Sunday, July 5, 2015

Yisa Yu 郁可唯 - 好朋友只是朋友 (Hao Peng You Zhi Shi Peng You - Teman Baik Hanyalah Teman) - Lyric and Indonesia Translation

听你说什么我都 很快
Ting ni shuo shen me wo dou hen kuai le
接近你连影子都 微笑着
Jie jin ni lian ying zi dou wei xiao zhe
几千只纸鹤 你都耐心地陪着我折
Ji qian zhi zhi he ni dou nai xin di pei zhe wo zhe
却怎么都折不掉 那道无形的隔
Que zen me dou zhe bu diao na dao wu xing de ge he

越懂你陪着你就 越寂寞
Yue dong ni pei zhe ni jiu yue ji mo
灵魂那么美我却 碰不得
Ling hun na me mei wo que peng bu de
觉再炽热 也不能让飞蛾去扑火
Gan jue zai chi re ye bu neng rang fei e qu pu huo
靠近你的梦难道就能 不是我
Kao jin ni de meng nan dao jiu neng bu shi wo

好朋友只是朋友 还是朋友
Hao peng you zhi shi peng you hai shi peng you
不能够占有
Bu neng gou zhan you
好朋友疯狂以后
Hao peng you feng kuang yi hou
就一个人走 无所求
Jiu yi ge ren zou wu suo qiu
好朋友只是朋友
Hao peng you zhi shi peng you
只能保留 一点点温柔
Zhi neng bao liu yi dian dian wen rou
我知道 什么时候回头
Wo zhi dao shen me shi hou hui tou
不打扰你的自由
Bu da rao ni de zi you

认识你也许我就 够了
Ren shi ni ye xu wo jiu zu gou le
缘分的神奇我都 不管了
Yuan fen de shen qi wo dou bu guan le
可能你感 也看不见我心如刀割
Ke neng ni gan dong ye kan bu jian wo xin ru dao ge
哪怕很痛 至少就不算错过
Na pa hen tong guo zhi shao jiu bu suan cuo guo
好朋友只是朋友 还是朋
Hao peng you zhi shi peng you hai shi peng you
不能够占
Bu neng gou zhan you
好朋友疯狂以
Hao peng you feng kuang yi hou
就一个人走 无所求
Jiu yi ge ren zou wu suo qiu
好朋友只是朋友
Hao peng you zhi shi peng you
只能保留 一点点温柔
Zhi neng bao liu yi dian dian wen rou
我知道 什么时候回头
Wo zhi dao shen me shi hou hui tou
不打扰你的自
Bu da rao ni de zi you

爱人不是最好的朋友
Ai ren bu shi zui hao de peng you
朋友再好也不能牵手
Peng you zai hao ye bu neng qian shou
感情在天平两 头谁都怕太沉重
Gan qing zai tian ping liang tou shui dou pa tai chen zhong

好朋友只是朋友 还是朋友
Hao peng you zhi shi peng you hai shi peng you
不能够占有
Bu neng gou zhan you
好朋友疯狂以后 还是一个人走
Hao peng you feng kuang yi hou hai shi yi ge ren zou
无所求
Wu suo qiu
好朋友只是朋友
Hao peng you zhi shi peng you
只能保留 一点点温柔
Zhi neng bao liu yi dian dian wen rou
我知道什么时候回头
Wo zhi dao shen me shi hou hui tou
不打扰你的自由
Bu da rao ni de zi you

INDONESIA TRANSLATION
Katamu aku merasa sangat bahagia atas apapun
Berada dekat denganmu pun sudah bisa membuatku tersenyum
Ribuan bangau kertas, kau dengan sabar menemaniku melipatnya
Namun bagaimana bisa aku tak mampu melipat penghalang yang tak terlihat

Semakin mengerti bahwa kau akan semakin kesepian jika menemaniku
Jiwa yang begitu indah mengapa tidak tersentuh olehku
Hatiku kembali memanas juga tak bisa membiarkan ngengat menyala
Dekat dengan mimpimu, apakah itu bukan diriku?

Teman baik, hanya teman baik, masih teman baik
Tidak cukup untuk menempati hatimu
Teman baik, saat keadaan menggila pun berjalan sendiri
Tidak apa-apa
Teman baik, hanya teman baik
Hanya dapat mempertahankan sedikit kelembutan
Aku tahu kapan saat untuk kembali
Tidak ingin mengganggu kebebasanmu

Mengenalmu mungkin sudah cukup bagiku
Keajaiban takdir pun aku tidak lagi peduli
Mungkin kau akan tersentuh, juga tak dapat melihat hatiku yang tersayat
Bahkan jika sangat sakit sekalipun, setidaknya tidak terhitung sebuah kesalahan

Teman baik, hanya teman baik, masih teman baik
Tidak cukup untuk menempati hatimu
Teman baik, saat keadaan menggila pun berjalan sendiri
Tidak apa-apa
Teman baik, hanya teman baik
Hanya dapat mempertahankan sedikit kelembutan
Aku tahu kapan saat untuk kembali
Tidak ingin mengganggu kebebasanmu

Orang yang dicintai bukanlah teman terbaik
Tidak peduli seberapa baik hubungan pertemanan, juga tidak bisa bergandengan tangan
Perasaan yang seimbang pun kedua pihak akan takut terlalu berat

Teman baik, hanya teman baik, masih teman baik
Tidak cukup untuk menempati hatimu
Teman baik, saat keadaan menggila pun masih berjalan sendiri
Tidak apa-apa
Teman baik, hanya teman baik
Hanya dapat mempertahankan sedikit kelembutan
Aku tahu kapan saat untuk kembali
Tidak ingin mengganggu kebebasanmu


Thursday, July 2, 2015

GagasMedia Terus Bergegas - Ulang Tahun Kedua Belas



Happy birthday, Gagas...
Happy birthday, Gagas...
Happy birthday, GagasMedia..
Gagas Terus Bergegas!

