. Sudah memutuskanmu secara sepihak dan sekarang ingin memilikimu kembali.
Apa jadinya jika orang-orang mengetahui pemikiranku ini? Mereka pasti menertawakanku. Lalu bagaimana dengan dirimu? Dengan caraku mencintaimu yang seperti ini, yang justru menginkan hubunganmu dan pacar barumu hancur berantakan, masihkan mungkin aku mendapatkan cintamu lagi?

Ah, ada apa dengan diriku ini? Caraku mencintaimu sungguh mengerikan!

Saturday, May 31, 2014

Love Food (Fan Fiction)

Type: One Shoot
Cast: Kim Ryeowook, Han Hyun Mi, Eun Hyuk
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku melirik jam tanganku, sudah jam 10 malam dan aku masih berada di bus menuju tempat tinggalku di sebuah wisma. Aku tinggal sendirian di wisma itu karena orang tuaku tinggal di kota lain. Hari ini kerjaan kantor sangat banyak sehingga aku harus lembur sampai jam 9 malam. Aku bahkan belum makan sejak siang karena tidak sempat. Begitu pulang, mungkin aku akan masak mie instan saja, itupun kalau sempat.
Begitu sampai gang dekat wisma, aku turun dari bus. Dengan cepat aku berlari ke dalam gang dan sampai di wisma. Aku benar-benar sangat kelaparan. Setelah menginjak lantai kedua dan melewati beberapa kamar, aku langsung mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar. Lampu depan langsung menyala otomatis. Wisma ini memang tidak terlalu besar, harganya pun terjangkau, namun aku sangat nyaman dan betah tinggal di sini.
Aku memasuki kamarku dan mengernyit heran. Mengapa lampu dalam menyala? Ah, mungkin karena Ryewook oppa lupa mematikan lampu. Ini namanya pemborosan, aku menggerutu dalam hati. Ryeowook oppa adalah senior sekaligus teman dekatku sejak SMA. Dia memang suka seenaknya memasuki wisma-ku hanya untuk menyiapkan makan malam untukku. Dia memang pandai memasak. Ya, benar juga! Oppa pasti sudah memasak untukku, pikirku senang. Lalu aku menghampiri meja makan. Benar saja, di meja makan sudah tersedia aneka makanan. Mulai dari sup, daging, dan sayuran yang tentu saja tidak akan aku sentuh. Aku tidak suka sayuran!
Ya, kau baru pulang?” Ryeowook tiba-tiba saja muncul di belakangku.
Oppa! Kau mengagetkanku!”
Ryeowook mengucek matanya, sepertinya ia baru bangun tidur.
“Kenapa kau baru pulang?”
“Aku ada kerjaan kantor. Lembur.”
“Kau pasti belum makan. Ayo kita makan!”
“Kita? Oppa belum makan?”
“Tentu saja belum. Aku sudah menunggumu 3 jam sampai aku ketiduran di sofa.”
Oppa bisa makan dulu, tidak perlu menungguku.”
“Sudahlah, ayo makan.”
Kami pun mengambil semangkuk nasi dan mulai makan.
“Hey, sprei tempat tidurmu sudah kuganti. Kau ini kenapa malas sekali. Sprei sudah bau begitu masih saja tidak kau ganti.”
Ya! Seenaknya saja. Spreiku tidak bau!”
“Tapi kau harus tetap menggantinya seminggu sekali. Banyak kuman, kau bisa sakit.”
“Aku tidak sempat. Oppa saja yang menggantinya. Terima kasih!” kataku dengan cuek.
“Aish, kau ini. Ini sayuran dimakan, biar sehat.” Ryeowook menaruh sepotong brokoli ke dalam mangkuk nasiku.
Oppa! Aku tidak suka sayur!”
“Kubilang makan! Ayo..”
Aku memasang muka cemberut tapi Ryeowook tidak peduli dan malah menatapku dengan tajam, mengawasiku seperti anak kecil. Dengan terpaksa aku memasukkan brokoli itu ke dalam mulut dan menelannya dengan ekspresi jijik. Oppa menyebalkan!
***
Aku berjalan cepat menuruni tangga. Jam makan siang sudah lama lewat tapi aku tidak sempat makan tadi, jadi sepulang kerja aku langsung cepat melangkah menuju kantin yang biasanya masih buka sampai pukul 8 malam.