Selamat ulang tahun, GagasMedia! Semoga sukses selalu dan bisa menghadirkan novel-novel yang menarik. GagasMedia itu penerbit pertama yang aku suka lho. Kalau ke toko buku aku selalu menuju rak novel dari GagasMedia dulu. Hehe.. Oke deh, tidak perlu berlama-lama lagi. Aku akan jawab 12 pertanyaan yang diajukan GagasMedia untuk mendapatkan Kado untuk Blogger!


***

1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
    a. Interlude - Windry Ramadhina
    b. Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta - Herdiana Hakim
    c. The Chronicles of Audy (seri 4R, 21, dan 4/4) - Orizuka
    d. Rindu - Tere Liye
    e. Rembulan Tenggelam di Wajahmu - Tere Liye
    f. Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako
    g. Touche - Windhy Puspitadewi
    h. Hair-Quake!! - Mariskova
    i. Happily Ever After - Winna Efendi
    j. Incognito - Windhy Puspitadewi
    k. Misteri Patung Garam - Ruwi Meita
    l. Rust in Pieces - Nel Falisha

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?
    a. Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye. Buku ini banyak mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan dan semua yang dilakukan oleh umat manusia bisa berdampak bagi kehidupan orang lain. Di situ aku merasa tertampar karena banyak sekali (mungkin hampir di semua isi buku) kalimat-kalimat yang membuatku tercekat dan menyadari bahwa kuasa Tuhan sungguh sangatlah besar.
    b. The Chronicles of Audy (seri ketiga - 4/4). Pada bagian pertengahan hingga akhir aku sempat meneteskan air mata membaca kehidupan percintaan yang dialami Audy. Ia yang semula menyukai Regan justru disukai oleh adiknya Regan, yaitu Rex yang sifatnya sangat dingin. Audy yang semula tidak percaya bahwa Rex bisa menyukai dirinya yang ceroboh dan pembuat masalah akhirnya justru perlahan memiliki perasaan yang sama dengan Rex. Namun di saat ia mulai menyukai Rex, cowok itu justru merencanakan kuliah di luar negeri tanpa memberitahu Audy terlebih dahulu. Ketika ditanya mengapa, Rex malah menjawab bahwa keputusan ini diambil demi masa depan dirinya, yang notabene tidak ada nama Audy dalam rencana masa depan itu. Tentu saja Audy yang mendengar hal itu merasa terkejut dan kecewa. Aku sendiri ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Audy. Mulai menyukai seseorang yang menawarkan cinta, tapi kemudian dihempaskan begitu saja tanpa belas kasihan.
   c. Mooncake oleh Rizka Amalia. Buku ini menceritakan mengenai hubungan seorang anak penderita disleksia bernama Guang An dengan ayah yang tidak menyukai kehadirannya. Seperti biasa, cerita bertema keluarga selalu membuatku tersentuh. Aku turut merasakan kesedihan dan perjuangan Guang An demi mendapatkan perhatian ayahnya. Kisah ini kurang lebih sama dengan kehidupanku sendiri dengan ibuku.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
"Dua puluh tahun dari sekarang, kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibandingkan atas apa-apa yang kau kerjakan."
"Mawar akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendakinya."

Quote di atas aku ambil dari novel Sunset bersama Rosie karya Tere Liye dan sangat membekas dalam hatiku. Bahwa sesungguhnya di dunia ini sepantasnyalah kita melakukan sesuatu menurut hati nurani sebelum kita menyesal di kemudian hari. Bahwa sekeras apapun hati manusia juga bisa berbunga jika Tuhan memang menghendakinya demikian.

4. Siapakah tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu cocok jadi pasangannya. Hehehe.
Wah, pertanyaan yang satu ini sungguh sulit dijawab karena aku pribadi tidak pernah mengidolakan tokoh utama pria dalam novel. Tapi kalau tipe yang kira-kira aku inginkan untuk menjadi pacar sepertinya Romeo dari novel The Chronicles of Audy. Romeo memiliki selera humor yang tinggi, apapun yang dia ucapkan pasti bisa membuatku tertawa, atau setidaknya tersenyum kecil. Memang Romeo itu suka cengegesan dan tebar pesona, namun jika sudah menyangkut orang-orang yang disayanginya, ia akan berubah menjadi sangat serius. Tipe cowok seperti Romeo inilah yang bisa bikin aku "meleleh". Dia akan selalu hadir di saat kita membutuhkan, bisa menghibur di saat kita sedih dan menghidupkan suasana, juga bisa menjadi sangat romantis. Karakter komplit inilah yang sepertinya cocok untuk aku yang pendiam. Hehehe..

5. Ceritakan ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!
Ending yang takkan terlupakan adalah ending dari novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye. Seorang pria yang hidupnya sudah sekarat di rumah sakit telah dihadapkan pada peristiwa-peristiwa dalam hidupnya sejak kecil dan diberikan kenyataan-kenyataan tak terduga yang aku sendiri tercengang membacanya. Sang malaikat berkata bahwa hanya segelintir orang yang memiliki kesempatan untuk diajak memutar kembali kehidupannya dan hanya sedikit sekali orang-orang yang diberi kesempatan kedua. Melihat banyaknya dosa dan kesalahan yang dilakukan pria itu dan setelah pria itu menyesali perbuatannya, kupikir hidupnya akan diakhiri saat itu juga. Namun ternyata ia beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali. Ending ini sungguh membuatku merinding dan sangat membekas dalam benakku saking tidak percayanya aku dengan akhir cerita yang berbeda 180 derajat.

6. Buku pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?
Let Go oleh Windhy Puspitadewi. Aku memilih novel itu karena sebelumnya aku memang sangat menyukai cerita-cerita yang dikarang oleh Windhy. Ceritanya bagus, dilengkapi dengan kalimat-kalimat sarkartis yang kadang justru terdengar lucu dan konyol.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?
Ayahku (Bukan) Pembohong. Aku langsung tertarik dengan judul novel yang dikarang oleh Tere Liye tersebut karena kata "Bukan" yang ditaruh dalam tanda kurung bisa mengubah judul tersebut menjadi Ayahku Pembohong. Dalam hati aku bertanya, "Jadi sebenarnya sang Ayah berbohong atau tidak". Setelah membaca sinopsis di belakang sampul, aku menjadi semakin tertarik karena ayahku sendiri juga suka menceritakan kisah-kisah hidupnya kepadaku ketika aku masih kecil. Aku menjadi penasaran, seperti apa cerita yang dikisahkan oleh sang Ayah dalam novel tersebut sehingga bisa membuat anaknya berpikir bahwa sang Ayah berbohong, dan apakah benar sang Ayah berbohong pada anaknya. Jika ya, apa tujuannya? Tanpa pikir panjang aku langsung membeli novel tersebut.

8. Sekarang lihat rak bukumu... Cover buku apa yang kamu suka, kenapa?
Aku menyukai banyak desain cover buku novel di rak buku. Namun satu cover yang selalu bisa merebut perhatianku adalah cover novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako.
Sesuai dengan genre ceritanya, yaitu misteri, novel Girls in the Dark menurutku cukup berhasil memvisualisasikan isi cerita pada cover-nya. Gaya visualnya yang menggunakan anime juga sangat menggambarkan negara Jepang. Dengan latar belakang abu-abu yang suram dan tatapan mata misterius dari sang gadis membuatku tak bisa cepat berpaling saat mengamatinya. Seolah-olah gadis tersebut menyimpan ribuan kata yang hendak disampaikan kepada para pembacanya.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
Sejak dulu aku adalah penggemar cerita bertema misteri. Jika ada film atau novel yang bertema misteri, tanpa pikir panjang aku langsung menonton atau membacanya. Aku menyukainya karena kisah misteri membuat otakku terangsang untuk ikut berpikir, menebak-nebak, menganalisis, hingga akhirnya ada kepuasan tersendiri jika apa yang ada dipikirkan olehku sungguh-sungguh terjadi. Namun jika ternyata akhir ceritanya sungguh berbeda dengan analisisku, aku juga akan merasakan efek terkagum-kagum yang luar biasa yang pada akhirnya hal tersebut akan sangat membekas dalam pikiranku. Rasa penasaran yang timbul saat membaca atau menonton cerita bertema misteri itulah yang merupakan keasyikan tersendiri bagiku.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
Tere Liye, karena novel-novel Tere Liye selalu membuatku ketagihan dan merinding, tidak bisa berhenti membaca sampai aku tahu bagaimana akhir ceritanya. Rasanya tidak ada satupun kalimat dalam novelnya yang tidak penting dan sangat pantang terlewatkan.
Kalau sudah bertemu, pastinya aku ingin minta tanda tangan di semua novel karyanya yang aku punya, foto bersama, dan menanyakan apa rahasia di balik tulisan-tulisannya yang hebat dan mencengangkan tersebut. Hehehe...

11. Lebih suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?
Aku lebih suka buku cetak karena walaupun tidak praktis untuk dibawa ke mana-mana, namun ada sensasi tersendiri saat membaca buku cetak. Rasanya lebih keren. Ada kepuasan tersendiri melihat rak buku yang aku punya penuh berisi novel-novel hebat dan menarik, juga perasaan nyaman jika aku dikelilingi oleh buku-buku. Aku kurang suka dengan buku digital (e-book) karena meskipun praktis namun dapat membuat mata cepat lelah dan rusak karena menatap layar terlalu lama dan menguras baterai ponsel. Hehehe..

12. Sebutkan 12 kata untuk GagasMedia menurutmu!
GagasMedia penerbit buku paling keren yang selalu menghadirkan kisah hebat dan inspiratif bagi pembacanya.

***

Sekian jawaban dari 12 pertanyaan yang diajukan GagasMedia. Wah, berasa seperti wawancara penulis nih. Hehehe.. Sukses terus ya. Aku akan selalu menunggu novel-novel terbitan GagasMedia yang keren dan mengisnpirasi.