“Auh!” di persimpangan tangga aku menabrak seseorang. Aku segera minta maaf dan berjalan cepat melewati pria tersebut.
“Hyun Mi-ssi?”
Aku menoleh bingung. “Ne?
“Kau.. Hyun Mi-ssi?”
Ye.. Waeyo? Kau tau namaku?”
“Hyun Mi-ya, kau tidak ingat padaku?”
Aku menatapnya bingung. Aku sungguh tidak mengenal dan tidak pernah melihat pria ini di kantor. Aku pun menggeleng.
Aigoo.. Kau ini kejam sekali. Aku Eun Hyuk. Ingat?”
“Eun Hyuk?” aku berpikir keras. Siapa dia?
“Eun Hyuk. Teman sekelasmu di tempat kursus matematika saat SMP. Ingat?”
“Ah! Eun Hyuk-ssi! Kau rupanya! Ah, jinjja.. Maafkan aku karena tidak mengenalimu.”
Gwenchanayo.. Kau bekerja di sini?”
Ne. Sudah 3 tahun. Eun Hyuk-ssi juga bekerja di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
Ye, aku baru saja diterima kemarin. Hari ini hari pertamaku bekerja.”
Aku mengangguk paham. “Lalu kau mau ke mana?”
“Aku mau menemui atasan sebentar. Kau? Sudah mau pulang?”
Ye, kerjaanku sudah beres. Tapi aku mau mampir di kantin sebentar, tadi belum sempat makan.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Ah, baiklah. Aku nanti menyusul, kita makan bersama ya. Tunggu aku, tidak lama kok.”
“Baiklah. Aku duluan.”
“Yap!”
***
“Maaf, agak lama.” Eun Hyuk menghampiriku di kantin. Makananku baru saja datang.
“Tidak apa-apa. Kau tidak memesan?”
“Aku sudah memesan tadi. Kau makan dulu saja, pasti kau sudah lapar sekali.”
“Tidak apa-apa. Aku menunggu makananmu datang saja dulu.”
Sesaat suasana jadi agak canggung. Sebenarnya dulu aku dan Eun Hyuk tidak begitu dekat. Kami hanya mengobrol biasa di kelas kursus mengenai pelajaran jika ada kesempatan untuk mengobrol. Itu pun tidak terlalu sering. Aku sedikit lega saat akhirnya pesanan Eun Hyuk datang, dan langsung membelalak begitu melihat bahwa semua lauknya adalah daging, tidak ada sayur sedikitpun.
“Kau tidak makan sayur?” tanyaku.
“Haruskah aku makan sayur?”
“Ah tidak. Aku hanya berpikir sayur bisa menyeimbangkan makanan kita. Jadi bisa lebih sehat.” Itu yang Ryeowook oppa katakan padaku.
“Aku tidak suka sayur. Kau suka?”
“Eh? Sebenarnya aku juga tidak suka. Tapi ada yang terus memaksaku makan sayur.”
“Siapa? Ibumu?”
“Salah satunya.”
“Ah, pacarmu kah?”
Aniyeo! Bukan pacarku. Dia sahabatku.”
Eun Hyuk tertawa kecil. Aku bingung mengapa ia tertawa.
Waeyo?
“Sahabatmu itu pasti seorang pria.”
“Darimana kau tau?”
“Dari ekspresimu saat berkata tidak. Kau seakan-akan sudah terbiasa mengelak pertanyaan seperti yang kulontarkan tadi.”
“Ah, begitukah?”
Eun Hyuk mengangguk. Ya, dia memang benar. Banyak sekali orang yang mengira aku dan Ryeowook oppa berpacaran karena kami dekat dan mungkin sudah ratusan kali aku mengelak pernyataan itu.
“Kalau kau tidak suka, jangan dipaksa. Aku selalu menyisihkan sayur yang ada di makananku.”
Aku berpikir sejenak. Sekali-sekali mungkin boleh juga aku tidak menuruti permintaan Ryeowook oppa. Lagipula ini kan makananku, terserah aku mau makan apa. Ya kan? Aku pun menyisihkan sayuran yang ada di makananku. Sekali ini saja, pikirku.
Kami melanjutkan makan sambil mengobrol tentang masa-masa kuliah. Ternyata Eun Hyuk lumayan asyik diajak ngobrol, dia selalu bisa mencari topic pembicaraan sehingga aku bisa ikut bercerita. Setelah makan, dia juga mengantarku pulang.