Salam hangat,

Phelina Felim

Sunday, June 21, 2015

Surat untuk Cinta Pertamaku


Hai...

Ah, aku tidak perlu menanyakan kabarmu, tentu saja. Melihat postingan-mu di Instagram dan Facebook, aku tahu kau baik-baik saja di sana, dan bahagia bersama istrimu tercinta. Selamat atas pernikahamu. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang setelah sekitar satu tahun sejak hari itu. Yah, walaupun surat ini juga tak akan kau baca.

Aku ada di sana saat itu. Di pesta pernikahanmu, maksudku. Kau tampak bahagia. Dalam setelan tuxedo berwarna putih gading, kau terlihat jauh lebih tampan. Kapan terakhir kali aku melihat wajahmu secara langsung sebelumnya? Aku pun tak lagi ingat. Kita memang tinggal di pulau yang berbeda. Istrimu cantik saat itu. Tentu saja semua wanita akan terlihat cantik di hari bahagianya. Hm.. Oke, oke. Memang menurutku istrimu tidak cantik-cantik amat. Ayolah, pria setampan dirimu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik. Oh, tidak, tidak. Aku juga tidak cantik, jangan bandingkan dengan diriku. Aku juga tahu diri. Jika dibandingkan denganku, tentu saja istrimu jauh lebih cantik. Tapi... Yah, baiklah! Istrimu memang cantik! Dan ramah! Tidak, aku tidak cemburu. Aku tidak pantas cemburu.

Kepada cinta pertamaku,
Aku menulis surat ini bukan tanpa tujuan. Aku hanya ingin sedikit mengenang tentang kita berdua. Sebetulnya aku juga bingung apa yang bisa dikenang di antara kita. Kebersamaan kita terlampau singkat. Aku mengenalmu saat aku berusia... Kira-kira 4 atau 3 tahun atau bahkan sebelumnya. Sepertinya aku belum bersekolah saat itu, dan aku masih tinggal di pulau yang sama denganmu. Kau sering menginap di rumahku, bermain bersamaku, bahkan kau pernah tidur di kamarku. Aku selalu senang jika kau datang. Entahlah, kehadiranmu selalu membuat hatiku melonjak gembira. Kau yang baik hati, kau yang selalu menghiburku saat sedih, kau yang menemaniku di hari-hari pertamaku bersekolah, kau yang mengajakku ke lapangan basket untuk melihatmu bermain, dan kau juga yang sering berkata bahwa akulah kesayanganmu.

Aku tidak mengerti perasaan itu. Ayolah, yang benar saja? Seorang anak berusia 3 tahun memangnya bisa mengerti apa? Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas menyebutmu sebagai cinta pertamaku. Tapi bukankah perasaan bahagia atas kehadiranmu itu seharusnya bisa dikategorikan dengan cinta? Atau minimal rasa suka? Entahlah, aku sendiri bahkan tidak bisa menjawabnya.Ya, anggaplah itu hanya perasaan bahagia yang umumnya dimiliki oleh seorang anak kecil ketika diajak bermain oleh temannya, dan mustahil seorang anak berusia 3 tahun memiliki perasaan seperti itu. Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa perasaan itu tetap ada hingga aku beranjak remaja?

Kita masih saling berkirim pesan di awal-awal kepindahanku ke Jakarta. Aku selalu tersenyum sendiri setiap kali membaca pesanmu. Bahkan saat kau sempat datang ke Jakarta dan menemuiku, aku merasa gugup dan berdebar-debar. Kau terlihat jauh lebih tampan dari kali terakhir aku melihatmu. Senyummu semakin menawan, suaramu menjadi berat, dan tubuhmu tegap layaknya pria dewasa.

Namun semakin aku terpesona padamu, semakin aku memaksa diriku untuk berhenti. Biar bagaimanapun, kau dan aku tidak akan mungkin menjadi "kita". Kau dan aku akan memiliki kehidupan kita sendiri nantinya. Kata-katamu dulu bahwa aku adalah kesayanganmu pun pada akhirnya tak akan bermakna apa-apa. Hingga suatu hari setelah aku tahu kau akhirnya telah memiliki seseorang, aku benar-benar memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan itu.

Lalu di hari bahagiamu saat itu, aku senang melihat senyuman bahagiamu, dan aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku tidak cemburu karena perasaan itu memang tidak seharusnya kumiliki. Setelah dipikir-pikir, di antara kita mungkin memang banyak yang bisa dikenang, tapi kenangan itu cukuplah untuk diriku sendiri. Kau sudah bahagia dengan keluarga kecilmu, tidak perlu terbebani dengan perasaanku yang tidak penting. Aku hanya berharap suatu hari aku pun bisa bahagia sepertimu.

Aku tidak menyesal pernah menyukaimu karena dari dirimu-lah aku mengenal perasaan ini. Aku juga tidak akan ragu-ragu untuk menceritakan hal ini pada sahabat-sahabatku. Ketika mereka bertanya siapa cinta pertamaku, maka dengan bangga aku akan menjawab, "Kakak sepupuku."

***

Wednesday, June 3, 2015

[Review] Kamera Pengisap Jiwa - Ruwi Meita

Penulis: Ruwi Meita
Editor: Ry Azzura & Ario Sasongko
Proofreader: Funy D.R,W
Layout: Irene Yunita
Desain Sampul: Gita Mariana
Ilustrasi Sampul: Rudiyanto
Penerbit: Bukune
Cetakan Pertama: Agustus 2014
132 hlm; 13x19 cm
ISBN 602-220-135-7
Genre: Horror







CEKREEEK!

"Terlambat. Kamera tua itu sudah memotret kamu dan keluargamu. Tidak ada satu pun yang bisa selamat." Anak perempuan itu berbicara dengan tatapan kosong. Dia pergi dengan cepat, Anabel tidak bisa menemukannya.

Anabel tidak ingin percaya. Namun, keanehan demi keanehan terus menghampiri. Keluarganya melakukan kegiatan yang sama terus-menerus. Papa berkebun, Mama memasak, dan adiknya bermain trampolin; tanpa makan, mandi, atau tidur! Dan, ah... apa sebenarnya makhluk mengerikan yang dilihatnya itu? Dia  menjerat leher keluarga Anabel dan mengambil jiwa mereka....


Kamera Pengisap Jiwa adalah novel Seri Takut dan karya Ruwi Meita pertama yang aku baca. Saat membaca judulnya, aku yang menyukai cerita misteri langsung tertarik dan sangat senang saat tahu pihak Bukune menggratiskan e-book ini di Play Store untuk jangka waktu tertentu. Aku jadi teringat dengan kakakku yang hobi memotret dan membayangkan bagaimana jadinya jika sebuah kamera dapat mengambil jiwa seseorang. Maka segeralah aku mengunduh e-book ini.

Seperti novel misteri pada umumnya, Kamera Pengisap Jiwa diawali dengan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga dengan Anabel si anak sulung sebagai tokoh utama. Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Sigi yang biasa dipanggil Bayi Sigi oleh Anabel ketika dia sedang kesal akan kelakuan adiknya. Sigi memang anak yang pecicilan, ia memiliki sifat yang ceria, cerewet, dan tidak bisa diam. Jalannya selalu melompat-lompat karena sejak dulu Sigi ingin sekali memiliki trampolin di rumahnya. Namun apa daya rumah mereka tidak cukup untuk menaruh sebuah trampolin.

Kebalikan dengan Sigi, Anabel cenderung lebih diam. Oleh karena itu ia kurang menyukai adiknya yang tidak bisa diam dan selalu mengganggunya. Anabel sangat suka membuat kartu ucapan. Ia sering membuatkannya kepada teman-temannya. Selain itu, Anabel juga suka memotret dan memiliki sebuah kamera polaroid kesayangan.

Suatu ketika ayah Anabel mendapat hadiah dari perusahaan tempatnya bekerja. Memang setiap tahun perusahaan tersebut selalu memberikan hadiah kepada para karyawannya. Tahun ini sungguh beruntung bagi keluarga Anabel karena mereka mendapat hadiah berlibur ke Plateau Dieng dan berkesempatan menginap di vila milik Harta Wijaya, pemilik dari perusahaan tempat ayahnya bekerja. Namun, benarkah mereka beruntung mendapatkan hadiah tersebut?

Vila milik Harta Wijaya dijaga oleh Pak Simhar, seorang lelaki tua yang sudah bungkuk dengan mata sebelah kirinya terbuat dari kaca. Di ruang tengah vila terdapat ratusan foto berpigura yang digantung di dinding, Foto-foto tersebut adalah foto semua tamu yang pernah menginap di vila tersebut yang anehnya mereka semua sama seperti keluarga Anabel, keluarga yang hanya beranggotakan empat orang dengan dua anak. Pak Simhar meminta keluarga Anabel bersiap-siap nanti malam untuk difoto dan akan dipajang di ruangan tersebut. Saat hendak berfoto, Anabel sedikit merasa aneh dengan vila itu, ia melihat sosok seorang anak perempuan berambut panjang di belakang Pak Simhar namun ketika ditanya, Pak Simhar tidak tahu-menahu soal kehadiran gadis itu. Setelah foto mereka diambil dengan sebuah kamera tua bernama Commodore, kejadian-kejadian aneh pun dimulai.

Keesokan harinya, Anabel mendengar teriakan Sigi dari sebuah ruangan. Saat Anabel menghampirinya, Sigi tengah berteriak senang karena menemukan sebuah trampolin besar di ruangan itu. Setelah Anabel puas bermain dengan Sigi, Anabel berencana mencari orang tuanya namun ia tidak menemukannya. Dari Pak Simhar-lah Anabel tahu bahwa ibunya sedang berada di dapur, sedangkan ayahnya berada di kebun.

Melihat ibunya yang asyik memasak dan ayahnya yang juga asyik berkebun, Anabel memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di sekitar vila hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan dengan berbagai macam hiasan yang bagus untuk dijadikan kartu ucapan. Ia pun dengan bersemangat membuat kartu-kartu ucapan terutama untuk Sigi karena adiknya itu sudah lama meminta Anabel membuatkan kartu ucapan untuknya. Hobinya membuat kartu ucapan membuat Anabel lupa waktu hingga akhirnya ia tertidur karena lelah.