“Lembur lagi?” Ryeowook oppa menyapaku saat aku melewati kamarnya menuju kamarku sendiri. Ryeowook sedang duduk di depan kamarnya.
“Hm.. Tidak juga sih. Tadi aku bertemu teman lama, jadi makan dulu sebelum pulang.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah. Waeyo? Kau memasak untukku?”
Anieyo. Aku hanya bertanya. Kau makan di mana?”
“Di kantin kantor.”
“Kau..”
“Tenang saja, oppa, aku makan sayur kok.” Ucapku berbohong supaya Ryeowook oppa tidak ngomel-ngomel lagi sehingga membuatku pusing.
“Baguslah..”
“Ya sudah, oppa, aku ke kamar dulu.”
Ne.
***
Sejak Eun Hyuk dan aku bekerja di kantor yang sama, kami jadi semakin akrab. Walaupun berbeda divisi tapi Eun Hyuk sering datang ke mejaku untuk sekedar ngobrol, mengajak makan siang, atau apapun. Aku sendiri tidak merasa terganggu karena ternyata aku dan Eun Hyuk memiliki berbagai persamaan, salah satunya adalah ketidaksukaan kami pada sayur. Eun Hyuk selalu punya rekomendasi restoran yang bagus. Seleranya oke juga, makanan yang dipilihkan Eun Hyuk selalu menggiurkan dan sebagian besar tanpa sayuran. Aku sangat menikmatinya. Aku jadi tidak merasa terbebani dengan kalimat “makan sayurnya” yang selalu dilontarkan oleh Ryeowook setiap kami makan bersama.
“Kenapa akhir-akhir ini kau pulang malam?” lagi-lagi Ryeowook menungguku di depan kamarnya.
“Memangnya kenapa, oppa? Aku kan banyak kerjaan.”
“Kau sudah makan?”
“Sudah.” Jawabku singkat.
“Sekarang kau jadi sering makan di luar. Kau tau, makanan di luar itu belum terjamin higienitasnya.”
Ya! Oppa, aku makan di restoran yang bersih kok. Makanannya juga enak.”
“Apa makanannya ada sayurnya?”
“Aku makan sayur, oppa. Tenang saja.” Lagi-lagi aku berbohong.
“Biar bagaimanapun makanan rumah lebih sehat.”
Oppa ini kenapa? Bagus dong kalau aku makan di luar. Lagipula aku tidak bisa masak. Oppa juga tidak perlu repot-repot lagi memasak makan malam untukku.”
“Dengan siapa kau pergi? Dengan teman lamamu itu?”
Waeyo? Kenapa oppa bertanya hal itu?”
“Sejak kau bertemu teman lamamu itu, kau selalu makan di luar. Aku khawatir kau makan makanan yang tidak sehat.”
“Memangnya apa peduli oppa? Oppa tidak perlu memperhatikanku sampai seperti ini. Aku mau makan dengan siapa, terserah aku. Aku mau makan apa juga terserah aku. Oppa ini bukan kakakku beneran. Oppa hanya disuruh eomma untuk menjagaku, tapi kau tidak perlu sampai seperti ini, mengatur makanku segala.” Aku mulai emosi.
“Begitu?”
Ne.
“Yah, aku memang hanya  menjalankan amanah dari ibumu. Tapi kalau kau sendiri tidak mengizinkanku untuk memperhatikanmu, aku bisa apa? Terserah kau saja.”
Setelah itu Ryeowook oppa masuk ke kamar. Aku tau Ryeowook oppa kesal, tapi aku cuek saja. Biasanya Ryeowook oppa tidak akan pernah lama jika marah. Aku pun melangkah menuju kamarku dengan santai.
***
Esoknya aku bangun dengan ceria. Baru saja Eun Hyuk mengirimku pesan, ia akan mengajakku makan malam di restoran baru lagi. Eun Hyuk memang paling tau restoran mana yang menyajikan makanan-makanan lezat. Aku keluar kamar dan seperti biasa melewati kamar Ryeowook. Kebetulan Ryeowook sedang memakai sepatu dan bersiap untuk ke kantor.
“Pagi, oppa!” sapaku ceria. Ryeowook memandangku sekilas lalu melanjutkan memakai sepatu tanpa membalas sapaanku. Kemudian ia bangkit dan berjalan melewatiku begitu saja. Aneh, Ryeowook tidak pernah seperti ini. Apa ia masih marah?