Tinggal cukup lama di vila tersebut membuat Anabel menyadari bahwa keluarganya mulai bertingkah aneh. Ibunya terus memasak di dapur tanpa henti, begitu pula dengan ayahnya yang terus-menerus berada di kebun. Ditambah lagi dengan kamar Anabel yang tiba-tiba menjadi berantakan dan terdapat secarik kertas bertuliskan 'Bakar vila ini!'Anabel segera mencari Sigi dan memberitahu semua keanehan tersebut. Ia juga menunjukkan kegiatan ayahnya di kebun dan sebuah tali merah yang menjerat leher ayahnya. Mulanya Sigi sama sekali tidak percaya dengan ucapan Anabel karena ia tidak melihat tali yang menjerat leher ayahnya tersebut, hingga pada akhirnya Anabel memotret Sigi dan menunjukkan foto leher Sigi yang dijerat tali berwarna merah padanya, barulah Sigi percaya.

Anabel dan Sigi mencari solusi bersama. Anabel yang sempat melihat sosok anak perempuan saat ia membuat kartu ucapan, mengajak Sigi menemui gadis tersebut dan ternyata gadis bernama Arumi itu sudah meninggal. Jiwa Arumi-lah yang dilihat oleh Anabel dan Sigi. Dari penuturan Arumi, Anabel dan Sigi akhirnya mengetahui kebenaran dari vila tersebut dan sosok Pak Simhar tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini.

Monday, June 1, 2015

Jalan Pintas

“Ma...” Aku terisak menatap mama yang kini sedikitpun tidak ingin melihatku. Mata mama memerah, aku tahu mama sedang menahan tangisnya. Belum pernah aku bertengkar hebat dengan mama seperti ini. Bertengkar mungkin bukan kata yang tepat. Lebih tepatnya akulah yang membuat mama marah. Tidak, mama pasti sangat kecewa ketimbang marah.
“Kenapa, Dewi?” mama berbicara setelah bermenit-menit kami dikelilingi oleh rasa sepi yang menyesakkan.
“Dewi.. Dewi tidak tahu, Ma. Bukan sekali ini saja Dewi merasakan hal seperti itu.”
“Sejak kapan?” Nada suara mama masih terdengar datar.
“Sejak.. SMP..” kataku dengan terpatah-patah. “Dewi tidak tahu kenapa Dewi berbeda dengan teman-teman yang lain... Mereka.. Mereka menyukai teman sebaya kami, sedangkan Dewi.. Tidak tertarik. Dewi malah.. Malah menyukai seorang guru.”
Mata mama terpejam kala mendengar kalimat terakhirku. Beberapa saat kemudian mama menarik nafas dalam-dalam dan bertanya, “Apa karena ayah? Apa semua ini karena kau merindukan sosok seorang ayah?!” Nada suara mama meninggi, aku tertegun mendengarnya. Bibirku terkatup rapat memikirkan pertanyaan mama.
Benarkah yang mama katakan barusan? Benarkah aku lebih menyukai pria yang usianya jauh di atasku karena aku merindukan sosok seorang ayah? Kata mama, ayah sudah meninggal sebelum aku lahir. Sejak kecil aku memang sering bertanya-tanya bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Melihat teman-temanku digendong dan dimanja oleh ayahnya membuatku iri. Aku pernah bertanya kepada mama mengapa ia tidak menikah lagi, mama menjawab bahwa ia tidak membutuhkan pengganti ayahku. Mama tidak ingin aku merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Aku senang mendengar jawaban mama, tapi keinginan untuk memiliki seorang ayah terlalu kuat di dalam hatiku.
Hingga suatu hari aku bertemu dengan Thomas Brawijaya. Aku bekerja di sebuah biro periklanan dan Thomas adalah salah satu klienku. Pertemuan kami tidak istimewa layaknya seorang konsultan dan klien. Namun semakin hari perbincangan kami yang semula hanya melibatkan pekerjaan, menjurus ke sesuatu yang bersifat pribadi. Jujur aku merasa nyaman berbincang dengan Thomas. Ada perbedaan yang kurasakan saat mencurahkan isi hatiku padanya. Ia pendengar yang baik, tidak pernah mengintimidasi, dan selalu memberikan solusi yang hebat.
Aku tahu ada yang salah pada diriku. Namun aku tak memungkiri betapa bahagianya aku saat mengetahui bahwa Thomas belum berkeluarga. Sekian lama kami berteman, Thomas akhirnya mengungkapkan perasaannya padaku. Aku menerimanya dan kami pun jadian. Aku bahagia, namun aku tahu cepat atau lambat kebahagiaan ini akan berakhir. Mama pasti tidak akan menyetujui hubungan kami.
“Demi Tuhan, Dewi, dia lebih pantas menjadi ayahmu!” Sepertinya mama menjadi marah karena aku tidak mampu menjawab pertanyaan mama tadi.
“A.. Aku tahu..” Isakanku terdengar semakin keras. “Tapi Thomas belum berkeluarga. Apa salahnya?”
“Kau tidak akan bahagia, Dewi! Usia kalian terlampau jauh. Pokoknya mama tidak akan merestui!”
Tanpa menunggu jawabanku, mama beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar, disusul dengan suara pintu dibanting. Aku kembali menangis. Sepertinya aku tidak akan bisa meyakinkan mama. Sambil terisak aku merogoh saku dan mengeluarkan ponselku. Kutekan sebuah nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Tidak sampai tiga deringan suara Thomas terdengar di ujung telepon.
“Halo, Wi.”
“Thomas.. Aku setuju.” Demi meyakinkan hatiku, aku memejamkan mata lalu melanjutkan, “Kita kawin lari saja.”