Sepanjang hari itu aku selalu kepikiran Ryeowook oppa. Sikapnya benar-benar aneh. Apakah ucapanku semalam begitu menyakitinya? Bukankah apa yang aku katakan itu kenyataan? Ryeowook oppa seharusnya bisa lega karena tidak perlu lagi memasak makan malam untukku, apalagi sampai menungguku pulang setiap makan. Dia kan bukan siapa-siapa, hanya teman dekatku saja. Dia tidak perlu menuruti permintaan eomma untuk menjagaku, lagipula dulu eomma mengatakan hal itu tidak serius. Mengapa Ryeowook oppa terlalu serius menanggapinya?
“Kau kenapa?” Eun Hyuk bertanya padaku saat makan malam.
Waeyo? Aku tidak apa-apa.”
“Seharian ini sepertinya kau melamun terus. Apa kau ada masalah?”
“Ah, tidak ada.”
“Benarkah? Kau pasti ada masalah. Apa kau berkelahi dengan sahabatmu itu? Siapa namanya?”
“Ryeowook. Ah, tidak, kami baik-baik saja.”
Eun Hyuk memandangku dengan tidak percaya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Kau berbohong.” Perkataan Eun Hyuk langsung menancap di hatiku.
A.. Anieyo!”
“Yah, kau bisa bercerita padaku kalau kau ada masalah.  Hyun Mi yang kukenal tidak pernah melamun sepanjang hari seperti ini kecuali jika ada masalah.”
“Bagaimana kau tau?”
“Aku sering memperhatikanmu dulu saat di kelas kursus. Kau selalu ceria setiap hari. Lalu suatu hari saat kau mendapat teguran dari pak guru karena  nilaimu menurun, kau menjadi pemurung selama beberapa hari.”
“Kau memperhatikanku?”
“Ya. Karena aku menyukaimu.”
M.. Mwo?!”
“Hahaha.. kau tidak perlu terkejut seperti itu. Aku menyukaimu dulu.”
“Dulu?”
“Ya. Kenapa? Kau berharap aku masih menyukaimu sekarang? Sayangnya aku sudah punya tambatan hati.”
A.. Anieyo! Kau terlalu percaya diri! Aku hanya tidak menyangka kau menyukaiku dulu.”
“Kau memang tidak peka, Hyun Mi. Sebenarnya banyak cowok di kelas kursus yang menyukaimu. Tapi kau tidak pernah menyadarinya dan menganggap mereka semua hanya teman biasa. Kau baik pada semua orang, membuat kami jadi tidak punya nyali untuk jujur padamu.”
Aku hanya bisa melongo. Benarkah itu semua?
“Jadi? Apa benar kau sedang punya masalah dengan Ryeowook?”
“Hmm.. Hah.. baiklah aku ceritakan.”
Aku pun menceritakan kejadian semalam pada Eun Hyuk.
“Kurasa ia menyukaimu.” Perkataan Eun Hyuk yang satu ini sungguh membuatku tersedak. “Hei, pelan-pelan saja.”
Aku pun minum sejenak sebelum bertanya lebih lanjut.
“Kenapa kau bisa berkata begitu?”
“Menurutmu, kalau ada pria yang begitu memperhatikanmu sampai sedetail itu, apa artinya jika bukan suka?”
“Ia hanya menjalankan amanah dari eomma-ku.”
“Itu hanya alibi. Walaupun ia sahabatmu, belum tentu ia akan memperhatikan hal sedetail itu tentang dirimu, ia tidak akan begitu memperhatikan pola makanmu, apa yang kau makan, dengan siapa kau pergi. Kecuali ia menyukaimu.”
“Begitu menurutmu?”
“Kau menyukainya?”
Pertanyaan itu langsung membungkam mulutku. Apa aku menyukai Ryeowook?
“Tentu saja. Ia teman dekatku.”
“Bukan itu maksudku. Kau mencintainya?”
“Cinta?”
“Ya.”
“A.. Aku tidak tau.”
“Tanya hatimu baik-baik. Apa yang kau rasakan jika kau berada di dekatnya? Bagaimana perasaanmu saat ia rela menunggumu pulang dan memasak makan malam untukmu?”
***
Percakapanku dengan Eun Hyuk di restoran itu benar-benar semakin membuatku pusing. Mengapa kejadian ini sampai melibatkan masalah perasaan seperti ini? Benarkah Ryeowook menyukaiku? Ah tidak mungkin! Sikapnya selama ini lebih seperti seorang kakak. Lagipula, apa aku menyukai Ryeowook? Tentu saja tidak! Aku juga hanya menganggapnya kakak. Bagaimana perasaanku saat ia menungguku pulang malam dan memasak untukku? Tentu saja aku senang, aku tidak perlu berpikir harus makan apa, makan di mana, semuanya sudah disajikan di atas meja begitu aku pulang kerja. Tapi Ryeowook oppa selalu menyuruhku makan sayur. Ah! Pusing! Terserah lah, aku tidak mau berpikir terlalu banyak!
Menjelang pukul 9 malam aku baru sampai di wisma. Begitu melewati kamar Ryeowook, aku mengernyit heran. Mengapa kamarnya gelap sekali? Apa Ryeowook sudah tidur jam segini? Tapi lampu depan kamarnya juga tidak menyala. Atau dia belum pulang kerja?
“Hyun Mi-ssi..” seseorang memanggilku.
“Ah, ahjumma, selamat malam.” Kataku. Ternyata yang memanggilku adalah bibi pemilik wisma ini.
“Kau baru pulang?”
Ye. Tadi aku makan malam dulu dengan temanku.”
“Oh.. Kau tidak mengantar Ryeowook ke bandara?”
“Bandara? Memangnya dia ke mana?”
“Kau tidak tau?”
Ani..”
“Dia tidak memberitaumu? Siang tadi dia pulang dan langsung mengepak barang-barangnya. Katanya ia dipindahtugaskan keluar kota.”
“APA??! Pindah tugas? Keluar kota? Berapa lama?”
“Entahlah, mungkin akan lama karena sepertinya ia mengangkut semua barangnya dari sini. Bahkan ia bilang aku boleh menjual kamar ini pada orang lain. Aku tidak tau kenapa mendadak seperti ini. Bahkan kau saja sampai tidak tau.”
Rasanya aku ingin menangis mendengar berita itu. Begitu mengucapkan terima kasih aku langsung masuk ke kamarku, menyalakan lampu dan mencari Ryeowook oppa seperti orang gila. Aku masih berharap ini hanya lelucon, Ryeowook oppa akan muncul dari kamarku dan berkata ini semua hanya keisengannya membohongiku, dan kemudian menyuruhku makan bersama. Tapi kamarku benar-benar tidak ada orang. Tidak ada sosok Ryeowook oppa yang kuharapkan. Aku pun terduduk lemas di sofa sambil menangis.
Waeyo, oppa? Kenapa kau pergi tanpa memberitauku? Apa kau terlalu serius menanggapi ucapanku semalam sehingga kau begitu marah dan meninggalkanku? Mianhae, oppa. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Aku tidak akan berbohong lagi padamu, aku akan makan masakanmu walaupun kau  memasak sayur yang paling tidak enak sekalipun.”
Dan saat itu pula aku menyadari bahwa aku begitu kehilangan Ryeowook, begitu sedih dengan kepergiannya. Aku memang menyukainya. Aku mencintainya.
***
Tiga tahun berlalu. Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ryeowook. Semua permintaan maafku melalui e-mail maupun SMS tidak mendapat respon sama sekali. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, aku pun memutuskan untuk melanjutkan hidupku apa adanya. Aku masih menjalankan rutinitasku di kantor seperti biasa. Eun Hyuk pun akhirnya sudah menikah dengan tambatan hati yang dulu pernah ia katakan. Aku turut bahagia atas pernikahan mereka. Sampai sekarang pun aku selalu menghadirkan sayuran dalam makananku dan belajar memasak sendiri dengan panduan buku memasak yang aku beli di toko buku. Walaupun hasilnya tidak begitu memuaskan, tapi ini lebih baik daripada makan di luar. Perkataan Ryeowook masih terngiang di telingaku. Makanan rumah lebih sehat daripada makanan di luar. Aku masih tinggal di wisma yang sama. Sesekali bila aku melewati kamar Ryeowook dulu, aku selalu berhenti sejenak dan mengenang saat-saat ketika ia masih tinggal di kamar itu. Entah kenapa sampai saat ini belum ada yang menempati kamar itu. Tapi kupikir bagus juga, lebih baik kamar itu kosong daripada ditinggali oleh orang baru yang membuatku tidak bisa menatap kamar itu sambil mengenang sosok Ryeowook.