***

Sunday, May 24, 2015

From A Stranger who Unreasonably Love You


Hai, kau yang di sana. Namaku Sarah, 24 tahun. Masih ingat? Kurasa tidak. Ya, bagaimana mungkin kau bisa ingat? Tiga belas tahun sudah berlalu sejak terakhir kali kita bertemu. Dan bagaimana mungkin kau bisa ingat sedangkan murid-muridmu berjumlah ratusan bahkan ribuan? Dan nama Sarah sungguh sangat pasaran.
Kau tahu? Di suatu malam ketika hanya aku seorang yang masih membuka mata, entah bagaimana wajahmu tiba-tiba terbayang. Aneh memang. Aku memang senang berkhayal sebelum tidur, mencari-cari ide yang mungkin saja bisa kujadikan bahan menulis novel. Ah ya, sekedar informasi untukmu, cita-citaku menjadi seorang novelis. Tidak penting memang, tapi biarlah aku berbagi sedikit tentangku. Mungkin saja suatu hari kau membaca tulisan ini dan ingin mengenalku. Haha..
Kembali ke topik utama. Ya, wajahmu yang tiba-tiba terlintas. Sungguh aku tidak tahu mengapa. Oh, tidak. Tidak ada kejadian spesial di antara kita. Hubungan di antara kita hanya guru dan murid. Kau pernah menjadi wali kelasku dua kali. Meskipun begitu, aku yakin kau tidak mengingatku. Aku bukan murid yang menonjol. Aku cenderung pendiam. Bahkan aku hanya punya 3 orang teman saat itu.
Sejak malam itu, sejak wajahmu terlintas dalam pikiranku, hampir setiap malam aku berpikir mengenai sebuah cerita. Kisah seorang wanita yang jatuh cinta pada pria berusia jauh di atasnya atau yang biasa disebut dengan istilah Sugar Daddy. Ya, tentu saja wajahmu yang selalu kubayangkan saat itu. Jangan kira aku lupa bagaimana rupa wajahmu. Aku ingat, sangat ingat dengan jelas. Kulitmu sedikit gelap, bertubuh tinggi dan tegap, janggut tipis menghiasi dagumu, juga kacamata yang membingkai matamu. Kau tampak seperti pria pemalu, namun di sisi lain bisa tampak gagah dan tegas dengan suara baritonmu. Usiamu kutaksir sekitar 35 tahun saat itu.
Ah, semakin sering aku membayangkanmu, semakin aku penasaran. Bagaimana dirimu yang sekarang? Tanpa sadar aku membuka akun Facebook, mencari-cari namamu. Siapa tahu kau punya akun Facebook. Tapi... Astaga, aku bahkan tidak tahu nama lengkapmu. Aku sedikit putus asa. Hanya nama depanmu yang kucari dan hasil pencarian yang kudapatkan terlampau banyak. Ya, seperti namaku, namamu juga pasaran. Hehehe..
Bermalam-malam kuhabiskan dengan mencari akunmu namun tak juga kutemukan. Kupikir kau memang tidak memiliki akun Facebook. Berapakah usiamu saat ini? Di usiamu yang sekarang mungkin saja kau terlalu malas untuk mengikuti perkembangan zaman. Aku pun mulai putus asa.
Ting! Saat aku hendak memejamkan mata dan menghentikan pencarianku, tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikiranku. Aku ingat sekarang! Aku pernah dimasukkan dalam sebuah grup alumni sekolah dasarku. Dan seingatku pernah ada salah satu temanku yang mengunggah foto kelas saat kami masih menginjak kelas 6. Dengan cepat aku membuka grup tersebut. Ku-scroll layar smartphone-ku untuk mencari foto tersebut. Beberapa menit berlalu, aku tak juga menemukannya. Ah, mengapa mereka harus menulis hal-hal yang tidak penting di grup ini? Aku jadi kesulitan mencarinya.
Jantungku langsung berdegup kencang begitu mendapati foto itu di sana. Ya, ini foto yang aku maksud. Segera kubuka foto tersebut dan memperbesarnya sehingga aku bisa membaca nama-nama yang tertera di bagian bawah foto.
Wali kelas: Albertus Widjaya.
Benar. Itu kau.
Segera aku menekan tombol search dan mencari nama tersebut.
Ketemu! Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana bahagianya hatiku.
Dan dimulailah kegiatan stalking-ku sejak saat itu...