“Selamat pagi, Hyun Mi eonni..” salah satu tetanggaku yang baru menginap di wisma ini selama 1 bulan menyapa.
Ne, selamat pagi.”
Eonni mau berangkat kerja?”
Ye. Kau?”
“Aku mau ke kampus. Eonni kenapa sering sekali memandangi kamar itu?”
“Ah, tidak apa-apa. Dulu temanku pernah tinggal di sini. Aku hanya merindukannya.”
Jinjja? Aku dengar kamar ini sudah ada yang membeli. Hari ini sudah akan ditempati.”
“Benarkah?”
Gadis itu mengangguk.
“Aku ke kampus dulu ya, eonni. Eonni mau keluar bersama?”
“Ah, ye. Baiklah.”
Kami berdua pun keluar wisma bersama. Sayang sekali kamar itu akhirnya dibeli orang. Aku jadi tidak bisa memandanginya lagi. Sudahlah, mungkin ini pertanda bahwa aku memang harus melupakan Ryeowook oppa. Entah aku bisa atau tidak.
***
Memang benar. Saat aku pulang kerja kamar itu sudah berpenghuni. Lampu depan kamarnya menyala, namun lampu di dalam kamar tidak. Mungkin penghuninya sudah tidur karena ini sudah pukul 10 malam. Hah, aku sungguh merindukan Ryeowook oppa. Aku pun melangkah gontai menuju kamar.
“Eh?” aku melihat ada sebuah kotak bekal di meja depan kamarku dengan sebuah kartu di atasnya. Aku pun mengambil kartu itu dan membacanya.
Untuk penghuni kamar B409.
Salam kenal. Aku penghuni baru di sini. Makanan ini sebagai salam perkenalan dariku. Tadinya aku ingin memberikan secara langsung tapi sepertinya kau belum pulang. Jadi aku taruh di atas meja. Semoga kau suka. ^^”
Aku membolak-balikkan kartu itu tapi tidak ada nama yang tertera di sana. Aneh sekali, jika ia ingin berkenalan dengan penghuni di sini, seharusnya ia memberitahukan namanya. Jadi jika besok aku bertemu dengannya, aku bisa menyapanya. Tapi ya sudahlah. Aku pun membawa kotak itu masuk ke dalam kamar dan membukanya di dapur. Di dalamnya ada seposi nasi beserta lauk berupa daging ayam cincang, sayur brokoli, dan wortel. Hah, lagi-lagi aku teringat Ryeowook oppa. Dia juga sering memasak brokoli dan wortel. Seketika itu juga perutku berbunyi. Ya, aku memang belum sempat makan malam. Aku pun membawa kotak itu ke meja dan melahapnya.
“Jadi kau sekarang suka makan sayur?” suara itu terdengar dari belakang. Aku langsung melonjak dan menoleh ke belakang.
“RYEOWOOK OPPA???!!!” aku begitu terkejut. Aku mengerjap-ngerjap dan menampar pelan pipiku. Tapi Ryeowook oppa masih di hadapanku. Tersenyum.
“Lama tidak berjumpa, Hyun Mi.”
Aku langsung berlari dan memukul Ryeowook. Air mataku sudah tidak terbendung lagi.
Waeyo, oppa? Kau dari mana saja? Mengapa meninggalkanku tanpa kabar? Kenapa e-mail dan SMS-ku tidak dibalas? Oppa tau? Aku sangat merindukan oppa! Siapa yang memasak untukku? Aku harus memasak sendiri! Mengganti sprei sendiri. Oppa jahat! Jinjjayo!!” kali ini aku sungguh menumpahkan kekesalan sekaligus kesedihanku pada Ryeowook.
Ryeowook menarikku dalam pelukannya. Aku sempat memberontak tapi akhirnya aku luluh juga. Aku membiarkan Ryeowook memelukku, seperti dulu saat aku bersedih. Pelukan Ryeowook selalu membuatku tenang.
Mianhae, Hyun Mi.”
Oppa tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah. Mianhae, oppa. Aku telah menyakiti hatimu malam itu. Aku sungguh tidak bermaksud menyakiti hati oppa.”
Gwenchana, Hyun Mi. Aku yang seharusnya minta maaf. Waktu itu aku sebenarnya ingin mengatakannya padamu, tapi aku tidak sanggup. Aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Tapi malam itu aku merasa kau memang tidak membutuhkan aku lagi. Jadi lebih baik aku diam-diam meninggalkanmu. Tapi sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Siapa bilang aku tidak membutuhkan oppa? Selama oppa pergi aku selalu merindukan masakan oppa. Aku selalu berharap oppa pulang memasakkan makan malam untukku.”
“Bukankah kau bisa makan di luar?”
“Bukankah oppa bilang makanan rumah lebih sehat?”
“Jadi kau merindukan masakanku?”
“Tentu saja!”
“Apa kau merindukanku?”
Aku melepaskan pelukan Ryeowook.
Ani!” aku menunduk salah tingkah.
Jinjjayo?”
Ne.
Ryeowook hanya menghela nafas. Mungkin ia kecewa. Aku tau sebenarnya Ryeowook oppa menyukaiku, tapi mengapa ia tidak pernah jujur padaku. Aku menunggumu, oppa. Katakan saja perasaanmu! Aku semakin gemas melihat tingkahnya.
Oppa berharap aku merindukan oppa?” aku memancingnya dengan pertanyaan itu.
Mwo?” Ryeowook oppa tampak terkejut. Tampangnya lucu sekali. Sudah jelas ekspresinya menyiratkan bahwa ia tidak percaya aku bisa mengetahuinya.
“Aku memang tidak merindukanmu. Tapi lebih dari itu. Aku sangat merindukanmu. Saranghae, oppa.” Kataku pelan tapi mantap. Ryeowook semakin melongo. Seketika itu juga aku melihat wajahnya memerah. Ryeowook oppa malu! Ini pertama kalinya aku melihat wajah malu oppa.
“Kenapa oppa diam? Oppa tidak mencintaiku? Yah, sudahlah, berarti aku bertepuk sebelah tangan. Kkaja, lupakan saja. Aku mau lanjut makan.”
Sa.. Saranghae, Hyun Mi.” Ryeowook oppa akhirnya mengatakannya. Aku pun menahan senyum.
Mwo? Kau bilang apa tadi? Suaramu terlalu kecil, aku tidak mendengarnya.”
“Aishh.. Jinjja, Hyun Mi! Masa kau tidak mendengarnya?”
“Sama sekali tidak. Kau seperti berbisik.”
Ryeowook oppa menggaruk kepalanya dan menunduk salah tingkah.
“Ah, oppa ini payah sekali. Huh!” aku pura-pura marah.
SARANGHAE, HYUN MI!” Ryeowook sedikit berteriak. Aku langsung tertawa.
“Tidak perlu berteriak seperti itu, aku tidak tuli.”
“Kau mengerjaiku ya?”
Aku memeletkan lidah. Ryeowook langsung menghampiriku dan mengelitik pinggangku. Aku terus memberontak karena geli, namun Ryeowook terlalu kuat memelukku sampai aku tidak bisa menghindar.
“Cukup, oppa! Ampun!!” teriakku.
Kami berdua tertawa bersama.
“Awas kau kalau mengerjaiku lagi. Aku akan memasak sayur yang banyak dan menyuruhmu makan semuanya!”
“Silahkan saja! Aku sudah terbiasa makan sayur.”
“Benarkah? Baguslah kalau begitu.”
“Oh ya, oppa, kau tau, bekas kamarmu dulu sudah ditempati orang lain. Lihat, ini bekal makanan dari orang itu. Dia meletakkannya di meja depan kamarku karena aku belum pulang tadi. Tapi aneh sekali, ia tidak menulis namanya. Huh, padahal aku ingin oppa tinggal di sebelah kamarku lagi. Oh ya, oppa tinggal di mana sekarang? Biar aku bisa mengunjungimu kapan-kapan.”
“Kau bisa mengunjungiku setiap hari.”
Mwo? Kau tinggal di dekat sini? Di mana?”
“Sebenarnya bekal itu dariku.”
MWO??! Ini bekal dari oppa? Jadi oppa yang..”
Ne. Aku yang tinggal di kamar sebelah. Lucu ya, ternyata belum ada yang membeli kamar itu. Jadi aku memutuskan untuk membelinya lagi.”
“Itu bukan lucu namanya. Tapi jodoh! Oppa dan aku memang ditakdirkan bersama.” Aku tersenyum. Ryeowook juga ikut tersenyum lalu mengusap rambutku dengan lembut.
Saranghae, Hyun Mi..” Ryeowook mulai bisa mengungkapkan perasaannya. Aku senang sekali.
Saranghaeyo, oppa..”


***THE END***