Hai, kau yang di sana. Percayakah dirimu jika kukatakan bahwa...
Mungkin... mungkin saja... aku...
Menyukaimu?
Kau tidak percaya? Ya, aku sendiri pun tidak percaya. Kau boleh tertawa karena aku juga sedang melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?
Aku tidak tahu. Sebenarnya aku juga belum pasti dengan perasaan ini. Hei, kita bahkan tidak pernah bertemu selama 13 tahun. Dan kita tak pernah punya kenangan sekecil apapun. Kau dan aku bagai dua orang asing. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Bahkan ingat denganku saja tidak, kan?
Begini. Logikanya, usiamu saat ini sudah hampir menginjak 50 tahun. Kau lebih pantas menjadi ayahku. Bahkan aku tak ingat wajahmu sekuyu itu saat aku pertama kali menemukan akunmu di Facebook. Lalu, adakah alasan aku menyukaimu?
Sama sekali tidak ada.
Aku tahu ini bodoh sekali. Dirimu bahkan sudah berkeluarga, mungkin sudah lama sebelum kita berjumpa. Lihatlah anak-anakmu sekarang sudah hampir sama usianya denganku. Lalu pantaskah aku memiliki perasaan ini?
Oh, tidak, tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak punya pikiran untuk mengganggumu. Dan tulisan ini benar-benar hanya isi hatiku. Tidak ada niat sedikitpun. Aku sungguh tidak berhak, bukan begitu?
Baiklah, aku tidak akan berlama-lama lagi. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku saat ini. Mungkin suatu hari nanti aku akan membuat sebuah cerita tentang kita sebagai ungkapan atas perasaanku ini.



From: A Strangers who Unreasonably Love You 


NB: Aku memang sedang berencana untuk membuat cerita di atas ke dalam sebuah novel. Semoga bisa kesampaian, karena aku ingin sekali membuat tema cerita seperti itu. Doakan ya! ^^

Tuesday, April 14, 2015

郁可唯 Yisa Yu - 幸福难不难 (Xing Fu Nan Bu Nan) Happiness is Hard - Lyric and Indonesia Translation

现在过得很好 为什么苦恼
wǒ xiàn zài guò de hěn hǎo  bù wèi shén me kǔ nǎo 
日子像悠游的水草 也不怕回忆惊扰
rì zi xiàng yōu yóu de shuǐ cǎo  yě bù pà huí yì jīng rǎo
过去多在意的 过境迁了随风飘
guò qù duō zài yì de  shì guò jìng qiān le suí fēng piāo

*谁等在我的昨天 左右不了明天
shuí děng zài wǒ de zuó tiān  zuǒ yòu bù liǎo míng tiān 
爱过几年 缘分总是少一
ài guò jǐ nián  yuán fèn zǒng shì shǎo yī tiān

** 一个人一辈子 一次幸福难不难
yī gè rén yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán 
每次想走得很 越渴望越无力向前
měi cì xiǎng zǒu de hěn yuǎn  yuè kě wàng yuè wú lì xiàng qián
如果那么爱你 最后还要失去你 为你伤
rú guǒ nà me ài nǐ  zuì hòu hái yào shī qù nǐ  wèi nǐ shāng xīn
可能 我会宁愿不去冒
kě néng  wǒ huì nìng yuàn bù qù mào xiǎn
一句话一辈子 一次幸福难不难
yī jù huà yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán
过多少永远 怀念拥抱你的瞬间
tīng guò duō shǎo yǒng yuǎn  zhǐ huái niàn yōng bào nǐ de shùn jiān
如果遗失的梦 还能再找回
rú guǒ yí shī de mèng  hái néng zài zhǎo huí lái 
我会勇敢 可是选择离开就别遗
wǒ huì yǒng gǎn  kě shì xuǎn zé lí kāi jiù bié yí hàn
(*), (**)

转身一辈子 一次幸福难不难
yī zhuǎn shēn yī bèi zi  yī cì xìng fú nán bù nán 
时说了再见 见面时空都已蜕变
dāng shí shuō le zài jiàn  zài jiàn miàn shí kōng dōu yǐ tuì biàn
如果遗失的梦 还能再找回
rú guǒ yí shī de mèng  hái néng zài zhǎo huí lái 
我会勇敢 可是选择离开就别遗
wǒ huì yǒng gǎn  kě shì xuǎn zé lí kāi jiù bié yí hàn
DA DA DA DA  DA DA DA DA DA~
放开一切才能握住你的手

fàng kāi yī qiè cái néng wò zhù nǐ de shǒu

INDONESIA TRANSLATION
Saat ini yang kujalani sangat baik, tidak bersedih untuk apapun
Hari-hari bagaikan rumput yang riang, juga tidak takut pada kenangan yang mengganggu
Masa lalu yang dipenuhi oleh banyak kepedulian telah hilang dibawa angin

*Siapa yang menungguku kemarin tidak akan ada lagi di sekitarku besok
Mencintai bertahun-tahun, takdir selalu berkurang satu hari

** Seorang diri, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Setiap kali ingin pergi jauh, semakin berkeinginan semakin lemah untuk meneruskan
Jika begitu mencintaimu namun pada akhirnya harus kehilangan dan membuatku sedih
Mungkin aku lebih memilih untuk tidak mengambil resiko
Sebuah kalimat, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Aku telah mendengar banyak kata selamanya, hanya merindukan saat-saat aku memelukmu
Jika mimpi yang telah hilang bisa didapatkan kembali, aku akan berani
Tapi janganlah menyesal jika sudah memilih untuk pergi

(*) (**)

Sekali membalikkan badan, seumur hidup, bahagia sekali saja apakah begitu sulit
Saat kalimat selamat tinggal telah diucapkan, kita akan bertemu lagi di ruang dan waktu yang lain
Jika mimpi yang telah hilang bisa didapatkan kembali, aku akan berani
Tapi janganlah menyesal jika sudah memilih untuk pergi